Thursday, July 9, 2015

Kuliah Youtube di Salman TV

Poster Kultube
Pada sebuah sore, setelah program IELTS dan rencana ikut kursus bahasa Turki di Masjid Salman ITB, saya melihat sebuah informasi. Dijelaskan di situ bahwa Salman TV sedang mencari talent untuk mengisi kuliah di Youtube pada bulan Ramadhan tahun ini.

Setelah baca-baca, saya bertanya pada seorang panitianya. "Ini kegiatannya umum atau gimana?" Kata mbak-mbaknya, "Iya, Pak. Ini umum siapa saja bisa ikut." Akhirnya, saya mencoba turut serta dan mengajak dua kawanku, Pak Khairul Fuady dan Adnan Arafani, tapi keduanya memilih untuk jadi 'supporter' saya. Akhirnya, saat itu juga saya masuk ke studio, dan mulai ambil gambar dengan test berbicara di depan kamera. Temanya bebas.

Beberapa hari kemudian, saya diberitahukan via pesan pendek dan telepon bahwa nama saya lolos sebagai talent. Saya senang. Sebagai orang yang iseng-iseng saja ketika itu, akhirnya diberi kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri lewat program ini. Sebulan sebelumnya, waktu singgah di Makassar dua minggu, saya sempat mengisi ceramah singkat dengan tiga tema untuk NET.TV, dan sebelumnya lagi di Ternate saya mengisi sekitar lima kali ceramah di GamalamaTV yang tiap puasa diputar berulang kali.

Ketika waktu syuting, saya membawakan materi "Toilet dan Masa Depan". Tema ini ringan, karena memang permintaan Salman TV temanya harus ringan agar bisa ditonton untuk semua umur dan kalangan. Saya teringat sebuah kutipan bagus, "Jika kamu tidak punya toilet bersih, kamu tidak punya masa depan" yang saya dapatkan dari Profesor Musliar Kasim waktu beliau isi materi di Prajabatan Kemdikbud dalam kapasitasnya sebagai Wakil Menteri Pendidikan. Belakangan, ketika beliau berkunjung ke Ternate, dan berkesempatan untuk diskusi bersama pimpinan Universitas Khairun, saya juga bertanya tentang relevansi pernyataan tersebut. Beliau menguatkan bahwa memang ada korelasi antara toilet bersih dengan masa depan.

Dalam paparan, saya menjelaskan tentang pentingnya menjaga toilet bersih. Toilet bersih berdampak pada etos hidup bersih dan sehat, dengan begitu akan berpengaruh juga pada masa depan. Seorang yang cinta kebersihan akan cinta juga pada hal-hal bersih lainnya. Orang-orang yang berhasil, adalah orang yang cinta pada kebersihan. Nyaris tidak ada orang jorok yang berhasil.

Tayangan Kuliah Youtube Salman TV ini bisa dilihat di kanal Salman TV. Selain ditayangkan di Youtube, masing-masing talent juga dibuatkan profil singkatnya di website Masjid Salman ITB. Sejak diunduh pada 18 Juni hingga 9 Juli, tayangan ini ditonton 415 kali.

Saya pribadi bersyukur bisa belajar dari ikut serta di kegiatan Salman TV ini. Paling tidak saya belajar bagaimana seharusnya ketika di depan kamera--yang diajarkan oleh Kang Iyus--dan bagaimana manajemen media. Saya berharap ke depannya dapat memberikan yang terbaik dalam syiar dakwah Islam, walaupun sejujurnya saya mengakui bahwa kekuranganku masih teramat banyak sebagai manusia. "Sampaikanlah dariku walau satu ayat," sabda Rasulullah saw ini baik sekali sebagai pengingat bahwa tugas kita di muka bumi ini tidak lain dan tidak bukan adalah menyampaikan kebenaran walaupun cuma satu ayat.  *

Terimakasih Salman TV: Mbak Damae, Kang Hendra Veejay, Mbak Igna, dan kru Salman TV. Juga, untuk semua teman-teman talent yang mengisi Kultube tahun 2015 ini.

