Wednesday, December 21, 2022

Proyeksi 2023

Proyeksi 2023 butuh refleksi 2022. Apa yang telah kita lakukan, kita capai, dan apa yang tidak kita capai. Kita mulainya dari masa lalu kemudian melangkah ke masa depan. 

Pada 2023 kita harus berpikir dan bertindak yang lebih efektif. Jangan terlalu banyak. Lebih bagus terbatas tapi berdampak baik dan jangkauannya luas. 

Kita perlu merancang 2023 dengan berfokus pada apa-apa yang hendak kita capai di tahun tersebut. Apa yang mau dicapai bagusnya kita tulis beberapa poin tersebut, kemudian memikirkan bagaimana caranya merealisasikan hal tersebut. 

2023 sudah dekat. Ada baiknya kita buat garis besar program di tahun tersebut. 

Tuesday, December 20, 2022

Invisible Learning, Sebuah Renungan Akhir Tahun 2022

Jelang sore tadi saya beli buku Invisible Diplomacy karangan Dubes Arif Sumantri Harapan. Bukunya dipajang di depan salah satu toko kue tak jauh dari ATM BNI dan Masjid FISIP UI. Setelah membeli segelas kopi seharga Rp. 5000, mata saya tiba-tiba melihat buku cover hitam itu, membaca sekilas blur-nya dan langsung transaksi. 

Jika inivisible diplomacy diartikan sebagai "diplomasi tak terlihat", maka invisible learning saya artikan sebagai "pembelajaran tak terlihat." Maksudnya, sebuah aktivitas pembelajaran yang tidak menunjukkan bahwa ia sedang belajar akan tetapi sejatinya ia belajar. 

Di era seperti sekarang, orang kadang senang untuk posting foto saat belajar, padahal belum tentu mereka belajar. Citra sebagai pembelajar belum tentu betul, sebab itu bisa jadi hanya berhenti pada citra. Tapi, karakter pembelajar akan terus abadi, baik terekam oleh media foto atau tidak. Saya ingin memilih yang kedua, tidak gembar-gembor sebagai pembelajar, akan tetapi setiap waktu terus belajar. 

Saat ini kita sudah hidup di akhir tahun 2022. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Saya mulai kuliah doktor pada tahun 2016, dan kini belum selesai. Beberapa kawan telah selesai, tapi beberapa lainnya tidak selesai. Orang bilang, kuliah doktor itu susah-susah gampang. Tapi, terlepas dari semua kesulitan yang ada, yakinlah dan percayalah bahwa selalu ada hikmah di balik semua itu. 

Di akhir tahun biasanya kita senang merenung. Merenung apa yang telah saya capai selama satu tahun ini? Saya kadang suka sedih manakala melihat capaian hidupku yang masih jauh dari ideal. Tapi di kali lain saya juga tersadar bahwa ketika kita memilih untuk mendapatkan sesuatu sangat mungkin kita akan kehilangan sesuatu yang lainnya. Artinya, tidak ada yang betul-betul bisa kita raih sekaligus. Sekali mendayung dua pulau terlampaui itu betul, walau tidak selalu berlaku sama untuk semua urusan. 

Umurku sekarang telah 40, tidak terasa saya mulai tua. Ketuaan itu kadang membuat kita mulai lupa. Saya juga kadang merasakan itu. Bahkan, beberapa waktu lalu saya pernah nabrak pintu kaca hotel yang mengakibatkan kacamataku patah dan pelipis sakit. Alhamdulillah, cuma itu yang rusak, dan besoknya saya bergegas dari Grand Sahid Jaya ke Blok M untuk beli frame baru. 

Saat nabrak pintu kaca yang tertutup itu, kepalaku agak pusing. Ada security di situ. Dia bantu carikan kacamataku yang patah dan jauh. Kemudian saya bertanya, "Kenapa ya saya bisa nabrak?" Kelihatannya karena tidak fokus tadi, Pak. Kata beliau begitu. Saya coba mikir, apa iya saya nggak fokus? 

Kalau dipikir-pikir, bisa jadi memang iya. Saya nggak fokus. Terlalu banyak hal mau saya capai, akhirnya tidak ada yang betul-betul diraih secara maksimal. Orang bilang, "terlalu banyak maunya..." Mungkin itu kondisiku. Tapi, mau bagaimana lagi, sebagai ayah saya harus memikirkan banyak hal dan harus berjuang untuk membuka banyak jalan demi dapat rezeki bagi istri dan anak-anak saya yang mereka jadi tanggungan saya. 

Pada akhir tahun begini saya alhamdulillah telah mulai lagi membangkitkan semangat untuk menyelesaikan yang tertunda. Apa-apa yang telah saya mulai harus saya selesaikan. Untuk itu, saya juga harus berani untuk "berkata tidak" pada hal-hal yang tidak menjadi konsentrasi saya. Dulu semua hal akan saya ambil, saat ini saya harus memikirkan kembali hal itu. 

Menjadi pribadi pembelajar rasanya butuh fokus. Saya harus belajar untuk itu. FOKUS, FOKUS, dan FOKUS. Mungkin dengan sedikit mengambil jarak dari media sosial akan membuat saya lebih fokus. Sebagai gantinya, saya harus lebih dekat kepada teks jurnal akademik, publikasi, dan menghasilkan produk disertasi yang berkualitas baik. 

PS: Terima kasih untuk istriku yang menyediakan minuman hangat di atas meja. 

