Sunday, April 17, 2022

Ramadhan Momentum Kolaborasi Tokoh Muda Muslim dalam Mengembangkan Pendidikan Islam

Ramadhan tidak hanya bulan mulia akan tetapi bulan momentum untuk kolaborasi dalam pendidikan Islam di Indonesia. Demikian salah satu gagasan dalam "Silaturahim & Buka Puasa Bersama" yang digelar Forum Alumni Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (FA-AIMEP) bersama Maskanul Huffadz dan Rumah Produktif Indonesia, Bintaro, Tangerang Selatan (15/4).

Dalam pengantarnya, Ketua Forum Alumni AIMEP Yanuardi Syukur menyampaikan bahwa pendidikan Islam berkembang mulai dari dakwah Rasulullah saw di kota Mekkah sampai pada pendirian berbagai institusi seperti Universitas Qarawiyyin di Fez, Maroko, Universitas Al Azhar di Mesir serta berbagai pesantren dan institusi pendidikan di Indonesia yang semuanya berbasis pada tauhid.  

"Universitas Qarawiyyin didirikan oleh perempuan, bernama Fatimah Al Fihri pada abad ke-9. Mulanya dari masjid. Selanjutnya berdiri Universitas Al Azhar di Mesir pada abad ke-10. Pendirian institusi pendidikan Islam tersebut lebih duluan dari Universitas Oxford pada abad ke-11, Universitas Paris abad ke-12 atau Universitas Harvard yang didirikan filantropis John Harvard pada abad ke-17 di Amerika," jelas Yanuardi yang berharap agar kaum muda aktif bersinergi dalam mencetak kader-kader unggul di tingkat lokal, nasional, dan global. 

Tuan rumah kegiatan, Pimpinan Maskanul Huffadz Dr. Oki Setiana Dewi menceritakan bagaimana ia bersama koleganya berjuang mendirikan tempat penghafal Al Qur'an enam tahun lalu. Awalnya, lembaga tersebut peserta 14 orang, kemudian terus berkembang ratusan orang, bahkan mendirikan gedung baru dan membentuk cabang di beberapa kota di Indonesia. 

"Perjuangan untuk pendidikan tidak bisa dilakukan sendirian, maka dibutuhkan kolaborasi antara kita semua," kata aktris pemeran film Ketika Cinta Bertasbih dan lulusan Doktor dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut yang saat ini sedang mengusahakan agar santrinya mendapatkan beasiswa melanjutkan studi di beberapa kampus di Indonesia. 

Sementara itu, pembicara diskusi pendidikan bertajuk "Mendidik Manusia: Pengalaman Membangun, Mengelola dan Mengembangkan Lembaga Pendidikan Islam" Dr. Aan Rukmana menjelaskan proses kreatifnya dalam pembangunan Sekolah Alam Kebun Tumbuh di Depok. 

Aan terinspirasi mendirikan sekolah tersebut setelah terlibat dalam berbagai kegiatan dalam dan luar negeri, terutama setelah pulang dari Vatikan yang membuatnya terinspirasi untuk mendirikan sekolah. "Setelah berdiskusi dengan kolega, kami akhirnya berjuang mendirikan sekolah dimulai dari semangat," kata Dosen Universitas Paramadina tersebut. 

Pembicara lainnya, Dr. Anna Amalyah Agus menceritakan aktivitasnya sebagai co-founder Rumah Kepemimpinan. Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis FE-UI tersebut, ia bersemangat dalam mendirikan institusi tersebut sebagai terpanggil untuk berbuat sesuatu dalam menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik. 

Romzi Ahmad, Direktur Pendidikan Al Shigor Foundation, Cirebon bercerita bagaimana ia mendapatkan inspirasi dari ayahnya yang dipanggil "abuya" untuk berkhidmah dalam pendidikan. Romzi kemudian aktif mengelola pesantren di pelosok Kalimantan Barat yang tidak memiliki signal, serta mengelola pula pesantren di Lampung. 

"Menurut saya, saat ini kita perlu memperluas sebaran pendidikan di berbagai daerah di luar Jawa, sebab di sana banyak sekali wilayah yang membutuhkan sentuhan kita, khususnya dalam pendidikan seperti yang juga dilakukan oleh Maskanul Huffadz-nya Mbak Oki yang membentuk cabang di berbagai kota di Indonesia," kata Romzi, influencer yang juga Asisten Stafsus Presiden RI. 

