Friday, May 6, 2016

Ibn Hazm

Perangko Ibn Hazm (sumbera: ballandalus.wordpress.com)
Ibn Hazm Al Andalusi (994-1064) menulis sekitar 400 buku atau sekitar 80.000 halaman yang jika dirata-ratakan tiap buku sebanyak 200 halaman. Ditulis tangan, tentu saja. Namun yg tersisa hingga saat ini hanya 40 judul karena kerusuhan/peperangan yg melanda negerinya.
Jika bisa disebut sebagai keberuntungan, maka keberuntungan beliau adalah karena dibesarkan dalam lingkungan elite (kakeknya pernah jadi menteri, beliau juga pernah jadi menteri).
Akan tetapi, bukunya lebih banyak jadi pasca ia memutuskan mundur dari politik dan memilih mencari ilmu dan ketenangan hidup di beberapa tempat.
Sejarah Ibn Hazm, penulis prolifik dari Spanyol ini baik untuk jadi teladan bagi mereka yg ingin menulis, tentu saja selain Ibnu Jarir At Tabari yg sangat produktif pula dalam menghasilkan karya.
Saat ini kita sangat terbantu dengan kemudahan akses pada guru atau tokoh/pakar via internet. Juga banyak sekali sumber buku di internet yg dapat diakses untuk menulis buku.
Kita tidak perlu tinta untuk menulis, seperti Ibn Hazm dulu. Tak perlu harus dipenjara dulu seperti Ibn Taimiyyah, agar bisa menulis. Lewat laptop dan berbagai perangkat elektronik lainnya, seharusnya bisa memudahkan para peminat penulisan buku untuk menuntaskan bukunya tanpa harus berpikir apakah buku ini akan diterima penerbit atau tidak, best seller atau tidak.
Menulis sebaik-baiknya adalah penting.
Karena tiap buku memiliki takdirnya masing-masing.
Selama kita menulis untuk menyebarkan kebaikan, itu tentu saja sudah membuat hati gembira. Karena telah bisa meneruskan karunia yang Tuhan titipkan kepada kita untuk dibagikan kepada orang lain.*

Thursday, May 5, 2016

Bersama MASIKA ICMI Sulsel

Peserta Pelatihan
Setelah mengikuti pelatihan menulis jurnal di UMI yang dibawakan oleh Dr Ismail Suardi Wekke, saya menikmati traktiran makan malam yang lezat dari Dekan Fakultas Teknik Industri (FTI) UMI, Pak Sakir Sabara. Bersama teman-teman MASIKA ICMI Sulsel lainnya (saya kebetulan hanya sebagai peserta pelatihan), saya menikmati masakan yang lezat tersebut di Hotel Clarion.

Setelah makan di Clarion
Sakir Sabara adalah salah satu dekan yang kreatif di UMI. Ke depan, sepertinya ia bisa menjadi Rektor UMI dan menyulap kampus UMI semakin baik dan berkualitas internasional.

Memiliki banyak teman adalah baik. Kehadiran saya di kegiatan MASIKA tidak sengaja. Diajak oleh Ismawan Amir untuk jadi peserta. Saya pun menyiapkan tulisan jurnal untuk dibedah di acara, akan tetapi tidak sempat dikritik oleh Dr Ismail. Ke depan, saya tertarik untuk menulis lebih banyak artikel jurnal baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.

Terimakasih kepada MASIKA ICMI Sulsel, Dr. Ismail Suardi Wekke, dan Dekan FTI UMI.

Menghadiri Launching Batik Girl

Suasana Launching
Lusia Efriani, salah seorang alumni MEP memiliki program pemberdayaan wanita penghuni Lapas untuk membuat batik. 

Pada Jumat, 29 April 2016 saya menghadiri kegiatannya yang dihadiri juga oleh Ibu Alison Purnell (Perwakilan Australia-Indonesia Institute, Kedutaan Australia) dan Mas Sulis Indiarto dari Bidang Kebudayaan Kedubes Australia. 

Di Facebook saya menulis sebagai berikut:

"Launching 1000 Batik Girl for Indonesia di Kampus STIE YPUP, Jln Andi Tonro 17, Makassar. Sebuah program yg diinisiasi oleh Lusia Efriani Kiroyan (Alumni MEP 2012) memberdayakan para penghuni Lapas Wanita untuk membuat boneka cinderella. Lusia menetap di Batam, tapi aktif tdk hanya di beberapa kota di Indonesia tapi juga di luar negeri."

Anak saya, Anisah dan Afifah juga dapat boneka ini, gratis dari Lusia Efriani. Terimakasih Lusia atas kebaikannya. Semoga sukses kegiatannya. 

Ngopi Diskusi bersama Dr Hidayat Nahwi Rasul

Berfoto di sela diskusi

Pada 27 April 2016 saya berdiskusi dengan pakar telekomunikasi Dr Hidayat Nahwi Rasul di Excelso, Mal Panakkukang, Makassar.

Lewat status facebook, Dr Hidayat menulis, 

"Diskusi ringan berusaha menemukan Wisdom untuk masadepan atas kemajuan ICT sbg backbone peradaban. Apakah akumulasi saving sosial dg keberadaan ICT membantu memperbaiki peradaban manusia Makassar 50 tahun akan datang?"

Hasil dari pertemuan ini adalah terbentuknya sebuah wadah Makassar Wisdom Institute (MWI) yang berencana akan menerbitkan buku berisi sejarah kota Makassar dulu, kini, dan rencana 50 tahun yang akan datang.

