Tuesday, May 25, 2021

Indonesia Bersama Palestina

Keberpihakan Indonesia terhadap Palestina tidak berubah sejak zaman Bung Karno hingga Joko Widodo. Pada 1962, Presiden Bung Karno menyampaikan sikapnya dalam mendukung Palestina: "Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel."

Pada 2021, Presiden Joko Widodo mengeritik dan mengutuk keras Israel: "Pengusiran paksa warga Palestina dari Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, dan penggunaan kekerasan terhadap warga sipil Palestina di Masjid Al-Aqsa tidak boleh diabaikan. Indonesia mengutuk tindakan tersebut dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan atas pelanggaran berulang yang dilakukan oleh Israel. Indonesia akan terus berpihak pada rakyat Palestina."
Posisi pro-Palestina ini sangat terang dan jelas sesuai dengan alinea 1 Pembukaan UUD 1945: "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan."
Alinea pertama tersebut menjelaskan posisi Indonesia dalam menyikapi kemerdekaan dan penjajahan:
1. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa
2. Penjajahan di atas dunia harus dihapus
3. Kenapa harus dihapuskan? Karena: tidak sesuai dengan dua sifat, yakni: peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Kalimat "Kemerdekaan adalah hak segala bangsa" mengandung dua bagian penting: "kemerdekaan" dan "hak segala bangsa." Kemerdekaan berasal dari kata "merdeka", bahasa Sanskerta maharddhika, yang berarti "kaya, sejahtera, dan kuat" yang dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia diartikan sebagai "bebas atau tidak bergantung/independen."
Ditambahnya kata "adalah hak segala bangsa" menguatkan gagasan bahwa menjadi bangsa yang kaya, sejahtera, kuat, bebas, tidak tergantung kepada bangsa lain, adalah hak, sesuatu yang harus didapatkan setiap orang yang telah ada sejak lahir, bahkan sebelum mereka lahir. Bangsa sebagai "kumpulan manusia yang beridentitas sama" wajib mendapatkan haknya sebagai manusia dan bangsa yang merdeka.
Bangsa Palestina berhak untuk menjadi bangsa merdeka dari berbagai penjajahan, opresi, hingga tindakan apartheid dan persekusi dari Israel. Indonesia mendukung penuh kemerdekaan Palestina sejak dulu sampai sekarang, dan posisi ini tidak berubah sesuai dengan amanat konstitusi. Konstitusi Indonesia adalah UUD RI Tahun 1945 yang substansinya termaktub dalam pembukaan dan pasal-pasal yang ada di dalamnya.
Kalimat selanjutnya, "dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan" mengandung posisi Indonesia yang sangat jelas bahwa penjajahan dalam bentuk apapun dan di manapun di dunia ini haruslah dihapuskan.
Penjajahan itu mencakup: proses, cara, dan perbuatan menjajah. Lokasinya adalah di dunia, yang dimaknai sebagai "bumi dengan segala sesuatu yang terdapat di atasnya", "planet tempat kita hidup", atau yang lebih luas lagi adalah: "alam kehidupan." Di semua alam di mana manusia hidup, yang namanya penjajahan haruslah dihapuskan.
Itulah kenapa sampai sekarang Indonesia menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel, sejak diproklamasikan oleh David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948, karena dianggap sebagai penjajah yang merampas tanah rakyat Palestina.
Satu tahun setelah proklamasi itu, Israel mengusulkan membuka konsulat di Indonesia, tapi tidak digubris Indonesia. Pada Januari 1950, Menteri Luar Negeri Israel (1948-1956), Moshe Sharett mengirim telegram kepada Wapres Mohammad Hatta yang berisi pengakuan penuh Israel terhadap kedaulatan Indonesia. Bung Hatta hanya menanggapi dengan ucapan terima kasih tanpa menawarkan hubungan diplomatik.
Apa alasan penolakan terhadap penjajahan? Alasan paling mendasar dari penghapusan penjajahan di atas dunia adalah karena penjajahan itu "tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan." Kata "peri" berarti "hal, sifat, keadaan, laku, yang layak bagi manusia, sifat-sifat yang layak bagi manusia, atau keadaban. Penjajahan dianggap tidak sesuai dengan sifat manusia dan sifat keadilan.
