Thursday, December 23, 2021

Mengenang Masa Lalu

Tadi saya lihat video kakak saya yang berziarah ke makam nenek di Lampung. Saya jadi teringat dengan nenek saya. Beliau sangat aktif dalam mengusahakan agar kami bisa kenal dengan keluarga besar. Saya merasa itu pelajaran paling berharga dari nenekku. 

Tadi juga saya lihat video kakek saya (abo) yang terbaring di Lampung. Istriku yang menyampaikan tentang itu. Kebetulan saya tidak sempat buka video yang diupload di grup. Saat istriku bertanya, "abo kenapa?" Saya bertanya balik, "maksudnya gmn?" Ternyata, ada video beliau susah berbicara. Hanya tiduran. Di situ ada kakak saya juga yang menyempatkan ke rumah di Bandar Jaya di sela-sela ikut Muktamar ke-34 NU. 

Saat nulis ini saya baru saja selesai rapat panitia Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Hebron, Palestina. Setahun terakhir saya aktif di MUI dan terlibat dalam pembangunan RSIH. Di malam ini saya jadi teringat dengan masa lalu, terutama keluargaku, dan juga rencana masa depanku dan keluargaku. Dalam waktu paling dekat, satu tahun ini saya harus bisa menyelesaikan studi S3. Ini sudah tahun ke-5. Saya merasa harus betul-betul berjuang untuk menuntaskan itu. Itulah kenapa saya banyak keluar dari berbagai WAG, dan mulai membatasi pertemuan dengan banyak orang. 

Saya sebenarnya ingin sekali berlari untuk menyelesaikan studi ini. Tapi entah kenapa jalannya agak pelan. Kendala memang ada, tapi saya rasa tidak boleh saya mengkambinghitamkan masalah. Saya harus bisa menuntaskan apa yang telah saya mulai. Apalagi menjelang usia 40 tahun nanti, saya merasa harus betul-betul menemukan diri saya dan fokus saya ke mana. Semoga Allah SWT menunjukkan saya jalan-Nya dan memudahkanku dalam meniti cita-cita agar bisa selesai S3 dengan sebaik-baiknya dan dapat bermanfaat untuk banyak orang. 

Malam ini saya ingin menguatkan kembali tekadku untuk menuntaskan disertasi dengan momentum mengenang masa lalu, mengenang keluargaku. Saya juga harus memperjuangkan keluarga kecilku. Sebagai ayah dari 5 anakku dan suami saya ingin sekali menjadi yang terbaik. Insya Allah saya akan berusaha untuk terus jadi yang terbaik..

Wednesday, December 1, 2021

Di Hari Tua, Orang Tertarik Wakaf Pendidikan

Beberapa tahun terakhir ada fenomena menarik yang saya amati, yakni ketertarikan sebagian orang tua mewakafkan sebagian asetnya untuk dibangun lembaga pendidikan. Khusus yang saya tahu, cukup banyak yang ingin membangun sekolah agama, mulai dari rumah tahfizh sampai perguruan tinggi Islam.