Irfan L. Sarhindi, Ketua Yayasan Literasi Naratif Islami, menjelaskan bagaimana sebagai keturunan pesantren ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Inggris, sesuatu yang jarang dilakukan oleh keluarganya. Setamat meraih master dari University College London, Irfan aktif mendirikan podcastren, dan produktif melahirkan narasi-narasi positif khususnya di dunia maya. 

Irfan bahkan baru saja menyelesaikan editing buku "Faith & Pandemic" yang ditulis bersama alumni AIMEP Indonesia dan Australia yang diberi kata pengantar oleh Dubes Australia Penny Williams PSM dan didukung oleh Alumni Grant Scheme (AGS) dari Pemerintah Australia. 

Diskusi yang dipandu Sekjen Forum Alumni AIMEP Nurul Bahrul Ulum tersebut berlangsung dengan lancar dan memperkaya wawasan peserta luring dan during. Project Manager AIMEP Rowan Gould dan Brynna Rafferty-Brown, bahkan menghadiri diskusi tersebut dari Australia hingga selesai. Rowan berharap agar kemitraan antara tokoh muda Indonesia dan Australia dapat terus ditingkatkan dalam berbagai kolaborasi kegiatan.

Para pembicara bersepakat bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat penting tidak hanya untuk ibadah kepada Allah, akan tetapi juga dalam mengupayakan kolaborasi produktif dalam pendidikan Islam. 


Acara ini dihadiri oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Pembacaan kalam suci Al Qur'an oleh Junaidi La Dalle dan doa oleh Da'i Ambassador Dompet Dhuafa Republika lulusan Universitas Al Azhar Mesir, Ustad Fery Firmansyah. 

Acara berlanjut hingga shalat tarawih dan mendengarkan ceramah dari Dai kelahiran Maros 29 tahun lalu, Ustad Syamsuddin Nur Makka, pengisi acara Islam itu Indah di TransTV. 

Setelah itu, acara berlanjut dengan brainstorming potensi kolaborasi dalam pembentukan "Counseling Center" bersama konselor Dr. Rahmiwati Marsinun, Nur Indrawati Pary, Daria Hanum, Haris, Coriza Irhamna, Mutawadhiah dari Rumah Produktif Indonesia dengan Dr. Oki Setiana Dewi, Dela Ardila Sofia dan Ayu Lestari di meeting room Maskanul Huffadz. *

Menyampaikan Kondisi Al Aqsa, Asosiasi Minbar Al Aqsa Turki Bersilaturahmi dengan Komisi HLNKI MUI


Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI menerima Dr. Samir Said dari Asosiasi Minbar Al Aqsa Turki yang menyampaikan kondisi terkini dari Masjid Al Aqsa di Kantor MUI, Jakarta (13/4). Mewakili Komisi HLNKI hadir H. Oke Setiadi, Hj. Amirah Nahrawi dan Yanuardi Syukur.

Sebelum menyampaikan kondisi Al Aqsa, Dr. Samir Said menjelaskan terkait keutamaan Masjid Al Asqa sebagai kiblat pertama umat Islam sekaligus sebagai masjid pertama yang didirikan di muka bumi. "Al Aqsa juga adalah Ardh Al Anbiya', atau tanah para Nabi seperti Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, dan lokasi yang sangat penting saat peristiwa Isra' Mi'raj Rasulullah dari Mekkah ke Al Aqsha kemudian naik ke langit," jelas Dr. Samir. 

Dr. Samir menjelaskan bahwa saat ini juga terjadi pengeboran bawah tanah yang dilakukan oleh Zionis Israel. "Saat ini juga warga Yahudi sedang mempersiapkan penyembelian kurban (domba) pada hari perayaan Yahudi yang jatuh pada tanggal 15 April dengan hadiah USD 3000 untuk masyarakat Israel yang berhasil menyembelih kurban di dalam Masjid Al Aqsa."

Dr. Samir juga menjelaskan bahwa kehadiran Minbar Al Aqsa Association yang berdomisili di Turki merupakan sebuah keuntungan bagi dunia, karena Turki satu-satunya negara yang bisa masuk ke Palestina, dan dimudahkan bagi pada peziarah masjid Al Aqsa dikarenakan Turki memiliki hubungan kerjasama dengan Israel.

