Monday, July 13, 2015

Baik Sangka dan Waspada

Suatu pagi di sebuah grup Facebook ada seorang kawan memposting status tentang kasus penipuan. Ya, penipuan ini dilakukan oleh teman sesama alumni sekolah dengan dalih butuh dana buat usaha, investasi, dan ibu sakit.

Membaca postingan itu, saya juga teringat. Oleh yang bersangkutan, saya pernah diajak chatting juga dan dimintai hal yang sama. Alasannya, ibunya sakit keras dan ia butuh dana. Sementara itu, rumahnya sudah terjual.

Berteman dengan saya di BBM, ia berkali-kali posting fotonya bersama istri keduanya. Sesekali ia juga posting status yang baik, berbahasa asing, dan keluhan.

Masih dari status pagi itu, di bawahnya muncul beberapa komentar dari teman-teman sesama alumni. Ternyata, ada yang pernah 'kena' juga. "Ane kena 1juta. Teman kita kena 1.5juta." Kata teman saya via inbox. Kemudian, beberapa lainnya berkomentar, kalau ia juga 'kena' 5 juta, dan ia berencana sama temannya mau cari kawan tersebut.

Seseorang lainnya berkomentar, "Saya juga sering sekali kena seperti ini. Niatnya sih membantu."

Lantas, bagaimana sebenarnya sikap kita jika ada kenalan kita atau teman di Facebook yang meminta bantuan?

Hemat saya seperti ini.

1. Pelajari lebih dulu kebenaran akun atau pemilik akun tersebut. Acapkali dengan teknologi hacking membuat kita bingung ini yang chat apakah teman kita atau bukan. Bisa jadi orang lain yang pakai akun tersebut, dan berniat menipu.

2. Jika sudah jelas orangnya, dia teman kita, maka ada baiknya membantu--jika memang ada keluasan rezeki. Sekecil apapun saya kira ada manfaatnya, dan pasti bernilai ibadah.

3. Jika kita agak ragu dengan chatting tersebut, ada baiknya konfirmasi ke teman-teman lainnya. Bisa jadi itu yang chatting adalah orang lain. Jika memang orang lain, menurut saya baiknya jangan meneruskan chatting. Karena itu penipuan.

4. Kita tentu saja tetap perlu berdoa semoga dijauhkan dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan penipuan.

Saya kira ini beberapa panduan sederhana.
Kuncinya, tetap baik sangka, namun tetap waspada.

Roda Hidup Terus Berputar

Hidup ibarat roda
Pada sebuah siang di sebuah kantor di Jalan Thamrin, Jakarta, seseorang bercerita kepada saya. "Dulu mas, waktu bapak saya masih ada jabatannya, sering sekali datang kiriman bunga di rumah. Tapi setelah nggak ada jabatannya, udah nggak ada lagi kiriman seperti itu."

Pada sebuah malam di Cihampelas Walk, Bandung, seorang kawan juga bercerita. "Dulu waktu belum jadi apa-apa, ada seseorang yang rajin sekali silaturahmi, selalu minta pendapat. Tapi pas jadi seorang pejabat di BUMN, hilang juga komunikasinya dan pas dia tidak menjabat, dia balik lagi seakan-akan kita tuannya yang paling ia harapkan."

Kurang lebih itu dua kutipan singkat dari dua kawan saya tentang bagaimana ritme hidup manusia yang adakalanya naik adakalanya turun. Seperti roda, hidup kita terkadang di atas, tapi berada di atas itu tidak abadi, bisa jadi kita akan di bawah lagi.

Di salah satu status Facebook, saya menulis bahwa tugas ketika dalam menjalani hidup yang ibarat roda berputar itu adalah memastikan bahwa roda itu tetap berputar. Cara memastikannya adalah dengan tetap bekerja dan jangan terlena ketika di atas atau bawah. Soal atas dan bawah semata hanya variasi saja dalam hidup. Tidak perlu disesali ketika berada di bawah, dan tidak perlu merasa angkuh ketika di atas. *

Friday, July 10, 2015

Ramadan Tokoh Nasional di Salman ITB

Pamflet Inspirasi Ramadhan
Sebagai masjid kampus pertama di Indonesia, Salman ITB adalah masjid bersejarah dan berperan besar dalam dakwah kampus di Indonesia. Banyak tokoh bangsa yang lahir dan berkembang dari masjid ini. Hatta Rajasa, misalnya, adalah aktivis Masjid Salman ITB.