Sebab ketertarikan pada wakaf pendidikan tersebut sangat mungkin didasari oleh beberapa pemikiran. Pertama, pahala wakafnya mengalir dalam jangka panjang. Orang Islam khususnya meyakini bahwa ketika hartanya disedekahkan atau diwakafkan kemudian harta itu dipergunakan untuk kebaikan, maka pahalanya akan mengalir juga kepada pewakaf tersebut.
Kedua, wakaf pendidikan berguna untuk membentuk manusia yang baik. Ada semacam kerinduan dalam hati untuk menciptakan banyak-banyak orang baik lewat lembaga pendidikan. Jika tidak bisa mendidik, setidaknya seseorang dapat berkontribusi dalam wakaf harta untuk itu. Artinya, semua yang terlihat di dalamnya adalah bagian dari pejuang-pejuang kemanusiaan untuk menciptakan manusia yang baik.
Beberapa tahun terakhir saya kerap mendengar soal tren orang tua yang mewakafkan sebagian hartanya untuk pendirian rumah tahfizh atau sekolah (dasar sampai tinggi). Seseorang bercerita di rumah saya, bahwa di Jakarta dan sekitarnya ada banyak tanah yang kabarnya mau diwakafkan untuk rumah tahfizh. Mereka orang kaya (aghniya') yang ingin lebih religius dan memilih untuk berkontribusi dalam pewakafan tersebut.
Seorang lainnya bercerita di rumah saya, bahwa kakeknya juga mewakafkan hartanya untuk pesantren. Sang kakek sudah lama ingin tanahnya itu dipergunakan untuk sekolah Islam. Logika sang kakek, jika ia telah tiada, maka harapannya amal baiknya itu dapat terus mengalir, dan kebaikan akan ia dapatkan.
Ketika berkunjung ke suatu daerah, saya bertemu beberapa pimpinan pesantren. Usianya masih muda, 30-an awal. Mereka bercerita bahwa saat ini banyak tanah yang mau diwakafkan, akan tetapi terkendala pada manajemen. Jadi, potensi tanah wakaf itu ada cuma yayasan atau manajemennya yang tidak tersedia. Berarti ada disparitas antara potensi wakaf dengan pengelola wakaf.
Pada kesempatan lainnya, di sebuah masjid pada Ramadhan yang mulia, saya dapat cerita bahwa beberapa profesor di universitas juga mulai tertarik membuat rumah tahfizh, pesantren, atau perguruan tinggi. Logikanya, setelah mereka pensiun dari universitas, mereka akan jadi orang biasa kembali, dan rasanya teramat sayang kalau hanya duduk-duduk menikmati masa pensiun tanpa ada legacy yang berjangka panjang.
Saat saya SD, saya juga dapat cerita, seorang nenek yang mewakafkan tanahnya untuk masjid. Di zaman itu, rumah-rumah masih jarang, rumput masih pada tinggi-tinggi. Sang nenek sudah terpikir untuk menjadikan tanahnya sebagai masjid. Kini, tanah itu sudah jadi masjid dipakai untuk kegiatan keagamaan masyarakat sekitar.
Fenomena orang tua yang ingin mewakafkan tanahnya untuk lembaga pendidikan itu menjelaskan betapa dermawannya orang Indonesia. Walau hidup mereka tidak kaya tapi mereka mau menyumbangkan asetnya untuk pendidikan jangka panjang. Mereka adalah pribadi-pribadi luar biasa yang mungkin walau tidak dikenal tapi berdampak bagi terciptanya manusia
terbaik
melalui wakaf tanah untuk kepentingan jangka panjang.
Depok, 1 Desember 2021
* Foto bersama Ust Munawwar Khalil, Pimpinan Pesantren Madinah Qur'an, sebuah pesantren tahfizh berusia 5 tahun di Kab. Sidrap, Sulsel dgn sekitar 70 santri. Silaturahmi di rumah saya dan berlanjut di Masjid Al-Ikhlas dekat rumah.

Sunday, May 30, 2021

Untuk Pencela Donasi Palestina


Ada saja orang yang tidak senang dengan donasi masyarakat Indonesia untuk Palestina dengan jumlah yang miliaran.

Dalam ayat ini, karakter tidak senang terhadap donatur sukarela tsb disebut sebagai "para pencela", salah satu sifat orang-orang munafik.
M. Quraish Shihab dlm Tafsir Al-Mishbah menulis: (1) orang-orang tsb ada yg terus-menerus mencela para pemberi sedekah, dan jika sedekah itu besar, mereka berkata: "pemberian mereka pamrih", (2) mereka juga mencela orang-orang yg dapat sedekah dlm jumlah sedikit dgn berkata: "Pemberiannya terlalu sedikit tidak berarti di sisi Allah."
Orang-orang yg mencela atau mengejek para sukarelawan (atau donatur), maka mereka akan dibalas Allah dgn ejekan, bahkan dgn azab yg pedih.
Dalam Islam, sumbangan bisa berbentuk harta benda, bahkan tenaga dan pikiran juga masuk di dalamnya, "...merupakan sesuatu yg diakui sangat berharga oleh Al-Qur'an tidak kurang nilainya dari sumbangan harta benda." (Tafsir Al-Mishbah, vol 5, p. 178)
Kita berlindung kepada Allah dari sifat tsb. Jika bisa membantu, bantu. Jika tdk bisa, maka berkata-kata yg baik adalah jalan paling baik bagi mereka yg percaya pada kebenaran Al-Qur'an.