Dalam kalimat ini terlihat gagasan bahwa tabiat dasar manusia adalah beradab dengan sifat-sifat keadaban dan keadilan yang melekat dalam dirinya. Dari sifat beradab itu, manusia kemudian menciptakan peradaban, ilmu pengetahuan, yang semua itu harus diturunkan pada kesejahteraan manusia.
Sifat keadilan merupakan bagian penting dalam dunia manusia. Keadilan meniscayakan adanya perbuatan dan perlakuan yang adil bagi semua manusia sehingga setiap orang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan hidup bermasyarakat. Secara bahasa, sifat adil itu berarti maknanya adalah: "sama berat", "tidak berat sebelah", atau "berpihak kepada yang benar."
Dukungan Indonesia pada pada level multilateral terlihat dari konsistensi untuk selalu menyuarakan isu-isu seputar Palestina di forum Dewan Keamanan PBB. Bersama Malaysia, Indonesia meminta Dewan Keamanan PBB untuk campur tangan dan menghentikan "tindakan tercela: serangan Israel di Gaza di saat konflik antara pasukan Israel dan militan Palestina yang kian berkecamuk.
Menyikapi agresi militer Israel ke Palestina (2021), Kepada Organisasi Kerja sama Islam (OKI), pada 15 Mei 2021, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengusulkan agar: (1) OKI memastikan adanya persatuan, di antara negara anggota OKI dan di semua pemangku kepentingan di Palestina, (2) OKI harus mengupayakan gencatan senjata segera, dan (3) OKI tetap fokus membantu kemerdekaan bangsa Palestina.
Pada level bilateral, Indonesia juga melakukan berbagai dukungan kerja sama teknis dan bantuan kemanusiaan kepada ribuan warga Palestina dalam berbagai keahlian seperti pertanian, perikanan, pariwisata, dan lain sebagainya.
Tahun 2019, dalam Debat Terbuka Dewan Keamanan (DK) PBB tentang situasi di Timur Tengah (28/10/2019) yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Afrika Selatan Naledi Pandor, Indonesia menegaskan dukungannya untuk kemerdekaan Palestina.
Dubes Dian Triansyah Djani, Utusan Tetap RI untuk PBB menekankan: “Israel harus segera menghentikan pembangunan ilegal dan provokasi oleh pasukan keamanan di tempat-tempat suci di wilayah pendudukan Palestina. Tindakan-tindakan ini telah melanggar hukum internasional dan resolusi PBB, seperti resolusi 2334 (2016) dan menghambat upaya pencapaian perdamaian dunia." (Kemlu.go.id, 28/10/2019)
Mengutip laman Kemlu, Indonesia percaya bahwa kemerdekaan Palestina sangatlah penting untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Oleh karena itu, komunitas internasional harus membalikkan tren negatif yang menghambat pencapaian two-state vision yang merupakan solusi terbaik dalam mengatasi konflik. “Kegagalan komunitas internasional dalam menyelesaikan masalah ini akan memberikan dampak besar, tidak hanya dalam pencapaian resolusi damai antara Israel-Palestina, namun juga perdamaian dan stabilitas di seluruh kawasan Timur Tengah." Demikian tegas Dubes Djani.
Beberapa bentuk diplomasi "tangan di atas" itu sangat relevan dengan posisi Indonesia yang anti pada penjajahan sekaligus solidaritas terhadap bangsa-bangsa yang lemah. Dalam kesehatan, misalnya Indonesia (lewat inisiasi MER-C) juga membangun Rumah Sakit Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza Utara, dengan sumbangan masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sementara ini, Indonesia (lewat MUI) juga akan membangun Rumah Sakit Indonesia di "Al-Khalil" Hebron di atas tanah waqaf seluas 4.000 m2.
Berpijak pada aline pertama Pembukaan UUD 1945 di atas, kita jadi mengerti mengapa sejak Indonesia berdiri sampai sekarang, bangsa ini tetap mendukung Palestina. Secara konstitusi, dukungan kita terhadap Palestina, atau kepada bangsa-bangsa terjajah lainnya, adalah karena faktor martabat manusia, bahwa semua manusia harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. *

