Thursday, June 4, 2020

Tetap Aman dan Produktif di Masa Pandemi

Buku saya yang agak tebal untuk melatih diri menjadi produktif
Hidup dalam pandemi seperti sekarang memaksa kita untuk tetap aman sekaligus produktif. Aman sangat penting agar kita tidak masuk ke rumah sakit, apalagi virus ini tidak kelihatan dan dampaknya sangat luas. Tanpa jarak sosial sulit untuk bisa bertahan tetap aman dalam kondisi sekarang.

Namun kita juga harus tetap produktif di rumah masing-masing. Jangan mengutuk takdir. Sebaliknya gunakan waktu yang ada untuk produktif di bidang yang disukai. Ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan seperti baca buku, kerja dari rumah, ibadah dari rumah, atau belajar dari rumah.

Di masa pandemi ini saya berinisiatif membangun sebuah jejaring baru bernama Rumah Produktif Indonesia dengan beberapa kawan. Saat ini di bulan ketiga sudah ada perkembangan berarti dalam kegiatan, jejaring, dan makna yang diberikan kepada publik lewat diskusi, pelatihan, meeting, dan engagement sesama manusia.

Gunakanlah waktu ini untuk jaga kesehatan dan tetap produktif.

Friday, January 31, 2020

Makna Doktor Helvy Tiana Rosa

Foto bersama Dr. Helvy Tiana Rosa, Boim Lebon, dan Billy Antoro di Gedung Bung Hatta Pascasarjana UNJ

Pada sebuah kamis di minggu terakhir Januari 2020, ujian terbuka diadakan di Universitas Negeri Jakarta. Di lantai 5 Gedung Bung Hatta tersebut, pendiri Forum Lingkar Pena, Helvy Tiana Rosa mempertahankan disertasinya berjudul "Proses Kreatif Menulis Cerpen Perempuan Pekerja Rumah Tangga".

Di bawah arahan promotor Prof. Dr. Ilza Mayuni dan kopromotor Prof. Dr. Emzir, Helvy menyabet gelar doktor dari UNJ yang ke-4032 dengan predikat sangat memuaskan.

Untuk menuntaskan disertasinya, Helvy banyak berdiskusi dengan aktivis FLP Hong Kong seperti: Syifa Aulia, Susie Utomo, Bayu Insani, Jaladara, dan Ida Raihan.

Banyak orang yang senang dengan ujian terbuka salah seorang dari "500 tokoh muslim berpengaruh di dunia" yang dirilis oleh Royal Islamic Strategic Studies, Amman, Yordania, tersebut. Memasuki gedung Bung Hatta, kita disambut oleh berbagai karangan bunga, mulai dari politisi seperti H. Mustafa Kamal, senator Fahira Idris, aktris Oki Setiana Dewi dan suami Ory Vitrio, aktor Masaji Wijayanto, hingga berbagai organisasi mulai dari Forum Lingkar Pena, Majalah Sastra Horison, Komunitas Bisa Menulis, dan lain sebagainya.

Tak ketinggalan, Asmarani Rosalba aka Asma Nadia, yang juga pendiri FLP selain Helvy dan Maimon Herawati, juga mengucapkan "selamat dan sukses." Tak hanya itu, Asma yang merupakan adik dari Helvy bahkan mengabadikan prosesi sakral ujian disertasi tersebut dalam bentuk live di Instagramnya yang diikuti 866ribu orang. 

Selain itu, juga hadir orangtua dan keluarga besar Helvy Tiana Rosa, sastrawan Taufiq Ismail, sutradara Jastis Arimba, aktor Fauzi Baadillah, aktris Aquino Umar, mantan GM Ummigroup Ahmad Mabruri, pustakawan Nur Indrawati Pary, dan para aktivis FLP seperti Intan Savitri, Rahmadiyanti Rusdi, Billy Antoro, Susie Utomo, Bayu Insani, Syifa Aulia, Winda Ariyanita, dan lain sebagainya.

Singkat kata, banyak orang yang bergembira, senang, dan bersyukur dengan prosesi ujian terbuka tersebut. Di media sosial juga ramai orang mengucapkan selamat, sambil mengaitkan bahwa "satu-persatu mantan ketua FLP telah doktor, setelah Setiawati Intan Savitri, M. Irfan Hidayatullah, dan Helvy Tiana Rosa."

Ketiga mantan ketua umum FLP tersebut selain berprofesi sebagai penulis juga sebagai pengajar di perguruan tinggi. Intan Savitri misalnya, adalah pengajar psikologi di Universitas Mercubuana. Irfan Hidayatullah mengajar sastra di Universitas Padjadjaran. Sementara Helvy Tiana Rosa adalah dosen sastra Indonesia di UNJ.

Selain tiga nama di atas, aktivis FLP yang telah doktor adalah Ganjar Widhiyoga dari University of Durham, Inggris (2017) yang pasca-doktor menulis sebuah artikel jurnal internasional berjudul "The Construction of the Umma: From Global Consciousness to an Aspirational Global Society", terbit di The Muslim World (Hartford Seminary, 2019). Selain itu, juga ada Ekky Imanjaya yang tamat doktor dari kajian film, University of East Anglia, Inggris, dan Sofie Dewayani (FLP Amerika) yang tamat S3 dari University of Illinois at Urbana, Amerika Serikat. Juga, ada Hadi Susanto, tamatan S3 dari University of Twente, Belanda, yang kini aktif sebagai professor di University of Essex, Inggris. Selain beberapa nama tersebut, bisa jadi ada nama lain yang tidak sempat disebut dalam tulisan ini.

Perjuangan

Jika peribahasa "man jadda wajada" yang berarti "siapa bersungguh-sungguh dapatlah ia" sudah sangat mainstream, mungkin kita bisa pakai peribahasa Arab lainnya yang artinya sama, yaitu "man sara aladdarbi washala", artinya "siapa yang berjalan di jalannya akan sampai pada tujuannya." Arti umumnya: siapa yang serius di jalannya, cepat atau lambat akan dapatlah apa yang dia tuju. Kuncinya: sungguh-sungguh.

Setelah ujian promosi bunda dari Abdurahman Faiz dan Nadya Paramitha tersebut, saya bertanya kepada Widanardi Satryatomo aka Mas Tomi, suami Mbak Helvy.

"Mas Tomi, berapa tahun Mbak Helvy selesaikan doktor?"

"Sepuluh tahun, mas," jawabnya.

Sepuluh tahun doktor termasuk lumayan. Bukan lumayan lagi sih, tapi luar biasa. Saat ini biasanya maksimal seseorang bisa menuntaskan doktornya pada tahun ketujuh. Pada tahun ketujuh, Helvy telah menyelesaikan penelitiannya, dan ketika lewat batas waktu, ia dapat semacam dispensasi untuk meneruskan disertasinya sampai selesai.

Seorang guru saya juga pernah melewati fase yang sama. Sepuluh tahun sudah ia menjadi mahasiswa, dan ketika itu ia memutuskan untuk lanjut S3 lagi di luar negeri. Tapi, setelah dikonsultasikan dengan kampusnya, ternyata masih ada kesempatan untuk dapat menyelesaikan program doktornya itu. Akhirnya, setelah dikebut penulisan disertasinya, selesai juga.

Maknanya, apa?

Tidak lain dan tidak bukan, hanya satu: perjuangan.

Tapi, tiap mahasiswa S3 punya cerita yang beda-beda. Seorang senior saya di UI punya perjuangan yang lumayan. Di tengah kuliah, ia sakit dan harus bolak-balik ke rumah sakit, di Indonesia dan Malaysia. Ia tidak bisa berlama-lama depan komputer. Pernah matanya kayak besar sebelah, dan sakit. Dia pun mengompres matanya agar bisa kembali normal. Bahkan, pernah juga dia masukkan kepalanya ke dalam kulkas.

"Apa kau bikin itu?" tanya tetangga kamarnya.

