Monday, May 16, 2022
Elon Musk dan Kepentingan Nasional Kita
Wednesday, May 11, 2022
Dialog Antaragama di Indonesia
Dialog antaraagama adalah dialog antara tokoh-tokoh agama terkait masalah hubungan antaragama dengan tujuan untuk mendapatkan saling pemahaman, saling pengertian dan saling kerja sama dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang adil, damai, harmonis dan bahagia. Dialog ini pada perkembangannya tidak berhenti pada soal agama tapi juga meluas pada tema-tema kebangsaan dan tema-tema global, seperti dalam event G20 yang juga melibatkan para tokoh agama untuk membahas problematika global dari basis keagamaan.
Menurut saya, dialog antaragama akan sukses jika di dalamnya ada beberapa syarat. Syarat pertama dialog antaragama adalah adanya visi kebangsaan yang hendak menciptakan kerukunan antarpemeluk agama. Bangsa yang memiliki visi ini akan mengupayakan pertemuan-pertemuan antaragama agar terjadi kesalingpemahaman terkait posisi tiap agama dan bagaimana berinteraksi dalam perbedaan. Dialog tidak bermaksud untuk menyatukan pemahaman yang berbeda, tapi untuk mencari titik-temu relasi sosial yang harmonis berbasis pada agama.
Titik-temu tersebut dapat berupaya dialog berkelanjutan, solidaritas sosial dan pendidikan kepada masing-masing pemeluk agar tidak saling mengganggu. Jika ada gangguan--internal atau eksternal--maka tokoh agama diharapkan dapat menghadirkan solusi yang menguntungkan semua pihak sebagai warga bangsa. Visi ini tercermin dalam sila pertama Pancasila, "Ketuhanan Yang Maha Esa" yang bersifat transendental dan sila kedua "Kemanusiaan yang adil dan beradab" yang bersifat horizontal.
Jika relasi antaragama itu rukun, maka relasi kebangsaan juga akan rukun. Pernyataan Wapres KH. Ma'ruf Amin saat menyusuri Terowongan Silaturahmi antara Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral, Jakarta (27 Agustus 2021) menarik; ada relasi antara kerukunan antaragama dan kerukunan nasional. Bahwa "kerukunan harus kita bangun...kerukunan antar umat beragama merupakan unsur utama daripada kerukunan nasional." Beliau berpesan seperti amanat pendiri bangsa: "Persatuan Indonesia harus kita jaga dan pertahankan untuk Indonesia maju dan sejahtera." Perspektif kerukunan nasional berbasis kerukunan agama ini patut untuk jadi pegangan bahwa cara berpikir kita tidak semata-mata untuk kepentingan agama kita tapi juga untuk keutuhan bangsa, tanpa harus menyamakan keyakinan antaragama tentu saja.
Kehadiran tokoh agama yang mumpuni dan bijaksana juga bagian penting untuk terciptanya kerukunan. Tokoh agama berperan sangat penting dalam masyarakat Indonesia, mulai dari kelahiran sampai pada kematian. Tokoh agama dipercaya menjadi penguat masyarakat yang sedang sedih, berduka, atau agar kuat dalam menjalani kehidupan berdasarkan nilai keagamaan. Agama dipandang sebagai penguat jiwa manusia menghadapi berbagai malapetaka dan kesukaran hidup. Jika kita memiliki tokoh agama yang mumpuni dan bijaksana, itu menjadi modal besar bagi perdamaian. Program seperti Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) yang digagas Pemerintah Australia sejak 2002 adalah contoh baik dari kesadaran pentingnya peran tokoh agama dari kalangan muda untuk menciptakan masa depan antarnegara yang lebih baik.
Saat berdialog dengan tokoh agama Islam, Yahudi dan Kristen--dalam waktu berbeda (di rumah ibadah masing-masing) serta dalam waktu bersamaan (saat di salah satu gereja) di Pittsburgh (2019) saya mendapatkan semangat para tokoh agama untuk saling menjaga dan menghidupkan. Ketika sebuah masjid ditembak oleh neo-NAZI islamophobia Brenton Tarrant (lahir 1990 di Australia) di Christchurch, New Zealand yang menewaskan 51 Muslim (2019), masyarakat Yahudi dan Kristen Pittsburgh menjamin bahwa mereka akan menjaga masjid.
Pun demikian saat salah satu sinagog Pittsburgh ditembak nasionalis kulit putih, neo-NAZI Robert Gregory Bowers (lahir 1972, warga Baldwin, Pennsylvania, AS), kaum Muslim juga bersolidaritas dengan mengumpulkan donasi kepada masyarakat terdampak. Peran-peran ini tidak akan mungkin terwujud tanpa adanya tokoh-tokoh agama yang mumpuni dan bijaksana. Kebencian Bowers kepada Yahudi terlihat dari bagaimana ia menulis (menggunakan akun 'onedingo') pandangannya terhadap Yahudi di sirkel-nya di salah satu website neo-NAZI, bahwa orang Yahudi darah dagingnya para roh jahat. Selain narasi kebencian kepada agama, Bowers juga tampaknya didasari oleh kebencian kepada orang asing.