Angin Perubahan

Saya baru saja menikmati secangkir cappucino di depan cafe tak jauh dari kampus yang masih tutup sebab pandemi. Upaya untuk menyelesaikan tugas kadang harus dituntasin dengan ber-'uzlah sambil menikmati secangkir minuman agar mata tetap terbuka, pikiran tetap jalan, dan tangan tetap lincah menari di atas keyboard. Bahkan dalam keramaian saya merasa harus dapat menemukan kedamaian untuk itu.

Menjelang siang ini, orang-orang mulai berdatangan ke sini. Seorang perempuan muda berkacamata hitam, sekitar 30-an pertengahan, duduk khusyuk memegang dua ponsel, sambil sesekali mengisap sebatang yang belum habis-habis sedari tadi.
Bau rokok mulai terasa seiring dengan satu dua orang datang ke sini pasca lebaran. "Lu ke sini ya, ada temen gue," kata seseorang di dekat saya. Sejenak, saya coba buka Youtube cari-cari apa lagu yang enak didengar pagi ini.
Bertemulah saya dengan "Wind of Change" dari Scorpion, grup band rock asal Jerman. Lagu lama, rilis 1991, tapi menyibakkan harapan dan keajaiban masa depan yang sudah dekat dimana anak-anak bisa bermimpi dengan indah, dan kita semua bisa lebih dekat kayak saudara: "...that we could be so close, like brothers."
Hembusan angin perubahan saat ini juga terlihat di mana-mana. Anak-anak masa lalu kita telah menjadi pemimpin masa kini. Di tengah lingkaran hidup yang terpaut dengan media sosial, banyak orang pun harus bersiasat agar dapat bertahan. Siasat saling menunggu, bahkan saling menyerang terjadi di ranah virtual, dalam banyak kasus.
Kita lupa bahwa saat ini kita sebenarnya sudah seperti saudara, atau bahkan sudah saudara. Kita dipersatukan oleh masing-masing kesatuan, apakah itu keluarga, pertemanan, alumni-alumni, atau oleh geografis. Tapi, kenikmatan untuk menyerang satu dan lainnya terjadi, tanpa ada semangat untuk belajar. Kita lebih senang memukul dulu, mikirnya kemudian. Tragis. Modern tapi kembali barbar.
Angin perubahan menunjukkan bahwa telepon jadi lebih smart ketimbang pemiliknya. Kepintaran menggunakan ponsel jauh meningkat tapi kebijaksanaan sebagai manusia turun drastis oleh hasrat narsistik dan ingin terus update. Minim pikiran mendalam, yang penting: "suka, tinggal likes, share, komen", "ngga suka, tinggal unlikes, jangan sebar, dan bully."
Entah angin perubahan apa yang membuat modernitas jadi seperti ini. Modernitas sejatinya membawa kita pada tingkatan nalar yang lebih tinggi, mendalam, tanpa melupakan sisi humanitas kita sebagai manusia.
Kita diajarkan untuk kritis, tapi kita lupa untuk mempraktikkan kritis yang ngga malu-maluin diri sendiri plus kritis yang beradab. Memang ngga populer, tapi sikap "ngga malu-maluin" dan "beradab" itu penting untuk merawat peradaban kita sebagai manusia. Karena, itulah sebenarnya hakikat dari ketinggian nilai manusia.
Saya kembali dengar Scorpion. Walau Led Zeppelin, Bon Jovi, dan Aerosmith sudah tidak sabaran menyanyi untuk saya, mulai dari "stairway to heaven, always, hingga crazy", hatiku masih terpaut pada Scorpion. Bukan karena beberapa hari lalu baru khatam Mortal Kombat yang dimainkan oleh aktor laga kesukaan saya, Hiroyuki Sanada, yang berperan sebagai Hanzo Hasashi/Scorpion musuhnya Bi-Han yang diperankan Joe Taslim.
"Take me to the magic of the moment
on a glory night
where the children of tomorrow dream away
in the wind of change."
Dunia kita sudah berubah. Sadar atau tidak, banyak yang berubah, mulai dari planet yang makin rusak, yang berpotensi mengancam kelangsungan hidup berbagai spesies, dan olehnya itu menuntut kita agar bisa mempraktikkan "arts of living" (seni hidup).
Sekelompok ilmuwan yang peduli, kemudian nulis bareng "Arts of Living on a Damaged Planet: Ghosts and Monsters of the Anthropocene" (2017). Buku yang diedit oleh Anna Lowenhaupt Tsing, Nils Bubandt, Elaine Gan, Heather Anne Swanson tersebut, salah satunya menawarkan proposal pentingnya "colloborative survival" menghadapi berbagai problem "hantu/monster"--bahkan termasuk corona juga untuk konteks sekarang--yang hadir dan mengancam eksistensi spesies kita di planet ini.
Dalam cerita perjuangan itu, kita butuh kolaborasi. Sebuah mimpi dan kerja-kerja bersama untuk menyelamatkan spesies kita dari kemungkinan serangan kepunahan. Termasuk di situ adalah pentingnya kita mengenyahkan perbedaan partikular dan memupuk kebersamaan demi kehidupan kita bersama-sama, demi kita semua.
Antropolog Tim Ingold, dalam bukunya "The Life of Lines" (2015) menulis bahwa belajar dari bayi, kemelekatan adalah hal pertama yang kita lakukan. Semua bayi melekat kepada ibunya, kemudian kepada orang lain dalam komunitasnya. Kita semua yang dewasa ini juga pada dasarnya masih melekat dengan hal-hal di sekitar kita, termasuk dengan bumi ini.
Dalam konteks relasi sosial, ngga dari kita yang bisa melakukan sesuatu dengan sendirian. Beras yang dimakan orang kota, misalnya, asalnya dari kampung-kampung, pun ikan yang disajikan di hotel mewah berasal dari kerja para nelayan. Artinya, kita semua ini saling melekat, saling terkait, maka penting untuk kita dekatkan satu sama lainnya, agar kerja bareng pada hal-hal yang kita sepakati--untuk kepentingan bersama--dan mulai berkompromi pada hal-hal kecil yang dapat didamaikan.
Jika kita bersama-sama, maka akan tercipta stabilitas. Kebersamaan itu digambarkan dengan garis; relasi antarorang, antarkomunitas, dan antarbangsa. Manusia harus mengikat sedemikian rupa sehingga kalaupun ada ketegangan di musim angin perubahan apapun itu, maka ketegangan itu dapat ditahan agar tidak memisahkan kita semua. Sebaliknya, saling terkait akan membuat kita lebih kuat, lebih stabil, dan mampu menghadapi musuh bersama di atas planet ini. *
Depok, 19 Mei 2021
* Sebagian jiwa tulisan ini adalah ingatan untuk kawanku yang baik, yg terakhir bertemu di depan sebuah kampus di Ciputat. Doaku untukmu, brother.