Sunday, May 29, 2022

Mempertahankan Semangat

Tidak mudah mempertahankan semangat, tapi bukan berarti tidak bisa. Semangat dapat dipertahankan dengan memperkuat semangat itu. Kata 'memperkuat' adalah kunci. Siapa mau mempertahankan maka dia harus memperkuat sesuatu itu. 

Menjelang jadwal ujian hasil disertasi yang insya Allah diadakan awal Juli 2022, saya berusaha untuk mempertahankan semangat agar disertasi dapat selesai dengan baik dan bagus. Soal baik dan bagus memang tidak mudah, tapi sebagai mahasiswa kita dapat berusaha untuk itu. Tugas kita adalah berusaha. Berusaha memperbaiki berdasarkan masukan pembimbing dan menemukan sesuatu di balik data yang sangat kaya tersebut. 

Mempertahankan semangat sepertinya menjadi problem manusia modern. Saya lihat banyak orang mulai frustasi dengan orang lain. Bisa jadi karena orang lain awalnya dipercaya tapi kemudian berubah drastis. Kepercayaannya pun menurun jauh. Dalam level sosial juga sepertinya mulai menurun semangat untuk memperkuat, sebaiknya mulai muncul semangat untuk memperlemah. Kita mulai senang dengan perbedaan, padahal kita sejak awal sadar bahwa perbedaan itu anugerah. 

Mempertahankan semangat adalah tugas pribadi dan masyarakat. Tiap kita perlu berusaha sekuat tenaga bagaimana caranya agar bisa semangat dengan apa yang kita punya. Mungkin tidak harus membandingkan diri dengan orang lain. Kita bisa mempertahankan semangat dengan apa-apa yang kita miliki. 

Monday, May 16, 2022

Elon Musk dan Kepentingan Nasional Kita

Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Elon Musk 
(foto: Liputan6.com, dari Biro Pers Sekretariat Presiden)

Kunjungan Presiden Joko Widodo kepada CEO Tesla Inc. Elon Musk di SpaceX, Boca Chica, AS, Sabtu (14/5/2022) menjadi berita penting di Indonesia. Elon adalah inovator, pengusaha dan miliarder penting saat ini yang sangat menarik. Harapan paling dekat adalah Elon bisa berkunjung ke Indonesia dan mau berinvestasi di Indonesia. Harapan ini tentu saja sangat wajar, karena siapapun pejabat Indonesia yang bertugas di luar dia haruslah berdiplomasi membawa nama Indonesia sekaligus menjalin kemitraan dengan Indonesia, salah satunya adalah ajakan investasi. 

Presiden Joko Widodo menjelaskan bahwa kunjungan ini adalah tindak lanjut dari perintah sebelumnya kepada Menkomarves Luhut B. Panjaitan untuk berbicara mengenai kerja sama terkait investasi, teknologi dan inovasi. Elon mengatakan bahwa dia sangat tertarik dengan masa depan Indonesia. Indonesia terlihat sangat optimistis terhadap masa depan dan memiliki energi positif. "Saya rasa Indonesia memiliki potensi yang besar, dan saya rasa kita--melalui Tesla dan SpaceX--akan mencoba beberapa kerja sama dengan Indonesia," ujar Elon. 

Pembuka Transfer Kreativitas Berkelanjutan

Bagi saya, pertemuan Presiden Joko Widodo adalah pintu terbuka bagi pertemuan selanjutnya. Elon menyebut kata 'kolaborasi' saat diwawancarai bareng Presiden Jokowi. Kolaborasi harus dibuka lebih luas pasca kunjungan tersebut. Maksudnya, selain ajakan agar Elon Musk berinvestasi di Indonesia, sebaiknya ada pertukaran ilmuwan antara Indonesia dengan Amerika, atau magang dari sini ke sana, atau juga diskusi berkala terkait 'rahasia kesuksesan' Elon Musk secara personal dan institusional, serta inspirasi itu menjadi salah satu alas pijak dalam pengembangan kurikulum kita. 

Siswa dan mahasiswa kita yang tertarik pada sains dapat difasilitasi, dibuka keran-nya untuk bisa bermitra dengan perusahaan Elon. Dalam konteks lebih luas, sebaiknya berbagai institusi yang telah atau pernah bermitra dengan Indonesia dibuka peluang kepada anak bangsa untuk bisa melanjutkannya dalam berbagai cara. Saya lihat, salah satu problem klasik di bangsa kita adalah keterputusan sejarah dan keterputusan kolaborasi. Sebuah kebijakan berhenti saat berganti pejabat, dan setelah itu praktik-baik dari yang-lama kemudian terlupakan begitu saja. Akhirnya, kita jadi kehilangan pintu terbuka tersebut. 

Transfer kreativitas Elon juga terkait dengan transfer etos kerja. Apa etos kerja yang dimiliki Elon sampai dapat membangun perusahaan besar dalam empat bidang terpisah, yakni software, energi transportasi dan kedirgantaraan? Tidak hanya soal dia sebagai inovator dengan valuasi bisnis miliaran dolar, tapi terkait dengan etos kerjanya. Ini perlu kita pelajari. Elon dikenal sebagai pribadi beretos kerja heroik. Dia bekerja secara teratur selama 85 jam seminggu dan mampu menetapkan visi yang mengubah kenyataan untuk masa depan. 