Syarat lainnya, yakni kesamaan gagasan untuk meminimalisir potensi konflik antarpemeluk agama. Relasi antaragama di Indonesia fluktuatif, dan berpotensi untuk konflik dan integrasi. Potensi konflik ini sejak lama ada di sini, misalnya dari "politik misionaris" yang tidak hanya kepada masyarakat tidak beragama tapi kepada yang telah beragama (Islam).
Mengantisipasi potensi konflik, maka misionaris Portugis sekaligus co-founder Ordo Jesuit, Franciskus Xaverius (1506-1552), diberikan jalan oleh Sultan Khairun (w. 28 Feb 1570) dari Kesultanan Ternate untuk menjalankan misi kepada masyarakat yang belum beragama di daerah "moro"--umumnya di utara Pulau Halmahera, sekarang dilekatkan pada Kabupaten Morotai--dan tidak kepada masyarakat yang telah Islam--seperti di Ternate, Tidore, dan Bacan. Kebijakan tersebut didasari oleh pemahaman mendalam Khairun terhadap kemungkinan benturan jika terjadi kristenisasi di daerah yang telah Islam yang keislaman tersebut menyatu kuat dengan diri dan institusi Kesultanan Moloku Kie Raha.
Selanjutnya, perlu adanya suasana yang tepat untuk dialog. Suasana yang tepat sangat mendukung dalam kesuksesan dialog sebab masyarakat sangat dipengaruhi oleh suasana politik, tren dan relasi antaragama yang terbangun. Saat konflik, sangat sulit untuk melakukan dialog, kecuali setelah konflik mulai mereda atau sispair (gencatan senjata). Kasus kerusuhan di Maluku Utara misalnya--sebagai dampak dari kerusuhan Ambon, di awal-awal konflik sangat sulit mendamaikan dalam bentuk dialog antaragama.
Kendati sebab konfliknya tidak tunggal karena agama, tapi karena kesenjangan sosial (kaya-miskin), perebutan sumberdaya alam, pertikaian elite dan birokrasi yang dibungkus konflik agama, tapi masyarakat bawah melihatnya lebih pada agama. Artinya, pikiran mereka saat itu, adalah mereka diperangi karena agama atau permainan politik menggunakan agama. Tapi, orang sendiri tidak tahu siapa pemainnya, atau provokatornya, kecuali hanya merujuk pada Orde Baru.
Akibat dari konflik itu, orang berpikir untuk retaliasi (balas dendam). Retaliasi itu bertingkat-tingkat mulai dari: "balas yang setimpal" sampai pada "usir sampai habis". Tampaknya, ekspresi itu lebih didasarkan pada nafsu balas dendam ketimbang renungan terhadap kitab suci. Dalam Islam, seorang yang membunuh dapat di-qishash dengan dibunuh akan tetapi jika keluarganya memaafkan itu lebih baik. Artinya, memafkan dan menyakini bahwa takdir Allah pasti yang terbaik adalah lebih bijaksana dalam menyikapi konflik. Adapun para penyerang atau perusuh--dalam konteks apapun itu--perlu diajukan ke meja persidangan sebagai mekanisme pemutusan perkara yang kita sepakati dalam negara-bangsa.
Konflik Maluku Utara terjadi sekitar dua tahun (Agustus 1999-Juni 2001) dengan korban jiwa 2410 jiwa dan kerugian material yang cukup banyak di kalangan masyarakat biasa atau pasukan merah dan pasukan kuning dari kedua agama (saya memisahkan 'masyarakat biasa' dengan 'pasukan' sebab dalam faktanya tidak semua korban adalah pasukan, ada yang hanya orang biasa dengan tidak ada intensi menjadi pasukan atau bersenjata). Kehadiran negara (aparat keamanan) sebagai pihak ketiga cukup efektif untuk menurunkan eskalasi konflik. Pasca damai, memang masih ada riak kecil tapi tidak signifikan.
Satu hal yang jadi pertanyaan: adakah penyaluran motif balas dendam yang lebih positif daripada aksi untuk menghancurkan pihak lain? Maksudnya, adakah cara yang elegan untuk menyelesaikan amarah dengan tanpa amarah? Ini jadi pertanyaan yang penting, sebab ada kecenderungan orang untuk berpikir, harus sama-sama impas, ada korban dari kita tapi mereka juga harus ada. Pemikiran ini penting untuk ditelusuri, dan apakah masih ada dalam gagasan anak bangsa kita atau sudah tidak ada. Melihat konflik politik, saya cermati jiwa balas dendam itu muncul saat kritikan terhadap otak dilawan dengan pukulan menggunakan otot.