Link "Toilet dan Masa Depan" --> https://www.youtube.com/watch?v=nJ5i0UfHMPA
Link profil di Salman ITB --> http://salmanitb.com/2015/06/21/kultube-eps-2-yanuardi-syukur-pria-pantai-yang-ingin-menjadi-profesor/

Nasib Imigran Rohingya

Imigran Rohingya (foto: merdeka.com)


Nasib Imigran Rohingya
Oleh:
Yanuardi Syukur, Khairul Fuady, dan Adnan Arafani

Tiga orang terbaring lemas di atas tikar. Dua diantaranya orang dewasa, satu anak-anak yang di tangannya tengah diinfus. Harian Kompas yang merilis foto tersebut di halaman depannya menulis, “Imigran Rohingya asal Myanmar dirawat karena sakit di tempat penampungan.” Ada sekitar 433 imigran Rohingya yang ditampung bekas pabrik kertas di Kecamatan Rantau Selamat, Aceh Timur (Kompas, 22 Mei 2015).
Siapa sebenarnya orang Rohingya yang sekarang sedang ramai diperbincangkan yang menurut PBB mereka adalah ‘etnis yang paling tertindas di dunia’ itu?

Arakan, Negeri Asal
Arakan adalah wilayah yang menjadi sumbu konflik di Myanmar saat ini. Kawasan di mana orang-orang Rohingya ditindas, dibantai dan diusir dari negeri leluhur mereka.  Tanah ini adalah tanah yang kaya akan sumber daya alam yang karena kekayaannya itu pula Arakan telah menjadi rebutan klaim kepemilikan antara bangsa Burma dan rakyat Rohingya sendiri. Tentu saja klaim tersebut kemudian memilki jejak sejarahnya masing-masing. Bagaimanapun dua versi sejarah Arakan tersebut memiliki satu fakta sejarah yang sama-sama disepakati. Baik versi Rohingya maupun Burma, sejarah Arakan dimulai dari kedatangan bangsa ras Indo-Arya (ras anak benua India) ke tanah tersebut ribuan tahun SM (www.rohingya.org & www.myanmar-image.com, 21 Mei 2015).
Artinya, kedua versi sejarah ini sepakat bahwa nenek moyang bangsa Arakan adalah bangsa dari rumpun ras anak benua India. Rumpun ras tersebut adalah rumpun ras yang sama yang dimiliki oleh orang-orang Rohingya sekarang, bukan rumpun ras yang dimiliki oleh orang Burma. Sejak berdirinya berbagai jenis kerajaan di Arakan, entitas agama kerajaannya silih berganti mulai dari Budha, Hindu dan terakhir kerajaan bercorak Islam pada abad 15-18 Masehi sebelum akhirnya diinvasi oleh bangsa Burma pada 1784. Aye Chan (2005), dalam tulisannya The Development of a Muslim Enclave in Arakan (Rakhine) State of Burma (Myanmar) bahwa sampai dengan tahun 1824, bangsa Arya Arakan mengalami intimidasi dan penindasan dari rezim penguasa Burma saat itu.
Ketika Inggris menguasai Burma, kolonalis Barat tersebut menerapkan kebijakan pembagian strata sosial berdasarkan pada tiga kelompok, yaitu: ras penjajah (Eropa) sebagai strata tertinggi, asing non-pribumi strata kedua, dan pribumi pada strata terendah. Kebijakan ini juga memberikan kenyamanan bagi rakyat Rohingya sekaligus sebagai angin segar baru setelah sebelumnya mengalami penindasan luar biasa dari bangas Burma yang merampas tanah mereka. Maka segera setelah itu rakyat Rohingya menguasai pertanian dan perdagangan di Burma termasuk di Rangoon. Struktur sosial yang sama juga diterapkan oleh kolonialis Barat lainnya seperti Belanda yang menempatkan bangsa timur asing seperti Cina pada strata kedua sebagai mitra dalam usaha dagang mereka (www.dutcheastindies.deviantart.com, 21 Mei 2015).
Bisa dikatakan alasan kedekatan dengan kolonialis Inggris ini kemudian menjadi sandaran bagi bangsa Burma untuk mencap rakyat Rohingya sebagai ‘pengkhianat’, kemudian mendapatkan justifikasi untuk membalas pengkhianatan tersebut dengan penindasan, pembantaian dan pengusiran bangsa Rohingya dari tanah leluhur mereka. Itulah yang dialami bangsa Rohingya setelah Inggris meninggalkan Myanmar. Tentu saja ini adalah alasan yang tak pernah terbayangkan sama sekali dalam benak rakyat pribumi—seperti kita di Indonesia—walaupun mengalami pengkastaan yang sama seperti Myanmar ketika memandang saudara-saudara Tionghoa setelah kemerdekaan dari Belanda. Mungkin saja ini adalah justifikasi yang dibuat-dibuat. Cap pengkhianat adalah bahasa yang sangat menarik bagi massa yang sentimen untuk bergerak membumi hanguskan kelompok yang sudah dianggap musuh. Memang invasi bangsa Burma atas tanah air Rakyat Rohingya  pada paruh akhir abad 18 adalah bukti bahwa permusuhan itu sesungguhya telah ada sebelum Inggeris menjejakkan kakinya di Myanmar.
Sampai dengan tahun 1930-an, kebencian terhadap Rohingya muslim berubah menjadi kebencian terhadap muslim secara keseluruhan (www.hi.umy.ac.id, 21 Mei 2015). Artinya, kaum minoritas muslim non-Rohingya yang sebelumnya tak terusik kini juga turut menjadi sasaran amarah orang Burma yang dimotori para biksu berpengaruh dan karismatik mereka. Justifikasi yang menjadi pegangan kali ini adalah untuk melindungi ras dan agama Budha (www.dw.de, 21 Mei 2015). Hanya saja karena Rohingya telah ditetapkan oleh penguasa militer Myanmar sebagai kelompok yang tak mendapatkan kewarganegaraan, maka mereka menjadi kelompok muslim yang paling rentan terhadap serangan-serangan intimidasi fisik dan psikis. Faktor utama yang kemudian membawa mereka terombang-ambing di lautan untuk menyelamatkan jiwa dan tentu saja menjaga entitas peradaban mereka.

