 |
| Rowan Gould, beberapa tahun lalu |
Selama dua minggu di
Australia, panitia Australia-Indonesia Institute (AII) menyiapkan guide. Kalau dipikir-pikir, posisi guide ini sangatlah penting untuk
memastikan jadwal kegiatan yang telah diatur dalam berjalan dengan lancar.
Secara umum kegiatan kita yang ada di jadwal terlaksana dan berjalan dengan
lancar. Hal ini juga tidak terlepas dari peranan para guide. Untuk memastikan
kapan berangkat dari lokasi, jarak perjalanan, berapa waktu yang harus kita
habiskan di sebuah lokasi sebelum berpindah ke lokasi lainnya, ini sangat
bergantung pada guide.
Christina Rafferty-Brown
Beberapa
hari sebelum ke Australia, masing-masing kami dapat email dari Ibu Chris. Di
emailnya pada bagian bawah, ia tulis Chris. Beberapa teman menyangka ini
bapak-bapak, karena nama Chris sangat lekat dengan laki-laki, akan tetapi
rupanya salah. Chris adalah kependekan dari Christina. Kami memanggilnya Ibu
Chris. Bahasa Indonesia lancar. Pengalamannya bekerja di AUSAID membuatnya
banyak tahu tentang Indonesia. Ibu Chris juga adalah ibu mertua dari Rowan.
Rowan Gould menikah dengan anaknya Ibu Chris bernama Brynna Rafferty-Brown.
Pertama
bertemu Ibu Chris di Bandara Melbourne. Ia memegang sebuah tulisan MEP 2015.
Bersama seorang lelaki—belakangan saya tahu itu sopir taksi, awalnya saya kira
panitia juga—mereka menunggu, dan membantu mengambil koper-koper kami. Kami pun
menuju taksi. Karena sudah ditunggu oleh Professor Pookong Kee di Melbourne
University, maka kami tidak ke apartment dulu, tapi langsung ke kampus.
Wajah-wajah capek masih ada, tapi semuanya tidak terasa. Setelah bertemu Prof
Kee, kami ke apartment, dan lanjut jalan ke Library of Victoria.
Selama
tiga hari kami ditemani Ibu Chris. Bawaannya yang santai dan humoris tapi tetap
waktu membuat kami bersemangat untuk terus kuat. Walau capek, itu tidak
menghalangi untuk kita lanjut terus.
Rowan Gould
Tiap
kita sudah kenal dengan Rowan waktu wawancara di Jakarta. Kami bertemu kembali
dengannya ketika tiba di Melbourne University. Secara umum Rowan adalah
direktur program MEP. Jadi, sejak tiba di Melbourne, ke Canberra, sampai
kembali ke Jakarta dari Sydney, tanggungjawab ada di pundaknya. Saya lihat,
seluruh yang ditanganinya berjalan dengan baik. Saya pikir, jika kita punya
koordinator program seperti Rowan, paling tidak 99 persen sudah bisa ditebak
akan sukses. Itu feeling saya.
Kebutuhan
kita selama di Australia berada di ATM Rowan. Selama di Melbourne, kami
beberapa kali bertemu dan beliau jadi guide-nya, akan tetapi di Canberra yang
hanya dua hari, ia tidak ada. Mungkin urusan di Canberra bisa diselesaikan
dengan mudah oleh Ahmad Muhajir dan Fajran Zain. Ketika kami tiba di Sydney,
Rowan juga tiba di Sydney dari Melbourne. Dari situ kami sama-sama menuju
Meriton Apartment.
Sikap
terbaik yang saya pelajari dari Rowan adalah tenang. Ia pribadi yang tenang
dalam menyelesaikan sesuatu. Tidak terburu-buru, dan tidak panik. Secara umum
guide-guide kita memang begitu. Mereka juga pemberi informasi yang baik, dan
bisa diajak cerita, bahkan bercanda. Grup 1 2015 ini kabarnya merupakan grup
yang ‘hidup’, dan bisa dikatakan, ceria.
Di
Melbourne University, Rowan mengajar dan meneliti bersama Prof. Abdullah Saeed.