Pada tahun 2015 ini, Masjid Salman ITB juga mengundang beberapa tokoh nasional untuk berbagi pengalamannya terkait bagaimana mereka beraktivitas dengan jabatannya dengan tetap berpatokan pada Islam.

Beberapa tokoh yang hadir berbicara adalah Dr. Adian Husaini, Prof. Amien Rais, Prof. Din Syamsuddin, Prof. Mansur Suryanegara, Ilham Habibie, Ph.D, dan seterusnya. Saya hanya sempat ikut beberapa materi saja, dan saya pikir bagus sekali.

Saya membayangkan jika di masjid-masjid kampus lainnya di Indonesia juga memiliki program sebaik ini. Masjid kampus besar seperti UI dan UGM pastinya sudah ada program seperti ini. Tapi untuk kampus-kampus kecil, bagus untuk mencontoh bagaimana Masjid Salman ITB mengembangkan manajemen masjid yang tidak hanya ritual keagamaan tapi juga ada kajian-kajian dan kursus-kursus singkat. Saya berharap sih, paling tidak di kampus tempat saya mengajar, Universitas Khairun, masjid kampus kita (Muhammad Samil Djahir dan Masjid Babullah) dapat dimenej seperti Masjid Salman ITB. *

Rasa Nyaman Tidur di Masjid

Tidur di masjid (foto: cyberdakwah.com)
Sore tadi setelah salat ashar, saya ngantuk banget. Akhirnya saya coba menutup mata di sebuah pojokan Masjid Darudda'wah samping kosanku di Jalan Pelesiran, Tamansari, Bandung. Sebelum itu, saya ngobrol sebentar dengan dua temanku yang juga salat di situ: Pak Khairul dan Adnan Arafani.

"Kapan mudik, bang?" tanya Adnan.
"Rencana besok pagi ke Jakarta, Nan. Dini harinya terbang ke Makassar. Insya Allah." Jawab saya.

Saya pun tidur.

Sudah jarang rasanya tidur di masjid. Tapi kali ini rasanya nyaman sekali. Mungkin karena saya tidak bawa apa-apa kecuali handphone. Memang, di zaman sekarang ini kehati-hatian tetap harus dijaga, apalagi banyak pencurian. Saya pernah, beberapa tahun lalu waktu salat di salah satu masjid di Geger Kalong, menjelang subuh, HP saya--tepatnya saya pinjam dari teman--raib. Setelah tanya-tanya ke petugas masjid, katanya, "Di sini memang kadang terjadi kayak begitu Mas. Soalnya ada banyak orang yang datang ke masjid dan kita nggak tahu apakah murni untuk ibadah atau bukan."

Setelah bangun, saya merasa pikiran agak lebih rileks. Pas bangun itu, saya dengarkan ayat Al Quran yang diputar. Memang nyaman rasanya kalau dengar ayat Al Quran. Kita terasa jadi ingin sekali jadi hamba Allah yang benar-benar beriman dan istiqamah. Saya jadi diingatkan kembali oleh ayat-ayat tersebut untuk menjadi muslim yang baik.

Tak lama setelah bangun, saya bersiap ke lantai dua untuk buka puasa. Di situ sudah disediakan beberapa makanan berbuka satu-satu piring kecil berisi lima kue ditambah segelas air putih dan es. Berbuka dengan makanan tersebut rasanya nyaman dan enak sekali. Mungkin karena saya baru saja bangun, jadi badan terasa fresh dan pikiran juga segar.

Saya bersyukur pada Allah, di tengah berbagai kekuranganku, saya masih mencintai masjid. Ya, ini karunia besar bagiku. Sejak kecil, saya memang senang di masjid. Biasa mengaji di sana, dan beraktivitas di sana sampai ketika jadi mahasiswa sampai sekarang ini.