Soal Kemanusiaan
Ketika para etnis Rohingya ini terdampar di negeri kita yang subur ini, dunia akan tertawa dan melihat rendah kepada bangsa Indonesia seandainya tidak mampu menjadi solusi masalah ini, bahkan Indonesia, Malaysia dan Thailand disebut beberapa waktu lalu, enggan membiarkan mereka memasuki negaranya masing-masing karena lebih takut kepada masalah ledakan penduduk. Sinyal Amerika Serikat untuk bersedia menerima orang Rohingya (www.time.com, 22 Mei 2015), adalah positif, akan tetapi sebagai sesama orang Asia, tentu kita akan malu jika tetangga kita menderita tapi kita tidak membantu, sedangkan bangsa lain yang jauh bersedia mengulurkan tangan untuk membantu.
Keragu-raguan Indonesia untuk membantu secara utuh masalah ini jika dilihat sebenarnya bertentangan dengan Dasasila Bandung yang diikrarkan 60 tahun yang lalu, dan bahkan baru saja diperingati di negara kita beberapa pekan yang lalu. Sebagai bangsa yang besar, kita sesungguhnya tidak bicara masalah etnis dan agama, tidak membahas tentang suku dan ras, tapi kita sedang berkompetisi menjadi negara yang benar-benar menghormati dan mengangkat derajat umat manusia.
Kita tak akan pernah melupakan bahwa Indonesia berhasil menjadi poros tengah kala suasana dunia memanas dengan adanya blok barat dan blok timur, lalu apakah saat ini naluri menjadi solusi itu sudah hilang dari jadi diri kita bangsa Indonesia? Tentu saja, kita harus membantu yang tidak hanya di permukaan, tapi juga membantu secara utuh. Ini tidak hanya masalah bangsa lain, akan tetapi masalahnya pada kemanusiaan. Sebagai bangsa yang berpancasila, kita pastinya tergugah untuk membantu orang-orang yang menderita.