Membulatkan Tekad Menggapai Cita-Cita

"Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakkal." (QS. Ali Imran: 159)
Apa itu tekad? KBBI beri jawaban: kemauan (kehendak yang pasti), kebulatan hati, iktikad. Seorang yang bertekad berati: berniat, bermaksud.
Jika bertekad berarti berniat, berarti seorang yang bertekad adalah yang memiliki "keadaan mental yang merepresentasikan komitmen untuk melakukan suatu tindakan atau tindakan di masa depan."
Bagaimana dengan membulatkan tekad? Artinya: "membulatkan hati." Sangat mungkin sebelum hati dibulatkan--dikuatkan, disatukan--hati tersebut masih terpisah-pisah, tidak menyatu. Maka, dibutuhkan suatu soliditas hati yang bulat dan kuat untuk mencapai sesuatu.
Merujuk pada ayat di atas, seorang yang telah membulatkan hatinya (dan juga bekerja sungguh-sungguh untuk itu), diajarkan untuk bertawakkal kepada Allah. Bertawakkal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi, menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.
Jadi, alurnya: tekad yang kuat --> bekerja sungguh-sungguh --> menyerahkan diri kepada Allah dan menunggu hasil pekerjaan.
Sejauh ini motivasi sukses kerap dimulai dari mengumpulkan semangat, kemudian bekerja keras (ada yang mengubahnya dengan 'bekerja efektif'), kemudian menunggu hasil. Hukum alamnya tidak lepas dari itu: bekerja dan berpenghasilan. Itu dalam arti seluas-luasnya. Orang berpenghasilan (dapat hasil) karena dia bekerja--apa pun dan dalam skala apapun jenis pekerjaan tersebut.
Berbicara masalah penghasilan, segala sesuatu di atas bumi sesungguhnya sudah ada rezekinya, ada takaran-takarannya. Tidak ada yang tercipta tanpa rezeki. Manusia misalnya, sejak dalam kandungan, tidak bisa melakukan apapun--bekerja, misalnya--akan tetapi ia dapat suplai masukan dari ibunya. Setelah hidup, ada juga orang yang kelihatannya tidak banyak bekerja, tapi rezeki mengalir begitu saja.
Di sini kita meyakini bahwa Tuhan memberikan rezeki-Nya kepada siapa yang dia kehendaki, dan jumlahnya juga terserah pada kehendak-Nya. Ada orang yang biasa saja pendidikannya tapi rezekinya melimpah, tapi ada juga yang tinggi gelarnya tapi terlihat biasa-biasa saja. Selain faktor usaha, juga ada faktor kadar yang Tuhan beri kepada tiap orang.
Mereka yang sudah berusaha tapi hasilnya masih terlihat apa adanya, maka agama juga memberi mekanisme sabar atau tabah yang dibarengi dengan shalat. Allah swt berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153)
Ada dua bagian pokok dalam kesabaran: sabar jasmani dan sabar rohani. M. Quraish Shihab dalam Kosakata Keagamaan (2020), menulis, bahwa sabar jasmani adalah sabar dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh, seperti sabar dalam ibadah haji, peperangan membela kebenaran, menerima cobaan penyakit, penganiayaan, dan semacamnya.
Sedangkan sabar dalam rohani, lanjutnya, menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantar kepaa keburukan, seperti bersabar menahan amarah, atau nafsu seksual yang bukan pada tempatnya.
Dalam hidup ini cukup banyak hal yang kita tidak tahu, tapi kita berusaha ingin tahu. Sebagian memilih seakan-akan tahu, apalagi di zaman medsos seperti ini, orang berlomba-lomba jadi pusat perhatian dengan berbagai cara. Akhirnya, seolah-olah mereka tahu, padahal tidak, terutama substansi sesuatu. Melihat citra luar saja tidak cukup untuk mengenal kebenaran, butuh pendalaman agar hakikat sesuatu itu terbuka.
Di Al-Qur'an ada doa momohon ampun dan perlindungan dari hal-hal yang kita tidak tahu. Kenapa mohon ampun dan berlindung? Agar kita tidak keliru, apalagi mengelirukan orang lain--secara sengaja atau tidak sengaja.
Doanya berbunyi: "Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi." (QS. Hud: 47)
Kita jadi yakin dalam hal ini, bahwa tugas manusia adalah berusaha mendekat kepada-Nya, bekerja sebaik-baiknya, dan momohon selalu lindungan-Nya. Setelah berusaha, serahkan pada-Nya: Tuhan sajalah yang menentukan. Bertekad sebulat-bulatnya, berusaha semaksimal-maksimalnya, dan menyerahkan diri seutuh-utuhnya untuk mendapatkan petunjuk-Nya. *