Kasus pemukulan Ade Armando di tengah massa aksi mahasiswa (dan umum) di depan Gedung DPR RPI (11 April 2022) tampaknya didasari oleh kemarahan dan balasan atas kritikan Armando terhadap agama, tokoh agama, atau terhadap kelompok oposisi pemerintah. Walaupun Armando mengatakan saat itu ia mendukung aspirasi mahasiswa, "tolak Jokowi 3 periode" tapi ia terlanjur dicap sebagai common enemy, oleh mereka yang berbeda. Pertanyaan pentingnya: apakah kultur masyarakat kita telah kondusif untuk menerima kritikan frontal apalagi kepada agama atau tokoh agama? Ataukah, kerukunan nasional kita lebih baik tidak masuk pada kritikan frontal terhadap agama dan tokoh agama?
Praktik baik
Saya cermati, praktik baik dialog antaragama terjadi pada masyarakat perkotaaan. Masyarakat perkotaan lebih siap dalam mendialogkan perbedaan antarkeyakinan. Syaratnya harus melibatnya tokoh agama yang memiliki pemahaman mendalam terhadap agamanya dan terhadap fakta diversitas bangsa. Pada masyarakat perdesaan, dialog terjadi dalam bentuk-bentuk praktis seperti saling membantu, namun tidak dalam bentuk membicarakan isu-isu besar nan berat seperti kerukunan dan integrasi, kerukunan dan produktivitas, kerukunan dan peningkatan kesejahteraan, atau kerukunan dan ketahanan nasional. Tema-tema besar umumnya beredar dalam masyarakat kota, sebaliknya masyarakat perdesaan lebih senang langkah praktis untuk saling membantu namun tidak saling senggol.
Pada masyarakat perdesaan atau kota kecil, kekerabatan memiliki peran signifikan bagi terjadinya kerukunan. Pela Gandong (pela artinya ikatan, gandong artinya bersaudara) di Ambon sejatinya adalah relasi berbasis kekerabatan dan kultur saling menghidupi dalam sebuah rumah besar. Di Halmahera Utara, konsep itu tercermin dalam rumah besar atau hibualamo (hibua artinya rumah dan lamo artinya besar). Maksudnya, masyarakat Halmahera Utara adalah masyarakat yang dibesarkan di bawah rumah yang sama, dan dalam konteks masyarakat majemuk sekarang ini juga tetap berada dalam rumah yang sama. Sebagai penghuni rumah yang sama maka mereka harus saling menghidupi satu sama lain; artinya, perbedaan keyakinan tidak menjadi halangan untuk saling menghidupkan.
Menarik untuk mencermati bagaimana konstruksi kultural bermain dalam kerukunan antaragama. Sejauh kultur bertahan dari serangan infiltrasi asing seperti provokasi, maka kerusuhan tidak akan terjadi. Di beberapa desa, dalam kasus kerusuhan Maluku atau Maluku Utara, saat konflik membesar di satu desa, desa lainnya memilih untuk tidak terpengaruh dan saling menjaga. Artinya, mereka memahami bahwa sejauh ini mereka hidup damai-damai saja, tidak ada konflik, dan jika ada godaan untuk berkonflik itu adalah godaan yang harus mereka lawan sama-sama. Perlawanan terhadap godaan eksternal itu didasari oleh kasih sayang, semangat saling menghidupkan dan saling percaya satu sama lain. Tanpa kepercayaan atau trust, kerukunan sangat sulit tercipta di masyarakat. *
YANUARDI SYUKUR, Pengajar Antropologi Universitas Khairun, Ternate; sementara menyelesaikan S3 di Dept Antropologi FISIP UI.
Catatan kecil ini dibuat dalam momen undangan diskusi Kedubes Australia terkait "perkembangan dialog antaragama di Indonesia", 17 Mei 2022. Selain terlibat dalam aktivitas AIMEP (sebagai peserta dan alumni), saya juga pernah diundang Kedubes Australia pada Interfaith Dialogue RI-Australia di Bandung (Maret 2019) serta Ministerial Meeting on Religious Freedom and Interfaith Dialogue di Washington, DC, Pittsburgh dan New York (Agustus 2019). Di level lokal, saya terlibat pada upaya pembangunan perdamaian antartokoh agama di kampung saya, Tobelo, yang menjadi titik-panas dalam kerusuhan 1999.
Monday, May 2, 2022
Piagam Pendirian International Academy for Sustainable Peace (IASP)
Bismillahirrahmanirrahim.