Kepribadian seperti ini disebut sebagai expert-generalist, yakni seorang pakar yang memiliki kapasitas sebagai berikut: (1) dapat mempelajari berbagai bidang secara luas, (2) dapat memahami prinsip-prinsip dasar secara mendalam dan (3) dapat menghubungkan bidang-bidang tersebut pada spesialisasi utama yang menjadi core-nya. Jika karakter generalis ini dikembangkan, maka spesialis akan tertinggal, atau konsep "spesialis" diubah konsepnya menjadi kemampuan memahami berbagai bidang luas sekaligus menghubungkan titik-titik pentingnya menjadi satu kesatuan spesialsiasi. Jadi, kekuatan dia ada pada kemampuan memahami dan menghubungkan. Kapasitas itu diperkuat dengan visi inovatif dan ketahanan personalnya menghadapi ancaman kegagalan. 

Sejak muda, Elon baca dua buku per hari dalam berbagai disiplin ilmu. Dia termasuk 'pembaca yang rakus' dan selalu harus akan pengetahuan. Bacaannya terkait dengan fiksi sains, filsafat, agama, programming, biografi saintis, engineer dan entrepreneur. Kita umumnya hanya berhenti pada ranah "fiksi sains, filsafat, agama, biografi" (plus entreprenur) atau sebaliknya belajar "programming, biografi saintis, engineer" tapi lemah dalam entrepreneur dan agama. Kemampuan Elon berada pada sintesis kapasitas-kapasitas yang ada berkat semangat akademik yang dipadukan dengan teknologi dan jiwa kewirausahaan. 

Mempelajari Elon, Melahirkan Kepakaran Jenis Baru

Indonesia butuh belajar dari Elon Musk. Kunjungan Presiden Joko Widodo dapat dimaknai sebagai 'undangan investasi' sebagaimana sebelumnya juga presiden biasa mengajak investor asing untuk tanam modal di sini. Pada bagian ini, semua orang saya kira setuju bahwa investasi sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Paling dekatnya yang dibutuhkan Indonesia adalah komitmen Elon untuk membangun pabrik mobil listrik di Indonesia. 

Di Asia, Elon telah memperlihatkan kemungkinan membuka pabrik di Karnataka, India Selatan. Jika kesepakatan ini diteken, maka Tesla akan memiliki tiga basis produksi, yakni di Amerika Serikat (negara asalnya) serta dua di Asia (China dan India). Indonesia berpeluang untuk mendapatkan 'kemewahan' investasi Tesla, yakni dalam konteks investasi energy storage system (ESS) yakni produksi bahan baku utama bateri kendaraan listrik. Artinya, pabrik mobil listrik tersebut diproduksi di tiga tempat itu tapi semua itu tidak akan sempurna jika tidak pabrik bahan baku bateri listrik, dan Indonesia memiliki potensi sebagai produsen baterai lithium terbesar di dunia setelah China. Inilah yang menjadi 'nilai lebih' dan unsur kompetitif Indonesia untuk ditawarkan kepada Tesla.  

Makna lain dari kunjungan tersebut adalah transfer teknologi. Soal transfer ini dibicarakan oleh, bahkan sebagian memaknai kunjungan tersebut sebagai 'undangan transfer teknologi' di Indonesia. Transfer dimaknai sebagai perpindahan sesuatu dari suatu tempat ke tempat yang lain. Saya transfer uang, berarti saya memindahkan uang saya dari satu tempat--umumnya bank--ke bank lainnya. Saya transfer ilmu kepada murid saya, berarti saya memindahkan ilmu dari otak saya kepada murid-murid saya. Di sini transfer berarti perpindahan. 

Pertanyaannya, apakah Presiden Joko Widodo berfokus pada transfer teknologi sejauh ini? Banyak kalangan ragu, sebab sejauh ini pertumbuhan ekonomi menjadi prioritas, bukan ilmu dan teknologi. Itulah mengapa argumen transfer teknologi tidak dominan, ketimbang argumen investasi bisnis di negeri ini. 

Soal prioritas investasi daripada ilmu pengetahuan menjadi problematika di Indonesia. Sejauh ini jarang kita dengar ada pernyataan presiden agar semua kebijakan--terutama yang penting--didasarkan pada hasil riset. Akhirnya, orang jadi ragu apakah presiden betul-betul mengambil kebijakan berbasis riset atau 'pesanan'? Misalnya, pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang diambil bukan melalui riset serius yang melibatkan berbagai ahli. Keraguan itu sangat beralasan, sebab pada faktanya kebijakan kadang dimulai dari kesepakatan politik ketimbang riset akademis. 

Secara pribadi saya merasa tidak ada yang salah dalam kunjungan Presiden Jokowi kepada Elon Musk. Semua presiden juga akan melakukan berbagai cara agar investasi bisa tumbuh, apalagi Indonesia dipercaya sebagai Presidensi G20 pasca Italia tahun lalu. Kepercayaan ini tentu haruslah dibarengi dengan berbagai 'endorsement' lainnya bahwa Indonesia adalah negara besar, menarik untuk investasi dan harapan bagi masa depan. Saat ini Indonesia butuh 'endorsement' itu dari berbagai tokoh dunia, termasuk Elon Musk. 