"Sakit sekali mata saya, kak," jawab dia.

Tidak hanya itu, ia juga kena sakit syaraf kejepit. Kalau menengok kiri-kanan nggak boleh sekalian dengan badan. Harus pelan-pelan, bahkan harus ditopang oleh sebuah alat di lehernya.

Pada tahun terakhir, dia sudah nggak kuat. Tapi, semangatnya masih teramat kuat. Dia tidak ingin sekedar lulus karena semacam belas kasihan karena sakitnya. Dia ingin lulus dengan seutuhnya, dengan hasil dari perjuangannya. Walhasil, senior saya itu pun tamat doktor dengan kebaruan (novelty) tiga kategori sikap petani dalam "berbagi dan tidak berbagi" di salah satu daerah di Sumatera.

Wah, berat betul ya kuliah doktor itu. Bisa iya bisa tidak sih. Kembali lagi pada "takdir" masing-masing orang. Ada kawan saya lainnya yang tamat doktornya hanya 2.5 tahun dalam ilmu biologi. Mungkin di semester awalnya sudah jelas apa yang mau diteliti. Atau, program doktornya memang bisa cepat.

Penceramah kondang Ustad Abdul Somad kuliahnya juga cepat. Baru kita dengar ia lanjut S3, tak lama kita dengar lagi ia sudah doktor dari Universitas Islam Omdurman, Sudan. Dan, baru-baru ini kabarnya juga dapat gelar professor pelawat dari Universitas Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) yang suratnya diberikan oleh Rektor Dr. Haji Norarfan bin Haji Zainal. Professor pelawat mungkin sama dengan "professor tamu" atau visiting professor, yaitu sebuah gelar professor untuk jangka waktu tertentu.

Kembali pada perjuangan doktor. Tiap orang punya cerita yang berbeda-beda. Para politisi yang bergelar doktor juga banyak. Kadang kita heran di tengah kesibukannya para politisi bisa menuntaskan doktornya. Mungkin butuh kecerdasan tingkat tinggi untuk itu.

Makna Doktor Helvy

Lantas, apa makna gelar doktor bagi Helvy Tiana Rosa? Makna bagi pribadinya adalah: tuntas. Tuntas dalam menyelesaikan apa yang telah ia mulai. Dalam suatu kesempatan ngobrol di Bali, Mbak Helvy pernah bercerita bahwa dalam kuliah doktor ini ia betul-betul bertanggungjawab dengan dirinya sendiri. Artinya, kapan dia mau selesai itu berada dalam keinginannya. Dia tidak ingin diintervensi orang lain.

Saya merasa ada semacam tekad personal yang kuat dalam dirinya. Jika mau cepat-cepatan doktor, mungkin sudah lama ia doktor. Tapi, ia ingin menjalaninya dengan proses, karena esensi dari belajar adalah proses, bukan sekedar tujuan. Dapat doktor itu bagus, tapi lebih penting dari itu adalah apa makna dari gelar tersebut, dan apa yang dapat dilakukan setelah mendapatkan gelar tertinggi tersebut.

Di tengah masa studinya, Helvy membuat film. Ketika Mas Gagah Pergi (2016), Duka Sedalam Cinta (2017), 212 The Power of Love (2018), dan Hayya: The Power of Love 2 (2019) adalah film yang dibuatnya pada beberapa tahun jelang ujian terbuka. Dia harus pergi kemana-mana untuk menuntaskan idealisme hadirnya film keluarga yang islami bagi penonton Indonesia.

Para aktornya juga tidak semua yang terkenal. Saya lihat Helvy senang untuk mengorbitkan orang baru agar menjadi idola atau tepatnya lagi: teladan. Beberapa aktor muda yang melejit dari tangan seleksi Helvy memperlihatkan karakter sebagai pribadi muslim yang taat, gaul, fresh, berprestasi, dan dapat diteladani. Setelah mencetak banyak penulis di FLP, terlihat bahwa Helvy berambisi untuk mencetak para aktor muslim yang tidak hanya muslim di panggung, tapi juga muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi FLP, gelar doktor Helvy adalah inspirasi bagi para kader agar mencari ilmu ke jenjang paling tinggi dan menuntaskan apa yang telah mereka mulai. Perkara menuntaskan itu rada susah, karena tidak semua orang terlatih untuk berpikir tuntas. Ada yang senang memulai tapi mengulur-ulur untuk tuntas. Salah satu karakter tokoh utama dalam film Indonesia yang tidak begitu disenangi oleh beberapa penonton adalah, karena "senang memberi harapan" dan terlalu sering "mengulur-ulur", tidak ada kepastian.

Bagi perempuan, ini adalah teladan yang baik. Bahwa menjadi perempuan tidak hanya sekedar produktif dalam ranah internal tapi di ranah eksternal juga dapat mereka lakukan. Melanjutkan S3 adalah bagian dari perjuangan di ranah eksternal tersebut. Perempuan dapat menggali semangat Helvy bagaimana ceritanya sampai bisa bertahan untuk kuliah sementara ia juga pasti banyak urusan lainnya.

Makna yang cukup penting dalam momen bahagia kemarin adalah soal kontribusi pada ranah akademik. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang dosen setelah ujian promosi bahwa sebagai dosen Helvy Tiana Rosa harus banyak meneliti dan menerbitkan artikel jurnal internasional agar memiliki dampak para rekan sejawat dalam bidang yang sama. Meneliti adalah suatu perkara, menulis perkara lainnya, dan menerbitkan artikel di jurnal internasional juga perkara yang tidak mudah; minimal butuh satu tahun dari pengiriman, review rekan sejawat, hingga terbit.

Jika sekedar menulis artikel atau esai, sudah tentu Mbak Helvy dapat menuntaskannya dengan mudah, dan enak dibaca. Akan tetapi, menulis artikel jurnal itu jalan yang tidak mudah. Takdirnya sebagai dosen mengharuskannya untuk bisa menerbitkan artikel jurnal, sebagai bagian dari tiga tugas mahaberat para dosen, tridharma perguruan tinggi: melakukan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat.

Secara pribadi, saya berharap Mbak Helvy dapat meneruskan perjuangannya pasca-doktor dengan menulis artikel jurnal, nasional dan internasional. Artikel-artikel tersebut pastinya sangat berguna bagi perkembangan kajian sastra. Memang kadang menulis akademik itu rada membosankan, karena tidak bebas kita berekspresi. Akan tetapi, pakem artikel akademik memang sudah begitu. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah bagaimana menulis artikel yang nilai akademiknya terjaga tapi nggak ngebosenin.

Kita percaya bahwa Mbak Helvy dapat menuntaskan perjuangannya pasca-doktor ini dengan menulis artikel jurnal internasional yang berdampak secara akademik. Akhirnya, kita pun bolehlah berharap setidaknya dalam lima tahun ke depan Mbak Helvy bisa dikukuhkan sebagai guru besar sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta yang pastinya berdampak positif tidak hanya pada institusi UNJ tapi juga bagi publik Indonesia.

Insya Allah, Prof. Dr. Helvy Tiana Rosa. *

Yanuardi Syukur, Koordinator Divisi Litbang BPP FLP dan Tim Penulis "Jejak Forum Lingkar Pena dalam Gerakan Literasi Indonesia", Sekjen DPP Forum Dosen Indonesia

Thursday, January 23, 2020

Buku, Diplomasi, dan Travelling

Saya mulai rasa pentingnya "diplomasi buku" sejak pulang dari pertukaran tokoh muda muslim Australia-Indonesia tahun 2015. Waktu itu saya berangkat dengan rekomendasi dari beberapa lembaga salah satunya dari FLP yang saat itu diketuai oleh psikolog Sinta Yudisia.