Tujuan eksistensi manusia di muka bumi ini adalah untuk menciptakan kedamaian untuk semua makhluk. Kehidupan yang damai hanya bisa diwujudkan dengan niat, sinergi, kolaborasi, inovasi dan perjuangan kolektif untuk itu. Segenap nilai perdamaian yang ada dalam tiap kultur hendaknya dapat disinergikan agar menjadi orkestra universal yang sejati untuk kehidupan damai yang abadi.
Menyadari pentingnya perdamaian dunia, maka pada 30 April 2022 atau H-2 menjelang Idulfitri 1443H, kami berinisiatif mendirikan International Academy for Global Peace (IAGP), yang kemudian disempurnakan menjadi International Academy for Sustainable Peace (IASP) pada 2 Mei 2022 atau bertepatan dengan 1 Syawal 1443 H.
IASP didirikan sebagai jaringan global kaum terpelajar yang bervisi untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan. Sebagai manusia kita sangat berharap agar perdamaian dunia dapat terus dirawat dan dikembangkan secara berkelanjutan untuk kehidupan hari ini dan masa depan generasi kita yang lebih baik.
IASP didirikan sebagai sarana sebagai wadah sinergi dan kolaborasi secara global untuk menciptakan kehidupan yang damai bagi semua manusia. Lembaga dapat melakukan berbagai aktivitas untuk menciptakan kehidupan yang saling memahami, saling menghormati, dan saling bertoleransi demi kehidupan bersama yang indah di atas planet bumi.
Depok, 2 Mei 2022
Founder & President,
Yanuardi Syukur
Sunday, April 17, 2022
Kristal Pengetahuan, Produktivitas Berbagi Tulisan
Saat mengerjakan disertasi di Gedung Kristal Pengetahuan (Crystal of Knowledge) Perpustakaan UI, saya membuka email dan mendapatkan kiriman tulisan dari kawan advokat di Australia. Secara berkala, sang kawan mengirimkan analisisnya, yang terbaru terkait tuduhan bahwa PM. Scott Morrison anti-Muslim dalam statement dia terkait "kapitalisasi kekhawatiran dalam isu imigran Muslim."
Membaca analisis tersebut, selain jadi bisa menyambungkan keputusan Majelis Umum PBB untuk menetapkan 15 Maret sebagai "Hari Internasional Melawan Islamophobia", juga membawa pikiran saya pada satu jenis produktivitas yang dibutuhkan di zaman sekarang, yakni: berbagi tulisan.
Berbagi Tulisan
Selain rutin mendapatkan sharing tulisan dari Australia, saya juga beruntung rutin dapat tulisan dari Amerika, Spanyol dan Sri Lanka. Dari Amerika, saya dapat analisis terkait berbagai hal terkait dunia Islam dan dari Spanyol terkait aktivitas diplomatik sebagai "jembatan" bagi smart partnership antara Indonesia dan Spanyol. Dari Sri Lanka, saya rutin dapat sharing tulisan terkait interfaith-dialogue dan problematika internal, seperti yang terakhir soal krisis ekonomi terburuk sejak mereka merdeka dari Inggris pada 1948 yang berdampak pada pengunduran diri 26 menteri di bawah PM. Mahinda Rajapaksa dan Presiden Gotabaya Rajapaksa.
Tulisan yang saya terima itu biasanya saya sempatkan baca dan renungkan. Saya berkeyakinan bahwa "sejarah itu berputar", apa yang terjadi satu kota bisa berpindah ke kota lain, bahkan apa yang terjadi pada satu peradaban bisa terjadi pula pada peradaban lainnya. Dalam kasus Sri Lanka misalnya, ketika Indonesia dilanda krisis 1998, ketika Suharto--atas desakan masyarakat--memintanya mundur, beliau kemudian membentuk Kabinet Reformasi, tapi 14 menterinya yang bergabung dalam Kabinet Pembangunan VII menolak bergabung. Apa yang terjadi di Sri Lanka sekarang (2022) dan Reformasi Indonesia (1998) tidak lepas dari "hukum alam", bahwa: krisis ekonomi berdampak signifikan pada krisis politik.
Terkadang, saat membaca satu tulisan, pikiran saya melayang pada potongan-potongan berita/tulisan yang pernah dibaca. Bahkan, tidak hanya itu, apa yang pernah dilihat dan dirasakan juga kadang muncul saat kita membaca satu tulisan. Saat mendengar kata "krisis", saya selalu ingat ketika di tahun terakhir jadi siswa di Jakarta, sedang naik Metromini yang mendekat ke Terminal Blok M dan membaca terjadinya konflik di satu tempat di Jakarta Timur yang tak lama setelah itu, butterfly effect-nya terjadi pula rusuh di tempat lain. Ada semacam relasi antarsatu peristiwa dan peristiwa lainnya, dan "relasi kausalitas" itu kerap muncul dalam konteks personal, komunal, dan "sivilisasional."