Waktu jadi mahasiswa di UNHAS, saya juga pernah tinggal di Masjid Salman Al Farisi depan Pintu II UNHAS. Di situ saya bersama beberapa teman tidur, dan makan. Penghuni tetapnya saat itu adalah Mas Johan, Mantan Ketua Forum Kajian Insani (FKI) sebelum saya yang juga ketika itu membuka warung makan Sabili di Pintu II. Waktu tinggal di masjid itu, saya merasa banyak sekali kebahagiaan yang terasa. Terasa ketaatan pada Allah. Terasa ingin selalu mencintai dan beraktivitas yang baik. Memang benar sih, jika kita berteman dengan orang baik lama-lama kita akan terpengaruh untuk jadi baik juga. Pun begitu jika sebaliknya.

Saya berdoa semoga Allah tetap menjaga hatiku untuk selalu cinta masjid, dan menjadi ahli masjid dalam arti sebenarnya. Ya, dalam arti sebenarnya.

Ya Allah, jadikanlah aku, keluargaku, dan saudara-saudaraku pencinta masjid dan menjadi ahli masjid dalam arti yang sebenarnya. *

Presentasi di University of Malaya

Foto bersama setelah selesai kegiatan
Dua bulan lalu saya diundang untuk presentasi makalah saya di kampus University of Malaya terkait dengan globalisasi dan identitas kolektif antara masyarakat Indonesia dan Malaysia. Ini merupakan project rumpunism yang digagas oleh Dr. Lili Yulyadi Arnakim dari kampus tersebut.

Perjalanan ke Malaysia ini adalah kali pertama bagi saya. Dari Bandara Husein Sastranegara, saya terbang ke Kuala Lumpur selama beberapa jam saja. Di sana, saya langsung ke Hotel Koptown mengikuti petunjuk yang telah dikirimkan Dr. Lili via email. Naik mobil ke KL Sentral, kemudian naik kereta, turun dan jalan sedikit sudah sampai di hotel. Adapun lokasi acara di gedung R & D berada tak jauh juga dari hotel.

Saya bersyukur bisa hadir di forum ini karena mendapatkan kesempatan untuk belajar dari para pakar yang sudah berpengalaman. Selain saya, juga diundang hadir dan mempresentasikan makalahnya adalah Dr. Basri Amin (Alumni Leiden University), Dr. Linda Sunarti (Kaprodi Ilmu Sejarah UI), Dr. Andy Alfatah, dan beberapa lainnya dari Indonesia dan Malaysia.

Setelah pertemuan, saya sempat jalan-jalan ke Menara Petronas. Bangunannya tinggi dan canggih. Luar biasa sekali ilmu pengetahuan manusia dalam pembuatan menara tersebut. Di masanya, Petronas adalah menara tertinggi di dunia, yang kini kalau tak salah sudah dikalahkan tingginya oleh Burj Dubai.

Setelah kegiatan selesai, tugas kita selanjutnya adalah mengedit kembali makalah tersebut. Jika sudah oke, kata Dr. Lili, buku akan diterbitkan oleh UM Press, dan akan coba dikirimkan ke Palgrave untuk diterbitkan agar berskala lebih global. *

Takdir Seorang Lelaki

Berfoto di Cihampelas Walk
Saya terkadang berpikir, apakah mungkin takdirku harus sering merantau dan sendiri?

Pada tahun 1993, saat pertama kali merantau ke luar Tobelo menuju Jakarta, saya diantar almarhum ayah saya. Setelah diterima jadi santri di Darunnajah, ayahku pulang ke Tobelo, maka praktis saya harus bisa hidup mandiri. Enam tahun saya jadi santri, dan sesekali pulang ke rumah keluarga di Srengseng Sawah, Pondok Gede, atau beberapa tempat lainnya.

Kadang saya merasa, apakah melepaskan seorang anak di usia tamat SD adalah baik untuk perkembangan emosionalnya? Kalau dilihat dari banyaknya orang berhasil yang berasal dari tamatan pesantren selama 6 tahun, besar kemungkinan ini masa yang baik untuk mandiri. Namun semuanya tentu saja kembali pada kecenderungan si anak tersebut.