Berpikir 50 Tahun

Orang-orang yang berpikir panjang acapkali ditertawakan pada awalnya tapi kemudian disanjung pada akhirnya. Quote ini menjelaskan bagaimana evolusi pikiran manusia--yang sangat mungkin berubah seiring pergantian generasi dan pertambahan pengetahuan.

"Waktu akan mengubah segalanya," kata orang begitu. Ada rasa tidak kuasa atas kehendak waktu yg bisa menerabas, menaikkan, bahkan menjatuhkan segalanya.
Peradaban besar pun begitu: berdiri, bangkit, berjaya, dan jatuh. Orang besar pun begitu: masyhur, dipuja, dan jatuh. Maka, perjalanan segala yang bernama makhluk fana itu kayak gunung: mula-mula kita menanjak, kemudian tiba di puncak, dan setelah itu turunan.
Para cendekia sebagian dicerca oleh zaman--tepatnya: oleh kuasa. Dianggap aneh, gila, bahkan harus meregang nyawa di altar kekuasaan. Tapi, waktu--seperti yang kita bilang tadi--itu bisa mengubah segalanya, karena bergantinya generasi atau bertambahnya pengetahuan baru yg bisa mengubah status quo.
Kisah pemuda kahfi yang tidur di gua 300-an tahun menjelaskan bagaimana waktu mengubah dunia. Pas bangun, dunia sudah berubah. Raja tiran telah musnah, selamat datang raja adil. Berputar-putar, kadang tiran di atas kadang adil di atas. Ada semacam pola yang dititipkan-Nya bagi dunia.
Pada usia 37 tahun, Theodor Herzl, tokoh utama gerakan zionisme yang disebut sebagai "the spiritual father of the Jewish State", sudah menulis visi 50 tahunnya sebagai berikut:
"At Basel I founded the Jewish State. If I said this out loud today, l would be greeted by universal laughter. In five years perhaps, and certainly in fifty years, everyone will perceive it." (3 September 1897)
(Di Basel saya mendirikan Negara Yahudi. Jika saya mengatakan ini dengan lantang hari ini, saya akan disambut oleh tawa secara universal. Dalam lima tahun mungkin, dan tentunya dalam lima puluh tahun, semua orang akan mengetahuinya).
Israel Ministry of Foreign Affairs, menulis: "Pada 1947, lima puluh tahun setelah kongres Basel, Organisasi Zionis dan institusi nasional yang didirikan di berbagai kongres telah berubah dan tumbuh menjadi institusi nasional negara Yahudi yang baru lahir, dan membuka jalan bagi pembentukan Israel pada 15 Mei 1948."
Pada tahun 2021, Israel tidak hanya akan merayakan 124 tahun Kongres Zionis Pertama, tapi juga menyaksikan bagaimana visi Herzl menjadi kenyataan. Seperti yang dikatakan Herzl, "If you will it, it is no dream" (Jika Anda mau, itu bukan mimpi).
Saya tidak mendukung visi Herzl dan bagaimana state itu didirikan dan di-drive dengan cara apartheid, tapi kita bisa belajar bagaimana seorang anak muda yang usianya belum 40 tahun tapi visinya sangat jauh, lintas, dan panjang.
Di Indonesia juga banyak anak muda yang bervisi panjang. Bung Karno dan Bung Hatta adalah contoh familiar bagaimana sejak mudanya mereka berjuang dan membentuk negara dengan gagasan hasil olah jiwa dan bacaan dari sekian banyak literatur dan contoh. Tulisan mereka punya ruh, dan bersama para tokoh bangsa lainnya, perjuangan mereka telah menjelma dalam visi jangka panjang kita di dalam lima sila yang memulai dari ketuhanan sampai keadilan sosial.
Berpikir panjang perlu kita budayakan, bahkan kita latih, dan ajarkan kepada generasi kita. Agar apa yang mereka tulis di media sosialnya, tidak lagi sekedar jadi pemandu sorak atau hanya "likes, comment, share plus subscribe", tapi menawarkan gagasan jangka panjang. Gagasan yang mungkin sekarang belum relevan, tapi sangat mungkin jadi opsi untuk masa depan. *
Depok, 20 Mei 2021