Sepulang dari Australia, saya membuat buku kumpulan tulisan. Prosesnya dua tahun sejak ide itu digulirkan sampai terbit. Penulisnya 77 orang dari kedua negara. Selain dari saya, kata pengantarnya ditulis oleh Dubes Australia saat itu, H.E. Paul Grigson. Rowan Gould dan istrinya, Brynna Rafferty-Brown turut menjadi editor terutama untuk teks berbahasa Inggris dan apapun terkait Australia.

Buku berjudul "Hidup Damai di Negeri Multikultur" itu pada akhirnya diterbitkan Gramedia, tahun 2017. Peluncurannya diadakan di Executive Residence, Kedubes Australia. Setelah itu, saya juga buat bedah buku tersebut di dua kampus, Universitas Paramadina dan UIN Alauddin, Makassar.

Buku yang dikerjakan selama 2 tahun ini adalah bentuk buku diplomasi untuk kedua negara. Dari sisi Australia, buku yang berisi pengalaman muslim Indonesia berkunjung ke tiga kota Australia (Sydney, Melbourne, Canberra--ada juga yang dapat kota lainnya) punya arti lebih: bahwa pertemuan dan dialog sangat penting untuk diplomasi antarmasyarakat.

Memang, program Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) itu dibiayai oleh Pemerintah Australia, akan tetapi hal ini juga menjadi diplomasi tokoh muda muslim Indonesia kepada bangsa luar, bahwa Islam di Indonesia tidaklah terwakili lewat bom yang dilakukan oleh sekelompok kecil orang Indonesia.

Adapun buku "Hidup Damai" itu akhirnya betul-betul menjadi buku diplomasi. Kita jadi tahu bagaimana pemikiran orang Australia dan Indonesia setelah melakukan pertemuan, kunjungan ke negara tetangga. Pertemuan punya posisi yang sangat penting untuk melenturkan ketegangan baik itu antarnegara, antarkomunitas, atau mungkin antarindividu.

Walhasil, buku itu pun mengantarkan saya untuk bertemu dengan banyak orang. Bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk menyebarkan pesan bahwa menciptakan hidup yang damai itu harus kita lakukan. Dan itu tugas kita semua sebagai anak bangsa dari bangsa apapun itu.

Awalnya, saya termasuk orang yang tidak percaya diri dengan bahasa Inggris. Saya merasa tidak bisa. Tapi saya mencoba buka hati. Saya ke kampung Inggris, di Pare. Dua minggu belajar. Memang singat, tapi saya dapat "makna"-nya, dapat percaya dirinya.

Suatu ketika, di depan Global English, kursusan saya, saya dan teman-teman diminta untuk speaking 5 menit tanpa henti. Apa aja terserah. Saya coba bicara semuanya. Nggak nyambung pastinya, tapi kita jadi belajar. Bahwa ternyata, bisa juga keluar. Bunyi juga.

Dengan TOEFL prediction yang mulai 390 (rendah banget, kan?) saya test lagi, dapat 410, dan seterusnya paling tinggi 470. Itu masih prediksi. Belum yang beneran. TOEFL yang prediksi itulah saya pakai untuk pemberkasan AIMEP, dan alhamdulillah lulus.

Pelajaran pentingnya dalam hal bahasa adalah: jangan rendahkan diri sendiri. Kadang namanya pemberkasan itu untung-untungan. Orang yang TOEFL-nya 500 atau mungkin 600 bisa jadi gagal dalam seleksi, karena pertimbangan tertentu. Saya ingat, waktu seleksi LPDP, ada yang cerita. Katanya, ada kandidat LPDP yang gagal, padahal dia sudah dapat "surat penerimaan" dari salah satu kampus di Eropa.

Berarti, ada banyak hal tidak terduga dalam seleksi. Maka, jangan rendahkan diri sendiri. Jangan merasa minder. Jangan jatuh mental. Kalaupun gagal, itu biasa. Semua orang pernah gagal, bukan? Saya teringat seorang kolega saya, pengajar di UI. Tiap tahun dia keluar negeri.

Saya tanya, "Mas, tiap tahun bisa keluar negeri, gimana caranya?"

Jawab dia, "Ada banyak hal yang orang nggak tahu. Saya itu tiap tahun kirim berkas sekitar 30 kali, dan dari 30 itu ada beberapa yang lolos, dan lebih banyak yang gagal."

Oh, gitu. Saya pun dapat hikmah. Bahwa, kalau kita lihat orang sering keluar negeri itu pasti ada kerja keras di baliknya. Daftar berkali-kali pasti ada yang gagal, tapi selalu saja ada kesempatan untuk berhasil. Nah, kita ini berburu satu titik yang namanya kesempatan.

Keberhasilan pada akhirnya ada pertemuan antara kesempatan, usaha, dan takdir. Jika kita kirim berkas untuk program apapun itu, maka kita telah membuka kesempatan. Tapi, usahakan sebaik-baiknya: all out. Dan, biarkan takdir berbicara.

Seorang kawan saya gagal ikut program ke Jerman. Tapi, dia dapat program ke Australia. Belakangan dia mengabarkan ke saya, bahwa dia gagal ke Amerika. Waktu bertemu setelah sebuah diskusi dengan professor Amerika, saya ceritakan bagaimana cara apply program Amerika. Dia gagal, tapi dia dapat pelajaran dari situ.

Seorang kawan saya lainnya, beberapa waktu lalu ikut program Amerika di Bangkok. Saya rekomendasikan dari Depok. Di sana, dia bertemu banyak kawan dari berbagai negara. Beberapa kawan lainnya yang saya rekomendasikan, ada yang gagal, dan ada yang berhasil. Itu biasa. Gagal dan berhasil itu sesuatu yang harus kita jalani sebagai manusia.

Kembali lagi ke buku dan diplomasi. Beberapa waktu lalu saya ikut program ke Amerika. Bahasa Inggrisnya mas Yanuardi udah bagus sih, makanya dipilih. Apa? Udah bagus? Ah, bercanda. Pas-pasan gini dibilang bagus. Tapi, saya dapat program itu.

Bukan karena bahasa Inggrisnya bagus, tapi karena saya mengejar kesempatan, dengan usaha, dan membiarkan takdir berbicara. Ketika itu, seorang kawan dari Washington, D.C. mengabarkan adanya program ke Amerika. Saya japri, dan dia sangat senang. Tapi, kenal bukan berarti diterima. Saya berusaha. Berkas saya buat yang serius.

Pada suatu siang akhirnya saya ditelepon dari Kedubes Amerika. Diterima.

Programnya hanya 2 minggu, tapi lumayan untuk pembelajaran. Berkunjung ke ibukota Amerika, Washington, DC, dan dua kota penting lainnya: Pittsburgh dan New York. Saya cermati betul apa yang saya lihat. Saya foto, dan saya catat. Bagi saya, pengalaman yang jarang-jarang ini penting. Maka, saya harus menuliskannya.

Saya belajar bagaimana bertemu dengan pejabat negara. Bagaimana cara berbicara. Kapan harus berbicara. Bagaimana mengakhiri pembicaraan. Dan seterusnya. Saya belajar tentang itu.

Tapi, semua itu terkait dengan dunia tulis-menulis. Sekiranya saya tidak menulis, mungkin tidak ada yang tahu bahwa saya punya sesuatu. Ketika menulis, saya juga berusaha menjadi yang berbeda. Ketika orang-orang konsen di fiksi, saya pernah minder. Tapi, saya menemukan diri saya, bahwa saya lebih cocok di nonfiksi. Maka, saya kembangkan itu.

Jadi, teman-temanku; tentukan saja kita mau jadi ahli pada jenis tulisan apa. Kemudian, jadilah yang terbaik.

Setidaknya, walau saya belum banyak melakukan travelling ke luar negeri, saya belajar dari pengalaman gratis ke Australia; berdiskusi dan terhubung dengan berbagai kolega dari swasta dan pemerintah. Bisa ke Bangkok, dan menulis beberapa syair di Sao Phraya river. Bisa ke Kuala Lumpur, jadi pembicara. Dan, bisa ke Amerika, melihat negara tersebut dari dekat.