Saya melihat, 'endorsement' Elon Musk dengan rencana kehadirannya pada bulan November 2022 adalah akan mengangkat kepercayaan bangsa-bangsa dunia terhadap Indonesia. Utang Indonesia di angka yang tinggi, Rp. 7000 Triliun, harus dicarikan solusinya dan di sisi lain kepercayaan publik di dalam dan luar negeri harus terus dirawat dan ditingkatkan. Sejenak jika kita berpikir dari perspektif sebagai pengelola bangsa ini, kita pasti juga akan disibukkan oleh kebutuhan 'endorsement' tokoh dunia agar menguatkan bahwa kita memang negara besar yang sejajar dengan negara-negara raksasa lainnya. 

Soal kebutuhan duit, sudah tentu semua orang tahu bahwa Indonesia butuh uang. Sumber daya alam kita luas, potensi bahan baku baterai untuk mobil listrik sangat kaya di negeri ini. Itu bagian sedikit contoh dari kekayaan yang harusnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita sekaligus jangan lupa agar pertumbuhan itu juga menciptakan pemerataan kepada masyarakat. Jangan sampai negara menjadi makmur, levelnya terus meningkat tapi masyarakatnya tetap miskin. Contoh paling sederhana, adalah masyarakat lingkar tambang hari ini, apakah mereka makin sejahtera, teredukasi dan memiliki kapasitas memadai untuk masa depan mereka dan anak cucunya? 

Pintu Terbuka bagi Kepentingan Nasional Kita

Saatnya pasca pintu-pintu kolaborasi dibuka kemudian dilanjutkan dengan kerja sama real dan bermakna yang melibatkan para pihak di Indonesia. Indonesia butuh sinergi lebih luas dan pintu kolaborasi yang telah diupayakan semua pejabat sepatutnya untuk dijaga, dirawat dan dikembangkan demi kepentingan nasional kita dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta akselerasi semua lini untuk betul-betul menjadi bangsa yang maju. 

Secara singkat, kepentingan nasional kita terkait Elon ada pada ranah transfer kreativitas. Ranah ini sangat penting sebagai basis individual untuk melahirkan 'Elon-Elon' jenis baru yang sinergis-genuine dalam ranah-ranah lainnya. Kepakaran Elon dalam bidang yang digelutinya tentu menjadi inspirasi agar melahirkan kepakaran sinergis-kolaboratif pada berbagai titik-titik sambung lainnya dalam bidang yang luas dan beragam. Elon adalah satu contoh dari seorang manusia yang berhasil mengembangkan kapasitas naturalnya dan berdampak pada kemanusiaan. 

Ranah lainnya, adalah pendirian pabrik Tesla yang perlu diikuti dengan penyerapan pengetahuan dan teknologi untuk melahirkan institusi kita yang lebih maju dan khas Indonesia. Pendirian perusahaan adalah sasaran sementara dari kebutuhan kita akan percepatan pembangunan nasional, namun dalam konteks masa depan kita haruslah menjadikan 'sasaran semantara' itu sebagai batu loncatan, stepping point, bagi lahirnya institusi ala Indonesia yang berdampak luas pula bagi dunia. 

Pada dua ranah ini, individual dan institusional, kita berharap dapat berjalan sinergis. Sebab, penyerapan ilmu pengetahuan saja tanpa dibarengi dengan kerja-kerja institusional hanya melahirkan pribadi pemimpi tanpa realisasi, sebaliknya jika hanya berhenti pada eksistensi insititusional tanpa dibarengi dengan kreativitas maka kita hanya akan menjadi 'budak' bagi kepentingan tuan pemodal. *

Wednesday, May 11, 2022

Dialog Antaragama di Indonesia


Pertemuan Syekh Ahmad At-Thayyeb dengan Pope Francis 
(Foto: https://en.unesco.org/interculturaldialogue/news/537)

Dialog antaraagama adalah dialog antara tokoh-tokoh agama terkait masalah hubungan antaragama dengan tujuan untuk mendapatkan saling pemahaman, saling pengertian dan saling kerja sama dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang adil, damai, harmonis dan bahagia. Dialog ini pada perkembangannya tidak berhenti pada soal agama tapi juga meluas pada tema-tema kebangsaan dan tema-tema global, seperti dalam event G20 yang juga melibatkan para tokoh agama untuk membahas problematika global dari basis keagamaan. 

Menurut saya, dialog antaragama akan sukses jika di dalamnya ada beberapa syarat. Syarat pertama dialog antaragama adalah adanya visi kebangsaan yang hendak menciptakan kerukunan antarpemeluk agama. Bangsa yang memiliki visi ini akan mengupayakan pertemuan-pertemuan antaragama agar terjadi kesalingpemahaman terkait posisi tiap agama dan bagaimana berinteraksi dalam perbedaan. Dialog tidak bermaksud untuk menyatukan pemahaman yang berbeda, tapi untuk mencari titik-temu relasi sosial yang harmonis berbasis pada agama. 

Titik-temu tersebut dapat berupaya dialog berkelanjutan, solidaritas sosial dan pendidikan kepada masing-masing pemeluk agar tidak saling mengganggu. Jika ada gangguan--internal atau eksternal--maka tokoh agama diharapkan dapat menghadirkan solusi yang menguntungkan semua pihak sebagai warga bangsa. Visi ini tercermin dalam sila pertama Pancasila, "Ketuhanan Yang Maha Esa" yang bersifat transendental dan sila kedua "Kemanusiaan yang adil dan beradab" yang bersifat horizontal. 

