Sunday, April 17, 2022

Ketua Umum KADIN Arsjad Rasjid Mendukung Pembangunan RSIH Palestina


Panitia MUI Untuk Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Hebron (RSIH), diketuai oleh Ketua Bidang Penggalangan Dana, Hj. Amirah Nahrawi disertai beberapa anggota lainnya pada Rabu (13/4) telah diterima oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) 2021-2026 M. Arsjad Rasjid. 

Dalam pertemuan tersebut Hj. Amirah Nahrawi menyampaikan tentang latar belakang dan perkembangan upaya yang dilakukan MUI bersama lembaga-lembaga filantropi Indonesia dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dalam mewujudkan komitmen dukungan bangsa Indonesia bagi bangsa Palestina yang membutuhkan fasilitas kesehatan khususnya sebuah rumah sakit. 

"Biaya yang diperlukan sekitar Rp 87 milyar dan sejak dicanangkannya Aliansi Kemanusiaan untk Pembangunan RSIH pada bulan Juni 2021 hingga saat ini telah terkumpul dana sekitar 30%," jelas Hj. Amirah.

Mengingat Aliansi ini terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia maka MUI mengajak KADIN dan para anggotanya untk berdonasi mendukung Aliansi Kemanusiaan ini. "MUI juga telah menandatangani MOU Kerjasama Pembangunan RSIH ini dengan Walikota Hebron, Tayseer Abu Sneineh pada akhir Oktober 2021," lanjut Amirah Nahrawi.

Menanggapi ajakan MUI tersebut, Ketua Umum KADIN Arsjad Rasjid menyambut baik dan mendukung sepenuhnya pembangunan RSIH yang diinisiasi oleh MUI tersebut. 

Lebih jauh Arsjad Rasjid menyatakan bahwa pihaknya ingin melihat kerjasama kita denganPalestina dapat lebih berarti (meaningful) dan berkelanjutan (sustainable). Untuk itu pihaknya sedang mempertimbangkan bentuk kerjasama ekonomi dan perdagangan yang lebih kongkrit yang bisa kita tawarkan kepada pihak Palestina, seperti kemungkinan membangun sebuah  kawasan berikat di Hebron, Palestina. 

Kawasan berikat tersebut pada awalnya dapat sederhana seperti sebuah ‘gudang Indonesia’ dimana produk Indonesia yang diekspor ke Palestina disalurkan ke kawasan tersebut, dan selanjutnya Palestina dapat menjual produk tersebut ke pasar di sekitarnya. 

Arsjad yakin bahwa kerjasama ekonomi dan perdagangan dengan Palestina akan dapat diwujudkan mengingat kegiatannya akan lebih bernuansa kesejahteraan bagi masyarakat dan lebih nyata (real) hasilnya, dimana aktivitas perdagangan di kawasan tersebut dapat langsung dirasakan oleh masyarakat Palestina. 

Adanya kawasan berikat tersebut juga akan berdampak pada meningkatnya kerjasama bilateral Indonesia dengan Palestina yang kemudian juga akan meningkatkan posisi (leverage) Indonesia dalam  membantu mencari penyelesaian damai konflik Israel-Palestina. 

Hj. Amirah Nahrawi dan para Anggota Panitia MUI untuk Pembangunan RSIH sangat menghargai sambutan hangat Ketua Umum KADIN dan khusus menyangkut pemikiran tentang pembentukan sebuah kawasan berikat di Hebron, insya Allah akan dapat dijajaki kemungkinannya dengan pihak Walikota Hebron yang selama ini sangat kooperatif. 

"Kita mengharapkan pihak Wali Kota juga akan dapat memberikan gambaran tentang lahan yang aman bagi aktivitas ekonomi dan perdagangan Indonesia - Palestina di Hebron," tutup Hj. Amirah Nahrawi. 

Dalam pertemuan tersebut, hadir pula Panitia MUI Untuk Pembangunan RSIH lainnya, yakni Dubes Yuli Mumpuni Widarso, H. Oke Setiadi, Yanuardi Syukur dan Muhammad Hibatur Rahman dari Kitabisa.com. [Yanuardi Syukur]

Saturday, March 26, 2022

Setiap Suara Punya Magic: Parade Puisi RPI


Perkumpulan RPI kembali merayakan parade puisi dalam rangka HUT ke-2, 18 Maret 2022. Dalam sambutan, saya menyampaikan bahwa parade puisi adalah bagian dari sinergi antaraktivis, antarkolega, untuk menimbuhkan semangat positif bagi sesama. 