Dengan menulis juga saya jadi punya pengalaman diundang radio dan televisi. Mulai dari radio di kampung hingga di kota. Mulai dari televisi di daerah hingga di Jakarta. Ditelepon jam 11 malam untuk tampil di televisi jam 7 pagi itu tidak mudah. Tapi, saya pelajari bagaimana cara belajar, cara menghadapi sesuatu, dan bagaimana menuntaskan masalah.

Tanpa bermaksud gagah-gagahan, tulisan ini adalah sharing sedikit pengalaman hidup. Bahwa, menjadi penulis itu sama dengan menjadi diplomat; kita bertemu dengan banyak orang, berbicara dengan banyak orang, dan berupaya memberikan pengaruh pada sesuatu.

Jangan hanya membayangkan menulis itu untuk dapat duit, agar bukunya dipajang di rak best-seller toko buku, atau agar mendapatkan likes yang banyak di media sosial. Jangan seperti itu. Cobalah untuk melangkah lebih jauh dengan orientasi bahwa buku ini harus beri dampak kepada bangsa dan negara, sekecil apapun itu. Ya, dampak. Pengaruh. Syukur-syukur jika bisa berkontribusi untuk terjadinya perubahan.


Saturday, December 28, 2019

Kata Pengantar Buku La Ode Mu'jizat

La Ode Mu'jizat dan bukunya

Dalam dunia yang serba instant ini tidak mudah untuk serius menjadi penulis. Orang masih lebih senang berbicara, atau kalaupun menulis mereka lebih senang menulis yang singkat-singkat seperti dalam bentuk status pendek. Namun, langkah La Ode Mu’jizat yang mengumpulkan tulisannya menjadi buku patut diacungi jempol. Tidak semua orang bisa, dan lelaki dari tenggara Pulau Sulawesi beranak dua tersebut membuktikan bahwa dia bisa.

Setidaknya, ada empat hal penting yang disorot oleh La Ode Mu’jizat dalam buku Cinta Delapan Musim ini. Pertama, soal budaya Buton. Dalam baris-baris tulisannya, Mu’jizat membahas secara populer budaya Buton yang ia lihat, dengar, dan rasakan dan dikaitkan dalam berbagai hal di masyarakat. Upaya untuk mengangkat local wisdom—jika bisa disebut seperti itu—termasuk jarang dilakukan para penulis kita. Dalam konteks ini, langkah Mu’jizat patut diacungi jempol karena hendak menghidupkan nilai-nilai luhur budaya Nusantara kita di era modern ini.

Kedua, kaitan tokoh besar dengan diri kita. Ada banyak tokoh besar yang diangkat oleh Mu’jizat dalam tulisan-tulisannya, sebutlah seperti Ken Arok, Ibnu Batutah, Albert Einstein, Michael Jordan, Valentino Rossi, dan juga tokoh “serba bisa” doraemon. Lantas, apa makna mengenal para tokoh itu buat diri kita?

Dalam buku ini, Mu’jizat mencoba mengaitkan mereka-mereka dengan sejarah, budaya, dan dengan dirinya sendiri. Ada kesan bahwa Mu’jizat tidak ingin sekedar tahu siapa mereka, tapi dia ingin membawa para tokoh tersebut ke dalam—mengutip judul buku Leonard Y. Andaya, The World of Maluku—“the world of Mu’jizat” atau “dunia La Ode Mu’jizat.”

Bagaimanakah “dunia La Ode Mu’jizat” tersebut? Tentu saja yang paling tahu adalah diri Mas La Ode. Akan tetapi, aktivitasnya sebagai trainer, motivator, dan pegiat pendidikan dapat menjadi fakta bahwa dia memiliki dunianya sendiri dan sepertinya ingin mengembangkan sebuah formula hidup berdasarkan lembar-lembar perjalanan hidupnya. Buku ini, kendati kumpulan tulisan, akan tetapi dapat menjelaskan tentang sosok sang penulis.

Ketiga, implementasi nilai-nilai Islam dalam keseharian. Penulis buku ini memiliki keyakinan yang utuh bahwa Islam adalah solusi, dan olehnya itu ia mencoba membawa Islam dalam perspektifnya. Tentu saja ini hal yang menarik di tengah dinamika antara “agama” dan “negara” di negeri kita, ada kelompok tertentu yang tidak senang jika Islam terlalu dibawa-bawa dalam urusan duniawi—sebutlah negara. Akan tetapi, kelompok lain tidak menafikan bahwa Islam sebagai sebuah sistem hidup dapat diaplikasikan oleh manusia dalam berbagai segi kehidupannya.

Keempat, cinta dan nasihat. Mu’jizat juga senang berbicara cinta. Dalam buku ini ia kumpulkan beberapa tulisannya—yang tersebar di jagad laman dan sosmed tersebut—dalam sebuah kesatuan tentang cinta. Seorang trainer memang sudah selayaknya tahu dan bisa berbicara tentang cinta. Dalam buku ini, sang penulis tidak ingin ketinggalan mengekspresikan bagaimana cinta dalam pandangan subyektifnya.

Sebagai karya kreatif, saya mengucapkan selamat kepada Mas La Ode Mu’jizat atas terbitnya buku ini. Tentu saja proses belajar—dalam banyak hal, termasuk menulis—harus terus digeluti untuk menghasilkan hasil olahan pikiran yang bermakna dalam teknik menulis dan juga olahan data-data dalam tulisan. Untuk itu, buku rujukan yang dipakai sebagainya menggunakan yang lebih primer seperti buku-buku utama dalam bidang-bidang yang hendak ditulis.

Kehadiran La Ode Mu’jizat di Agupena cukup membantu publikasi laman agupena.or.id yang digawangi oleh saya dan Pak Sawali Tuhusetya. Di laman ini, secara serius kami memublikasikan karya-karya teman-teman penulis—terutama anggota Agupena—untuk mendukung persebaran publikasi yang luas di laman tersebut. Kendati sampai hari ini nama saya masih di urutan satu sebagai penulis produktif di laman tersebut, saya berharap ke depannya Mas La Ode Mu’jizat dapat lebih produktif dari saya, dan itu harus betul-betul diperjuangkan oleh Mas Mu’jizat.

Buku yang ditulis dengan bahasa yang ringan ini dapat menjadi inspirasi dan panduan untuk hidup damai dan bahagia dengan tak melupakan kearifan Nusantara. Buku ini sekali lagi menjadi bukti bahwa kendati beraktivitas jauh dari ibukota Jakarta, tapi seseorang bisa tetap kreatif menulis buku. Artinya, tempat—dimanapun kita mukim—bukanlah masalah untuk menulis selama ada kemauan yang terjaga. Selamat untuk Mas La Ode Mu’jizat.
Depok, 4 Juni 2017
Yanuardi Syukur
Mahasiswa Program Doktor Antropologi FISIP UI/Pengurus Pusat Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena)


Kata Pengantar Buku Rosaria Indah



Kata Pengantar
Belajar dari Tekad Anak Indonesia di Australia
Oleh Yanuardi Syukur

Indonesia kaya dengan nilai-nilai positif yang sangat membantu anak bangsanya untuk menggapai cita-cita. Pepatah seperti “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, atau “siapa bersungguh-sungguh, dia dapat,” dan lain sebagainya, menjadi semacam “mantera” yang sangat ajaib dan mengubah orang biasa menjadi luar biasa, orang pinggiran (periphery) menjadi orang pusat (center).