Tuesday, May 25, 2021

Dr. KH. Mujetaba Mustafa: Pendakwah, Pendidik, dan Pejuang Kemerdekaan Palestina

Ada tiga hal yang dapat menggambarkan pribadi Dr. Mujetaba Mustafa: pendakwah, pendidik, dan pejuang kemerdekaan Palestina.

Sebagai pendakwah, Dr. Mujetaba rajin menyebarkan dakwah Islam dengan berbagai topik. Mulai dari topik iman, silaturahmi, dan menjadi manusia bahagia.
Sebagai ahli tafsir, dia menjelaskan Al-Qur'an dengan bahasa yang ringan, dan mudah dicerna. Tulisannya, tentang toleransi waktu masih berafiliasi pada IAIN Palopo dibaca oleh banyak orang sebagai berikut: Abstract viewed = 99 times dan PDF downloaded = 1022 times.
Sebagai pendidik, Dr. Mujetaba juga rutin mendidik anak muda agar cinta kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya. Sandy Padi, pengurus Musholla Nurul Ilmi Politeknik STIA LAN Makassar, menulis: "Kami Jadi saksi kalau beliau Guru yang baik. Tiga tahun terakhir beliau selalu mengisi kajian ramadhan di Musholla kampus kami dengan ciri khas retorika beliau yang penuh semangat dengan tema yang sangat menyentuh realitas. Terakhir beliau mengangkat tema pada kajian ramadhan kemarin " Puasa dan Work inspiring."
Dr. Mujetaba juga menulis beberapa artikel jurnal seperti "Kewajiban Berdakwah Menurut Al-Qur'an" dan "Konsep Mahabbah dalam Al-Qur'an" (keduanya di Jurnal Al-Asas, 2020). Tentang toleransi, dia menulis "Toleransi Beragama Perspektif Al-Qur'an" (Jurnal Tasamuh IAIN Sorong, 2015).
Dr. Mujetaba juga aktif dalam pembelaan terhadap bangsa Palestina. Dia adalah Ketua Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Sulsel yang aktif dalam menggalang berbagai advokasi.
Sebagai Ketua KNRP, pada Februari 2015 ia juga melakukan audiensi dengan Wali Kota Makassar, Danny Pomanto dan mendapat dukungan menggelar Jumat untuk Palestina yang dipusatkan dari sejumlah masjid di Makassar dengan target 2 M.
Dia mengaku sangat berterima kasih atas respons positif wali kota terhadap penggalangan donasi tesebut. Walikota Danny juga mengatakan siap membantu dalam hal sosialisasi. Saat itu, Wali Kota Danny memberi donasi Rp100 juta untuk rakyat Palestina.
Danny mendonasikan uang pribadinya saat lelang bingkai Masjid Al-Aqhsa pada acara konser kemanusiaan peduli Palestina, yang digelar di Celebes Convention Center (CCC), Minggu (22/2/2015). Konser bertajuk Makassar peduli Palestina ini dihibur artis Opick, Tomboati Band dan Melly Goeslaw.
Pada 2017, menyusul ditutupnya Masjid Al Aqsa, ratusan masyarakat Makassar menggelar aksi di Monumen Mandala, Makassar, Jum'at (21/7/2017). Menurut Dr. Mujetaba Mustafa, aksi ini dilakukan untuk memberikan dukungan kepada Palestina dan mendorong pemerintah mengadvokasi warga Palestina.
“Kita menagih kebijakan luar negeri yang bebas aktif. Bebas tidak terikat negara manapun tapi aktif memberikan advokasi dan pembelaan terhadap segala bentuk penindasan di muka bumi seperti amanah Undang-Undang Dasar,” kata Mujetaba kepada Anadolu Agency.
Mujetaba juga menegaskan, penyampaian aspirasi ini dipengaruhi oleh apa yang terjadi di Masjid Al Aqsa. "Kalau Masjid Al Aqsa masih ditutup sampai minggu depan, kami akan turun dalam jumlah yang lebih besar,” tegasnya.