Sejak pandemi melanda dunia, dan Indonesia--awal Maret 2020, RPI konsen menggelar diskusi dan kegiatan positif untuk saling menguatkan. Pembacaan puisi adalah satu bagian penting untuk itu. Terlihat sangat mudah, tapi sebenarnya tidak mudah-mudah amat juga. Baca puisi butuh power, yang power itu berasal dari kejernihan dan ketulusan hati. 

Puisi yang dibacakan dari hati jernih-tulis akan sampai pada hati manusia dengan kejernihan dan ketulusan. Itulah kenapa kita kadang jadi sedih atau jadi geram, atau bahkan bersemangat tinggi untuk sesuatu saat mendengarkan puisi yang dibacakan oleh orang tertentu. Tiap kata punya magic, dan tiap suara juga punya magic

Evi Andriani membawakan acara dengan baik. Sebagai pengurus RPI, Evi aktif bersinergi dengan kolega lainnya, dan saat ini ia aktif di Bidang Penulisan dan Penerbitan. Bersama satu tim, Evi merancang acara sebaik-baiknya. 

Saya sempat bacakan sajak lama yang saya tulis di atas pesawat. Ceritanya tentang kisah perjuangan orang kampung dalam menggapai cita-cita. Setelah selesai satu, ia mengejar yang lainnya. Begitulah seterusnya perjuangan kita mencapai cita-cita. Kita terus mencari mengejar ketinggian dan kemuliaan hidup sejauh yang dapat kita kejar. 

Saya kira bagus sekali untuk kita budayakan menulis, menerbitkan, dan membacakan puisi secara berkala. Atas segala kontribusi tim kerja, saya ucapkan terima kasih. Semua yang menyampaikan puisi tadi, bagus-bagus, dan dapat ide kita agar ke depannya pembacaan puisinya bisa sendiri atau bisa duet, atau mungkin beberapa orang sekaligus.*

Thursday, March 17, 2022

HWPL, "Deklarasi Damai-Berhenti Perang" dan Tugas Global Kita

Atas kebaikan hati Imam Shamsi Ali--yang berbagi link kegiatan--saya mengikuti acara tahunan "peringatan proklamasi" deklarasi perdamaian dan penghentian perang (declaration of peace and cessation of war) yang digelar Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL), 17 Maret 2022 secara daring. 

Dipandu oleh Amanda Dixos, acara yang dihadiri 200-an peserta dari seluruh dunia tersebut diisi oleh presentasi singkat dari tokoh perdamaian, di antaranya Imam Shamsi Ali. Dalam paparannya, Imam Shamsi membahas soal "human gaps" yang berdampak pada ketidakadilan dan serangan kekerasan--seperti yang menimpa komunitas Asia di New York, beberapa waktu lalu. 

Tantangan yang kita hadapi, menurut Imam Shamsi, adalah "bagaimana keluar dari zona nyaman" atau tendensi egoistik menuju saling pengertian dan kerja sama. New York, ia contohkan, adalah "city of bridges, not walls", maka kita harus membangun jembatan, bukan tembok. Di zaman yang interconnected seperti sekarang, kita butuh komunikasi dan sinergi untuk membangun kesamaan, keadilan sosial untuk semua (social justice for all) dan melawan ketidakadilan. 

Sheikh Musa Drammeh menyoroti "the rise of ethnic violence", kebangkitan kekerasan terhadap etnik di kota New York. Dia menyarankan agar fenomena itu disikapi dengan diskusi. Diskusi akan memudahkan segalanya, kata dia. "Let's come sit on the table," lanjutnya. Duduk satu meja sangat penting untuk menyamakan persepsi, yang sangat mungkin tidak sama. 

Acara juga mendengarkan sambutan dari Chairman WHPL, Lee Man-hee. Dari podium, beliau bercerita bahwa "esensi dunia adalah kemanusiaan." Untuk itu, ia mengajak peserta agar mewariskan perdamaian kepada generasi pelanjut, dan mengakhiri konflik. "Tiap orang harus menjadi messenger of peace," kata dia. 

Menutup acara, Direktur Shin, mengatakan bahwa jangan lagi ada tragic war di dunia. Apa yang terjadi di Ukraina, pasca-invasi Rusia adalah bagian dari peristiwa tragis yang seharusnya ditentang oleh kita semua, sebab invasi tersebut tidak hanya mengakibatkan kerusakan fisik dan non-fisik tapi juga akan menyebabkan perang berkelanjutan khususnya antarkedua negara. Retaliasi yang tertinggal dalam benak anak-anak Ukraina misalnya dapat mengawetkan perang, dan itu tidak kondusif untuk kedua negara. 