Saturday, May 15, 2021

Solidaritas Kepada Kaum Lemah


Ada banyak sekali kaum lemah di bumi ini. Yang dekat maupun yang dekat. Terlepas lokasi geografis itu, mereka tetaplah kaum lemah yang sebaiknya dibantu semaksimal tenaga.
Kaum lemah di dekat kita bisa jadi keluarga dekat, keluarga jauh, atau tetangga. Bahkan, diri kita sendiri juga bisa jadi "pribadi yang lemah"; lemah iman, lemah ilmu, lemah akhlak, lemah ekonomi, dst. Kepada semua itu kita harus beri perhatian.
Kaum lemah yang jauh bisa berupa kenalan kita, atau warga masyarakat nun jauh di sana yang kesulitan air bersih, makanan, akses, dan juga harapan sebab ditimpa berbagai ujian hidup mulai dari alam sampai manusia. Kepada mereka, kita juga harus beri bantu.
Suatu waktu, ada burung kecil yang jauh di samping rumah. Kakinya luka. Saya ambil, bawa masuk ke rumah dan mengoleskannya minyak. Saya masukkan ke dalam kandang. Awalnya saya lihat mulai sehat, tapi itu tidak berlangsung lama. Dia pergi.
Saya sedih, kenapa tidak bisa membantu burung kecil itu; agar bisa sehat lagi, agar bisa terbang lagi. Sampai sekarang, saya masih teringat perihal hewan kecil itu.
Ketika melihat mereka yang menderita, kita semua pasti sedih. Siapapun itu, apapun latar belakangnya. Penderitaan adalah alasan bagi solidaritas. Maka, kita pun bersolidaritas kepada mereka yang menderita, sambil mencari-cari adakah formula agar penderitaan itu--entah yang disebabkan alam atau manusia--bisa sedikit sedikit dihilangkan.
Kepada kaum lemah hati kita diletakkan. Makhluk yang sedang sulit, fisik yang sedang lemah. Kepada mereka harus kita simpati, empati, dan bersolidaritas seutuh jiwa dan raga.
Solidaritas kepada kaum lemah itu wujudnya bisa banyak macam. Tapi umumnya ada dua: materi dan non-materi. Keduanya atau salah satunya jika dilakukan sesungguhnya merawat tabiat kita sebagai manusia yang tidak hanya diberi kemampuan untuk bertahan tapi juga kemampuan untuk membantu kalangan yang lemah.
Menjadi pribadi yang solider terhadap kaum lemah itu tidak mudah karena kerap dirintangi oleh berbagai pilihan yang kadang rada sulit. Tapi solidaritas--dalam bentuk apapun itu--harus kita miliki dan tunjukkan, bahwa kita bersama orang-orang yang lemah.*

Saturday, April 17, 2021

Pahlawan Nasional untuk Profesor Rasyidi


Sebelum mengikuti rapat Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI Pusat, saya beruntung membuka WA dan menyempatkan hadir pada kajian Kapita Selekta Dakwah (12/4/2021) dengan fokus pada tokoh intelektual Indonesia Prof. HM. Rasyidi (1915-2001). Hadir para tokoh seperti Prof Yusril Ihza Mahendra, Ust Lukman Hakiem, Ust M. Habib Chirzin, Prof Sudarnoto A. Hakim, dan lain sebagainya.