Dari sekian banyak anak bangsa yang belajar di luar negeri, salah satu di antaranya adalah dokter Rosaria Indah yang saat ini tengah bergelut menuntaskan pendidikan doktoralnya dalam bidang pendidikan profesi kesehatan di University of Sydney, Australia. Rosaria adalah tipikal “anak daerah” (Aceh) yang punya semangat tinggi untuk belajar dan tidak tanggung-tanggung, ia menuntaskan pendidikan sarjana dari Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), kemudian master dari Maastricht University (Belanda), dan sedang program doktor di University of Sydney (Australia). Pengalaman belajar di tiga kampus tersebut tentu saja tidak mudah, tapi bagi seorang Rosaria—yang biasa disapa Ocha—ia bisa menuntaskan itu dengan semangat yang tinggi dan dibarengi dengan doa.

Rawat Motivasi Belajar

Hal pertama yang dapat kita petik dari buku karya Rosaria ini adalah soal motivasi belajar. Jika melihat ke belakang, para tokoh bangsa kita punya memiliki semangat belajar dan pergerakan yang tinggi. Bung Karno misalnya, ia belajar di THS (sekarang ITB), dan menjadi insinyur dari kampus tersebut. Bung Hatta menyelesaikan doktorandus dari Belanda dan terlibat dalam perdebatan wacana kebangsaan di berbagai surat kabar. Kedua tokoh besar ini—yang satu belajar di dalam negeri dan satu lagi di luar negeri—sama-sama memiliki semangat belajar yang tinggi, semangat berjuang yang luar biasa, serta semangat untuk menyatukan bangsa Indonesia yang sangat diversitas ini.

Apa yang membuat Bung Karno dan Hatta bersemangat belajar? Besar kemungkinan adalah kesadaran akan pentingnya pendidikan untuk kemajuan bangsa. Melihat ketimpangan yang melanda masyarakat Indonesia, keduanya kemudian turun tangan dan ambil bagian dalam upaya untuk membawa bangsa ini merdeka, berdaulat, dan sejahtera. Semangat keduanya tentu saja sangat penting untuk diketahui, dipahami, dan dihayati oleh pemuda Indonesia, bahwa ketika mereka mendapatkan kesempatan belajar—di dalam atau luar negeri—sesungguhnya mereka mengemban amanat rakyat untuk belajar sebaik-baiknya, serta pada saatnya nanti memberikan sebanyak-banyaknya untuk kebangkitan bangsa.

Dalam buku ini, dokter Ocha telah berupaya untuk itu, menunjukkan bahwa: man jadda wajada! Siapa bersungguh-sungguh, dia dapat. Siapa belajar bahasa Inggris secara serius, dia besar kemungkinan bisa kuliah di negeri berbahasa Inggris. Perjuangan dokter Ocha sejak memutuskan untuk lanjut kuliah di Belanda dan Australia menjadi sangat inspiratif bagi para pemuda Indonesia, bahwa mereka semua memiliki kesempatan untuk mendapatkan beasiswa kuliah di dalam maupun luar negeri. Seberapa besar peluang yang hadir sangatlah dipengaruhi oleh seberapa besar usaha yang dikeluarkan.

Membudayakan Menulis

Dalam buku ini, dokter Ocha telah memberikan teladan dalam hal menulis. Pengalaman berkuliah di luar negeri tentu saja tidak gampang, dan pastinya ada banyak hal yang tidak ditemukan di Indonesia, dan itu menarik untuk dibagi kepada sesama. Seseorang yang belajar di Australia misalnya, dapat menuliskan bagaimana pengalamannya ketika baru tiba di benua kangguru tersebut, bagaimana berdialog dengan orang Australia—yang memiliki bahasa Inggris yang khas—dan juga bagaimana menjalani kehidupan perkuliahan baik saat sendiri atau bersama keluarga. Menyekolahkan anak di negara tersebut juga sangat menarik untuk dibagi, seperti juga pengalaman mengumpulkan receh-receh dollar Australia saat bekerja di sana.

Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan oleh dokter Ocha kemudian ia tuliskan dalam buku ini. Secara umum, dalam buku ini ia menulis soal perjalanannya sebagai pembelajar, pengejar beasiswa, pemimpin, tips-tips menjalani kuliah PhD, serta berbagai isu yang ia minati ketika kuliah. Saya banyak teman yang kuliah di berbagai negara akan tetapi tidak semua bisa—dan berhasil—menuliskan ide-idenya dalam bait-bait halaman. Entah apa kesulitan yang dihadapi oleh pelajar lainnya sampai terasa sulit menuliskan pengalamannya sendiri, akan tetapi jika seseorang berkonsentrasi untuk menulis pengalamannya yang dikaitkan dengan isu-isu kontemporer, rasanya akan lebih mudah ia tuntaskan tulisannya tersebut.

Ada banyak buku yang beredar di toko dan rak-rak buku terkait pengalaman belajar. Ada yang menulis pengalaman kuliah, pengalaman ikut short course, pengalaman travelling, atau sekedar kajian pustaka tentang negara tertentu kendati mereka tidak pernah berkunjung ke negara tersebut. Publikasi pengalaman ini tentu saja sangat penting untuk memperkaya khazanah budaya literasi kita yang jika dibandingkan dengan negara-negara besar lainnya kita masih rendah. Maka, jika para pelajar membiasakan menulis—entah itu pengalaman atau ide-ide dan hasil risetnya—pastinya akan bermanfaat untuk akselerasi budaya literasi kita, apalagi saat ini kita tidak kekurangan bahan dengan hadirnya google yang setia membantu data apa yang kita butuhkan.

Namun, walaupun banyak buku pengalaman belajar telah ditulis, buku karya dokter Rosaria Indah ini menarik paling tidak dalam beberapa hal. Pertama, sebagai motivasi buat anak bangsa bahwa mereka bisa menggapai cita-cita setinggi mungkin. Ocha yang orang Aceh—jauh dari pusat kota Jakarta—saja bisa melanjutkan pendidikan tinggi dan terus berprestasi, kenapa anak bangsa lainnya tidak bisa? Kedua, “pengalaman adalah guru terbaik” masih relevan dalam konteks berbagai cerita nyata yang telah dialami untuk menjadi teladan, hikmah, bahkan pengingat (reminder) bagi orang lain. Apa yang ditulis dalam buku ini merupakan kisah nyata, cerita real yang dialami oleh seorang dokter yang berjuang bersama suami dan anaknya untuk bisa struggle for life di negeri orang. Hal ini tentu saja sangat menginspirasi secara umum untuk mereka yang sedang berjuang untuk kuliah di luar negeri, khususnya bagi mereka yang akan kuliah di Australia.

Kembali Menguatkan Cita-Cita

Cita-cita ibarat roda; kadang di atas kadang di bawah. Kadang cita-cita itu kuat tapi sering juga dia lemah. Cita-cita bisa kuat manakala kita mendapatkan penguat dari dalam diri atau supporting dari lingkungan sekitar. Bagi mereka yang sedang down, membaca buku ini mereka bisa mendapatkan suntikan semangat bahwa dunia belum berakhir, dan selama nafas masih ada yang namanya kesempatan itu selalu ada. Bahkan, jika satu kesempatan tertutup mereka masih punya kesempatan lainnya. Sedangkan bagi mereka yang sedang bersemangat menggapai cita-cita, membaca buku ini dapat menjadi penguat semangat mereka untuk berbagi cerita kepada publik. Ilmu dan pengalaman yang mereka punya mungkin terasa biasa-biasa saja—apalagi jika membandingkan diri dengan yang lebih hebat—tapi jika dituliskan pasti ada saja orang yang merasa, “wah, pengalaman ini penting sekali untuk saya”, atau “buku ini sangat berguna buat saya dalam menggapai cita-cita.”