Acara peringatan deklarasi perdamaian ini sangat baik untuk mengukuhkan kerja sama global. Dunia kita yang semakin menua ini membutuhkan saling pengertian global dan semangat bersama untuk menciptakan perdamaian. Konstitusi Indonesia mengamanatkan "...ikut menciptakan perdamaian dunia", dan negara lain juga sama. Deklarasi perdamaian sangat penting hadir tiap negara, tiap komunitas, dan tiap orang. 

HWPL, organisasi perdamaian dunia di bawah ECOSOC PBB, dapat memainkan peranan penting untuk perdamaian. Mr. Lee Man-hee juga sempat berkunjung ke Indonesia dan menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga. Dalam konteks perdamaian dunia, semua komunitas sebaiknya diajak untuk bergabung dalam satu barisan. 

Sebagai "man of peace", kita harus mendukung berbagai inisiatif perdamaian dan penghentian peperangan. Semua pihak, tak terkecuali, perlu bersatu untuk itu. Sebab, dengan begitulah kita akan menjadi manusia seutuhnya, sesuai dengan tujuan penciptaan dan kehadiran kita di planet bumi ini. *



Friday, January 21, 2022

Saxophone Melody, Renungan dan Cita-Cita

Hari ini saya masih capek. Tadi malam baru tiba dari Makassar. Satu keluarga kami berkunjung ke sana untuk menghadiri pernikahan Fahmi Islami dan Siti Nur Faizah Nasir, sekaligus silaturahmi keluarga. Peresmian Aula Darul Istiqamah pada 1 Januari 2022, membuat saya juga ingin hadir, sebab di momen itu juga buku Ust Muzakkir yang saya edit juga ada soft launching. 

Malam ini saya dengar lagu romantic. Lagu lama, tapi indah didengar. Malam-malam seperti ini biasanya enaknya tidur, tapi saya coba memperbaiki meja belajar saya. Setelah duduk, saya coba merenungkan bahwa usiaku sekarang 40 tahun. Sementara itu, kebaikanku belum seberapa, dan kuliahku belum juga selesai. 

Saya kadang merasa iri melihat teman-temanku yang cepat selesai. Saat jenjang sarjana, saya juga lambat selesai; kuliahku 7 tahun. Saat melihat temanku yang duluan tamat, saya merasa sedih. Kok bisa ya mereka duluan, sementara saya belum, bahkan masih mengulang mata kuliah statistik? 

Saat jenjang master, saya coba kejar belajar dengan giat agar bisa tamat lebih cepat. Saya tamat kurang dari 2 tahun. Saya merasa beruntung. Walau tidak duduk di deretan mereka yang cumlaude, tapi di atas kertas saya juga cumlaude. 

Ketika kuliah doktor ini saya menghadapi banyak sekali pengalaman. Mulai dari anakku lahir dua di Depok, Faiz dan Amirah. Dua anak yang lucu dan menyenangkan saat melihatnya. Sebagai ayah saya juga harus peduli dengan mereka, di tengah statusku sebagai mahasiswa. Peduli juga anakku yang lain, Anisah, Afifah, dan Fikri juga harus terjaga. 

Saya dapat pengalaman ke Bangkok, dan juga ke Amerika. Sesuatu yang dulunya tidak pernah terbayangkan. Saya dulunya merasa minder dengan bahasa Inggris. Saya merasa tidak bisa, tapi setelah saya coba ternyata bisa juga dikit-dikit. Sejak dapat pengalaman luar negeri itu saya jadi sering dan senang belajar dan membaca terkait luar negeri, khususnya terkait Islam, dunia global, politik, dan tokoh dunia. Saya merasa senang saat baca kisah-kisah itu, dan berharap dapat menjadi orang yang turut mewarnai dunia. 

Malam ini saya baru saja mengirimkan foto saat di Australia. Kawanku butuh. Mungkin buat video. Saat buka foto lama, saya lihat foto-fotoku saat di tiga kota di sana. Ketika bertemu Prof Ismet Fanany di Deakin, saya ingat saat jalan sendiri naik trem di sebuah sore. Saya waktu itu selain melanjutkan kerja sama antara Unkhair-Deakin, juga ingin melanjutkan PhD di situ. Sudah daftar, tapi tidak saya lanjutkan. Soal bahasa Inggris menjadi kendala saat itu, butuh IELTS 7. Jika fokus betul dalam setahun atau setahun lebih katanya sih bisa. 