Berbagi tulisan itu membahagiakan. Lihatlah media baru seperti Twitter dan Facebook, orang tidak bosan-bosannya berbagi tulisan. Jika Twitter karakternya terbatas dan harus terpotong-potong, maka yang senang berbagi tulisan panjang bisa via Facebook. Atau, yang senang berbagi video juga membagikannya di Tiktok dan Youtube. Khusus Tiktok, berkembang sinergi antara konten dan tubuh. Artinya, orang tidak hanya berbagi pesan, tapi juga juga menghadirkan tubuh dengan gaya yang ekspresif-menarik.
Sejalan dengan budaya berbagi tulisan, saat ini kita betul-betul hidup di masa sharing pengetahuan yang massif. Saya rutin download buku dari salah satu website yang sangat menarik, mulai dari ensiklopedia sejarah, budaya, agama, konflik, perang, sampai pada buku how to dalam versi bahasa Inggris. Memang kadang "merasa berdosa" saat buku banyak tapi tidak dibaca. Untuk itu, saya kalau buka laptop selalu memikirkan juga--selain mengerjakan tugas wajib, disertasi--adalah membaca apa yang telah saya download. Setelah itu, saya catat poin pentingnya, saya renungkan, kemudian saya sinergi dengan pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
Berbagi Kristal Pengetahuan
Apa yang kita lihat, dengar, dan baca adalah pengetahuan. Tapi, pengetahuan itu hanya akan jadi batu biasa jika tidak diolah menjadi kristal-kristal yang indah. Pengolahan kristal pengetahuan itu membutuhkan waktu, renungan, dan "jam terbang." Anak SD, tentu akan kesulitan jika diminta menulis analisis tentang, misalnya "kenapa emak-emak harus mengular dalam antrian minyak goreng." Tapi, seorang sarjana--dengan "jam terbang"--dapat menganalisis itu menggunakan pisau analisis yang dia miliki, yang walau berbeda dengan ilmuwan lain, itu tetap akan memperkaya ranah tersebut.
Menjadikan pengetahuan biasa sebagai kristal pengetahuan membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan keberanian serta kemauan berbagi yang tinggi. Mengapa saat ini Google menjadi search engine paling diminati sejagad bumi? Adalah karena mereka berani berbagi. Kalau mereka mau menutupi pengetahuan--artinya hanya buat dia saja--maka itu tidak akan mendapatkan benefit buat mereka. Sebaliknya, ketika mereka berbagi pengetahuan, mereka mendapatkan benefit dalam produk lainnya; "rugi" di satu sisi tapi untung di sisi lainnya.
Saat berpuasa, kita pasti banyak pengalaman, mulai dari pengalaman sahur, baca Al Qur'an, sampai pada "jam-jam ngantuk" (biasanya pagi bakda subuh atau siang bakda zuhur). Waktu nyantri dulu, biasanya dari kamar saya mendengar pengajian siang ibu-ibu yang entah suaranya tembus dari Ciledug atau Cipulir yang tembus ke pekuburan di samping ma'had dan tiba di telinga saya. Saya senang mendengarnya, apalagi terkadang momen itu diselingi dengan suara seruling yang dimainkan kawan seperjuangan.
Pengalaman berpuasa itu sangat menarik. Ketika Coriza Irhamna, sarjana antropologi UGM berinisiatif membuat Obrolan Ramadan via Instagram @rumahproduktifindonesia, saya merasakan kebahagiaan saat bisa berbagi. Bahkan saat sedang bersama keluarga di Gandaria City Mall (Pakuwon Group), saya beruntung dapat menyempatkan hadir ngobrolin soal keutamaan makan sahur. Ringan tapi itu tidak sederhana. Artinya, pengalaman manusia serta aktivitas berbagi pengetahuan itu selalu kompleks, dan berbagi adalah cara untuk mengurai kompleksitas pengalaman manusia tersebut.
Akhirnya, semua kita yang memiliki pengetahuan, apalagi pengetahuan yang telah direnungkan dan diabstraksikan berbentuk "kristal pengetahuan" perlu berbagi kepada sesama. Berbagi adalah tradisi panjang umat manusia mulai dari umat pertama di Benua Afrika 200 ribu tahun lalu sampai pada imigrasi kawanan umat lainnya di berbagai tempat di planet bumi. Maka, soal "imigrasi"--seperti dalam konteks awal tulisan di atas--tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Mari tingkatkan produktivitas dalam berbagi kristal pengetahuan!
