Saturday, February 27, 2016

Berbagi Lebih Berarti

Di antara berbagai hal baik yang saya sukai adalah berbagi. Sejak kecil saya diajarkan oleh ayahku untuk berbagi kepada mereka yang butuh, dan jangan berpikir untuk menerima imbalan dari sikap tersebut. Jika sudah rezeki, pasti tidak akan kemana-mana. 

Termasuk yang saya sukai adalah berbagi pengalaman dan pengalaman (walau belum seberapa). Pengalaman menulis termasuk yang saya cintai karena berangkat dari tidak bisa menulis, akhirnya lama-lama tulisanku ada yang diterima di media, dan jadi buku (walau tentu saja, belum bagus-bagus amat). 

Ketika berbagi pengalaman, saya merasakan ada energi positif yang mengalir dalam diri. Saya merasa, itulah sesungguhnya diriku yang sebenarnya. Maka, jika dalam satu minggu saya tidak membawakan materi--apakah offline atau online--saya merasakan ada sesuatu yang hilang.

Sejauh ini materi yang paling sering saya bawakan adalah materi menulis, atau sedikit ceramah di beberapa tempat. Saya benar-benar merasa jiwaku kembali ketika sedang menyampaikan pokok-pokok pikiran kepada orang lain. Apalagi, jika orang lain juga mendapatkan kebaikan dari materi tersebut dengan mendapatkan semangat dan terus berproses jadi lebih baik. 

Berbagi membuat hidup lebih berarti. Ya, paling tidak untuk diriku, saya merasa lebih punya makna, punya tenaga, dan punya gairah hidup. *

Berlari ke Hutan Kata

Terkadang, saat sedang memikirkan sesuatu saya menulis. Dulu saya punya buku diary yang sering kujadikan 'papan' untuk menulis apa saja yang terlintas di hati. Tapi tidak 'apa saja' juga. Saya tetap memilih apa saja yang baik untuk ditulis, yang mungkin suatu saat akan dibaca orang lain. Seiring berjalannya waktu, saya tidak lagi intens di buku harian, akan tetapi merambah ke blog, website, koran, dan juga buku.

Lebih dari 15 tahun ini saya terbiasa menulis. Mencurahkan apa saja yang menurutku penting.

Kata orang, menulis bisa jadi terapi jiwa. Kupikir-pikir, ada betulnya juga. Kenapa? Karena saat menulis kita mencurahkan pikiran dan perasaan. Walau tidak sepenuhnya tertumpah, tapi proses menulis sesungguhnya merupakan proses relaksasi dengan melepaskan apa saja yang mengganjal di pikiran dan hati ke dalam sebuah tulisan.

Tiap kita mungkin punya cara yang berbeda dalam menyikapi hidup. Tapi berlari-lari di hutan kata-kata mungkin bisa jadi solusi bagi mereka yang ingin mencurahkan ide dan perasaannya sekaligus untuk melatih keterampilan otak, rasa, dan mengetik dalam suatu waktu. *

Tuesday, February 16, 2016

Mengejar Cita-Cita

Waktu kecil cita-cita sederhana, ingin menjadi guru mengaji. Tinggal di kompleks pelabuhan dimana warga setempat tidak begitu peduli dengan agama membuat saya tersentuh untuk menggapai cita-cita tersebut.

Orang tuaku yang bekerja sebagai pedagang--minyak tanah, dan sembako--memasukkanku ke sebuah tempat mengaji tak jauh dari rumah. Sebenarnya, walaupun masjid ada, dan tempat mengaji ada, warga sekitar tidak begitu aktif menjalankan agama secara baik. Di antara mereka banyak yang gemar minum minuman keras, tidak salat, dan seterusnya.

Ketika dewasa, saya melihat hal-hal berbeda dan peluang-peluang baru dalam hidup yang tidak saya lihat ketika masih di kampung. Ternyata, hidup ini lebih bervariasi. Pilihan karir dan cita-cita menjadi sangat kaya ketika beranjak dewasa muda.