Malam ini saya ingin berdoa memohon petunjuk kepada Allah swt, semoga saya mendapatkan pencerahan akal dan budi agar bisa menyelesaikan disertasiku yang tertunda oleh berbagai faktor. Saya berharap tahun ini bisa menyelesaikan studi tersebut. Yah, semoga ada kemudahan. Tetap semangat. 

Thursday, January 13, 2022

Renungan 40 Tahun

 Alhamdulillah, hari ini saya menginjak usia 40 tahun. Sebuah usia yang tidak muda, tentu saja. Ada yang bilang, usia 40 itu awal dari kehidupan, life begins at 40. Ada juga yang bilang, life begins after coffee. Setelah ngopi, hidup terasa lebih hidup, katanya begitu.

Di usia baru ini saya ingin berkaca pada masa lalu. Bahwa banyak sekali kekurangan diri yang butuh untuk dilengkapi, diperbaiki. Hal-hal yang harus dipertahankan sepatutnya untuk dipertahankan. Hal-hal yang harus ditinggalkan sebaiknya ditinggalkan.

Saya merasa harus bisa melangkah menjadi yang lebih baik. Baik itu standar, semua orang bisa. Tapi menjadi yang terbaik itu tidak mudah. Saya harus berusaha menggapai itu. 

Untuk itu, saya berdoa semoga Allah swt terus menunjukkan saya jalan-Nya yang terbaik, menjaga dan memberikan pencerahan pada jiwa agar cenderung pada kebaikan. Sesungguhnya, hanya dari petunjuk-Nya sajalah sehingga kita bisa konsisten meniti jalan kebaikan...  

Maccopa, 13/1/2022

Thursday, December 23, 2021

Mengenang Masa Lalu

Tadi saya lihat video kakak saya yang berziarah ke makam nenek di Lampung. Saya jadi teringat dengan nenek saya. Beliau sangat aktif dalam mengusahakan agar kami bisa kenal dengan keluarga besar. Saya merasa itu pelajaran paling berharga dari nenekku. 

Tadi juga saya lihat video kakek saya (abo) yang terbaring di Lampung. Istriku yang menyampaikan tentang itu. Kebetulan saya tidak sempat buka video yang diupload di grup. Saat istriku bertanya, "abo kenapa?" Saya bertanya balik, "maksudnya gmn?" Ternyata, ada video beliau susah berbicara. Hanya tiduran. Di situ ada kakak saya juga yang menyempatkan ke rumah di Bandar Jaya di sela-sela ikut Muktamar ke-34 NU. 

Saat nulis ini saya baru saja selesai rapat panitia Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Hebron, Palestina. Setahun terakhir saya aktif di MUI dan terlibat dalam pembangunan RSIH. Di malam ini saya jadi teringat dengan masa lalu, terutama keluargaku, dan juga rencana masa depanku dan keluargaku. Dalam waktu paling dekat, satu tahun ini saya harus bisa menyelesaikan studi S3. Ini sudah tahun ke-5. Saya merasa harus betul-betul berjuang untuk menuntaskan itu. Itulah kenapa saya banyak keluar dari berbagai WAG, dan mulai membatasi pertemuan dengan banyak orang. 

Saya sebenarnya ingin sekali berlari untuk menyelesaikan studi ini. Tapi entah kenapa jalannya agak pelan. Kendala memang ada, tapi saya rasa tidak boleh saya mengkambinghitamkan masalah. Saya harus bisa menuntaskan apa yang telah saya mulai. Apalagi menjelang usia 40 tahun nanti, saya merasa harus betul-betul menemukan diri saya dan fokus saya ke mana. Semoga Allah SWT menunjukkan saya jalan-Nya dan memudahkanku dalam meniti cita-cita agar bisa selesai S3 dengan sebaik-baiknya dan dapat bermanfaat untuk banyak orang. 

Malam ini saya ingin menguatkan kembali tekadku untuk menuntaskan disertasi dengan momentum mengenang masa lalu, mengenang keluargaku. Saya juga harus memperjuangkan keluarga kecilku. Sebagai ayah dari 5 anakku dan suami saya ingin sekali menjadi yang terbaik. Insya Allah saya akan berusaha untuk terus jadi yang terbaik..