Depok, 5 April 2022
Ramadhan Momentum Kolaborasi Tokoh Muda Muslim dalam Mengembangkan Pendidikan Islam
Dalam pengantarnya, Ketua Forum Alumni AIMEP Yanuardi Syukur menyampaikan bahwa pendidikan Islam berkembang mulai dari dakwah Rasulullah saw di kota Mekkah sampai pada pendirian berbagai institusi seperti Universitas Qarawiyyin di Fez, Maroko, Universitas Al Azhar di Mesir serta berbagai pesantren dan institusi pendidikan di Indonesia yang semuanya berbasis pada tauhid.
"Universitas Qarawiyyin didirikan oleh perempuan, bernama Fatimah Al Fihri pada abad ke-9. Mulanya dari masjid. Selanjutnya berdiri Universitas Al Azhar di Mesir pada abad ke-10. Pendirian institusi pendidikan Islam tersebut lebih duluan dari Universitas Oxford pada abad ke-11, Universitas Paris abad ke-12 atau Universitas Harvard yang didirikan filantropis John Harvard pada abad ke-17 di Amerika," jelas Yanuardi yang berharap agar kaum muda aktif bersinergi dalam mencetak kader-kader unggul di tingkat lokal, nasional, dan global.Tuan rumah kegiatan, Pimpinan Maskanul Huffadz Dr. Oki Setiana Dewi menceritakan bagaimana ia bersama koleganya berjuang mendirikan tempat penghafal Al Qur'an enam tahun lalu. Awalnya, lembaga tersebut peserta 14 orang, kemudian terus berkembang ratusan orang, bahkan mendirikan gedung baru dan membentuk cabang di beberapa kota di Indonesia.
"Perjuangan untuk pendidikan tidak bisa dilakukan sendirian, maka dibutuhkan kolaborasi antara kita semua," kata aktris pemeran film Ketika Cinta Bertasbih dan lulusan Doktor dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut yang saat ini sedang mengusahakan agar santrinya mendapatkan beasiswa melanjutkan studi di beberapa kampus di Indonesia.
Sementara itu, pembicara diskusi pendidikan bertajuk "Mendidik Manusia: Pengalaman Membangun, Mengelola dan Mengembangkan Lembaga Pendidikan Islam" Dr. Aan Rukmana menjelaskan proses kreatifnya dalam pembangunan Sekolah Alam Kebun Tumbuh di Depok.
Aan terinspirasi mendirikan sekolah tersebut setelah terlibat dalam berbagai kegiatan dalam dan luar negeri, terutama setelah pulang dari Vatikan yang membuatnya terinspirasi untuk mendirikan sekolah. "Setelah berdiskusi dengan kolega, kami akhirnya berjuang mendirikan sekolah dimulai dari semangat," kata Dosen Universitas Paramadina tersebut.
Pembicara lainnya, Dr. Anna Amalyah Agus menceritakan aktivitasnya sebagai co-founder Rumah Kepemimpinan. Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis FE-UI tersebut, ia bersemangat dalam mendirikan institusi tersebut sebagai terpanggil untuk berbuat sesuatu dalam menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.
Romzi Ahmad, Direktur Pendidikan Al Shigor Foundation, Cirebon bercerita bagaimana ia mendapatkan inspirasi dari ayahnya yang dipanggil "abuya" untuk berkhidmah dalam pendidikan. Romzi kemudian aktif mengelola pesantren di pelosok Kalimantan Barat yang tidak memiliki signal, serta mengelola pula pesantren di Lampung.
"Menurut saya, saat ini kita perlu memperluas sebaran pendidikan di berbagai daerah di luar Jawa, sebab di sana banyak sekali wilayah yang membutuhkan sentuhan kita, khususnya dalam pendidikan seperti yang juga dilakukan oleh Maskanul Huffadz-nya Mbak Oki yang membentuk cabang di berbagai kota di Indonesia," kata Romzi, influencer yang juga Asisten Stafsus Presiden RI.
Irfan L. Sarhindi, Ketua Yayasan Literasi Naratif Islami, menjelaskan bagaimana sebagai keturunan pesantren ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Inggris, sesuatu yang jarang dilakukan oleh keluarganya. Setamat meraih master dari University College London, Irfan aktif mendirikan podcastren, dan produktif melahirkan narasi-narasi positif khususnya di dunia maya.
Irfan bahkan baru saja menyelesaikan editing buku "Faith & Pandemic" yang ditulis bersama alumni AIMEP Indonesia dan Australia yang diberi kata pengantar oleh Dubes Australia Penny Williams PSM dan didukung oleh Alumni Grant Scheme (AGS) dari Pemerintah Australia.