"Semua aset Masjid Al Aqsa ada di tangan Kementerian Waqaf Yordania, sehingga aman untuk berinvestasi di sana, dan Pemerintah Israel tidak mengganggu aset-aset waqaf Yordania, namun dalam hal waqaf Yordania tidak sigap menangani pengeboran dan tindakan anarkis Israel," terang Dr. Samir. 

Menutup pertemuan tersebut, Dr. Samir menyampaikan bahwa Minbar Al Aqsa Assosiaton memiliki beberapa program yang dapat disinergikan dengan MUI dan patut untuk dibahas bersama. Beliau juga memintar agar MUI mempelajari program pembangunan sekolah di Al Aqsa yang akan diwaqafkan oleh masyarakat Palestina ke Kementerian Waqaf Yordania. 

Dr. Samir juga mengundang Komisi HLNKI MUI untuk mengunjungi Turki guna membahas program-program dan pencanangan sekolah serta bisa meninjau langsung lokasi sekolah di Al Aqsa bila ada kemungkinan masuk untuk itu.  

Menanggapi informasi dan ide dari Dr. Samir Said, Wakil Ketua Komisi HLNKI MUI Hj. Amirah Nahrawi mengatakan bahwa HLNKI MUI sangat sigap dan selalu memberikan bantuan nyata kepada bangsa Palestina dan akan membicarakan tawaran kerja sama tersebut. 

Amirah juga akan membicarakan undangan Minbar Al Aqsa Association untuk berkunjung ke Turki dan membicarakan berbagai kegiatan sinergis antarkedua institusi di tingkat Komisi HLNKI dan Dewan Pimpinan MUI. [Yanuardi Syukur]

Ketua Umum KADIN Arsjad Rasjid Mendukung Pembangunan RSIH Palestina


Panitia MUI Untuk Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Hebron (RSIH), diketuai oleh Ketua Bidang Penggalangan Dana, Hj. Amirah Nahrawi disertai beberapa anggota lainnya pada Rabu (13/4) telah diterima oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) 2021-2026 M. Arsjad Rasjid. 

Dalam pertemuan tersebut Hj. Amirah Nahrawi menyampaikan tentang latar belakang dan perkembangan upaya yang dilakukan MUI bersama lembaga-lembaga filantropi Indonesia dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dalam mewujudkan komitmen dukungan bangsa Indonesia bagi bangsa Palestina yang membutuhkan fasilitas kesehatan khususnya sebuah rumah sakit. 

"Biaya yang diperlukan sekitar Rp 87 milyar dan sejak dicanangkannya Aliansi Kemanusiaan untk Pembangunan RSIH pada bulan Juni 2021 hingga saat ini telah terkumpul dana sekitar 30%," jelas Hj. Amirah.

Mengingat Aliansi ini terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia maka MUI mengajak KADIN dan para anggotanya untk berdonasi mendukung Aliansi Kemanusiaan ini. "MUI juga telah menandatangani MOU Kerjasama Pembangunan RSIH ini dengan Walikota Hebron, Tayseer Abu Sneineh pada akhir Oktober 2021," lanjut Amirah Nahrawi.

Menanggapi ajakan MUI tersebut, Ketua Umum KADIN Arsjad Rasjid menyambut baik dan mendukung sepenuhnya pembangunan RSIH yang diinisiasi oleh MUI tersebut. 

Lebih jauh Arsjad Rasjid menyatakan bahwa pihaknya ingin melihat kerjasama kita denganPalestina dapat lebih berarti (meaningful) dan berkelanjutan (sustainable). Untuk itu pihaknya sedang mempertimbangkan bentuk kerjasama ekonomi dan perdagangan yang lebih kongkrit yang bisa kita tawarkan kepada pihak Palestina, seperti kemungkinan membangun sebuah  kawasan berikat di Hebron, Palestina. 

Kawasan berikat tersebut pada awalnya dapat sederhana seperti sebuah ‘gudang Indonesia’ dimana produk Indonesia yang diekspor ke Palestina disalurkan ke kawasan tersebut, dan selanjutnya Palestina dapat menjual produk tersebut ke pasar di sekitarnya. 