Alumni Australia dan Buku Alumni MEP

Peserta Acara AII 
Dua hari ini saya mendapatkan kesempatan yang sangat baik untuk terus belajar dan menyerap berbagai kebaikan dari orang lain. Tadi malam (Kamis, 28/04) saya menghadiri undangan Konjen Australia di Makassar Mr Richard Mathews dalam pertemuan alumni Australia dengan Australia-Indonesia Institute (AII) di Hotel Four Points, Jln Landak Baru, Makassar.
Hadir dalam kegiatan ini Konjen Australia, Prof. Tim Lindsey, dan Prof. Greg Fealy dan beberapa anggota dewan AII lainnya, perwakilan dari Kedubes Australia di Jakarta dan Konjen Makassar, serta para alumni berbagai program Australia seperti ADS, IAYEP, dan MEP.
Secara umum, ada sekitar 300-an alumni Australia di Makassar, dan seratusan di antaranya adalah dosen di Unhas.
Pertemuan tadi malam juga semakin baik ketika saya bertemu beberapa senior yg unggul seperti Dr Irfan Syamsuddin, Dr Abdullah Sanusi, IbuNuvida Raf, dan juga kawanku sesama kos di Pondok Toris Jln Bung, Tamalanrea, Arif Supam Wijaya.
Foto bersama setelah breakfast
Pagi ini (Sabtu, 29/04), secara khusus saya bertemu dengan Prof. Tim Lindsey, Prof. Greg Fealy, Ibu Alison Purnell, Mas Sulis, dan Dr Novi untuk membicarakan ter
kait buku alumni Program Pertukaran Tokoh Muda Australia-Indonesia (Muslim Exchange Program, MEP) yang draft awalnya telah selesai.
Puluhan alumni MEP Indonesia telah ambil bagian dari menuliskan pengalamannya, dan sementara ini saya menunggu kiriman tulisan lainnya dari rekan-rekan MEP Australia yang dikoordinir oleh Mr Rowan Gould dan Mrs Brynna Rafferty-Brown. Beberapa tulisan MEP Indonesia dikoordinir oleh Ibu Rita Pranawati, Sekretaris KPAI.
Listen to me, kata Dr Irfan Syamsuddin
Beberapa rekan yang tulisannya telah ada di saya adalah sebagai berikut: Cucu Surahman, Lisa Noor Humaidah, Fauza Masyhudi, Sari NarulitaAbdul Hakim WahidSiti Rohmanatin FitrianiErna Wati AzizLenny LestariSari Wulandari, Mohammad Hasan Basri, Rohman Al BantaniRidwan Al-Makassary, Farinia Fianto, Said Muniruddin, Ahmad Saifulloh, Choiril Chairil Anwar ZmSukron Ma'munFeby Indirani, Abdul Mu'ti, Rita Pranawati, Lusia Efriani Kiroyan, Nihayatul Wafiroh, Hilman Latief, Lily Ardas, Fajar Riza Ul Haq, Bernando J. Sujibto, Hyder Gulam, Zacky Umam, Anisia Kumala, Subhan Setowara, Julia Novrita, Ahmad Imam Mujadid Rais, Deni Wahyudi Kurniawan, Lanny Octavia, dan Elis Setyawan. Saat ini, saya juga masih menunggu tulisan dari alumni MEP lainnya, baik Indonesia maupun Australia. *

Profil Saya di Laman Agupena

Crop tulisan Ibu Roswita
Saya termasuk baru di organisasi Agupena. Maka, saya terus belajar dari banyak orang, termasuk dari pengurus Agupena. 

Pada tahun 2016 ini saya dipercayakan sebagai Sekretaris Munas Agupena yang diselenggarakan di Tangerang Selatan akhir Juli. Begitu hasil rapat Agupena yang diadakan setelah pertemuan dengan Kementerian PPPA di Hotel Morrissey Jakarta Pusat. 

Gambar yang ada di tulisan ini merupakan sebuah crop yang ditag oleh Ibu Roswita Aboe di facebook. Untuk mendokumentasikan, saya coba posting di sini. 

Berikut adalah status Ibu Roswita yang juga pengajar di Universitas Khairun, sekaligus komentar saya di bawahnya.

"Para guru dan tenaga pengajar yang punya minat menulis dapat mengirimkan tulisannya ke website AGUPENA - Asosiasi Guru Penulis Indonesia yang telah berkiprah secara nasional. Agupena memiliki beberapa cabang sampai ke daerah termasuk Maluku Utara. Silahkan cek www.agupena.org lebih lanjut."
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari
Komentar
Yanuardi Syukur Terimakasih banyak atas tautan tulisan Ibu Roswita Aboe. Agupena adalah salah satu media untuk belajar. Di sini, bertemu banyak peminat literasi (baca-tulis) yg saling berbagi dan support untuk sama-sama maju.

Bersama Kawan Baik di ToWR FLP

Sesi materi saya
Pada Sabtu, 30 April 2016 saya diminta membawakan materi cara menulis non-fiksi. Materinya telah saya kirimkan ke panitia, dan dibagikan, maka saat presentasi saya bercerita pengalaman saja. 

Saya merasa beruntung bergabung dengan FLP karena di lembaga inilah saya mulai belajar menulis dan menerbitkan buku. Kepada seniorku yang banyak berjasa di masa awal FLP Makassar, saya mengucapkan terimakasih.

Foto bersama
Setelah membawakan materi, saya berfoto bareng dengan kawanku yang baik sesama pemateri: S Gegge Mappangewa, Hamran Sunu, dan Fakhruddin Ahmad. Foto bersama Ketua Panitia Training Perekrutan FLP Makassar Fadhel. Adapun foto tersebut diambil oleh peserta ToWR Riskawati Khadijah. 

Untuk bisa menulis, menurutku ada dua kuncinya. Pertama, usaha yang tekun untuk menulis. Kedua, berteman dengan sesama menulis. Sampai sekarang saya tetap mempertahankan dua hal penting ini. 



Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...