Jika relasi antaragama itu rukun, maka relasi kebangsaan juga akan rukun. Pernyataan Wapres KH. Ma'ruf Amin saat menyusuri Terowongan Silaturahmi antara Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral, Jakarta (27 Agustus 2021) menarik; ada relasi antara kerukunan antaragama dan kerukunan nasional. Bahwa "kerukunan harus kita bangun...kerukunan antar umat beragama merupakan unsur utama daripada kerukunan nasional." Beliau berpesan seperti amanat pendiri bangsa: "Persatuan Indonesia harus kita jaga dan pertahankan untuk Indonesia maju dan sejahtera." Perspektif kerukunan nasional berbasis kerukunan agama ini patut untuk jadi pegangan bahwa cara berpikir kita tidak semata-mata untuk kepentingan agama kita tapi juga untuk keutuhan bangsa, tanpa harus menyamakan keyakinan antaragama tentu saja. 

Kehadiran tokoh agama yang mumpuni dan bijaksana juga bagian penting untuk terciptanya kerukunan. Tokoh agama berperan sangat penting dalam masyarakat Indonesia, mulai dari kelahiran sampai pada kematian. Tokoh agama dipercaya menjadi penguat masyarakat yang sedang sedih, berduka, atau agar kuat dalam menjalani kehidupan berdasarkan nilai keagamaan. Agama dipandang sebagai penguat jiwa manusia menghadapi berbagai malapetaka dan kesukaran hidup. Jika kita memiliki tokoh agama yang mumpuni dan bijaksana, itu menjadi modal besar bagi perdamaian. Program seperti Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) yang digagas Pemerintah Australia sejak 2002 adalah contoh baik dari kesadaran pentingnya peran tokoh agama dari kalangan muda untuk menciptakan masa depan antarnegara yang lebih baik. 

Saat berdialog dengan tokoh agama Islam, Yahudi dan Kristen--dalam waktu berbeda (di rumah ibadah masing-masing) serta dalam waktu bersamaan (saat di salah satu gereja) di Pittsburgh (2019) saya mendapatkan semangat para tokoh agama untuk saling menjaga dan menghidupkan. Ketika sebuah masjid ditembak oleh neo-NAZI islamophobia Brenton Tarrant (lahir 1990 di Australia) di Christchurch, New Zealand yang menewaskan 51 Muslim (2019), masyarakat Yahudi dan Kristen Pittsburgh menjamin bahwa mereka akan menjaga masjid. 

Pun demikian saat salah satu sinagog Pittsburgh ditembak nasionalis kulit putih, neo-NAZI Robert Gregory Bowers (lahir 1972, warga Baldwin, Pennsylvania, AS), kaum Muslim juga bersolidaritas dengan mengumpulkan donasi kepada masyarakat terdampak. Peran-peran ini tidak akan mungkin terwujud tanpa adanya tokoh-tokoh agama yang mumpuni dan bijaksana. Kebencian Bowers kepada Yahudi terlihat dari bagaimana ia menulis (menggunakan akun 'onedingo') pandangannya terhadap Yahudi di sirkel-nya di salah satu website neo-NAZI, bahwa orang Yahudi darah dagingnya para roh jahat. Selain narasi kebencian kepada agama, Bowers juga tampaknya didasari oleh kebencian kepada orang asing. 

Syarat lainnya, yakni kesamaan gagasan untuk meminimalisir potensi konflik antarpemeluk agama. Relasi antaragama di Indonesia fluktuatif, dan berpotensi untuk konflik dan integrasi. Potensi konflik ini sejak lama ada di sini, misalnya dari "politik misionaris" yang tidak hanya kepada masyarakat tidak beragama tapi kepada yang telah beragama (Islam). 

Mengantisipasi potensi konflik, maka misionaris Portugis sekaligus co-founder Ordo Jesuit, Franciskus Xaverius (1506-1552), diberikan jalan oleh Sultan Khairun (w. 28 Feb 1570) dari Kesultanan Ternate untuk menjalankan misi kepada masyarakat yang belum beragama di daerah "moro"--umumnya di utara Pulau Halmahera, sekarang dilekatkan pada Kabupaten Morotai--dan tidak kepada masyarakat yang telah Islam--seperti di Ternate, Tidore, dan Bacan. Kebijakan tersebut didasari oleh pemahaman mendalam Khairun terhadap kemungkinan benturan jika terjadi kristenisasi di daerah yang telah Islam yang keislaman tersebut menyatu kuat dengan diri dan institusi Kesultanan Moloku Kie Raha

Selanjutnya, perlu adanya suasana yang tepat untuk dialog. Suasana yang tepat sangat mendukung dalam kesuksesan dialog sebab masyarakat sangat dipengaruhi oleh suasana politik, tren dan relasi antaragama yang terbangun. Saat konflik, sangat sulit untuk melakukan dialog, kecuali setelah konflik mulai mereda atau sispair (gencatan senjata). Kasus kerusuhan di Maluku Utara misalnya--sebagai dampak dari kerusuhan Ambon, di awal-awal konflik sangat sulit mendamaikan dalam bentuk dialog antaragama. 

Kendati sebab konfliknya tidak tunggal karena agama, tapi karena kesenjangan sosial (kaya-miskin), perebutan sumberdaya alam, pertikaian elite dan birokrasi yang dibungkus konflik agama, tapi masyarakat bawah melihatnya lebih pada agama. Artinya, pikiran mereka saat itu, adalah mereka diperangi karena agama atau permainan politik menggunakan agama. Tapi, orang sendiri tidak tahu siapa pemainnya, atau provokatornya, kecuali hanya merujuk pada Orde Baru. 