Arsjad yakin bahwa kerjasama ekonomi dan perdagangan dengan Palestina akan dapat diwujudkan mengingat kegiatannya akan lebih bernuansa kesejahteraan bagi masyarakat dan lebih nyata (real) hasilnya, dimana aktivitas perdagangan di kawasan tersebut dapat langsung dirasakan oleh masyarakat Palestina. 

Adanya kawasan berikat tersebut juga akan berdampak pada meningkatnya kerjasama bilateral Indonesia dengan Palestina yang kemudian juga akan meningkatkan posisi (leverage) Indonesia dalam  membantu mencari penyelesaian damai konflik Israel-Palestina. 

Hj. Amirah Nahrawi dan para Anggota Panitia MUI untuk Pembangunan RSIH sangat menghargai sambutan hangat Ketua Umum KADIN dan khusus menyangkut pemikiran tentang pembentukan sebuah kawasan berikat di Hebron, insya Allah akan dapat dijajaki kemungkinannya dengan pihak Walikota Hebron yang selama ini sangat kooperatif. 

"Kita mengharapkan pihak Wali Kota juga akan dapat memberikan gambaran tentang lahan yang aman bagi aktivitas ekonomi dan perdagangan Indonesia - Palestina di Hebron," tutup Hj. Amirah Nahrawi. 

Dalam pertemuan tersebut, hadir pula Panitia MUI Untuk Pembangunan RSIH lainnya, yakni Dubes Yuli Mumpuni Widarso, H. Oke Setiadi, Yanuardi Syukur dan Muhammad Hibatur Rahman dari Kitabisa.com. [Yanuardi Syukur]

Saturday, March 26, 2022

Setiap Suara Punya Magic: Parade Puisi RPI


Perkumpulan RPI kembali merayakan parade puisi dalam rangka HUT ke-2, 18 Maret 2022. Dalam sambutan, saya menyampaikan bahwa parade puisi adalah bagian dari sinergi antaraktivis, antarkolega, untuk menimbuhkan semangat positif bagi sesama. 

Sejak pandemi melanda dunia, dan Indonesia--awal Maret 2020, RPI konsen menggelar diskusi dan kegiatan positif untuk saling menguatkan. Pembacaan puisi adalah satu bagian penting untuk itu. Terlihat sangat mudah, tapi sebenarnya tidak mudah-mudah amat juga. Baca puisi butuh power, yang power itu berasal dari kejernihan dan ketulusan hati. 

Puisi yang dibacakan dari hati jernih-tulis akan sampai pada hati manusia dengan kejernihan dan ketulusan. Itulah kenapa kita kadang jadi sedih atau jadi geram, atau bahkan bersemangat tinggi untuk sesuatu saat mendengarkan puisi yang dibacakan oleh orang tertentu. Tiap kata punya magic, dan tiap suara juga punya magic

Evi Andriani membawakan acara dengan baik. Sebagai pengurus RPI, Evi aktif bersinergi dengan kolega lainnya, dan saat ini ia aktif di Bidang Penulisan dan Penerbitan. Bersama satu tim, Evi merancang acara sebaik-baiknya. 

Saya sempat bacakan sajak lama yang saya tulis di atas pesawat. Ceritanya tentang kisah perjuangan orang kampung dalam menggapai cita-cita. Setelah selesai satu, ia mengejar yang lainnya. Begitulah seterusnya perjuangan kita mencapai cita-cita. Kita terus mencari mengejar ketinggian dan kemuliaan hidup sejauh yang dapat kita kejar. 

Saya kira bagus sekali untuk kita budayakan menulis, menerbitkan, dan membacakan puisi secara berkala. Atas segala kontribusi tim kerja, saya ucapkan terima kasih. Semua yang menyampaikan puisi tadi, bagus-bagus, dan dapat ide kita agar ke depannya pembacaan puisinya bisa sendiri atau bisa duet, atau mungkin beberapa orang sekaligus.*

Thursday, March 17, 2022

HWPL, "Deklarasi Damai-Berhenti Perang" dan Tugas Global Kita

Atas kebaikan hati Imam Shamsi Ali--yang berbagi link kegiatan--saya mengikuti acara tahunan "peringatan proklamasi" deklarasi perdamaian dan penghentian perang (declaration of peace and cessation of war) yang digelar Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL), 17 Maret 2022 secara daring. 