Apa yang telah ditulis oleh dokter Rosaria Indah dalam buku ini diharapkan dapat kita ambil berbagai hikmah di dalamnya. Kita berharap dokter Ocha dapat terus berbagai ilmu dan pengalamannya untuk masyarakat Indonesia secara khusus, dengan terus meningkatkan kapasitasnya sebagai seorang dokter, pendidik, dan juga inspirator bagi masyarakat Indonesia. Ada banyak dokter yang telah berbagi dan jadi inspirasi bagi kita, namun jumlah itu masih sedikit dibanding banyaknya masyarakat kita yang membutuhkan teladan dan inspirasi. Selamat untuk dokter Rosaria Indah atas terbitnya buku ini. Mari kita ambil yang terbaik dari cerita-cerita ringan dokter Ocha, dan kita sebarkan inspirasi tersebut untuk kebangkitan bangsa Indonesia.
Jakarta, 18 Agustus 2017


Sedikit Pengantar tentang Bagaimana Menulis Artikel

Ilustrasi Tempo Institute

TIDAK ADA MANUSIA yang terlahir langsung bisa menulis. Semua berproses, semua belajar. Semua penulis baik yang telah tiada atau yang masih ada pasti pernah mengalami semua proses kepenulisan. Mereka memulai dengan minat, kemudian mencoba-coba. Gagal. Mereka coba lagi, lagi dan lagi. Akhirnya, pada titik tertentu dari proses itu, mereka melahirkan sesuatu yang menurut orang lain sangatlah inspiratif dan luar biasa.

Mencari Inspirasi

Ada yang bilang, inspirasi tidak perlu dicari. Ada betulnya. Tapi tidak sepenuhnya betul. Bagi orang tertentu, inspirasi bisa datang sendiri. Tak perlu dicari-cari. Akan tetapi bagi orang lain, inspirasi haruslah dicari. Mereka mencari dengan cara baca buku, diskusi, baca status atau tweet orang di Facebook atau Twitter, dan seterusnya. Tidak ada yang salah dari mereka yang mencari inspirasi atau mereka yang menunggu inspirasi.

Sebagai penulis pemula, saya mencari inspirasi dengan beberapa cara. Pertama, jalan-jalan. Saya termasuk lelaki yang suka jalan-jalan. Sejak kecil, saya yang dibesarkan di pinggir pantai terbiasa berjalan dari rumah ke sebuah tanjung untuk mencari ikan, atau kepiting. Tak jarang, saat jalan-jalan di pantai itu kaki saya terkena duri babi, sebuah binatang laut berduri yang kalau kena kaki harus—maaf, dikencingi—agar bisa sembuh. Pengalaman di pantai itu selanjutnya berpengaruh pada saya ketika harus merantau di usia 11 tahun ke Jakarta dan mengenal seluk-beluk ibukota yang segala hal ada.

Suatu ketika saya lihat buku bekas yang murah. Saya beli, dan hasilnya adalah saya membuat buku baru dengan topik dengan mengambil intisari penting dari buku itu kemudian saya mengolah dengan data-data tambahan. Itu karena jalan-jalan. Tak jarang juga saya menulis sebuah artikel di koran setelah mendapatkan inspirasi dari jalan-jalan ke kota lain, atau sekedar di tempat-tempat tertentu yang sepi. Sepi kadang menakutkan, tapi kadang juga memberanikan.

Kedua, waktu di Jakarta saya hobi baca-baca di Gramedia Blok M. Paling tidak satu bulan sekali saya ke toko buku tersebut untuk membaca 30 Kisah Teladan karya KH. Abdurrahman Arroisi atau Asterix. Sesekali saya juga baca buku-buku politik yang sedang hangat diperbincangkan orang. Ketika membaca saya semaksimal mungkin selain menghibur diri juga berupaya menangkap apa inspirasi atau hikmah yang dapat diambil—paling tidak untuk diriku sendiri. Kisah-kisah teladan sangat berpengaruh bagi kepribadian saya di masa-masa remaja dan rasanya sampai sekarang.

Ketika kuliah di Makassar, saya juga menjadwalkan diri ke toko buku. Gramedia Mal Ratu Indah adalah salah satu tujuan saya untuk baca buku disamping beberapa toko buku tua lainnya yang menjual buku-buku dengan harga murah. Saat baru dapat beasiswa saya biasanya ke tokoh buku murah untuk beli buku seharga Rp.2.000 sampai Rp.20.000. Di atas harga itu biasanya saya memilih untuk berpikir dua kali, atau saya coba baca dan rekam apa intisari dari buku ‘mahal’ tersebut. Kalau lagi kosong, saya juga membiasakan diri ke Perpustakaan Unhas. Saya suka berlama-lama di lantai buku referensi yang jarang disinggahi mahasiswa yang membuat buku-buku itu berdebu, bahkan beberapa di antaranya jadi santapan rayap.

Memulai Menulis

Apa cara terbaik untuk jadi penulis? Setelah membaca, cara selanjutnya adalah menulis. Semua penulis menjadikan menulis adalah bagian dari kehidupan mereka. Memulai menulis memang susah-susah gampang. Kadang saat lagi semangat tiba-tiba mood menulis jadi hilang karena terganggu sesuatu hal. Gangguan dalam menulis memang banyak, akan tetapi semua itu harus kita tepis dengan berkomitmen pada tulisan.

Secara pribadi, saya menguatkan komitmen saya dalam menulis untuk berdakwah. Saya meyakini bahwa menulis adalah bagian dari sarana dakwah yang efektif di dunia modern. Saat ini seiring dengan bertambahnya minat baca masyarakat, semakin bertambah pula kebutuhan bacaan yang baik dan menginspirasi. Walaupun kadang saya rasa buku-buku saya ‘tidak begitu baik’, akan tetapi saya selalu merasa bahwa dakwah lewat tulisan ini harus terus ditekuni, lepas dari apakah buku itu laku atau tidak lalu, best seller atau tidak, dapat penghargaan atau tidak, dan seterusnya.

Soal pengakuan manusia, hemat saya adalah konsekuensi logis dari usaha. Kita tidak perlu berharap pengakuan dari orang lain bahwa kita penulis hebat. Cukup kita berusaha menulis dengan sebaik-baiknya, dan diikuti dengan semangat untuk terus belajar dan menjauhi sifat tinggi hati, itu sudah cukup untuk berproses jadi penulis. Semua penulis di saat yang sama adalah pembelajar. Maka mereka juga harus tetap membuka hati dan pikiran untuk menampung masukan-masukan dari berbagai pihak. Rasa puas dalam belajar sebaiknya diminimalisir, agar jiwa kita senantiasa tertanam sifat fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Dakwah lewat menulis adalah kebaikan, maka baik sekali jika kita meniatkan setiap tulisan kita untuk meraih keridhaan Allah.

Jika semangat sudah ada, maka segeralah menulis. Jangan tunda lama-lama. Jika telepon genggam yang kita pakai bisa untuk menulis note, maka menulis di situ juga bisa. Atau, menulis di laptop juga bisa. Dulu waktu belum punya laptop, saya terbiasa menulis tiap kali online di warnet. Tulisan-tulisan itu kemudian saya posting ke beberapa milis dan teman di jejaring Friendster. Ada yang memberikan tanggapan ada juga yang tidak. Tapi saya selalu merasa senang manakala sebuah tulisan selasai dan dapat dibagi ke orang lain.

Memperkaya Tulisan

Tulisan yang sudah jadi haruslah diperkaya dengan berbagai sumber. Para motivator kepenulisan biasa menasihati, “tulis dengan hati, edit dengan kepala.” Maksudnya, tulislah segala sesuatu secara mengalir dari hati. Jangan pedulikan dulu apakah diksinya bagus atau tidak dan datanya sudah valid atau belum. Tulis saja sampai selesai! Jika sudah selesai, baru tulisan itu diedit lagi atau diperkaya dengan berbagai bahan.

Jika menulis artikel di koran, sebaliknya jangan cuma pendapat pribadi. Sertakan juga pendapat para ahli, hasil penelitian dari berbagai jurnal, atau kutipan-kutipan dari buku. Sumber dari media massa juga bisa, akan tetapi sebaiknya pilihlah media massa (cetak atau online) yang terpercaya. Adapun sumber-sumber dari blog, sebaiknya diminimalisir, kecuali yang ditulis oleh penulis yang benar-benar ahli di bidangnya dan blog tersebut memang otoriatatif miliknya. Hemat saya, untuk memperkaya tulisan opini, tiap orang baik sekali untuk mengutamakan jurnal ilmiah yang paling mutakhir, buku teks, atau media massa. Jadi, urutannya mulai dari yang berat-berat dulu, selanjutnya yang ringan.