Satu hal yang perlu kita sadari bersama adalah, Indonesia ini sarat dengan para tokoh pejuang yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk kejayaan bangsa kita. Maka, kepahlawanan sebenarnya telah hadir dan terus hadir dalam relung pikiran dan hati masyarakat Indonesia. Selanjutnya, pemerintah dapat mempertimbangkan segala sesuatunya agar para tokoh pejuang tsb dapat diakui sebagai pahlawan nasional.
Saya mengenal nama Prof Rasyidi dari buku-buku terbitan Dewan Da'wah, sebuah organisasi Islam modern yg berdiri pada 1967. Pendirinya tokoh besar Islam, Mohammad Natsir. Sering main ke toko buku DDII dan membeli berbagai buku di sekitaran Pasar Senen dan Kwitang memperkaya khazanah saya terkait tokoh Islam Indonesia yang berjuang untuk bangsa.
Ketika nama Prof Rasyidi hendak diusulkan sebagai pahlawan nasional, saya setuju dengan itu. Pertama, beliau ada Menteri Agama pertama dalam sejarah Indonesia yang diangkat pada tanggal 3 Januari 1946 berdasarkan maklumat Pemerintah Republik Indonesia tentang berdirinya Kementerian Agama RI. Kehadiran Kemenag dalam sejarah Indonesia sangat penting mengingat masyarakat Indonesia dikenal religius, maka regulasi terkait keagamaan juga harus diatur sedemikian rupa agar keberagamaan dapat seiring sejalan dgn kebangsaan.
Kedua, Prof Rasyidi adalah tipikal intelektual muslim Indonesia yang produktif belajar di dalam dan luar negeri serta berkontribusi dalam diskursus Islam di Indonesia. Lelaki kelahiran Kotagede 1915 tsb bersekolah mulai dari Kotagede berlanjut sampai ke Al-Irsyad, Jawa Timur (di bawah asuhan Syekh Ahmad Surkati), Darul Ulum Mesir (di bawah manajemen Al-Azhar), Universitas Kairo, dan tamat doktor dari Universitas Sorbonne Paris pada 1956. Tidak hanya belajar, tapi ia juga mengaplikasikan ilmunya dalam berbagai bentuk, mulai ceramah, kajian, bahan kuliah, hingga menerebitkan berbagai buku.
Kurang lebih ada 22 bukunya yang telah terbit, meliputi karya sendiri atau terjemahan karya tokoh dunia seperti Maurice Bucaille, Roger Garaudy, Dr. Marcel Boisard, dan Titus cs. Bagi mereka yang rajin beli buku terbitan Bulan Bintang, pasti akan bertemu dgn buku-buku tsb. Kontribusinya dalam ilmu pengetahuan juga terlihat dalam posisinya sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia bidang Hukum Islam dan Lembaga-Lembaga Islam, yang diangkat pada 20 April 1968.
Ketiga, Prof Rasyidi adalah diplomat Indonesia yang terlibat dalam upaya pengakuan kedaulatan Indonesia yang saat itu bersama dengan berbagai tokoh seperti H. Agus Salim. Dampak dari diplomasi itu selanjutnya adalah Konferensi Meja Bundar yang digelar di gedung Parlemen Belanda, Den Haag, 2 November 1949.
Isi perjanjian tsb dalam ejaan lama adalah sebagai berikut: (1) Keradjaan Nederland menjerahkan kedaulatan atas Indonesia jang sepenuhnja kepada Republik Indonesia Serikat dengan tidak bersjarat lagi dan tidak dapat ditjabut, dan karena itu mengakui Republik Indonesia Serikat sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat, (2) Republik Indonesia Serikat menerima kedaulatan itu atas dasar ketentuan-ketentuan pada Konstitusinja; rantjangan konstitusi telah dipermaklumkan kepada Keradjaan Nederland, dan (3) Kedaulatan akan diserahkan selambat-lambatnja pada tanggal 30 Desember 1949.
Beliau juga pernah menjadi Dubes Indonesia untuk Arab Saudi (1950-1951), Dubes Indonesia untuk Mesir (1950-1951), Dubes Indonesia untuk Iran (1952-1954), dan Dubes Indonesia untuk Pakistan (1956-1958). Dari berbagai jejak penugasan tsb tentu saja tidak diragukan lagi kontribusi Profesor Rasyidi bagi Indonesia.
Keempat, masyarakat Indonesia kontemporer membutuhkan teladan orang jenius yang sederhana, jujur, dan amanah. Profil tersebut ada dalam diri Prof Rasyidi. Berbagai kasus korupsi di negeri ini--yang parahnya dilakukan oleh orang-orang baik--adalah menjadi tanda bahwa ada yang problematik dalam negeri ini. Kepandaian dan kesuksesan--atau terlihat sukses--saja tidak cukup untuk menjadi pejabat Indonesia. Maka, dibutuhkan karakter personal yang kuat--dgn sifat jujur, amanah, sekaligus sederhana--agar dapat jadi teladan bagi banyak orang, terutama generasi muda yang kelak akan menjadi penerus bangsa.
Beberapa fakta di atas saya kira dapat menjadi masukan untuk rencana pengusulan Profesor Rasyidi sebagai pahlawan nasional. Orang-orang terbaik seperti beliau sangat sayang jika tidak dijadikan patron bagi anak bangsa. Maka, sudah saatnya negara memberikan sematan pahlawan nasional untuk Profesor Rasyidi--walaupun sangat mungkin beliau juga tidak berjuang untuk disebut dengan gelar tsb--sekaligus di tingkat masyarakat juga menghadirkan kembali kajian dan peneladanan terhadap tokoh bangsa Indonesia di masa lalu.
Teladan terhadap pejuang terdahulu adalah pertanda bahwa perjuangan kita saat ini untuk bangsa dan negara adalah satu rangkaian dgn perjuangan para pendahulu. Jangan sampai kita terputus dgn masa lalu. Maka, apresiasi terhadap masa lalu sembari mempersiapkan masa depan sangat kita butuhkan di Indonesia kontemporer. *

Diplomasi Majelis Ulama Indonesia


“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujarat: 13)