Dipandu oleh Amanda Dixos, acara yang dihadiri 200-an peserta dari seluruh dunia tersebut diisi oleh presentasi singkat dari tokoh perdamaian, di antaranya Imam Shamsi Ali. Dalam paparannya, Imam Shamsi membahas soal "human gaps" yang berdampak pada ketidakadilan dan serangan kekerasan--seperti yang menimpa komunitas Asia di New York, beberapa waktu lalu. 

Tantangan yang kita hadapi, menurut Imam Shamsi, adalah "bagaimana keluar dari zona nyaman" atau tendensi egoistik menuju saling pengertian dan kerja sama. New York, ia contohkan, adalah "city of bridges, not walls", maka kita harus membangun jembatan, bukan tembok. Di zaman yang interconnected seperti sekarang, kita butuh komunikasi dan sinergi untuk membangun kesamaan, keadilan sosial untuk semua (social justice for all) dan melawan ketidakadilan. 

Sheikh Musa Drammeh menyoroti "the rise of ethnic violence", kebangkitan kekerasan terhadap etnik di kota New York. Dia menyarankan agar fenomena itu disikapi dengan diskusi. Diskusi akan memudahkan segalanya, kata dia. "Let's come sit on the table," lanjutnya. Duduk satu meja sangat penting untuk menyamakan persepsi, yang sangat mungkin tidak sama. 

Acara juga mendengarkan sambutan dari Chairman WHPL, Lee Man-hee. Dari podium, beliau bercerita bahwa "esensi dunia adalah kemanusiaan." Untuk itu, ia mengajak peserta agar mewariskan perdamaian kepada generasi pelanjut, dan mengakhiri konflik. "Tiap orang harus menjadi messenger of peace," kata dia. 

Menutup acara, Direktur Shin, mengatakan bahwa jangan lagi ada tragic war di dunia. Apa yang terjadi di Ukraina, pasca-invasi Rusia adalah bagian dari peristiwa tragis yang seharusnya ditentang oleh kita semua, sebab invasi tersebut tidak hanya mengakibatkan kerusakan fisik dan non-fisik tapi juga akan menyebabkan perang berkelanjutan khususnya antarkedua negara. Retaliasi yang tertinggal dalam benak anak-anak Ukraina misalnya dapat mengawetkan perang, dan itu tidak kondusif untuk kedua negara. 

Acara peringatan deklarasi perdamaian ini sangat baik untuk mengukuhkan kerja sama global. Dunia kita yang semakin menua ini membutuhkan saling pengertian global dan semangat bersama untuk menciptakan perdamaian. Konstitusi Indonesia mengamanatkan "...ikut menciptakan perdamaian dunia", dan negara lain juga sama. Deklarasi perdamaian sangat penting hadir tiap negara, tiap komunitas, dan tiap orang. 

HWPL, organisasi perdamaian dunia di bawah ECOSOC PBB, dapat memainkan peranan penting untuk perdamaian. Mr. Lee Man-hee juga sempat berkunjung ke Indonesia dan menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga. Dalam konteks perdamaian dunia, semua komunitas sebaiknya diajak untuk bergabung dalam satu barisan. 

Sebagai "man of peace", kita harus mendukung berbagai inisiatif perdamaian dan penghentian peperangan. Semua pihak, tak terkecuali, perlu bersatu untuk itu. Sebab, dengan begitulah kita akan menjadi manusia seutuhnya, sesuai dengan tujuan penciptaan dan kehadiran kita di planet bumi ini. *



Friday, January 21, 2022

Saxophone Melody, Renungan dan Cita-Cita

Hari ini saya masih capek. Tadi malam baru tiba dari Makassar. Satu keluarga kami berkunjung ke sana untuk menghadiri pernikahan Fahmi Islami dan Siti Nur Faizah Nasir, sekaligus silaturahmi keluarga. Peresmian Aula Darul Istiqamah pada 1 Januari 2022, membuat saya juga ingin hadir, sebab di momen itu juga buku Ust Muzakkir yang saya edit juga ada soft launching. 