Akibat dari konflik itu, orang berpikir untuk retaliasi (balas dendam). Retaliasi itu bertingkat-tingkat mulai dari: "balas yang setimpal" sampai pada "usir sampai habis". Tampaknya, ekspresi itu lebih didasarkan pada nafsu balas dendam ketimbang renungan terhadap kitab suci. Dalam Islam, seorang yang membunuh dapat di-qishash dengan dibunuh akan tetapi jika keluarganya memaafkan itu lebih baik. Artinya, memafkan dan menyakini bahwa takdir Allah pasti yang terbaik adalah lebih bijaksana dalam menyikapi konflik. Adapun para penyerang atau perusuh--dalam konteks apapun itu--perlu diajukan ke meja persidangan sebagai mekanisme pemutusan perkara yang kita sepakati dalam negara-bangsa. 

Konflik Maluku Utara terjadi sekitar dua tahun (Agustus 1999-Juni 2001) dengan korban jiwa 2410 jiwa dan kerugian material yang cukup banyak di kalangan masyarakat biasa atau pasukan merah dan pasukan kuning dari kedua agama (saya memisahkan 'masyarakat biasa' dengan 'pasukan' sebab dalam faktanya tidak semua korban adalah pasukan, ada yang hanya orang biasa dengan tidak ada intensi menjadi pasukan atau bersenjata). Kehadiran negara (aparat keamanan) sebagai pihak ketiga cukup efektif untuk menurunkan eskalasi konflik. Pasca damai, memang masih ada riak kecil tapi tidak signifikan. 

Satu hal yang jadi pertanyaan: adakah penyaluran motif balas dendam yang lebih positif daripada aksi untuk menghancurkan pihak lain? Maksudnya, adakah cara yang elegan untuk menyelesaikan amarah dengan tanpa amarah? Ini jadi pertanyaan yang penting, sebab ada kecenderungan orang untuk berpikir, harus sama-sama impas, ada korban dari kita tapi mereka juga harus ada. Pemikiran ini penting untuk ditelusuri, dan apakah masih ada dalam gagasan anak bangsa kita atau sudah tidak ada. Melihat konflik politik, saya cermati jiwa balas dendam itu muncul saat kritikan terhadap otak dilawan dengan pukulan menggunakan otot. 

Kasus pemukulan Ade Armando di tengah massa aksi mahasiswa (dan umum) di depan Gedung DPR RPI (11 April 2022) tampaknya didasari oleh kemarahan dan balasan atas kritikan Armando terhadap agama, tokoh agama, atau terhadap kelompok oposisi pemerintah. Walaupun Armando mengatakan saat itu ia mendukung aspirasi mahasiswa, "tolak Jokowi 3 periode" tapi ia terlanjur dicap sebagai common enemy, oleh mereka yang berbeda. Pertanyaan pentingnya: apakah kultur masyarakat kita telah kondusif untuk menerima kritikan frontal apalagi kepada agama atau tokoh agama? Ataukah, kerukunan nasional kita lebih baik tidak masuk pada kritikan frontal terhadap agama dan tokoh agama?

Praktik baik

Saya cermati, praktik baik dialog antaragama terjadi pada masyarakat perkotaaan. Masyarakat perkotaan lebih siap dalam mendialogkan perbedaan antarkeyakinan. Syaratnya harus melibatnya tokoh agama yang memiliki pemahaman mendalam terhadap agamanya dan terhadap fakta diversitas bangsa. Pada masyarakat perdesaan, dialog terjadi dalam bentuk-bentuk praktis seperti saling membantu, namun tidak dalam bentuk membicarakan isu-isu besar nan berat seperti kerukunan dan integrasi, kerukunan dan produktivitas, kerukunan dan peningkatan kesejahteraan, atau kerukunan dan ketahanan nasional. Tema-tema besar umumnya beredar dalam masyarakat kota, sebaliknya masyarakat perdesaan lebih senang langkah praktis untuk saling membantu namun tidak saling senggol. 

Pada masyarakat perdesaan atau kota kecil, kekerabatan memiliki peran signifikan bagi terjadinya kerukunan. Pela Gandong (pela artinya ikatan, gandong artinya bersaudara) di Ambon sejatinya adalah relasi berbasis kekerabatan dan kultur saling menghidupi dalam sebuah rumah besar. Di Halmahera Utara, konsep itu tercermin dalam rumah besar atau hibualamo (hibua artinya rumah dan lamo artinya besar). Maksudnya, masyarakat Halmahera Utara adalah masyarakat yang dibesarkan di bawah rumah yang sama, dan dalam konteks masyarakat majemuk sekarang ini juga tetap berada dalam rumah yang sama. Sebagai penghuni rumah yang sama maka mereka harus saling menghidupi satu sama lain; artinya, perbedaan keyakinan tidak menjadi halangan untuk saling menghidupkan. 