Islam adalah agama paripurna yang mencakup kehidupan duniawi dan ukhrawi, private maupun publik, komunitas maupun bangsa, singkatnya: untuk semua manusia. Tabiat Islam sebagai agama perdamaian itu disebarkan oleh para ulama dari satu kota ke kota lainnya, dari satu benua ke benua lainnya, hingga saat ini Islam tersebar luas ke seluruh dunia.
Sebagai agama perdamaian dunia, Islam tidak terlepas dari konsep wasathiyatul Islam dan Islam rahmatan lil’alamin, yakni Islam sebagai ajaran yang pertengahan serta ajaran yang ditujukan untuk seluruh umat manusia di alam ini. Dalam konteks diplomasi, diplomasi yang dilakukan oleh umat Islam, baik dalam konteks first track diplomacy (government to government) atau second track diplomacy (government to government/people to people relations), tidak terlepas dari bagaimana Islam disebarkan dengan paradigma Wasathiyatul Islam dan rahmat bagi seluruh alam.
Wahyu yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad SAW mengandung petunjuk agar orang-orang beriman masuk ke dalam Islam secara keseluruhan dan hidup harmoni dalam bingkai kemajemukan umat manusia.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Terhadap ayat di atas, para ulama tafsir memaknai kata al-silmi dengan dua makna, yaitu Islam dan perdamaian. Itu artinya bahwa Islam dan perdamaian adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Berislam tanpa mengedepankan perdamaian dengan orang lain--terlebih dengan orang-orang yang berbeda keyakinan, berbeda agama--sama saja dengan mengingkari identitas agama Islam itu sendiri yang merupakan agama perdamaian.
Mufasir Al-Qur’an M. Quraish Shihab berkomentar terhadap ayat di atas, bahwa menurutnya, agama Islam adalah agama yang mendamaikan, menyelamatkan, lezat dan nikmat, mudah dan tidak mempersulit, ringan dan tidak memberatkan, menyenangkan dan tidak menakutkan. Pernyataan ini kembali menguatkan bahwa Islam dan perdamaian adalah dua makna dari kata al-silmi, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan, saling berkelindan.
Dalam konteks Islam kaffah itu, Islam mengajarkan kepada seluruh manusia untuk saling mengenal. Perkenalan antarbangsa pada akhirnya diharapkan dapat menciptakan saling pengertian dan saling membantu antarbangsa di dunia. Perbedaan yang ada—baik itu genetik, fisik, sejarah, lingkungan alam—adalah keniscayaan yang harus diterima, dan menjadi ciri khas dari tiap umat.
Surat Al-Hujarat ayat 13 mengandung pesan bahwa semua manusia yang sangat diverse dituntut untuk saling mengenal untuk sama-sama memakmurkan bumi dan menciptakan perdamaian secara global. Dalam proses menjadi pemakmur bumi, atau khalifah fil ardhi, pemimpin di atas bumi, umat Islam diajarkan untuk berperan sebagai umat yang pertengahan. Tidak terjebak dalam ekstremitas di kiri atau kanan. Islam menjadi penengah dan itulah yang disebarkan oleh para ulama dari dulu sampai sekarang.
Dalam konteks Islam Rahmatan Lil ‘Alamin dipahami bahwa Islam merupakan agama rahmat dan rasa kasih sayang Allah swt kepada seluruh alam semesta. Rahmat tersebut merupakan milik Allah swt dan diturunkan melalui Islam. Memahami konsep Islam rahmatan lil ‘alamin sebagai konsep dasar dalam agama Islam tersebut akan menambah pengetahuan sekaligus beberapa manfaat. Antara lain kembalinya keindahan Islam yang sudah lama meredup. Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia ini untuk menjadi rahmat bagi alam, tidak hanya untuk muslim, tapi juga untuk semuanya. Di dalamnya menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, menjaga hak binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Berpijak pada pemahaman ini, maka bentuk diplomasi umat Islam ditujukan sebagai rahmat bagi semua manusia. “Salah satu bagian diplomasi yang sering dilakukan Nabi Muhammad ialah pribadi yang tidak pernah bosan menghampiri umatnya,” tulis Professor Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. Ditolak dengan satu cara, ditempuh lagi cara-cara lain sehingga mengundang empati. Meskipun Nabi tidak bisa membaca dan menulis, tetapi ia amat cerdas memilih Zaid ibn Tsabit sebagai sekretaris pribadi yang terkenal sebagai ahli bahasa-bahasa asing dunia saat itu.
Pada tahun 2021, dalam ranah luar negeri MUI berfokus pada beberapa hal sebagai berikut. Pertama, perluasan jaringan kerja sama kelembagaan dengan lembaga fatwa, ulama, cendekiawan muslim di berbagai negara Islam dan internasional. Saat ini tengah digagas perwakilan MUI di beberapa negara di luar negeri dengan tetap menjalin kemitraan dengan KBRI setempat agar sinergis satu dengan lainnya dalam konteks diplomasi Indonesia.
Dalam memperkuat kerja sama internasional guna peningkatan SDM, MUI juga bernisiatif untuk memfasilitasi beasiswa bagi peserta didik asing dari negara konflik. Sebelumnya, bermitra dengan Kantor Wapres, MUI telah mengadakan berbagai penguatan kapasitas dan pendidikan bagi siswa asal Afghanistan. Sejalan dengan itu, pelatihan dakwah di medsos juga diharapkan memberikan keterampilan dalam mempromosikan wasathiyatul Islam dengan pengalaman Indonesia ke tingkat yang lebih luas.
Secara berkala, MUI juga memberikan pernyataan sikap terkait isu-isu keumatan di dunia Islam. Kajian-kajian tersebut memetakan berbagai problem dunia Islam dan respon terkait isu-isu tersebut. Kajian terhadap isu dunia Islam global sangat penting agar mendapatkan peta yang terjadi tiap region. Peta itu berguna dalam merumuskan berbagai respons terhadap kebijakan yang berdampak pada umat Islam.
MUI juga akan menggelar Konferensi Ulama Asia untuk Perdamaian Afghanistan dengan tujuan agar terbangun mutual trust dan confidence di antara pihak-pihak yang berkonflik di "negeri para mullah" tersebut. Selain itu, agar tersedia wahana bagi para pihak yang berkonflik untuk berdialog secara damai. Sejauh ini, Pemerintah Indonesia--dengan melibatkan NU dan MUI--aktif dalam membantu perdamaian di sana.
Beberapa waktu lalu, Pak Jusuf Kalla bersama delegasi MUI juga berkunjung selama beberapa hari ke Kabul (Afghanistan) yang tidak saja untuk menghentikan konflik dan membangun perdamaian, akan tetapi juga diharapkan bisa menjadi kontribusi penting terwujudnya tatanan dunia yang damai dan aman. Forum tersebut diikuti oleh Prof Sudarnoto A. Hakim, KH. Muhyiddin Junaidy, Prof Hamid Awaluddin, dan berbagai utusan Indonesia lainnya.
Prof. Sudarnoto A. Hakim menulis, "Antusiasme Afghanistan paling tidak yang ditunjukkan Presiden Afghanistan, sejumlah menteri, ketua umum majelis tinggi untuk rekonsiliasi Afghanistan, penasehat presiden untuk keamanan nasional, para ulama, aktivis dan tokoh perempuan, sangatlah terasa. Harapan kepada bangsa Indonesia untuk memainkan peran strategis perdamaian di Afghanistan sangatlah besar."
Kontribusi Indonesia dalam membantu Palestina juga tidak berhenti. Sejak dulu sampai sekarang, isu Palestina tetap menjadi isu yang tak pernah usai. MUI juga aktif dalam membangun Rumah Sakit Indonesia di Hebron. Projek ini terus berjalan dengan menggandeng berbagai lembaga filantropi nasional dan internasional. *