Sebagai sesama umat Muslim, menurutnya, aksi ini merupakan panggilan nurani untuk menjaga kiblat pertama kaum muslim itu. Sebab, tanggung jawab menjaga Masjid Al Aqsa bukan hanya di tangan pemerintah Palestina, tapi juga seluruh umat Islam.
Dia berharap, “Semoga ada tindakan nyata dari Indonesia untuk merespon peristiwa penutupan Masjid Al Aqsa. Ini teriakan kepada pemerintah Indonesia yang rakyatnya mayoritas Muslim supaya masjid suci ini diperjuangkan agar bisa dipakai beribadah lagi,” tutupnya, sebagaimana dikutip Shenny Fierdha di laman Anadolu Agency.
Dalam sebuah kesempatan, kalau tidak salah ingat, saya pernah memandu diskusi bersama beliau. Waktu itu beliau bahas soal sifat-sifat utama yang harus dimiliki seorang muslim. Biasanya, saat mendengarkan bahasan Islam dari orang yang dalam ilmunya itu mendatangkan tidak hanya kedalaman ruhiyah tapi juga pemikiran kita.
Dari Wonomulyo, Sulawesi Barat, Ust Zainal Abidin, koleganya menulis sebagai berikut: "Saya dengan beliau pernah satu pondok pesantren selama 6 tahun sejak 1982 sd 1988...Saya termasuk salah satu alumni pesantren IMMIM seangkatan yg cepat menikah, hanya kurang lebih 3 tahun selepas pesantren."
"Dr. Mujetaba-lah yang setia menemani saya sejak 1 atau 2 hari sebelum akad s.d. 3 hari setelah akad. Beliau mencukur rambut saya dan mendampingi saya sepanjang hari-hari bahagia itu. Yang paling saya ingat beliau membisik saya, "kamu menikah dengan perempuan elo tomatoa (pilihan orang tua), kalau saya nanti menikah elota matoha (pilihan sendiri)."
Dr. Mujetaba kuliah di IAIN Alauddin Makassar sementara saya, lanjut Ust Zainal, kuliah di LIPIA Jakarta. "Sehingga kami hidup di dua kota yg berbeda dan harus naik pesawat atau kapal laut kalau mau saling mengunjungi."
Ust Zainal melanjutkan ceritanya:
"Suatu waktu Dr. Mujetaba melanjutkan kuliahnya di pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat, sehingga kadang ada waktu ketemuan dan mengobrol. Beliau senang perubahan dan gerakan perubahan yg kebetulan tinggal di Bekasi, saat itulah saya perkenalkan dg sahabat saya atas nama Muh Nuh, sehingga bersentuhan dengan gerakan tarbiyah selama ambil S2 di Ciputat. Ketika saya terpilih menjadi anggota DPRD Sulawesi Barat dari PKS, saya sering mengundang beliau memberikan ceramah dan arahan kepada kader-kader PKS di Sulawesi Barat."
Pada Ahad, 16 Mei 2021 pukul 04.30 Wita, Mantan Komisioner Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Makassar tersebut pergi untuk selamanya di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Jalan Perintis Kemerdekaan KM 11, Makassar.
Banyak orang menuliskan kesan terkait beliau di media sosial, dan tak lepas semuanya dengan doa. Dr. KH. Mudzakkir Arif, mendoakan tokoh dan pejuang tersebut sebagai berikut:
اللهم أسكنه الفردوس الاعلى من الجنة
Artinya: "Ya Allah, tempatkan beliau dalam Firdaus yang paling tinggi di dalam surga." Dari jauh saya turut mendoakan semoga alm Dr. Mujetaba Mustafa diberikan tempat terbaik di sisi Allah swt dan keluarganya diberi kesabaran. *