Jika bisa berbahasa asing, tentu kualitas tulisannya akan lebih baik. Memang tidak ada jaminan bahwa tulisan orang asing (atau yang berbahasa asing) lebih baik akan tetapi biasanya tulisan di jurnal internasional (sebagai contoh) telah melewati berbagai seleksi ilmiah yang sangat ketat. Olehnya itu maka kemampuan berbahasa asing juga pergi bagi tiap penulis yang sangat berguna untuk mempelajari pemikiran penulis di negara lain, atau untuk mengikuti berbagai event internasional. Umumnya di Indonesia, pembelajaran menulis kita dimulai dari organisasi lokal, kemudian nasional, regional dan internasional. Misalnya di FLP, kita ikut perekrutan anggota yang di situ diajarkan segala sesuatu tentang FLP dan cara menulis. Kemudian kita ikut berbagai event nasional seperti pelatihan menulis untuk jenjang andal yang dibawakan oleh beberapa penulis masyhur. Atau, kegiatan regional seperti Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) yang pesertanya dari beberapa negara serumpun Melayu. Selanjutnya, event-event internasional juga banyak diadakan, baik di Jakarta, Bali, atau Makassar. Program menulis di International Writing Program di University of Iowa Amerika adalah berkelas untuk diikuti. Tentu saja, ini membutuhkan kemampuan bahasa asing terutama bahasa Inggris.

Mengakhiri Tulisan

Kapan sebuah tulisan dianggap selesai? Dalam hal ini tiap orang bisa berbeda. Ada orang cepat menganggap tulisannya selesai dan tuntas, serta siap untuk dikirim. On the other hand, ada juga yang selalu merasa belum puas, dan cenderung bersifat perfeksionis. Saya punya kenalan, ia pernah menulis sebuah artikel ke koran nasional dan langsung diterima. Padahal ketika itu ia belumlah bisa dianggap ‘penulis lokal’ di daerah. Kenapa bisa diterima? Ternyata karena apa yang ditulisnya sangat pas dengan kebutuhan redaksi, jadi diterima. Saat itu, ia menulis tidak dalam waktu lama, kemudian ia memutuskan untuk kirim ke redaksi. Tapi ada juga yang berhari-hari menulis artikel—dihapus atas-bawah—tapi tidak juga dimuat ketika tulisan terkirim. Dalam hal ini, kita perlu menyadari bersama, bahwa tiap tulisan punya takdirnya masing-masing.

Paling tidak, sebelum mengakhiri tulisan, kita perlu mempertimbangkan beberapa hal ini. Pertama, baca kembali judulnya. Apakah judul tulisan sudah bagus, mudah dipahami, relevan dengan isi atau tidak. Soal bagaimana membuat judul yang baik kita bisa belajar dari banyak penulis. Emha Ainun Nadjib sangat terkenal dengan judul yang menarik. Juga Mohamad Sobary, esais yang ‘rada mirip’ dengan Emha: kerap menampilkan budaya Jawa dalam tulisan-tulisannya. Judul-judul Goenawan Mohamad juga bagus; kadang singkat-singkat tapi ia diakui sebagai esai hebat. Selebihnya, para penulis fiksi biasanya punya kosakata yang unik yang baik untuk kita pelajari ketika menulis non-fiksi. Untuk itu, maka tetap membaca fiksi adalah penting selain membaca tulisan-tulisan dari penulis non-fiksi seperti Adian Husaini, Anis Matta, Yudi Latief, Radar Panca Dahana, atau Yusran Darmawan.

Kedua, baca kembali lead-nya. Lead atau kepala tulisan adalah tulisan pada paragraf pertama. Kita bisa memulai dengan berbagai macam lead seperti lead sejarah, kutipan, atau ayat suci. Menulis dengan lead sejarah berarti kita memulai paragraf pertama dengan cerita sejarah tentang obyek yang hendak ditulis. Lead kutipan bisa diambil dari kutipan seorang tokoh, ahli, atau individu tertentu yang relevan sebagai preambule sebuah tulisan. Lead dari kitab suci juga bisa. Akan tetapi, saya sarankan agar ketika memulai dengan kutipan ayat kitab suci disertakan juga tafsir singkat dari mufassirin tentang ayat tersebut. Bisa mengutip dari kitab Ibnu Abbas, Ibnu Katsir, Jalalain, Sayyid Qutb, atau mufassirin Indonesia seperti Prof. Dr. Mahmud Yunus, Prof. Dr. Hamka, Ahmad Hassan, atau Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Dalam menulis lead, kita juga bisa belajar dari model academic writing bahasa Inggris yang memulai dengan kontradiksi; setelah menjelaskan pendapat pertama (sebutlah itu tesis), selanjutnya pendapat yang berbeda dengannya (sebutlah itu antithesis). Dengan demikian, pembaca mendapatkan pencerahan bahwa ada dua pendapat terkait subyek yang hendak dibahas.

Membaca konten adalah hal ketiga yang sangat penting. Sebuah tulisan tidak ada gunanya juga tidak ada kontennya. Agar lebih mudah, konten sebuah tulisan berisi tiga ide utama. Misalnya, ketika membahas pentingnya melanjutkan pendidikan pascasarjana, kita memberikan tiga alasan. Contohnya: alasan pertama, karena persaingan masa depan adalah persaingan pengetahuan; kedua, kebutuhan relasi yang menunjang karir di masa depan; dan ketiga agar melatih cara berpikir yang rasional dan realistis. Ketiga hal ini merupakan inti dari pemikiran kita terkait lanjut studi S2 atau S3. Inti dari ketiga hal itu harus dikuatkan dengan berbagai data penunjang yang membuat kenapa tiga hal itu penting untuk diperhatikan.

Keempat, menutup tulisan. Tulisan yang telah jadi haruslah ditutup dengan sesuatu yang menarik. Ada yang menutup tulisan dengan kutipan, ada juga yang menutup dengan pertanyaan retoris (yang tidak perlu dijawab), atau ada juga yang menutup tulisannya dengan cerita. Pada dasarnya, menutup tulisan dengan memulai bisa saling mengisi satu sama lain. Untuk tulisan artikel yang hanya 3 atau 4 halaman, kita harus benar-benar bisa menampilkan tulisan yang koheren atau tersambung satu sama lainnya.

Menghadapi Penolakan

Bagi seorang pejuang, cinta ditolak itu biasa, apalagi tulisan yang ditolak. Cinta saja—yang notabene sangat asasi dalam hidup—mereka bisa hadapi dengan tegar, apalagi sekedar tulisan beberapa lembar yang tidak mendapatkan respon atau singkatnya ditolak. Saya teringat ketika pertama kali mengirimkan naskah ke sebuah penerbit di Jakarta. Waktu itu saya kirim 4 naskah buku. Setelah sebulan menunggu, naskah itu ditolak (saya lupa apakah ada suratnya atau tidak). Tapi, walau ditolak, saya tidak putus asa. Penolakan itu membuat saya terus bersemangat untuk menulis.

Belakangan hari, beberapa naskah saya dengan mudah diterima oleh penerbit. Ada yang saya kerjakan selama dua bulan, ada yang satu bulan, bahkan ada yang selesai dua minggu, satu minggu, bahkan kurang dari satu minggu. Untuk naskah-naskah yang saya minati, dan datanya mudah didapat, saya biasanya tepat waktu. Misalnya, saya bilang, “naskah ini insya Allah selesai dalam dua minggu.” Biasanya, kalau bilang begitu berarti saya bisa menyelesaikan kurang dari 14 hari. Jadi, sehari atau dua hari sebelumnya saya yakin naskahnya kelar.