Rowan menamatkan pendidikannya dalam bidang tafsir hadis. Ia pernah belajar
bahasa Arab di Suriah. Paling tidak lelaki ‘setengah Australia setengah
Indonesia’ ini bisa berbahasa Arab dan Indonesia sebagai bahasa ibunya.
Natalia Gould
Natalia
adiknya Rowan. Nama belakangnya sama: Gould. Tapi berbeda dengan Peter Gould,
mereka cuma sama nama belakangnya. Natalia menjadi guide kami waktu bertemu
dengan Dr. Hass Dellal, Nail Aykan dan Bilal Cleland, ke Islamic Museum of
Australia, dan makan malam bersama beberapa artis muslim.
Alev Girgin
Alev
menjadi guide kami ketika mengunjungi Queen Victoria Market (waktu itu saya
tidak ikut karena ada janji di Deakin University), dan kunjungan ke Melbourne
Museum. Waktu saya di Deakin, Alev sempat sms posisi saya dimana. Saya bilang,
saya di Deakin dan rencana jam 12 sudah menuju ke Queen Victoria Market.
Ternyata, keenakan diskusi dengan Prof Ismet Fanany membuat waktu saya lewat.
Akhirnya setelah naik ke lantai 2 Perpustakaan Deakin, saya bergegas pamitan
karena teman-teman akan menuju Melbourne Museum. Kami akhirnya bertemu di
apartment, dan jalan berenam ke museum.
Ahmad Muhajir & Fajran Zain
Keduanya adalah kandidat doktor dari
The Australian National University (ANU). Kami bertemu pertama kali di bandara
Canberra waktu mereka menjemput siang itu. Dari bandara kami jalan-jalan sampai
ke apartment. Pelayanan keduanya bagus, dan menyenangkan. Keduanya adalah tipe
pribadi yang senang bergaul, punya teman, dan berbagi.
Paling tidak kepada Mas Muhajir dan
Mas Fajran saya meminta masukan terkait rencana PhD saya. Kedua memberi
pertimbangan bahwa sebenarnya kuliah dimana saja bagus, semua kembali pada
kita. Ini juga tergantung pada professornya. Jika kita sudah punya relasi
dengan seorang professor yang siap membimbing dan penelitiannya juga cocok, itu
akan memudahkan. Memang tidak bisa dimungkiri bahwa kuliah di kampus terkenal
itu bagus, namun semuanya kembali pada diri kita sendiri.
Di sela-sela waktu kosong kami diajak
jalan-jalan ke lokasi yang tidak ada dalam jadwal. Ini mumpung masih di
Australia. “Lupakanlah tidur, tidurnya nanti di Indonesia,” kata Mas Fajran,
kurang lebih. Akhirnya walau ngantuk dan capek, kami terus berjalan, dan
menikmati perjalanan ini. Memang benar, untuk tidur di Indonesia juga bisa,
tapi untuk bisa melihat hal-hal penting di Canberra tidak selalu bisa.
Kesempatan juga datangnya hanya satu kali.
Maha Najjarine
Maha adalah pengacara. Ia memandu kami
waktu berkunjung ke Muslim Women’s Association (MWA), Masjid Ali bin Ali Taleb
di Lakemba, Lebanese Muslim Association (LMA), dan pertemuan dengan Mission of Hope. Maha Najjarine juga
humoris. Ia banyak bercanda. Jalannya agak cepat, tapi umumnya di Australia
memang cepat-cepat jalannya orang.
Kepada Maha saya berikan salah satu
buku saya waktu kami makan malam bersama Asra Yusra dan teman-teman di Auburn.
Subhi
Subhi adalah guide kami yang berusia 24 tahun. Masih muda. Ia menemani kami
waktu ke Opera, Manly Beach, dan Paddy’s Market. Selanjutnya ia mengantar
sampai ke depan lift lantai kami di Meriton Apartment. Sebelum berpisah Lenni
Lestari memberikan syal kenang-kenangan untuk Subhi.
Mereka
semua luar biasa bagi saya, dan bagi teman-teman saya. Saya merasa senang bisa
berkenalan dan belajar dari para guide
yang luar biasa melayani kebutuhan kami dengan baik. *