Paling tidak saya mengenal dua dunia, yaitu dunia kepenulisan dan dua pengajaran di perguruan tinggi. Sebagai anak kampung, saya awalnya iri ketika melihat beberapa senior di Unhas rutin sekali menulis di PK Identitas. Lama-lama saya tertantang untuk menulis, dan akhirnya beberapa tulisanku dimuat di koran tersebut. Selanjutnya, animo saya untuk menulis makin berkembang dalam penulisan buku yang telah puluhan judul terbit.

Dalam pengajaran di kampus, saya mulai rasakan setelah tamat S2. Saya mengajar di Universitas Halmahera, kemudian Universitas Khairun. Waktu kecil tentu saja tidak ada bayangan tentang pekerjaan ini, tapi kemudian ketika besar saya mendapatkan sesuatu yang baru. Saya merasa enjoy di dunia ini, tapi memang saya merasa belum begitu maksimal karena beban mengajar yang sangat besar dan animo saya dalam antropologi yang masih dalam 'tahap pencarian'.

Terlepas dari itu semua, kini saya harus mengejar cita-cita untuk lanjut S3. Semoga saja usaha yang baik ini bermanfaat buat diriku, keluargaku, dan buat semua orang. *

Sunday, January 3, 2016

Saya Terlambat

Satu kalimat yg kerap menggoda manusia yg dapat membuat mereka optimis atau pesimis adalah, "Saya terlambat."

Mereka yg blm kaya, blm sarjana, blm menikah di umur tertentu, menikah tapi blm punya anak, mengatakan "saya terlambat." Mereka yang blm ke luar negeri, blm naik haji, blm jadi pejabat, blm jadi pembicara seminar, blm masuk tivi, disanjung-sanjung tapi terasa ada yg kosong dan memilih untuk mengggunakan zat-zat adiktif, berkata, "Rasanya saya sudah terlambat, tidak bisa berubah. Inilah saya apa adanya." Padahal, bumi masih berputar, nasib masih bisa berubah.

Mereka yang mati-matian bayar sana-sini untuk jadi jadi PNS tapi gagal maning-gagal maning mungkin berpikir, "Cuma ini jalan saya untuk bahagia, saya sudah telat di bidang lain." Mereka yg ingin sekali terkenal dan kaya lewat menulis buku tapi gak kunjung terbit-terbit atau juga mereka yang merasa ditipu oleh penerbit akan menyalahkan orang lain. Padahal, jika disadari, tabiat dunia ini memang seperti itu. Kita nggak akan pernah hidup dalam kondisi yg seratus persen adil. Selama setan masih hidup, kita tidak akan pernah bisa memastikan bahwa hidup kita akan bahagia seratus persen.

Mereka yg blm kaya, blm sarjana, blm menikah di umur tertentu, menikah tapi blm punya anak, mengatakan "saya terlambat." Mereka yang blm ke luar negeri, blm naik haji, blm jadi pejabat, blm jadi pembicara seminar, blm masuk tivi, disanjung-sanjung tapi terasa ada yg kosong dan memilih untuk mengggunakan zat-zat adiktif, berkata, "Rasanya saya sudah terlambat, tidak bisa berubah. Inilah saya apa adanya." Padahal, bumi masih berputar, nasib masih bisa berubah.

Mereka yang blm bisa-bisa bahasa asing, blm punya rumah, blm punya mobil, bilang hal yang sama. Pun mereka yang diam-diam ingin salat dhua tapi blm bisa-bisa salat dhuha, kuat fesbukan tapi blm bisa salat malam atau salat subuh di masjid, rajin berbagi maslahat di sosmed tapi pelit saat melihat tetangga berwajah murung karena belum makan karena sedih dan merasa tidak punya teman (padahal tetangga itu berteman dgn seorang motivator hebat), terkenal di berbagai tempat tapi blm dekat dgn anak-anak sendiri hingga tersadar ketika mereka telah besar dan mulai menemukan dunianya juga sesekali berkata, "inilah saya, saya terlambat di bidang itu tapi saya punya bidang yg berbeda." Dan 'belum-belum lainnya.'