Menarik untuk mencermati bagaimana konstruksi kultural bermain dalam kerukunan antaragama. Sejauh kultur bertahan dari serangan infiltrasi asing seperti provokasi, maka kerusuhan tidak akan terjadi. Di beberapa desa, dalam kasus kerusuhan Maluku atau Maluku Utara, saat konflik membesar di satu desa, desa lainnya memilih untuk tidak terpengaruh dan saling menjaga. Artinya, mereka memahami bahwa sejauh ini mereka hidup damai-damai saja, tidak ada konflik, dan jika ada godaan untuk berkonflik itu adalah godaan yang harus mereka lawan sama-sama. Perlawanan terhadap godaan eksternal itu didasari oleh kasih sayang, semangat saling menghidupkan dan saling percaya satu sama lain. Tanpa kepercayaan atau trust, kerukunan sangat sulit tercipta di masyarakat. *

YANUARDI SYUKUR, Pengajar Antropologi Universitas Khairun, Ternate; sementara menyelesaikan S3 di Dept Antropologi FISIP UI. 

Catatan kecil ini dibuat dalam momen undangan diskusi Kedubes Australia terkait "perkembangan dialog antaragama di Indonesia", 17 Mei 2022. Selain terlibat dalam aktivitas AIMEP (sebagai peserta dan alumni), saya juga pernah diundang Kedubes Australia pada Interfaith Dialogue RI-Australia di Bandung (Maret 2019) serta Ministerial Meeting on Religious Freedom and Interfaith Dialogue di Washington, DC, Pittsburgh dan New York (Agustus 2019). Di level lokal, saya terlibat pada upaya pembangunan perdamaian antartokoh agama di kampung saya, Tobelo, yang menjadi titik-panas dalam kerusuhan 1999. 

Monday, May 2, 2022

Piagam Pendirian International Academy for Sustainable Peace (IASP)

Bismillahirrahmanirrahim. 

Tujuan eksistensi manusia di muka bumi ini adalah untuk menciptakan kedamaian untuk semua makhluk. Kehidupan yang damai hanya bisa diwujudkan dengan niat, sinergi, kolaborasi, inovasi dan perjuangan kolektif untuk itu. Segenap nilai perdamaian yang ada dalam tiap kultur hendaknya dapat disinergikan agar menjadi orkestra universal yang sejati untuk kehidupan damai yang abadi. 

Menyadari pentingnya perdamaian dunia, maka pada 30 April 2022 atau H-2 menjelang Idulfitri 1443H, kami berinisiatif mendirikan International Academy for Global Peace (IAGP), yang kemudian disempurnakan menjadi International Academy for Sustainable Peace (IASP) pada 2 Mei 2022 atau bertepatan dengan 1 Syawal 1443 H. 

IASP didirikan sebagai jaringan global kaum terpelajar yang bervisi untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan. Sebagai manusia kita sangat berharap agar perdamaian dunia dapat terus dirawat dan dikembangkan secara berkelanjutan untuk kehidupan hari ini dan masa depan generasi kita yang lebih baik. 

IASP didirikan sebagai sarana sebagai wadah sinergi dan kolaborasi secara global untuk menciptakan kehidupan yang damai bagi semua manusia. Lembaga dapat melakukan berbagai aktivitas untuk menciptakan kehidupan yang saling memahami, saling menghormati, dan saling bertoleransi demi kehidupan bersama yang indah di atas planet bumi. 

Depok, 2 Mei 2022

Founder & President,

Yanuardi Syukur

Sunday, April 17, 2022

Kristal Pengetahuan, Produktivitas Berbagi Tulisan

Saat mengerjakan disertasi di Gedung Kristal Pengetahuan (Crystal of Knowledge) Perpustakaan UI, saya membuka email dan mendapatkan kiriman tulisan dari kawan advokat di Australia. Secara berkala, sang kawan mengirimkan analisisnya, yang terbaru terkait tuduhan bahwa PM. Scott Morrison anti-Muslim dalam statement dia terkait "kapitalisasi kekhawatiran dalam isu imigran Muslim." 

Membaca analisis tersebut, selain jadi bisa menyambungkan keputusan Majelis Umum PBB untuk menetapkan 15 Maret sebagai "Hari Internasional Melawan Islamophobia", juga membawa pikiran saya pada satu jenis produktivitas yang dibutuhkan di zaman sekarang, yakni: berbagi tulisan. 

Berbagi Tulisan

Selain rutin mendapatkan sharing tulisan dari Australia, saya juga beruntung rutin dapat tulisan dari Amerika, Spanyol dan Sri Lanka. Dari Amerika, saya dapat analisis terkait berbagai hal terkait dunia Islam dan dari Spanyol terkait aktivitas diplomatik sebagai "jembatan" bagi smart partnership antara Indonesia dan Spanyol. Dari Sri Lanka, saya rutin dapat sharing tulisan terkait interfaith-dialogue dan problematika internal, seperti yang terakhir soal krisis ekonomi terburuk sejak mereka merdeka dari Inggris pada 1948 yang berdampak pada pengunduran diri 26 menteri di bawah PM. Mahinda Rajapaksa dan Presiden Gotabaya Rajapaksa. 

Tulisan yang saya terima itu biasanya saya sempatkan baca dan renungkan. Saya berkeyakinan bahwa "sejarah itu berputar", apa yang terjadi satu kota bisa berpindah ke kota lain, bahkan apa yang terjadi pada satu peradaban bisa terjadi pula pada peradaban lainnya. Dalam kasus Sri Lanka misalnya, ketika Indonesia dilanda krisis 1998, ketika Suharto--atas desakan masyarakat--memintanya mundur, beliau kemudian membentuk Kabinet Reformasi, tapi 14 menterinya yang bergabung dalam Kabinet Pembangunan VII menolak bergabung. Apa yang terjadi di Sri Lanka sekarang (2022) dan Reformasi Indonesia (1998) tidak lepas dari "hukum alam", bahwa: krisis ekonomi berdampak signifikan pada krisis politik. 