Setelah tamat Darunnajah, saya diterima di IAIN Jakarta jurusan Pidana Islam, tapi saya tidak daftar ulang dan memilih ke UNHAS Makassar jurusan Antropologi. Alasan saya ketika itu, "saya ingin hidup mandiri di tempat yang tidak banyak orang kenal." Kalau di IAIN (sekarang jadi UIN), teramat banyak alumni Darunnajah yang menimba ilmu di situ. "Karena toh soal Jakarta atau Makassar adalah tidak relevan selama kita memang serius belajar." Jusuf Kalla, kata saya, adalah tamatan UNHAS, bukan kampus besar di Jakarta, tapi pemikiran dan daya jelajahnya kemana-mana, dalam dan luar negeri--meskipun belakangan ia berkuliah juga di luar negeri (tapi mungkin itu non-degree karena gelarnya sampai sekarang hanya ditulis Drs.).

Di Makassar saya kuliah sampai tujuh tahun. Termasuk payah juga saya jika dilihat dari sisi akademik. Masa sih kuliah Antropologi saja butuh 7 tahun! Tapi begitulah. Saya terlanjur aktif di beberapa organisasi yang membuat saya memilih untuk terkadang tidak masuk kelas. Sebenarnya ini tidak baik--dan pelajar atau mahasiswa yang baca tulisan ini baiknya tidak mencontoh pengalaman ini. Tapi itulah pilihan ketika itu. Walhasil, saya berprinsip satu hal, "kalau saya lemah di satu sisi, maka saya harus kuat di sisi lainnya." Akhirnya ada juga sih sedikit yang bisa dikenang sebagai ketua di beberapa lembaga, dan saya berhasil menulis 1 buku menjelang wisuda. Waktu itu, sesungguhnya sesuatu yang amat jarang sekali.

Ketika saya kuliah S2 di UI kekhususan Politik dan Hubungan Internasional, saya juga sendiri. Keluarga kecil saya masih di Tobelo karena pertimbangan tertentu. Pada tahun kedua, saya membawa keluarga saya ke Jakarta.

Sekarang saya lagi ikut pengayaan IELTS untuk lanjut S3 dengan biaya LPDP. Saya sendiri di Bandung. Waktu itu saya minta agar pengayaannya di Makassar agar bisa sama-sama keluargaku, akan tetapi memang di Makassar tidak ada pengayaan IELTS. Untuk mereka yang lulus beasiswa luar negeri dan skor TOEFL atau IELTS-nya kurang, maka diwajibkan ikut IELTS yang hanya digelar di beberapa kampus seperti UI, ITB, dan UGM.

Saat menulis ini, sebentar lagi masuk Jum'at. Saya sendiri di kamar di kampung Pelesiran, tak seberapa jauh dari Cihampelas Walk, Balubur Town Square, Kebun Binatang Bandung, dan Kampus ITB. Kalau Jum'at begini, saya sering teringat ketika saya bersama anak ketiga saya, Fikri Ihsani bersiap-siap untuk berangkat salat Jum'at di masjid. Di masjid saat khatib membacakah khutbahnya, Fikri biasanya tidur. Ini pengalaman yang tidak saya dapatkan ketika saya hidup sendiri di Bandung ini. Ternyata, kalau dipikir-pikir lagi, ada teramat banyak momen-momen sederhana yang jika diingat-ingat sesungguhnya memiliki makna dan kenangan yang dalam sekali. *

In Memoriam Dr. Ivan Hadar

Foto bersama setelah diskusi IDe. Dr. Ivan Hadar nomor dua dari belakang sebelah kiri
Saat membuka Facebook pada sebuah pagi, saya membaca sebuah status, bahwa Dr. Ivan A. Hadar meninggal dunia. Saya segera cek ke beberapa akun kenalan lainnya yang tergabung dalam Institute for Democracy Education (IDe)--lembaga yang didirikan Ivan yang berkantor di Kemang, Jakarta. Di kronologi Facebook Ivan Hadar, juga banyak ta'ziyah untuknya.

Pertemuan saya dengan Dr. Ivan Hadar hanya satu kali waktu saya ikut sebuah diskusi IDe tentang "Charlie Hebdoe dan Benturan Peradaban" di kantor IDe. Waktu itu tidak ada rencana sebenarnya, karena saya pagi sampai siang mengikuti Pameran Pendidikan Australia, kemudian diajak oleh Fahmi Salsabila, Sekjen Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) untuk bergabung di acara tersebut.