Mereka yg sesekali hatinya tersentuh dan membenarkan bahwa menghafal Al Quran (selanjutnya mengamalkan) itu manfaatnya banyak sekali tidak hanya buat mereka sendiri, tapi juga buat anak-anak mereka, dan nasib mereka kelak ketika telah tiada tapi berkata bahwa "Saya sudah terlalu sibuk, banyak sekali agenda" dan memilih untuk menyerah karena terlambat, juga terindikasi terkena penyakit pesimis. Padahal, 24 jam waktu yg ada masih tersisa untuk menghafal Al Quran, ketimbang berlama-lama online di warung-warung kopi agar terlihat lebih gaul, lebih up to date, dan kekinian.

 Semua alasan "saya terlambat" itu punya potensi untuk jadi pesimis dan berhenti melangkah. Apalagi, jika ditambah dgn membandingkan dirinya dgn orang lain, "dia terlihat lebih bahagia, lebih sukses, lebih senang bisa kemana-mana, dst" yg terkadang membuatnya semakin jatuh, dan terjatuh.
Ini bisa terjadi pada siapa saja. Pada mereka yg tidak tamat SD, atau mereka yg sudah doktor atau bergelar professor. Mereka yg pengangguran sampai mereka yg bergelimang harta-benda. Dan, bisa terjadi pada kita semua.

Sesekali saya lihat, kebahagiaan atau kesuksesan yg ditampilkan seseorang hanyalah sebentuk sugesti untuk menutupi kekurangan diri sekaligus menguatkan diri agar tetap eksis dan mengudara di dunia yg tidak begitu nyata. Terkadang juga, ketika seseorang mendapatkan sesuatu ia kerap merasakan kehilangan sesuatu yg lain. Dan, itu membuatnya sedih, dan di titik tertentu menjadikannya tak terkontrol untuk melakukan apa yg menurut rasio-nya baik.

 Akan tetapi, di ruang terdalam tiap orang yg terlihat sukses dan bahagia, mereka merindukan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana seperti disapa, atau didengarkan. Bagi mereka--mungkin juga saya--yg terkadang tergoda dgn kata 'saya terlambat', ada baiknya untuk tetap menjaga semangat, teruslah berusaha, tidak membandingkan diri sendiri dgn orang lain (tiap orang punya kebahagiaannya masing-masing), dan berfokus pada hal-hal dimana ia bisa memberikan kontribusi positif bagi kehidupan amat sementara ini. *

Thursday, December 24, 2015

Menemani Kang Abik di Peluncuran AAC 2

Pada sebuah siang, Rabu, 16 Desember 2015, saya menjadi moderator launching buku Ayat-Ayat Cinta 2 bersama Habiburrahman El Shirazy atau yang biasa disapa Kang Abik.

Kegiatan bertempat di Aula Universitas Islam Makassar. 

Kang Abik bercerita bahwa "dalam sastra ada sihirnya." Artinya bahwa penulis yg baik benar-benar memperhatikan kalimatnya agar memberi pengaruh bagi pembaca. 
Diskusi ini menarik karena Kang Abik juga memaparkan pengalamannya. Ia memulai karyanya dengan riset sedalam-dalamnya. Waktu menulis Bumi Cinta, ia bertemu dengan orang yang pernah tinggal di Moskow, dan mendengarkan langsung bagaimana suasana di sana. 