Lahan Produktif dan Bahasan di DPR
Walau belum menandatangani konvensi PBB tahun 1951, Indonesia tetap memiliki kewajiban untuk membantu imigran Rohingya yang terdampar di laut Aceh. Walaupun pengungsi yang ada di Indonesia saat ini, menurut data PBB ada sekitar 12.000, termasuk etnik Rohingya, tapi tetap kita punya ‘naluri kemanusiaan’ untuk membantu mereka. Prinsip non-refoulement—yang melarang pemerintah untuk menolak para pencari suaka karena masalah ras, agama, dan kebangsaan—tetap harus dihargai, sebagaimana kata Juru Bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir (www.bbc.co.uk, 14 Mei 2015).
Ketua Komisi I DPR Mahfudz Sidiq sempat memberikan solusi beberapa hal terkait bantuan logistik untuk kapal-kapal mereka, menyiapkan penampungan, berkoordinasi dengan UNHCR untuk pengiriman kembali ke Myanmar, dan bersama Malaysia dan Thailand menekan Myanmar untuk menyelesaikan soal politik terhadap warga Rohingya (Republika, 18 Mei 2015).
Apa yang diusulkan oleh Din Syamsudin terkait penempatan imigran Rohingya di sebuah pulau menarik untuk dikaji. Kita masih kayak dengan pulau, dan banyak yang belum terisi. Namun, memang, apakah yang diberikan adalah pulau atau lahan produktif, tetap perlu ada regulasi yang jelas. Memang jika alasannya mereka melanggar imigrasi karena tidak memiliki passport, tentu ini bisa dipahami, tapi konteks secara umum faktanya memang mereka adalah orang-orang yang lari karena ditindas di negaranya. Mungkin ada baiknya hal ini dibahas oleh instansi terkait seperti DPR untuk membahas kasus ‘pelanggar imigrasi’ yang terusir dari negaranya dan meminta suaka ke Indonesia. Sila ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’ bisa menjadi landasan untuk melihat hal ini. *


Yanuardi Syukur adalah Dosen Antropologi Universitas Khairun Ternate; Khairul Fuady adalah Dosen IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa Aceh; Adnan Arafani adalah Mantan Presiden Mahasiswa Universitas Negeri Padang. Ketiganya adalah Awardee LPDP Afirmasi Luar Negeri dan sedang mengikuti pengayaan IELTS di ITB.

Tulisan ini adalah bagian dari keresahan atas tragedi Rohingya, dan upaya untuk mencari solusi masalah tersebut.

Tuesday, July 7, 2015

Buka Puasa di Rumah Dubes Australia

Foto bersama: Mas Tito (suaminya Dian Pelangi), Sari Narulita, Monica, Mr. Paul Grigson, Yanuardi, dan Mas Rofik

Salah satu yang saya senangi sejak dulu sampai sekarang adalah silaturahmi. Kupikir, ada banyak hal yang bisa didapatkan ketika bersilaturahmi. Yang paling penting menurutku adalah mendapatkan pengalaman.

Saya mendapatkan undangan dari Dubes Australia Mr. Paul Grigson untuk hadir dalam buka puasa bersama. Sebagai yang pernah ikut program Muslim Exchange beberapa bulan lalu, kita memang masih fresh berkomunikasi dengan Kedutaan Australia.

Rumah Dubes terletak di Jalan Teuku Umar Nomor 7, Menteng. Masuk ke sini tidak banyak pemeriksaan sebagaimana di Kedutaan. Ketika turun dari taksi, saya langsung ketemu Ibu Emiraldi, bagian Kebudayaan Kedutaan, dan langsung dipersilahkan masuk, dan diantar oleh security ke dalam. Di dalam saya bertemu Mas Sulis, bagian Kebudayaan juga, Mbak Anindita, dan beberapa staf lainnya.

Kepada Malcolm Brailey, bagian politik, saya dikenalkan oleh Mbak Anindita sebagai alumni MEP. Begitu juga ketika bertemu Dubes--pertemuan ini lebih cair--karena informal, diperkenalkan juga bersama beberapa teman.

Ketika sambutan, Dubes menyampaikan terimakasih kepada undangan yang sudah hadir. Turut memberikan sambutan adalah Wakil Rektor Universitas Paramadina, Pak Toto yang sudah bekerjasama dengan Kedutaan Australia dalam program MEP. Kata beliau, kontak antara kedua negara sangatlah penting, maka program MEP ini juga sangat penting peranannya.

Saya juga ngobrol dengan Malcolm, dan Dr. Lauren Bain, bagian politik. Memang tidak lama, karena waktu kita setelah buka, langsung salat di samping kolam renang, ngobrol-ngobrol, foto-foto, dan pulang. Kayaknya saya orang luar yang pulang terakhir, sebelum staf Kedutaan pada pulang.