Malam ini saya dengar lagu romantic. Lagu lama, tapi indah didengar. Malam-malam seperti ini biasanya enaknya tidur, tapi saya coba memperbaiki meja belajar saya. Setelah duduk, saya coba merenungkan bahwa usiaku sekarang 40 tahun. Sementara itu, kebaikanku belum seberapa, dan kuliahku belum juga selesai. 

Saya kadang merasa iri melihat teman-temanku yang cepat selesai. Saat jenjang sarjana, saya juga lambat selesai; kuliahku 7 tahun. Saat melihat temanku yang duluan tamat, saya merasa sedih. Kok bisa ya mereka duluan, sementara saya belum, bahkan masih mengulang mata kuliah statistik? 

Saat jenjang master, saya coba kejar belajar dengan giat agar bisa tamat lebih cepat. Saya tamat kurang dari 2 tahun. Saya merasa beruntung. Walau tidak duduk di deretan mereka yang cumlaude, tapi di atas kertas saya juga cumlaude. 

Ketika kuliah doktor ini saya menghadapi banyak sekali pengalaman. Mulai dari anakku lahir dua di Depok, Faiz dan Amirah. Dua anak yang lucu dan menyenangkan saat melihatnya. Sebagai ayah saya juga harus peduli dengan mereka, di tengah statusku sebagai mahasiswa. Peduli juga anakku yang lain, Anisah, Afifah, dan Fikri juga harus terjaga. 

Saya dapat pengalaman ke Bangkok, dan juga ke Amerika. Sesuatu yang dulunya tidak pernah terbayangkan. Saya dulunya merasa minder dengan bahasa Inggris. Saya merasa tidak bisa, tapi setelah saya coba ternyata bisa juga dikit-dikit. Sejak dapat pengalaman luar negeri itu saya jadi sering dan senang belajar dan membaca terkait luar negeri, khususnya terkait Islam, dunia global, politik, dan tokoh dunia. Saya merasa senang saat baca kisah-kisah itu, dan berharap dapat menjadi orang yang turut mewarnai dunia. 

Malam ini saya baru saja mengirimkan foto saat di Australia. Kawanku butuh. Mungkin buat video. Saat buka foto lama, saya lihat foto-fotoku saat di tiga kota di sana. Ketika bertemu Prof Ismet Fanany di Deakin, saya ingat saat jalan sendiri naik trem di sebuah sore. Saya waktu itu selain melanjutkan kerja sama antara Unkhair-Deakin, juga ingin melanjutkan PhD di situ. Sudah daftar, tapi tidak saya lanjutkan. Soal bahasa Inggris menjadi kendala saat itu, butuh IELTS 7. Jika fokus betul dalam setahun atau setahun lebih katanya sih bisa. 

Malam ini saya ingin berdoa memohon petunjuk kepada Allah swt, semoga saya mendapatkan pencerahan akal dan budi agar bisa menyelesaikan disertasiku yang tertunda oleh berbagai faktor. Saya berharap tahun ini bisa menyelesaikan studi tersebut. Yah, semoga ada kemudahan. Tetap semangat. 

Thursday, January 13, 2022

Renungan 40 Tahun

 Alhamdulillah, hari ini saya menginjak usia 40 tahun. Sebuah usia yang tidak muda, tentu saja. Ada yang bilang, usia 40 itu awal dari kehidupan, life begins at 40. Ada juga yang bilang, life begins after coffee. Setelah ngopi, hidup terasa lebih hidup, katanya begitu.

Di usia baru ini saya ingin berkaca pada masa lalu. Bahwa banyak sekali kekurangan diri yang butuh untuk dilengkapi, diperbaiki. Hal-hal yang harus dipertahankan sepatutnya untuk dipertahankan. Hal-hal yang harus ditinggalkan sebaiknya ditinggalkan.

Saya merasa harus bisa melangkah menjadi yang lebih baik. Baik itu standar, semua orang bisa. Tapi menjadi yang terbaik itu tidak mudah. Saya harus berusaha menggapai itu. 

Untuk itu, saya berdoa semoga Allah swt terus menunjukkan saya jalan-Nya yang terbaik, menjaga dan memberikan pencerahan pada jiwa agar cenderung pada kebaikan. Sesungguhnya, hanya dari petunjuk-Nya sajalah sehingga kita bisa konsisten meniti jalan kebaikan...  

Maccopa, 13/1/2022

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...