Selain itu, ia juga mengkaji lebih dulu agar datanya lebih lengkap. Ketika menulis AAC 1 terlihat Kang Abik lebih leluasa menjelaskan setting kota Mesir, akan tetapi ketika menulis tentang Ediburgh memang agak beda dengan narasi tentang Mesir. Kang Abik sendiri pernah menginap di Ediburgh hanya untuk mendapatkan pengalaman yang akan dimasukkan dalam AAC 2. 
Buku AAC 2 ini ditulis selama 1 thn, berbeda dgn AAC 1 yg hanya 1 bulan. Untuk buku ini, Kang Abik juga berkunjung ke Edinburgh ditemani Mas Ganjar Widhiyoga saat diundang oleh KIBAR di Inggris Raya. Selamat buat Kang Abik! *

Dakwah Imam Shamsi di Amerika


Pada pagi Ahad 20 Desember 2015 tadi, saya dipercaya oleh Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah, Ust Muzayyin Arif, untuk memandu talkshow dalam rangka silaturahmi Pesantren Darul Istiqamah, Maccopa, Kabupaten Maros, Sulsel, bersama dengan Imam Shamsi Ali. Imam Shamsi yang kini menetap di New York, Amerika, adalah seorang pemimpin komunitas Islam (imam) sekaligus Presiden Nusantara Foundation.

Beliau dilahirkan di Bulukumba, Sulsel, yang mondok di Pesantren Darul Arqam, Gombara, Makassar. Kemudian melanjutkan S1 dan S2 di International Islamic University (Islamabad, Pakistan), dan S3 di Southern California University, Amerika. Beberapa bulan lalu, Ust Muzayyin turut diundang ke New York bersama Dahlan Iskan, Aa Gym, dan berbagai tokoh lainnya dalam konfererensi terkait Islam Nusantara.

Nama aslinya adalah Muhammad Utteng Ali. Akan tetapi, waktu mondok di Gombara, nama 'Utteng' di namanya diganti oleh KH. Abdul Jabbar Asyiri, menjadi 'Shamsi' yang berarti matahari dengan harapan suatu saat dapat menyinari hati umat manusia.

Beberapa point yang disampaikan oleh beliau adalah sebagai berikut:

1. Salah satu yang unik dan menarik dari orang Indonesia adalah senyuman. Maka, ketika menetap di Amerika, berdialog dengan berbagai komunitas keagamaan bahkan kepada kalangan yang Islamophobia, ia menebarkan 'senyuman khas Nusantara' yang menurutnya, menawan. Masalah senyuman ini memang penting sekali. Tadi malam, di penutupan Festival Sastra Islam Nasional (FSIN) yang dihadiri oleh Sastrawan Taufiq Ismail di Sekolah Athirah, dipentaskan sebuah drama 'mencari senyuman' karya salah seorang muslimah Indonesia yang termasuk dalam 500 tokoh muslim berpengaruh di dunia, Helvy Tiana Rosa, yang juga dikenal sebagai pendiri Forum Lingkar Pena (FLP). Dalam teater tersebut diceritakan bahwa ada seorang kakek tua yang berjalan kemana-mana mencari senyuman, karena katanya di kotanya sudah tidak ada lagi orang yang tersenyum karena sibuk dengan kepentingannya masing-masingnya. Salah satu yang menarik dari kita di Indonesia adalah, kita terbiasa tersenyum kepada orang lain. Terlihat ramah, dan dalam konteks dunia global, sangat membantu untuk menampilkan wajah Islam yang ramah.

2. Pasca peristiwa 9/11, sejumlah kalangan melihat bahwa peristiwa itu menciptakan kerugian bagi umat Islam. Di beberapa negara memang terjadi perang dan mengakibatkan banyak nyawa melayang, akan tetapi di internal orang Amerika, banyak di antara mereka yang pasca 9/11 memilih untuk masuk Islam. Suatu ketika, saat membacakan beberapa ayat Al Quran, seperti ayat tentang 'manusia diciptakan berkabilah-kabilah untuk saling mengenal', 'perintah untuk berlaku adil', dan ayat tentang 'apabila datang pertolongan Allah' dalam surat An Nashr, banyak orang Amerika yang tertarik, dan ketertarikan itu membuahkan berbondong-bondongnya orang Amerika masuk Islam. Tanpa paksaan.