Diskusi yang dipandu Sekjen Forum Alumni AIMEP Nurul Bahrul Ulum tersebut berlangsung dengan lancar dan memperkaya wawasan peserta luring dan during. Project Manager AIMEP Rowan Gould dan Brynna Rafferty-Brown, bahkan menghadiri diskusi tersebut dari Australia hingga selesai. Rowan berharap agar kemitraan antara tokoh muda Indonesia dan Australia dapat terus ditingkatkan dalam berbagai kolaborasi kegiatan.
Para pembicara bersepakat bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat penting tidak hanya untuk ibadah kepada Allah, akan tetapi juga dalam mengupayakan kolaborasi produktif dalam pendidikan Islam.
Acara ini dihadiri oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Pembacaan kalam suci Al Qur'an oleh Junaidi La Dalle dan doa oleh Da'i Ambassador Dompet Dhuafa Republika lulusan Universitas Al Azhar Mesir, Ustad Fery Firmansyah.
Acara berlanjut hingga shalat tarawih dan mendengarkan ceramah dari Dai kelahiran Maros 29 tahun lalu, Ustad Syamsuddin Nur Makka, pengisi acara Islam itu Indah di TransTV.
Setelah itu, acara berlanjut dengan brainstorming potensi kolaborasi dalam pembentukan "Counseling Center" bersama konselor Dr. Rahmiwati Marsinun, Nur Indrawati Pary, Daria Hanum, Haris, Coriza Irhamna, Mutawadhiah dari Rumah Produktif Indonesia dengan Dr. Oki Setiana Dewi, Dela Ardila Sofia dan Ayu Lestari di meeting room Maskanul Huffadz. *
Menyampaikan Kondisi Al Aqsa, Asosiasi Minbar Al Aqsa Turki Bersilaturahmi dengan Komisi HLNKI MUI
Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI menerima Dr. Samir Said dari Asosiasi Minbar Al Aqsa Turki yang menyampaikan kondisi terkini dari Masjid Al Aqsa di Kantor MUI, Jakarta (13/4). Mewakili Komisi HLNKI hadir H. Oke Setiadi, Hj. Amirah Nahrawi dan Yanuardi Syukur.
Sebelum menyampaikan kondisi Al Aqsa, Dr. Samir Said menjelaskan terkait keutamaan Masjid Al Asqa sebagai kiblat pertama umat Islam sekaligus sebagai masjid pertama yang didirikan di muka bumi. "Al Aqsa juga adalah Ardh Al Anbiya', atau tanah para Nabi seperti Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, dan lokasi yang sangat penting saat peristiwa Isra' Mi'raj Rasulullah dari Mekkah ke Al Aqsha kemudian naik ke langit," jelas Dr. Samir.
Dr. Samir menjelaskan bahwa saat ini juga terjadi pengeboran bawah tanah yang dilakukan oleh Zionis Israel. "Saat ini juga warga Yahudi sedang mempersiapkan penyembelian kurban (domba) pada hari perayaan Yahudi yang jatuh pada tanggal 15 April dengan hadiah USD 3000 untuk masyarakat Israel yang berhasil menyembelih kurban di dalam Masjid Al Aqsa."
Dr. Samir juga menjelaskan bahwa kehadiran Minbar Al Aqsa Association yang berdomisili di Turki merupakan sebuah keuntungan bagi dunia, karena Turki satu-satunya negara yang bisa masuk ke Palestina, dan dimudahkan bagi pada peziarah masjid Al Aqsa dikarenakan Turki memiliki hubungan kerjasama dengan Israel.
"Semua aset Masjid Al Aqsa ada di tangan Kementerian Waqaf Yordania, sehingga aman untuk berinvestasi di sana, dan Pemerintah Israel tidak mengganggu aset-aset waqaf Yordania, namun dalam hal waqaf Yordania tidak sigap menangani pengeboran dan tindakan anarkis Israel," terang Dr. Samir.
Menutup pertemuan tersebut, Dr. Samir menyampaikan bahwa Minbar Al Aqsa Assosiaton memiliki beberapa program yang dapat disinergikan dengan MUI dan patut untuk dibahas bersama. Beliau juga memintar agar MUI mempelajari program pembangunan sekolah di Al Aqsa yang akan diwaqafkan oleh masyarakat Palestina ke Kementerian Waqaf Yordania.
Dr. Samir juga mengundang Komisi HLNKI MUI untuk mengunjungi Turki guna membahas program-program dan pencanangan sekolah serta bisa meninjau langsung lokasi sekolah di Al Aqsa bila ada kemungkinan masuk untuk itu.
Menanggapi informasi dan ide dari Dr. Samir Said, Wakil Ketua Komisi HLNKI MUI Hj. Amirah Nahrawi mengatakan bahwa HLNKI MUI sangat sigap dan selalu memberikan bantuan nyata kepada bangsa Palestina dan akan membicarakan tawaran kerja sama tersebut.