Dengan segera, setelah bertanya-tanya tentang pendidikan Australia di stand The Australian National University (Canberra) dan Deakin University (Melbourne), naik ojek saya ke Kemang.

Di sana, telah hadir sekitar 20 orang. Beberapa nama sudah dikenal luas, seperti Smith Alhadar, penulis artikel Timur Tengah yang sangat familiar dan boleh dikata "setiap minggu tulisannya dimuat di koran nasional". Smith juga adalah Penasehat ISMES, sebuah lembaga kajian timur tengah yang digagas oleh peneliti Timur Tengah di UI dan LIPI. Juga hadir Alhaidar, peneliti politik, aktivis, yang saat ini sedang studi S3 Antropologi di UI. Nama-nama lainnya saya baru kenal di situ, mereka menurut saya adalah pribadi-pribadi cerdas, haus akan ilmu, dan gemar berdiskusi--setidaknya itu pandangan pertama saya. Belakangan, saya sesekali chatting dengan Abdurrahman Syebubakar, salah seorang aktivis IDe lulusan ANU yang waktu itu menjadi moderator.

Dalam forum ini, Ivan Hadar menjelaskan tentang bagaimana orang Eropa memandang Islam. Kasus Charlie Hebdoe yang mempublikasikan karikatur Nabi Muhammad, di mata orang Eropa adalah bagian dari kebebasan berekspresi. Namun problemnya kemudian di dunia Islam, karikatur nabi itu tidak dibenarkan. Sontak umat Islam di banyak tempat marah. Hal itu ditambah lagi dengan pencitraan buruk yang ditampilkan dalam karikatur tersebut bahwa Islam adalah agama kekerasan dan seterusnya. Sebelum ini, ada juga karikatur lainnya seperti di Jyllands Posten (Denmark), dan juga video pendek berjudul 'Fitna' yang dibuat oleh seorang politisi di Eropa.

Setelah hadir dalam forum tersebut, saya berbincang santai dengan Ivan Hadar tentang hal-hal biasa. Tentang bagaimana sampai ia tertarik ke PhD Antropologi padahal pendidikan sebelumnya adalah arsitektur. Ia juga bercerita bahwa ia diminta mengajar di Pascasarjana UI bidang Antropologi tapi belum diiyakannya, dan rencana semester ini ia akan mulai mengajar. Juga, saya bertanya perihal beberapa tulisannya yang dimuat berkala di beberapa koran Ternate. Kata beliau, itu agar tidak lupa kampung halaman. Sejauh-jauh orang melangkah, kampung halaman tetaplah teringat di hati dan pikirannya. Saya rasa begitu.

Di kantor IDe juga ada sebuah tempat majalah yang bertuliskan Gamalama. Ya, Gamalama adalah nama gunung di Ternate. Waktu Dorce mau pakai Gamalama di belakang namanya, ia juga sempat sowan ke Sultan Ternate Drs. H. Mudaffar Sjah, Bc.Hk (alm). Inspirasi dari gunung Gamalama memang sangatlah besar, terutama mereka yang pernah berkunjung atau menetap di Pulau Ternate.

Secara pribadi, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Dr. Ivan A Hadar atas pertemuan waktu itu dan juga sharing via Facebook.

Di Facebook, saya juga sempat mengirimkan kaver buku yang saya tulis bersama beberapa teman penulis muda Maluku Utara yang tergabung dalam Bundaran Institute berjudul "Pasir, Batu, dan Etos Budaya: Catatan dari Maluku Utara". Buku ini pernah saya berikan kepada Sultan Ternate di atas podium penutupan acara Legu Gam di halaman Istana Kedaton Ternate. Kemudian, kepada Dr. Ivan juga saya kirimkan sebuah buku saya berjudul "Presiden Mursi: Kisah Ketakutan Dunia pada Kekuatan Ikhwanul Muslimin" yang dikirim langsung dari Jogja.

Untuk Dr. Ivan Hadar. Semoga Allah swt memberikan balasan terbaik atas amal salihnya selama hidup, dan ide-idenya dapat dikaji oleh para aktivis dan pengkaji selanjutnya. Rabbighfirlahu warhamu wa 'afihi wa'fu 'anhu. *

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...