Anre Gurutta KH. Sanusi Baco, Tokoh Perekat Masyarakat

"Almarhum adalah ulama yang sangat luas ilmunya dan lembut penampilannya." --Mahfud MD

Tokoh agama Sulsel KH. Sanusi Baco yang juga Mustasyar PBNU, meninggal di usia 84 tahun pada Sabtu 15 Mei 2021. Ia meninggal karena sakit kolik Abdomen, penyakit nyeri hebat pada perut yang sifatnya hilang dan timbul.
Beliau adalah kawan dari alm Gus Dur dalam kapal dari Indonesia menuju Mesir untuk belajar di Al-Azhar, Kairo.
"Anregurutta Sanusi Baco bersahabat dg #GusDur sejak bersama naik kapal menuju Kairo sebagai penerima beasiswa kuliah di Al-Azhar Kairo. Naik kapal barang 28 hari, kata beliau hiburannya hanya joke2 GusDur. Banyak kenangan di antara mereka. Semoga nanti berkumpul bersama lagi." Demikian tulis Alissa Wahid di Twitter.
Beliau lahir pada 4 April 1937 di Maros, Sulsel dan memulai pendidikan dengan belajar kepada beberapa guru di desanya. Dikutip dari laman Laduni NU, beliau kemudian mondok di Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Barru, selama 8 tahun.
Sanusi Baco menyelesaikan pendidikan sarjana muda di Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang kemudian mendapat beasiswa dari Departemen Agama (kini Kementerian Agama) untuk kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Setelah kembali ke Makassar, aktivitasnya antara lain mengajar di UMI, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al-Ghazali (UIM) dan mendirikan Sekolah Tinggi Al-Ghazali Cabang STAI Al Ghazali di Makassar. Beliau juga dikenal sebagai Dosen Tetap di Fakultas Syariah IAIN Alauddin Makassar.
Selain berwawasan luas, sosok "ulama besar kharismatik yang tak lelah membimbing umat"--mengutip frasa dari Ust Surya Darma, Lc, tokoh Islam Sulsel, juga dikenal sebagai perekat umat beragama dan bermasyarakat. Tokoh perekat seperti beliau sangat dibutuhkan oleh umat dan bangsa.
Kata "Anre Gurutta", yang dilekatkan pada namanya adalah istilah yang ditujukan kepada tokoh Ulama yang telah menempati status sosial yang sangat tinggi dan telah mendapat tempat dan kedudukan terhormat di mata masyarakat Bugis-Makassar.
Laman NU Online (2015) menulis: "Anre Gurutta Haji Sanusi Baco adalah ulama kharismatik, pemimpin spiritual masyarakat di Sulawesi Selatan, selain menjadi Rais Syuriyah, Gurutta juga dipercaya sebagai Ketua MUI Sulawesi Selatan, Ketua Umum Yayasan Masjid Raya Makassar serta mengasuh pesantren Nahdlatul Ulum, salah satu Pesantren milik Nahdlatul Ulama di Kabupaten Maros."
Selain mengabdikan dirinya di Universitas Islam Makassar, beliau aktif berdakwah dan memberikan nasehat kepada masyarakat Sulawesi Selatan. Pada tahun 2012 beliau dianugerahkan Doktor Honoris Causa dalam bidang Hukum Islam atau fiqh di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
KH. Sanusi Baco yang dari NU juga kerap dipersepsikan sebagai menara kembar, bersama dengan KH. Jamaluddin Amin dari Muhammadiyah, yang menyinarkan umat Islam di manapun berada. Demikian tulis buku "Menara Kembar Ummat: Kumpulan ceramah KH Jamaluddin Amien dan AGH Dr Sanusi Baco Lc.
Terakhir bertemu beliau saat soft launching buku saya, "KH. M. Arif Marzuki: Segulung Cerita dari Maccopa" yang saya tulis dan diterbitkan Tinta Medina, imprint Tiga Serangkai. Acaranya digelar di Gowa. Kiai Sanusi hadir dan menjadi magnet perhatian banyak orang.
Kharismanya luar biasa. Sangat mungkin kharisma itu terlahir dari kedekatannya kepada Allah. Orang-orang yang dekat kepada Allah, mereka dikaruniai dgn berbagai keutamaan yang langka.
Kita berdoa semoga alm mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah swt, keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan selanjutnya akan lahir para ulama besar sepeninggalnya.
Patah tumbuh hilang berganti. Perjuangan beliau menjadi teladan bagi generasi sesudahnya. Kisahnya menjadi "lisana shidqin fil akhirin", buah tutur yang baik bagi orang2 (yang datang) kemudian, sebagaimana doa Nabi Ibrahim as:
وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ
"dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." (QS. Asy-Syuara: 84) *