Thursday, December 31, 2020

Optimis di Tahun 2021

Menutup tahun 2020 dan memasuki tahun 2021 menyisakan banyak cerita sedih dan senang. Sedih karena pandemi belum juga selesai, dan senang karena kita dapat info bahwa vaksin akan beredar di tahun 2021.

Setiap tahun kita selalu dihadapi oleh dua macam perasaan itu. Perasaan sedih kadang muncul saat kita mengingat orang-orang yang kita kenal telah mendahului kita. Para dokter yang menjadi garda terdepan melawan covid-19 misalnya, banyak yang berguguran. Kita berempati kepada mereka, dan berharap semoga perjuangan mereka mendapatkan balasan terbaik dari Sang Pencipta.
Kita juga senang karena di tengah kegelapan dunia akibat kebingungan dalam melawan pandemi, kini kita seperti mendapatkan cahaya terang bahwa vaksin yang dinanti pun sudah mulai terang bahkan sebentar lagi akan beredar. Beberapa perusahaan berlomba-lomba membuatnya, dan kita berharap vaksin itu tepat untuk pandemi di negeri kita.
Sebagian orang merasa pesimis tentang kondisi dunia. Di tengah pandemi mereka melihat berbagai petaka, dan mereka seakan-akan ingin mengatakan "tidak ada lagi cahaya untuk kegelapan". Mereka seakan-akan sudah berada dalam sebuah sumur yang dalam, gelap, dan tak ada lagi penolong. Dunia seakan mau kiamat. Pesimisme menggelayuti pikiran dan jiwa mereka.
Sebagian yang lain merasa optimis bahwa di balik semua ujian pasti ada hikmah di dalamnya. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan kadarnya, termasuk virus itu. Dia ada kemampuan dan kekurangan sekaligus. Seperti juga penyakit lainnya, virus itu ada penangkalnya, dan manusia dapat menangkalnya lewat ilmu pengetahuan dan teknologi. Vaksin adalah pertanda optimisme bahwa kita bisa melewati hari-hari yang tidak mudah ini.
Para pelajar yang belajar di rumah sudah mulai mengeluh. Mereka bosan tinggal di rumah. Mau keluar? Juga dilarang, karena banyak tempat dibatasi. Awalnya memang begitu. Tapi kini sudah mulai ada relaksasi, tapi tetap terbatas juga. Mereka kemudian harus berdamai dengan dirinya, bahwa belajar di rumah itu kewajiban, dan semua harus beradaptasi baik itu siswa dan gurunya.
Para pekerja yang harus keluar juga dihinggapi rasa was-was. Mereka sebenarnya tidak ingin keluar tapi bagaimana? Mereka harus mencari nafkah, agar dapur tetap ngebul. Tabungan sudah mulai habis, bahkan beberapa sudah kosong. Mereka harus keluar. Di tengah was-was itu mereka melewati hari-harinya agar bisa bertahan di tengah zaman yang tidak mudah ini.
Secara umum semua orang sedang sulit. Mulai dari pribadi hingga negara. Semuanya merasakan kesulitan. Tapi kita selalu diajarkan nilai mulia, "sesungguhnya di balik kesulitan pasti ada kemudahan." Maka, tak ada jalan untuk pesimis. Kita harus optimis bahwa semua ini akan berakhir, pandemi akan selesai, dan kita akan dapat melewatinya dengan sebaik mungkin.
Selamat datang 2021, tahun optimisme.
Yanuardi Syukur, Presiden Perkumpulan Rumah Produktif Indonesia.

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...