Foto bersama dua Dubes Australia: Mr. Greg Moriarty (2013) dan Mr. Paul Grigson (2015)
Sebelum pulang, saya foto bareng Dubes dulu. Dulu, waktu Dubes Australia Mr Greg Moriarty ke Ternate dan saya jadi PIC dari Universitas Khairun, saya juga sempat foto berdua. Kepada Dubes, waktu itu, Rektor Unkhair Prof. Gufran Ali Ibrahim menyerahkan beberapa usulan kita kepada Dubes. Usulan-usulan itu draftnya saya rancang, kemudian berkoordinasi dengan Rektor, dan diberikan kepada Dubes Moriarty.

Pertemuan ini, sekecil apapun ada manfaatnya. Paling tidak untuk menjaga silaturahmi dalam rangka memperkuat ikatan kerjasama yang baik antara kedua negara.

Buka Puasa Alumni Kajian Timur Tengah UI

Foto bersama Alumni PSKTTI dan beberapa dosen yang hadir
Pada siang hari Senin, 6 Juni 2015, bersegera saya ke Stasiun Bandung. Naik Kereta Argo Parahyangan, saya tiba di Gambir jam 3 sore, dan langsung naik taksi ke Kampus UI Salemba.

Pada hari tersebut, diadakanlah Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Alumi Kajian Timur Tengah dan Islam UI. Kegiatan ini diadakan dan diisi oleh para alumni.

MC-nya Dr. Marissa Haque, seorang mantan artis dan sekarang ini aktif di politik. Beberapa waktu lalu, Marissa mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Banten bersama Dr. Zulkiflimansyah, tapi kalah oleh Ratu Atut Chosiyah. Pembicara kegiatan ini adalah Ust. Shalahuddin, dan Ibu Wirianingsih. Masing-masing menjelaskan tentang nuzul qur'an dan silaturahmi yang disiarkan live streaming di salingsapa.com

Di sini hadir juga Kaprodi PSKTTI, Dr. Muhammad Lutfi Zuhdi, Mantan Kaprodi Prof. Reni Hawadi, dan beberapa dosen lainnya. Ketua ILUNI UI PSKTTI Dr. Nurul Huda juga hadir. Ketua panitianya Mas Andie.

Pertemuan dengan teman-teman alumni terasa sangat akrab, walau baru satu kali bertemu. Saya merasa sesama alumni, kita butuh bertemu dan saling bekerjasama. Kepada Mas Andhie, ketua panitia saya usulkan agar dibuat website alumni, juga kepada Dr. Nurul Huda. Saya sudah sampaikan juga kepada Ikhsan Pallawa, kawanku asal Makassar yang lulusan Ekonomi Syariah di Kajian Timteng dan Islam UI. Ikhsan sudah berpengalaman dalam membuat dan mengelola website. Maka, pasti ia bisa memberikan sumbangsihnya yang terbaik untuk ILUNI UI PSKTTI. 

Saya juga ngobrol dengan Marissa Haque dengan beberapa kawan.Usulan saya buat beliau adalah beliau menulis buku pengalaman hidupnya. Mungkin semacam biografi atau apa-apa saja yang menarik untuk dibagi kepada orang lain. Marissa bilang, ia belum bisa jadi teladan, tapi beberapa kawan mengatakan bahwa ada hal-hal tertentu dari dirinya seperti bagaimana mendapatkan lima gelar sampai doktor, kemudian bagaimana mendidik anak, dan juga yang penting adalah: manajemen hidup. Kupikir, baik jika hal-hal menarik dari Marissa Haque bisa dibagi kepada orang lain. Artinya, tiap orang sejatinya punya kelebihan--sekecil apapun itu--yang bisa dibagi kepada orang lain.

Dalam kegiatan ini saya jadi teringat kembali masa-masa kuliah S2 di situ. Saya kadang membayangkan masa-masa ketika saya ke kampus dari Sentiong, lewat rumah-rumah orang di Paseban, dan menyeberang ke UI. Kemudian, bagaimana perkuliahan di malam hari, dan pulangnya.

Juga teringat dosen-dosenku dulu. Mereka secara langsung atau tidak langsung memberikan perspektif bagi saya. Saya terinspirasi untuk lebih belajar sejarah Islam dari Prof. Badri Yatim. Belajar Politik Internasional dari Prof. Zainuddin Jafar. Perluas wawasan dari Prof. Ramzy Tadjoedin. Perluas jaringan dan wawasan keislaman dari Dr. KH. Hasyim Muzadi, dan bagaimana menganalisasi politik timteng dari Prof. Hamdan Basyar.