Terkadang, saat membaca satu tulisan, pikiran saya melayang pada potongan-potongan berita/tulisan yang pernah dibaca. Bahkan, tidak hanya itu, apa yang pernah dilihat dan dirasakan juga kadang muncul saat kita membaca satu tulisan. Saat mendengar kata "krisis", saya selalu ingat ketika di tahun terakhir jadi siswa di Jakarta, sedang naik Metromini yang mendekat ke Terminal Blok M dan membaca terjadinya konflik di satu tempat di Jakarta Timur yang tak lama setelah itu, butterfly effect-nya terjadi pula rusuh di tempat lain. Ada semacam relasi antarsatu peristiwa dan peristiwa lainnya, dan "relasi kausalitas" itu kerap muncul dalam konteks personal, komunal, dan "sivilisasional."

Berbagi tulisan itu membahagiakan. Lihatlah media baru seperti Twitter dan Facebook, orang tidak bosan-bosannya berbagi tulisan. Jika Twitter karakternya terbatas dan harus terpotong-potong, maka yang senang berbagi tulisan panjang bisa via Facebook. Atau, yang senang berbagi video juga membagikannya di Tiktok dan Youtube. Khusus Tiktok, berkembang sinergi antara konten dan tubuh. Artinya, orang tidak hanya berbagi pesan, tapi juga juga menghadirkan tubuh dengan gaya yang ekspresif-menarik. 

Sejalan dengan budaya berbagi tulisan, saat ini kita betul-betul hidup di masa sharing pengetahuan yang massif. Saya rutin download buku dari salah satu website yang sangat menarik, mulai dari ensiklopedia sejarah, budaya, agama, konflik, perang, sampai pada buku how to dalam versi bahasa Inggris. Memang kadang "merasa berdosa" saat buku banyak tapi tidak dibaca. Untuk itu, saya kalau buka laptop selalu memikirkan juga--selain mengerjakan tugas wajib, disertasi--adalah membaca apa yang telah saya download. Setelah itu, saya catat poin pentingnya, saya renungkan, kemudian saya sinergi dengan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. 

Berbagi Kristal Pengetahuan

Apa yang kita lihat, dengar, dan baca adalah pengetahuan. Tapi, pengetahuan itu hanya akan jadi batu biasa jika tidak diolah menjadi kristal-kristal yang indah. Pengolahan kristal pengetahuan itu membutuhkan waktu, renungan, dan "jam terbang." Anak SD, tentu akan kesulitan jika diminta menulis analisis tentang, misalnya "kenapa emak-emak harus mengular dalam antrian minyak goreng." Tapi, seorang sarjana--dengan "jam terbang"--dapat menganalisis itu menggunakan pisau analisis yang dia miliki, yang walau berbeda dengan ilmuwan lain, itu tetap akan memperkaya ranah tersebut. 

Menjadikan pengetahuan biasa sebagai kristal pengetahuan membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan keberanian serta kemauan berbagi yang tinggi. Mengapa saat ini Google menjadi search engine paling diminati sejagad bumi? Adalah karena mereka berani berbagi. Kalau mereka mau menutupi pengetahuan--artinya hanya buat dia saja--maka itu tidak akan mendapatkan benefit buat mereka. Sebaliknya, ketika mereka berbagi pengetahuan, mereka mendapatkan benefit dalam produk lainnya; "rugi" di satu sisi tapi untung di sisi lainnya. 

Saat berpuasa, kita pasti banyak pengalaman, mulai dari pengalaman sahur, baca Al Qur'an, sampai pada "jam-jam ngantuk" (biasanya pagi bakda subuh atau siang bakda zuhur). Waktu nyantri dulu, biasanya dari kamar saya mendengar pengajian siang ibu-ibu yang entah suaranya tembus dari Ciledug atau Cipulir yang tembus ke pekuburan di samping ma'had dan tiba di telinga saya. Saya senang mendengarnya, apalagi terkadang momen itu diselingi dengan suara seruling yang dimainkan kawan seperjuangan. 

Pengalaman berpuasa itu sangat menarik. Ketika Coriza Irhamna, sarjana antropologi UGM berinisiatif membuat Obrolan Ramadan via Instagram @rumahproduktifindonesia, saya merasakan kebahagiaan saat bisa berbagi. Bahkan saat sedang bersama keluarga di Gandaria City Mall (Pakuwon Group), saya beruntung dapat menyempatkan hadir ngobrolin soal keutamaan makan sahur. Ringan tapi itu tidak sederhana. Artinya, pengalaman manusia serta aktivitas berbagi pengetahuan itu selalu kompleks, dan berbagi adalah cara untuk mengurai kompleksitas pengalaman manusia tersebut. 

Akhirnya, semua kita yang memiliki pengetahuan, apalagi pengetahuan yang telah direnungkan dan diabstraksikan berbentuk "kristal pengetahuan" perlu berbagi kepada sesama. Berbagi adalah tradisi panjang umat manusia mulai dari umat pertama di Benua Afrika 200 ribu tahun lalu sampai pada imigrasi kawanan umat lainnya di berbagai tempat di planet bumi. Maka, soal "imigrasi"--seperti dalam konteks awal tulisan di atas--tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Mari tingkatkan produktivitas dalam berbagi kristal pengetahuan!

Depok, 5 April 2022

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...