Logika Rezeki

Obrolan soal belajar dan bekerja sesungguhnya tidak terlepas dari rezeki. Keduanya adalah rezeki dalam arti kebaikan. Bagaimana cara dapat keduanya? Tentu kita harus tahu pola yang tersedia di alam ini. Tuhan beri banyak sekali tanda-tanda alam yang dapat kita pikirkan dan manfaatkan agar bisa mencapai yang namanya sukses--di dunia, dan di akhirat insya Allah.

Rezeki belajar dan bekerja sesungguhnya dapat terbuka jika kita mau mempraktikkan apa yang saya sebut sebagai 3H: head, hands, dan heart. Kepala harus kita pakai untuk berpikir, dapat pengetahuan, yang dari situ kita dapat pendalaman. Tangan harus kita gunakan untuk bekerja, dan pada akhirnya harus menemukan sesuatu. Dan, hati harus kita pakai untuk menjadi manusia yang memotivasi dan punya tujuan hidup. Integrasi tiga H ini penting sekali agar berhasil dalam berbagai tujuan hidup.
Semua orang berhasil mengintegrasikan tiga H itu. Berbagai literatur yang saya baca, termasuk biografi para tokoh, termasuk qashasul anbiya' ("kisah-kisah para Nabi") juga mengintegrasikan 3 hal itu. Ketiganya itu merupakan anugerah dari Tuhan yang kalau kita optimalkan maka dapat memberikan efek wow bagi tiap orang. Artinya, semua orang--dari yang beragama sampai tidak beragama--jika memanfaatkan tiga hal itu maka dia akan berhasil.
Tapi memang, dalam agama punya konsep lainnya, yaitu kesalehan (piety). Tiga hal itu jika dilaksanakan secara konsisten tanpa kesalehan maka akan menjadi pribadi sukses (di dunia) tapi belum tentu di alam akhirat. Maka, agama punya konsep kesalehan, yaitu sikap untuk mengikuti apa yang diperintahkan agama. Agama dalam hal ini menjadi penentu yang mana disebut sebagai pemenang dan kalah, mana yang beruntung dan mana yang merugi.
Maka, jika dalam sebuah diskusi saya hanya menyebut tiga H itu, hari ini saya ingin menambahkannya dengan kesalehan. Seseorang harus punya kesalehan agar kesuksesan yang dia dapatkan itu dapat memberikan makna tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat, di alam yang kita tidak tahu tapi Tuhan memberitahukan bahwa alam itu memang ada dan kita harus percaya seutuhnya.
Jadi, sesiapa yang ingin berhasil dalam studi (apakah ia seorang ayah muda atau tua), dalam bekerja (masih bawahan atau atasan), atau dalam berbagai aktivitasnya, maka keberhasilan yang harus dia kejar janganlah hanya keberhasilan temporal (seperti sekedar dapat gelar, terkenal, kaya, dst) tapi mereka harus mencari juga keberhasilan yang abadi, yaitu berhasil dan beruntung pada alam yang di sana. Dan itu dapat didapatkan lewat optimalisasi kepala, tangan, hati, ditambah dengan amal saleh.

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...