Walau kini saya tidak mengajar Kajian Timur Tengah secara khusus, tapi di kampus Universitas Khairun, tempat saya mengabdi, saya mengasuh Sejarah Timur Tengah di Prodi Ilmu Sejarah.

Dalam waktu dekat ini, saya berharap semoga bisa melanjutkan pendidikan S3 Antropologi. Saya berharap sih, jika skor IELTS-ku bisa dapat 6.5 atau 7, lanjut di luar negeri. Tapi kalau memang, pada akhirnya tidak sampai, saya pikir dimanapun saya akan berusaha jadi yang terbaik.

Di Ramadhan ini saya ingin sekali berdoa semoga Allah swt memberikan hidayah kepadaku. Menunjukkan aku jalan-Nya yang terbaik. Menjagaku dari godaan untuk berbuat dosa. Dan, menjadikanku bertakwa dimanapun aku berada.

Sunday, July 5, 2015

Konferensi Pers Film KMGP

Penulis, Sutradara, Tim Produksi, dan Artis Utama KMGP The Movie
Pada sebuah pagi, 27 Juni 2015, saya membaca postingan Mba Helvy Tiana Rosa terkait press conference film Ketika Mas Gagah Pergi yang diadakan hari itu juga pukul tiga sore di acara Celebrating 20th Wardah, bertempat di Senayan City, Jakarta.

Sebagai orang yang banyak mendapatkan inspirasi dan kebaikan dari Mba Helvy saya pikir, jika ada waktu, saya harus ke Jakarta. Berpartisipasi dalam hal baik adalah baik, batin saya. Sejak lama, saya memang banyak dibantu oleh beliau. Pada tahun 2009, saya direkomendasikan oleh HTR untuk jadi peserta program esai Majelis Sastra Asia Tenggara dan bertemu dengan beberapa penulis kawakan seperti Mohamad Sobary. Saya juga diajak untuk bergabung dalam International League of Islamic Literature atau Rabithah al Adab al Islami al Alamiyah bersama 15 penulis Indonesia lainnya untuk jadi anggota pertama lembaga tersebut yang berkantor pusat di Riyadh. Rabithah Indonesia dipimpin oleh Habiburrahman El Shirazy atau Kang Abik dengan Wakil Ketua Mba Helvy. Selanjutnya, banyak lagi catatan 'bantuan' Mba Helvy kepada saya yang saya pikir, sebagai adik yang baik saya harus membantu sejauh yang saya bisa.

Maka jelang siang waktu itu, saya bersegera naik kereta ke Jakarta. Harusnya turun di Gambir, tapi saya turun di Jatinegara, dan naik ojek agar tidak ketinggalan. Di sana, ternyata acara diundur. Saya masih bisa saksikan beberapa peragaan busana muslim. Acara preskon diadakan jam empat kuranglebih.

Ketika itu Mba Helvy memperkenalkan tim kerja film KMGP, kemudian beberapa artis utama pemeran Mas Gagah, Yudi, dan Nadia. Mereka masih muda-muda, dan terlihat memang masih baru dalam dunia hiburan. Ketika diminta beri sambutan, ketiganya masih terlihat kaku. Memang wajar sih, karena baru. Tapi, terlihat mereka tipe pembelajar yang cepat, dan mereka menikmati peran yang akan mereka emban di film ini. Film ini rencana akan disyuting di Jakarta dan di kampung saya, Ternate. 

Sebagai adik yang baik, saya mendukung seutuhnya film KMGP. Sebagai anggota FLP, saya juga sangat mendukung film yang diangkat dari novelet (awalnya cerpen) karya Mba Helvy. Secara pribadi, saya juga terbentuk kesadaran untuk berislamn lebih baik setelah baca cerpen beliau.

Kita tunggu filmnya nanti. Dan, bagi teman-teman yang ingin turut partisipasi, karena film ini sistemnya crowdfounding--dananya sumbangan dari mana-mana--bisa langsung mengirimkan donasinya. Apakah karena tidak ada donatur atau PH yang mau? Ada banyak PH yang mau memfilmkan, akan tetapi idealisme Mba Helvy dan juga pembaca, belum cocok dengan keinginan PH. Memang, dalam industri film dewasa ini tiap PH pasti berpikir gimana balik modalnya, maka idealisme--yang dijaga oleh para aktivis--bisa jadi berperang hebat dengan kebutuhan pasar.