3. Media punya pengaruh yang besar dalam menjadikan wajah Islam sebagai ramah atau keras. Donald Trump adalah salah seorang yang termakan oleh media dan berpikir bahwa Islam itu identik dengan kekerasan. Akan tetapi, setelah bertemu Imam Shamsi, pemikirannya berubah, bahwa ternyata ada juga muslim yang ramah. Setelah pertemuan dengan Imam Shamsi, tidak ada lagi komentar negatifnya kepada Islam, sampai menjelang pencalonannya sebagai Presiden Amerika baru ia berkomentar negatif kembali kepada Islam. Tapi, kata Imam Shamsi, sikap keras Trump kepada Islam ternyata tidak diamini oleh banyak orang Amerika, sebaliknya di beberapa kota ia ditolak untuk masuk.

4. Paling tidak, ada tiga program Shamsi Ali sebagai imam di New York. Pertama, ia menjalin komunikasi dengan pemerintah setempat. Kedua, ia mengadakan dialog antar-keyakinan (interfaith dialogue), dan ketiga membuka kelas khusus untuk non-Muslim yang ingin belajar Islam. 

5. Imam Shamsi mengingatkan tentang pentingnya dakwah lewat media sosial. Medsos seperti twitter, facebook, path, dst, adalah media-media langsung yang cepat sebarannya. Apa yang ditampilkan oleh media mainstream bisa jadi ada yang berat sebelah, tapi kekuatan facebook, sebagai contoh, dapat tersebar begitu cepat dan menjadi salah satu rujukan terpercaya karena diunggah langsung. Imam Shamsi mengajak kepada para pengguna media sosial untuk memanfaatkan media ini dengan sebaik-baiknya dengan menyebarkan banyak-banyak kebaikan.

6. Di dunia global yang penuh dengan kompetisi ini, seorang muslim haruslah bisa memiliki kapasitas yang baik. Seorang muslim tidak hanya dituntut untuk bisa mengerti agama, akan tetapi juga dapat menjelaskan kepada masyarakat dunia. Olehnya itu, maka penguasaan bahasa-bahasa asing sangatlah diperlukan, seperti bahasa Arab, Inggris, Korea, Mandarin, dst. Salah satu program Imam Shamsi yang baru-baru ini adalah 'Telling Islam to the World'. Islam disebarkan ke seluruh dunia. Tentu saja, untuk menyebarkan Islam, dibutuhkan penguasaan bahasa-bahasa asing.

7. Di tengah perubahan zaman, metode dakwah haruslah inovatif. Inovasi dakwah diperlukan agar dakwah dapat diterima oleh berbagai kalangan. Di Amerika sebagai contoh, ketika berkenalan dengan tetangganya, ia mengenalkan diri dan mengatakan bahwa dalam Injil, diajarkan untuk menyayangi manusia, termasuk tetangga. Sengaja Imam Shamsi tidak menjelaskan dengan mengutip Al Quran, karena ini bagian dari dakwah dengan ayat-ayat yang ada dalam kitab Injil. Metode dakwah yang inovatif dapat menarik banyak orang yang mengikuti. Ketika menghadiri salah satu kegiatan kalangan Yahudi, Imam Shamsi melihat bahwa ada '1001 kecurigaan orang Yahudi terhadap Islam', akan tetapi setelah ia jelaskan tentang Islam dengan menampilkan akhlak Islam, banyak di antara kalangan Yahudi yang berubah pikiran kepada Islam. Mereka tidak lagi berprasangka buruk, bahkan mengajak untuk bersama-sama menjaga tradisi Yahudi dan juga Islam.