Wednesday, December 1, 2021

Di Hari Tua, Orang Tertarik Wakaf Pendidikan

Beberapa tahun terakhir ada fenomena menarik yang saya amati, yakni ketertarikan sebagian orang tua mewakafkan sebagian asetnya untuk dibangun lembaga pendidikan. Khusus yang saya tahu, cukup banyak yang ingin membangun sekolah agama, mulai dari rumah tahfizh sampai perguruan tinggi Islam.

Sebab ketertarikan pada wakaf pendidikan tersebut sangat mungkin didasari oleh beberapa pemikiran. Pertama, pahala wakafnya mengalir dalam jangka panjang. Orang Islam khususnya meyakini bahwa ketika hartanya disedekahkan atau diwakafkan kemudian harta itu dipergunakan untuk kebaikan, maka pahalanya akan mengalir juga kepada pewakaf tersebut.
Kedua, wakaf pendidikan berguna untuk membentuk manusia yang baik. Ada semacam kerinduan dalam hati untuk menciptakan banyak-banyak orang baik lewat lembaga pendidikan. Jika tidak bisa mendidik, setidaknya seseorang dapat berkontribusi dalam wakaf harta untuk itu. Artinya, semua yang terlihat di dalamnya adalah bagian dari pejuang-pejuang kemanusiaan untuk menciptakan manusia yang baik.
Beberapa tahun terakhir saya kerap mendengar soal tren orang tua yang mewakafkan sebagian hartanya untuk pendirian rumah tahfizh atau sekolah (dasar sampai tinggi). Seseorang bercerita di rumah saya, bahwa di Jakarta dan sekitarnya ada banyak tanah yang kabarnya mau diwakafkan untuk rumah tahfizh. Mereka orang kaya (aghniya') yang ingin lebih religius dan memilih untuk berkontribusi dalam pewakafan tersebut.
Seorang lainnya bercerita di rumah saya, bahwa kakeknya juga mewakafkan hartanya untuk pesantren. Sang kakek sudah lama ingin tanahnya itu dipergunakan untuk sekolah Islam. Logika sang kakek, jika ia telah tiada, maka harapannya amal baiknya itu dapat terus mengalir, dan kebaikan akan ia dapatkan.
Ketika berkunjung ke suatu daerah, saya bertemu beberapa pimpinan pesantren. Usianya masih muda, 30-an awal. Mereka bercerita bahwa saat ini banyak tanah yang mau diwakafkan, akan tetapi terkendala pada manajemen. Jadi, potensi tanah wakaf itu ada cuma yayasan atau manajemennya yang tidak tersedia. Berarti ada disparitas antara potensi wakaf dengan pengelola wakaf.
Pada kesempatan lainnya, di sebuah masjid pada Ramadhan yang mulia, saya dapat cerita bahwa beberapa profesor di universitas juga mulai tertarik membuat rumah tahfizh, pesantren, atau perguruan tinggi. Logikanya, setelah mereka pensiun dari universitas, mereka akan jadi orang biasa kembali, dan rasanya teramat sayang kalau hanya duduk-duduk menikmati masa pensiun tanpa ada legacy yang berjangka panjang.
Saat saya SD, saya juga dapat cerita, seorang nenek yang mewakafkan tanahnya untuk masjid. Di zaman itu, rumah-rumah masih jarang, rumput masih pada tinggi-tinggi. Sang nenek sudah terpikir untuk menjadikan tanahnya sebagai masjid. Kini, tanah itu sudah jadi masjid dipakai untuk kegiatan keagamaan masyarakat sekitar.
Fenomena orang tua yang ingin mewakafkan tanahnya untuk lembaga pendidikan itu menjelaskan betapa dermawannya orang Indonesia. Walau hidup mereka tidak kaya tapi mereka mau menyumbangkan asetnya untuk pendidikan jangka panjang. Mereka adalah pribadi-pribadi luar biasa yang mungkin walau tidak dikenal tapi berdampak bagi terciptanya manusia
terbaik
melalui wakaf tanah untuk kepentingan jangka panjang.
Depok, 1 Desember 2021
* Foto bersama Ust Munawwar Khalil, Pimpinan Pesantren Madinah Qur'an, sebuah pesantren tahfizh berusia 5 tahun di Kab. Sidrap, Sulsel dgn sekitar 70 santri. Silaturahmi di rumah saya dan berlanjut di Masjid Al-Ikhlas dekat rumah.

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...