Tapi, walau sering diterbitkan, tidak semua naskah bernasib sama. Setiap naskah punya takdir yang berbeda-beda. Saya meyakini itu. Pernah ada naskah yang saya rasa isinya biasa saja, akan tetapi diterbitkan. Tapi ada juga yang saya rasa sudah oke, tapi nyatanya tidak diterbitkan. Bahkan, sampai sekarang naskah saya pernah mengalami nasib sudah diterima oleh penerbit (tentu saja senang) akan tetapi pada akhirnya batal terbit dengan berbagai alasan. Maka, kalau naskah kita diterima oleh penerbit, baiknya jangan terlalu gembira dulu, karena masih ada proses selanjutnya. Kecuali kalau naskahnya sudah ada surat perjanjian, ada kavernya, atau sudah ada di toko buku, barulah ‘lebih enak’ kita tulis di status Facebook, “Alhamdulillah, naskah saya terbit, dst..”, atau kirim pesan di Whatsapp, “Akhirnya, naskah saya diterima sama penerbit.” Itu belum tentu terbit. Jangan senang dulu. Kecuali, naskahnya sudah jadi buku dan dipajang di toko buku.

Akhirnya, tiap orang punya sisi lebih dan sisi kurang. Ada yang pintar di judul tapi lemah di isi. Tugas kita adalah bagaimana mencari titik terkuat kita—apakah di judul, lead, isi, atau penutup—dan terus belajar. Ya, terus belajar adalah baik. Karena tiap pelajar punya masa depan yang berbeda-beda, seperti juga tiap penulis naskah punya nasib yang berbeda-beda pula.

Maros, 20 April 2016

Agama, Pendidikan, dan Apresiasi


Apresiasi 

Beberapa waktu yang lalu, aksi
walk out dilakukan oleh pianis terkenal Ananda Sukarlan ketika Gubernur DKI Anies Baswedan berpidato, telah mengundang pro dan kontra. Para pendukung Ananda berdalih bahwa itu merupakan sikap yang berani terhadap seseorang yang menang tapi lewat cara-cara politisasi agama dan rasis, sementara kelompok yang kontra berpendapat bahwa sikap lulusan Kolese Kanisius tersebut tidak menghormati tamu yang diundang secara resmi oleh almamaternya sendiri.

Sebagai orang Indonesia, kita perlu merenungkan dan berefleksi, apakah langkah walk out tersebut sudah sesuai dengan karakter kita atau bukan. Terlepas dari perbedaan yang ada, seharusnya kita tetap membudayakan sikap saling menghormati, saling mengangkat, saling membantu; bukan saling menjatuhkan dan saling menghinakan.

Agama Menghormati Tamu

Kita meyakini bahwa semua agama mengajarkan sikap penghormatan terhadap tamu. Siapapun yang bertamu harus dihargai, apalagi tamu tersebut diundang secara resmi oleh almamater kita. Secara sederhana, dalam kasus Ananda ini kita melihat bahwa pihak Kolese Kanisius tentu saja telah mempertimbangkan dengan mata mengapa mengundang Anies Baswedan yang seorang gubernur.

Kendati pun gubernur yang hadir itu adalah orang yang berbeda paham dan pilihan dengan kita itu tidak berarti bahwa kita tidak menghormatinya. Apalagi ini berada dalam konteks institusi pendidikan yang telah hampir satu abad menunjukkan dedikasinya untuk menciptakan orang Indonesia yang berbudi pekerti.

Ananda Sukarlan dan Anies Baswedan dalam hal ini sama-sama tamu yang diundang oleh Kanisius. Indikasi sebagai tamu terlihat dari posisi kursi. Jika Ananda hadir sebagai alumni yang biasa-biasa saja maka mungkin ia tidak akan diberikan kursi VIP. Akan tetapi, karena kiprahnya yang mengharumkan nama bangsa di berbagai kancah internasional dalam bidang kemanusiaan dan musik, maka Ananda diberikan kursi terhormat. Pun demikian dengan Anies, yang kalau bukan gubernur tentu saja belum tentu akan diundang.

Pada poin ini, sebagai orang yang beragama dan tahu etika, maka penghargaan terhadap tamu haruslah diutamakan dan diperhatikan.

Pendidikan Mengajarkan Nilai

Amanat pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didiknya cerdas secara intelektual, akan tetapi punya kecerdasan secara spiritual dan emosional. Hal ini akan tercermin dalam bagaimana seseorang bersikap. Orang yang memiliki pendidikan tinggi seharusnya berkorelasi dengan ketinggian budi. Tanpa ketinggian budi seseorang akan menjadi arogan, egois, dan hanya mau menang sendiri.

Di Indonesia ini kita diajarkan untuk memilika nilai, etika, adab, sopan-santun atau tata krama. Hal ini terlihat begitu jelas dalam syair lagu Indonesia Raya karangan Wage Rudolf Supratman (1903-1938) yang mendahulukan “jiwa” ketimbang “badan”: “…bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia raya.” Artinya, jika kita meyakini bahwa pemilihan syair Indonesia Raya itu bukan sesuatu yang asal-asalan, maka kepedulian pada jiwa/moralitas/akhlak/adab haruslah tidak terlupakan sebagai jati diri orang Indonesia.

Orang Indonesia dalam konteks ini adalah orang yang memiliki budi luhur, etika, penghormatan kepada orang lain, dan memiliki daya saing. Maka kita butuh sekali dengan pribadi-pribadi yang berdaya saing tinggi namun tidak melupakan karakter dan etika kita sebagai orang Indonesia yang memiliki penghormatan terhadap tamu.

Hidupkan Budaya Apresiasi

Mau tidak mau saat ini kita hidup di dunia yang multikultur. Kita hidup di tengah berbagai macam manusia yang punya orientasi hidup berbeda, pilihan berbeda, bahkan juga gaya hidup yang berbeda. Sebagai perkembangan dari teknologi, informasi, dan mobilitas masyarakat modern, saat ini kita tidak bisa lagi mau hidup sendiri, menang sendiri, atau hebat sendirian. Singkatnya, kita hidup di tengah sekian banyak orang yang berbeda dengan kita, di dunia maya maupun dunia nyata.

Maka, mengapresiasi terhadap pilihan, karya, gaya hidup orang lain adalah penting perannya. Komentar Gubernur Anies yang mengapresiasi sikap Ananda yang walk out tersebut adalah bagian dari sikap bijaksana seorang pemimpin kepada orang lain. Seorang pemimpin yang baik tentu saja tidak cukup hanya bisa mengelola dirinya, akan tetapi dia harus bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya secara bijaksana.

Saat ini nilai-nilai apresiasi tampaknya sudah mulai lentur. Di media sosial misalnya, ketika ada yang berbeda, tak lama kemudian langsung diserang dengan sekian banyak cacian, makian, dan sumpah serapah yang gampang-gampang saja dilontarkan kepada orang lain. Mungkin, itu disebabkan kemudahan dalam berpendapat, tapi tidak disaring mana yang layak keluar dan mana yang sebaiknya ditahan.

Saat ini, rasanya kita memang harus menumbuhkan kembali budaya apresiasi terhadap orang lain. Kalaupun ada yang berbeda, jangan hinakan, sebaliknya angkat derajatnya. Jika ada yang bersalah maka taatlah pada sistem dan menahan diri adalah sikap terbaik. Kepada tamu, sejauh apapun perbedaan kita dengannya, tentu saja kita harus memberikan apresiasi dengan mendengarkannya, berdialog dengannya, dan berkolaborasi. Bukankah tujuan kita beraktivitas sama-sama untuk mengangkat harkat dan derajat bangsa Indonesia? *   

Tulisan ini telah lama saya tulis namun baru diposting di website ini. 
Foto ilustrasi: masterpendidikan.com

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...