Amirah juga akan membicarakan undangan Minbar Al Aqsa Association untuk berkunjung ke Turki dan membicarakan berbagai kegiatan sinergis antarkedua institusi di tingkat Komisi HLNKI dan Dewan Pimpinan MUI. [Yanuardi Syukur]
Ketua Umum KADIN Arsjad Rasjid Mendukung Pembangunan RSIH Palestina
Panitia MUI Untuk Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Hebron (RSIH), diketuai oleh Ketua Bidang Penggalangan Dana, Hj. Amirah Nahrawi disertai beberapa anggota lainnya pada Rabu (13/4) telah diterima oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) 2021-2026 M. Arsjad Rasjid.
Dalam pertemuan tersebut Hj. Amirah Nahrawi menyampaikan tentang latar belakang dan perkembangan upaya yang dilakukan MUI bersama lembaga-lembaga filantropi Indonesia dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dalam mewujudkan komitmen dukungan bangsa Indonesia bagi bangsa Palestina yang membutuhkan fasilitas kesehatan khususnya sebuah rumah sakit.
"Biaya yang diperlukan sekitar Rp 87 milyar dan sejak dicanangkannya Aliansi Kemanusiaan untk Pembangunan RSIH pada bulan Juni 2021 hingga saat ini telah terkumpul dana sekitar 30%," jelas Hj. Amirah.
Mengingat Aliansi ini terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia maka MUI mengajak KADIN dan para anggotanya untk berdonasi mendukung Aliansi Kemanusiaan ini. "MUI juga telah menandatangani MOU Kerjasama Pembangunan RSIH ini dengan Walikota Hebron, Tayseer Abu Sneineh pada akhir Oktober 2021," lanjut Amirah Nahrawi.
Menanggapi ajakan MUI tersebut, Ketua Umum KADIN Arsjad Rasjid menyambut baik dan mendukung sepenuhnya pembangunan RSIH yang diinisiasi oleh MUI tersebut.
Lebih jauh Arsjad Rasjid menyatakan bahwa pihaknya ingin melihat kerjasama kita denganPalestina dapat lebih berarti (meaningful) dan berkelanjutan (sustainable). Untuk itu pihaknya sedang mempertimbangkan bentuk kerjasama ekonomi dan perdagangan yang lebih kongkrit yang bisa kita tawarkan kepada pihak Palestina, seperti kemungkinan membangun sebuah kawasan berikat di Hebron, Palestina.
Kawasan berikat tersebut pada awalnya dapat sederhana seperti sebuah ‘gudang Indonesia’ dimana produk Indonesia yang diekspor ke Palestina disalurkan ke kawasan tersebut, dan selanjutnya Palestina dapat menjual produk tersebut ke pasar di sekitarnya.
Arsjad yakin bahwa kerjasama ekonomi dan perdagangan dengan Palestina akan dapat diwujudkan mengingat kegiatannya akan lebih bernuansa kesejahteraan bagi masyarakat dan lebih nyata (real) hasilnya, dimana aktivitas perdagangan di kawasan tersebut dapat langsung dirasakan oleh masyarakat Palestina.
Adanya kawasan berikat tersebut juga akan berdampak pada meningkatnya kerjasama bilateral Indonesia dengan Palestina yang kemudian juga akan meningkatkan posisi (leverage) Indonesia dalam membantu mencari penyelesaian damai konflik Israel-Palestina.
Hj. Amirah Nahrawi dan para Anggota Panitia MUI untuk Pembangunan RSIH sangat menghargai sambutan hangat Ketua Umum KADIN dan khusus menyangkut pemikiran tentang pembentukan sebuah kawasan berikat di Hebron, insya Allah akan dapat dijajaki kemungkinannya dengan pihak Walikota Hebron yang selama ini sangat kooperatif.
"Kita mengharapkan pihak Wali Kota juga akan dapat memberikan gambaran tentang lahan yang aman bagi aktivitas ekonomi dan perdagangan Indonesia - Palestina di Hebron," tutup Hj. Amirah Nahrawi.
Dalam pertemuan tersebut, hadir pula Panitia MUI Untuk Pembangunan RSIH lainnya, yakni Dubes Yuli Mumpuni Widarso, H. Oke Setiadi, Yanuardi Syukur dan Muhammad Hibatur Rahman dari Kitabisa.com. [Yanuardi Syukur]
Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships
Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...
-
At the afternoon, my conversation with friends about Morocco and Indonesia came to the figure of Ibn Battutah (24 February 1304 – 1368/1369)...
-
“Uzbekistan is the heart of the silk road. For thousands of years, this Central Asian country has been a gathering place for people, product...
-
It is said that the best time to reflect is at night. The most universal sign of night is darkness. This means that when it is dark is the b...