Jadi, bagi teman-teman yang ingin berdonasi, bolehlah. Pastinya, untuk hal baik, kita harus saling bantu. Bukankah, begitu?

Berikut informasi tentang crowdfunding dan rekening terkait.

Crowdfunding adalah suatu gerakan dimana kita berdiri sejajar, membantu satu sama lain dan mengubah ide menjadi karya nyata yang bermanfaat. Tidak ada tangan yang di atas ataupun yang di bawah. Ini bukan belas kasihan apalagi minta-minta, melainkan gotong royong berdasarkan kesamaan ide, mewujudkan cita-cita bersama tanpa perlu tergantung pada segelintir pemilik modal. Jadi crowdfunding itu memerdekakan dan membebaskan, dari kita untuk kita.

Yuk, ikutan patungan bikin film Ketika Mas Gagah Pergi bersama para Sahabat Mas Gagah (@sahabatmasgagah). Rekening Mandiri 1570087778883 atau BNI Syariah 0259296140 a.n Lingkar Pena.

Konfirmasi sms 08121056956. Info: www.masgagah.com atau www.sastrahelvy.com


Hawa Berasap di Kota Kembang

Wanita merokok (KoranFakta.Net)
Ketika pertama kali menetap dalam waktu yang agak lama di Bandung, satu hal yang saya lihat adalah fenomena perempuan merokok. Waktu itu, jelang magrib saya makan di sebuah warung tak seberapa jauh dari Cihampelas Walk. Saat menunggu makanan, di seberang tempat duduk saya beberapa wanita muda tengah bercerita sambil sesekali mengepulkan asap rokoknya ke udara.

Sebagai orang kampung, saya agak terkejut. Sebenarnya tidak terkejut amat karena di sekitar rumah saya, di pinggiran pantai Angin Mamiri Tobelo di Halmahera sana, banyak juga ibu-ibu yang merokok. Jadi seharusnya saya tidak terkejut. Tapi kali ini saya terkejut.

Tampaknya karena yang merokok di dekat saya adalah wanita-wanita muda. Baiklah, seharusnya kalau saya peduli saya tidak boleh memisahkan seperti itu--muda atau tua--tapi kenyataannya memang ada hal yang berbeda ketika kita lihat ibu-ibu tua merokok dengan wanita-wanita muda merokok. Sama halnya ketika kita lihat anak SMP atau SD merokok dengan lelaki tua bangka merokok. Pasti ada bedanya, bukan?

Di lain waktu, setelah nonton di Cihampelas bersama beberapa kawan Awardee LPDP, saya ajak mereka makan di warung yang pernah saya tempati makan itu. Ketika itu, saya juga temukan beberapa wanita muda merokok. Seorang kawan saya bertanya setelah kami selesai makan, "di warung itu memang biasa ya cewek merokok?" Saya jawab, "setidaknya waktu saya pertama kali ke situ memang saya lihat banyak perempuan muda merokok."

Ada semacam kepedulian, atau mungkin perhatian dari kita--mungkin teman-teman saya juga, paling minimal sih saya--akan wanita-wanita yang merokok itu. Memang, hak merokok itu mereka punya sebagai manusia merdeka, tapi kan ini masalah kesehatan. Orang-orang yang mati-matian bela rokok besar mungkin di satu sisi akan dianggap pahlawan karena memperjuangkan banyak pekerja tembakau, tapi di sisi lain tidakkah mereka memikirkan dampak buruk rokok bagi kesehatan? Dan, mungkin pertanyaan paling penting juga adalah, apakah orang-orang kaya pemilik perusahaan rokok itu juga menikmati rokok? Selebaran-selebaran di dunia maya--ini tidak bisa jadi fakta, tapi bisa dipertimbangkan untuk ditelusuri lebih lanjut--bilang, keluarga-keluarga kaya pemodal perusahaan rokok juga tidak merokok karena mereka tahu buruknya efek rokok.

Tadi, di bulan Ramadhan yang mau mendekati hari ke-20 ini saya melihat seorang perempuan muda merokok. Waktu itu saya baru mau naik ke sebuah mushalla kecil di samping Gramedia. Dengan santainya merokok, kemudian setelah salat, saya turun ia masih merokok bersama seorang lelaki lagi. Saya berpikir, "mungkin ia sedang datang bulan, jadi ia tidak bisa puasa sehingga ia merokok." Tapi, pertanyaan saya kemudian adalah, apakah harus rokok yang jadi solusi ketika seseorang tidak berpuasa?