8. Pesantren Darul Istiqamah saat ini menjalin kerjasama dengan Imam Shamsi dalam rangka pengiriman imam hafizh 30 juz dari Darul Istiqamah untuk menjadi imam bulan Ramadhan di Amerika. Tadi, saat makan siang, video 10 hafizh tersebut yang produksinya dibuat oleh Jurnalis Televisi Abdul Chalid Bibbi Pariwa, diperlihatkan kepada Imam Shamsi Ali. Selain itu, ke depannya akan diupayakan studi banding santri Darul Istiqamah ke Amerika. Dalam setahun terakhir, santri Darul Istiqamah telah mengikuti studi banding ke Jepang, dan yang paling baru adalah ke Malaysia dan Singapura. Di sana, para santri tidak hanya menikmati dunia luar, tapi juga belajar dari budaya dan etos kerja yang dapat menjadi inspirasi positif untuk dibawa ke Indonesia.

Demikian delapan resume saya ketika memandu materi yang dibawakan oleh Imam Shamsi Ali di Pesantren Darul Istiqamah Pusat, Maccopa, Kabupaten Maros, Sulsel. *

Kegiatan ini dihadiri juga oleh Bapak Pesantren Darul Istiqamah, KH. M. Arif Marzuki, Syeikh Sulaiman, para undangan, tokoh masyarakat, santri putra dan putri Darul Istiqamah, dan warga pesantren.

Terimakasih kepada segenap panitia kegiatan ini yang luar biasa: Ust Muthahhir Arif, Ust Fahruddin Achmad, Ust Mubassyir As'ad, Ust Safwan Saad, Dhiah Ashri, Ust Eyank Vhazollee Biru, Ust Ismawan As, Ust Muslim Majid, Ust Miko Abege, Ustazah Mukhlisah Arif, dll.

Pra Launching Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia

Banner dan Peta Sebaran Suku Bangsa Indonesia
Pada Rabu 23 Desember 2015, saya menghadiri Pra Launching Penyempurnaan Buku Ensiklopedia Suku Bangsa Indonesia, Museum Nasional, Jakarta. Kegiatan ini diadakan oleh Direktorat Sejarah Ditjen Kebudayaan Kemdikbud yang penulisannya berlangsung 2014-2015. Buku ini ditulis pertama kali oleh Prof M. Junus Melalatoa 1995.

19 penulis buku ini adalah sebagai berikut: Semiarto Aji Purwanto (UI), Tasrifin Tahara (Universitas Hasanuddin), Kumpiyadi Widen (Universitas Palangkaraya), Setiadi (UGM), Eka Juniawan (Yayasan Lanfang Indonesia), Sumientarsih (BPNB Jogja), Petrus Tekege (Universitas Satya Wiyata Mandala), Enrico Kondolangit (Universitas Cendrawasih), Ruslan (UIN Ar Raniry), Frederick Sokoy (Universitas Cendrawasih), Marselus Mali (Universitas Nusa Cendana), Yanuardi Syukur (Universitas Khairun), Fikarwin Zuska (USU), M. Rawa El Amady (PADI Institute), Alex Ulaen (Universitas Sam Ratulangi), Ira Indrawardana (Universitas Padjadjaran), Purwadi Soeriadireja (Universitas Udayana), M. Thobroni (Universitas Borneo), dan Zainal Arifin (Universitas Andalas).

Paparan buku oleh Dr. Semiarto Aji Purwanto (UI) dan pembahasan buku oleh Prof Heddy Ahimsa Putra (UGM), Prof Achmad Fedyani Saifuddin (UI), dan Dr. Deddy S. Adhuri (LIPI).

Dalam pertemuan ini saya sangat beruntung bisa menimba ilmu dari para senior. Materi dari Prof Heddy, Prof Afid, dan Dr Deddy sangatlah membuka wawasan, kendatipun terlihat sederhana saja yang disampaikan. Mungkin memang betul, semakin cerdas orang semakin sederhana yang diucapkannya.

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...