Sebagai lelaki kadang saya terenyuh melihat wanita-wanita muda merokok. Mungkin seperti juga kawan saya yang sempat bertanya perihal wanita-wanita merokok itu. Saya cuma merasa sedikit simpati kenapa di usia mereka yang teramat muda mereka sudah merokok dan mungkin jadi pecandu--dalam takaran tertentu--akan rokok. Saya tidak tahu kenapa bisa begitu. Tapi mungkin, orang bilang ini karena gaya hidup, lifestyle. Apakah sebagai orang kota kita harus merokok untuk disebut gaul? Tapi mungkin ini juga pengaruh iklan yang begitu massif sampai-sampai orang-orang di kota merasa harus merokok, apatah lagi orang-orang di kampung yang ingin terlihat lebih gaul dan diterima sebagai manusia modern. *

Friday, July 3, 2015

Rindu Nenek dan Ayahku

Tahun 1993 di Ragunan bersama ayah, kakakku, dan Amat
Ramadhan 2015 ini adalah tahun rindu. Salah satu yang saya rindukan--selain keluarga kecilku di Maros dan keluarga besarku di Tobelo--adalah ayah dan nenekku. Ayahku telah tiada beberapa tahun lalu, sedangkan nenekku baru pergi beberapa bulan lalu saat aku lagi dalam perjalanan Kuala Lumpur ke Jakarta. Isyarat ada orang yang sakit di pesawat dan membuat panik beberapa pramugari, mungkin di waktu-waktu itulah nenekku dipanggil oleh-Nya di Bandar Jaya, Lampung.

Ayahku sudah tiada. Saya kadang teringat dengan ayahku. Bukan kadang sih, tapi sering. Pada tahun 1993, setelah tamat SD saya dengan ayahku naik kapal dari Tobelo ke Morotai, dari Morotai ke Ternate. Di kapal itu saya beberapa kali mabuk perjalanan, tapi ayahku tetap sabar membantu. Di Morotai, ayahku bilang, di situ ada tempat makan ikan bakar yang enak. Itu masih kuingat sampai sekarang. Aku tak tahu, waktu ke Morotai beberapa tahun lalu apakah tempat makan itu masih ada atau tidak.

Dari Ternate kami naik kapal ke Jakarta. Seminggu kurang lebih. Tiba di Jakarta ayahku temani aku daftar ke Darunnajah, sebuah pesantren di selatan kota. Juga aku diajak bertemu beberapa keluarga di Pasar Jum'at, termasuk diajak ke Pasar Senen lihat-lihat alat karena ayahku hobi dengan mesin. Di Jakarta aku tinggal di rumah keluargaku, di Srengseng Sawah, yang beberapa bulan lalu juga sudah tiada. Beliau mengajarkanku banyak hal juga ketika aku baru mulai tahu ibukota. Ia ajak aku ke Senayan, berpikir ala orang kota, dan hidup dengan teratur.

Nenekku biasanya kalau Ramadhan gini sudah nelpon. Adi, gimana kabar? Ah, kadang aku rindu dengan suaranya. Dari Lampung ia telpon saya. Katanya sih saya cucunya yang disayanginya. Waktu ia sakit, ia sering berkata agar aku segera ke Lampung, tapi aku sedang menjalani kursus di Bandung, dan waktu ke Kuala Lumpur itulah rencanaku memberi suprise datang ke Lampung setelah kegiatan di University of Malaya. Tapi takdir berkata lain.

Ramadhan ini aku rindu, ayahku dan nenekku. Aku tak tahu harus gimana, tapi kuberdoa semoga ayahku dan nenekku mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah swt. Semoga dosa-dosa keduanya diampuni Allah, dan aku dapat menjadi anak dan cucunya yang paling terbaik. Kadang sih, aku berpikir, apakah aku sudah jadi yang terbaik? Rasanya masih jauh dari baik. Tapi, tekadku untuk baik tetap ada. Dan, kuberharap aku benar-benar menjadi baik. Allahumma yassir umurana. 

Bandung, 3 Juli 2015

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...