Friday, December 27, 2019

Beberapa Jawaban Mahasiswa S3 Saat Ditanya Kapan Selesai

Tim Penguji disertasi Sri Alem Br. Sembiring yang diketuai oleh Prof Iwan Gardono Sujatmiko dengan penguji Dr Suryo Wiyono, Dr Mia Siscawati, Dr Prihandoko Sanjatmiko, Dr Dian Sulistiawati Syamsir, Dr Semiarto Aji Purwanto (ko-promotor) dan Prof Yunita Triwardani Winarto (promotor)

Setelah menunaikan ibadah salat jumat di Masjid Kampus UI, saya bertemu seorang kawan yang angkatannya empat tahun sebelum saya. Setelah berbasa-basi, saya bertanya "udah sampai dimana?" Beliau menjawab, "belum sampai dimana-mana" sambil hendak pamitan bertemu kawannya yang lain.

Saya dengar kabar, kawan kita yang tadi sepertinya memang memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan S3-nya karena banyak faktor. Tapi sebagai kawan, saya tetap berharap beliau dapat melanjutkan hingga tuntas.

Tadi di sela-sala menunggu pengumuman kelulusan Dr Sri Alem Br Sembiring, bertempat di Auditorium Komunikasi FISIP UI (27/12/2019), saya ngobrol juga dengan seorang staf akademik di jurusan kami. Dia bercerita, bahwa ada juga mahasiswa yang sudah ujian pra-promosi tapi tidak lulus.

Penasaran, saya bertanya kepada beberapa kawan perihal "apa sebab kawan kita yang senior itu tidak lulus?" Seorang kawan menjawab, "kayaknya memang waktu ujian hasil sudah tidak memuaskan, tapi kemudian tetap dipaksakan untuk lanjut." (Secara pribadi, saya masih berharap beliau bisa lanjut hingga lulus).

Sejenak saya berefleksi dalam diri. Bahwa ternyata, orang kalau sudah masuk di UI belum tentu bisa keluar dari UI dengan "selamat." Masuk UI itu susah, susahnya lagi keluarnya. Begitu kata orang, dan saya mengamini saja.

Sri Alem saat menyampaikan paparannya. Ia sempat sakit beberapa waktu. Tapi tamat 7 tahun dengan predikat Sangat Memuaskan, IPK 3,94

Beberapa tahun lalu saya pernah bertanya kepada seorang yang sedang kuliah di UGM. Kenapa belum selesai? Ia malah marah-marah, dan bertanya balik, "kenapa sih tanya-tanya?" Padahal, niat kita hanya bertanya, ya sekedar untuk mengetahui apa saja kendala yang dihadapi seorang mahasiswa S3, apalagi waktu itu kita juga ingin melanjutkan S3.

Seorang dosen saya di Unhas menamatkan pendidikan S3-nya 7 tahun. Padahal, beliau dikenal salah seorang dosen pinter, bahkan beberapa tulisannya juga dirujuk oleh banyak orang. Rupanya, berapa lama orang tamat kuliah itu tidak bergantung pada pintar atau tidak pintar, tapi karena banyak hal: bisa karena belum dapat novelty atau kebaruan, bisa karena tidak ada waktu (sibuk kerja), bisa juga karena tidak ada waktu bertemu pembimbing, dan banyak lagi.

Awalnya, saya sering melihat orang S3 dengan kacamata, intinya S3 itu 4 tahun bisa kelar. Tapi setelah dilewati tidak juga. Saya sendiri sekarang baru di tahun ketiga, dan sudah setahun ini saya masih berkutat pada ragangan atau outline.

Menurut pembimbing saya, ragangan yang sukses (sekitar 4 halaman saja), itu sudah 50 persen keberhasilan disertasi. Soal menulis itu gampang, katanya. Yang susah ini mencari novelty, kebaruan, yang akan berkontribusi pada bidang studi kita. Intinya sih, apa yang kita teliti itu hasilnya akan berdampak pada ilmu pengetahuan di bidang kita.

Mungkin di situlah bedanya studi S3 dan studi S2 atau S1. Mencari novelty yang harus betul-betul khas, berbeda, dan berkontribusi untuk bidang ilmu kita. Kalau hanya mengutip, itu gampang, tapi bagaimana mempertahankan ide kita yang bersumber dari hasil riset, itulah yang tidak gampang.

Seorang kawan lainnya tadi diminta oleh Mas Irwan Hidayana (Ketua Program Pascasarjana Antropologi UI) untuk semester depan ujian hasil penelitian. Ia hanya tersenyum. Saat makan, saya ngobrol dengannya. Dia bercerita bahwa suaminya dapat tugas kerja di Taipei, dan anak-anaknya ingin sekolah di sana. Mau tak mau ia harus cuti demi anak-anaknya yang ingin sekolah di sana. "Berbahasa Mandarin, sekolahnya, dan itu juga kan nggak gampang," katanya.

Konsekuensinya, kuliah dia agak tertunda. Ditambah lagi dengan info bahwa ia kena sakit autoimun yang memaksanya untuk harus realistis dalam mengerjakan disertai. Tidak bisa terlalu cepat. Ia harus mempertimbangkan betul kapan kerja dan kapan istirahat.

"Jadi, kalau saya bisa tamat S3, alhamdulillah, tapi kalau tidak juga saya sudah bersyukur bisa S2 yang itu nanti jadi inspirasi buat anak-anak saya," ceritanya ke saya.

"Tapi, saya yakin mbak bisa menyelesaikan itu," kata saya menyakinkannya.

Ia merasa senang karena ada yang memberikan sugesti positif baginya. Yah, sesama pejuang S3 kita memang harus saling support.

Oya, sebelum ujian promosi Sri Alem, seorang kawan sempat bertanya ke saya, "kapan ujian promosi?" Saya jawab, "masih berusaha nih." Masih berusaha itu berarti, saya harus membuat ragangan alias outline sebaik mungkin, kemudian menyusun isi disertasi itu, kemudian ujian hasil penelitian. Setelah itu saya harus terbitkan artikel di jurnal internasional, dan ujian tertutup serta terbuka.

Yah, masih lumayan. Saya sendiri menyadari bahwa beasiswa LPDP saya berakhir pertengahan tahun depan. Berarti, saya dapat kesempatan 1 semester lagi dari LPDP. Jika kelak saya harus lanjut dengan biaya sendiri, itu saya harus usahakan sebaik mungkin bagaimana caranya membayar uang kuliah, uang sehari-hari, dan tunjangan yang dari LPDP--yang tidak saya dapatkan lagi.

Artinya, apa yang tidak saya dapatkan lagi dari LPDP harus saya usahakan dari sumber-sumber lainnya. Apalagi anak-anak saya juga sudah bersekolah dengan biaya yang tidak murah. Tapi saya selalu yakin dan percaya bahwa rezeki tiap orang sudah ada dari Allah, dan kita sebagai kepala keluarga tinggal berusaha semaksimal mungkin untuk menjemput rezeki itu sambil berpikir dan berusaha menyelesaikan disertasi.

Ringkasan Disertasi Sri Alem. Judulnya bagus, diambil dari filosofi orang Karo. Judul tersebut diperoleh setelah ujian pra-promosi. 

Soal waktu selesai memang tiap orang beda-beda. Ada yang kuliah 2 tahun, kemudian ujian dan cumlaude seperti Ustad Abdul Somad, di Sudan. Di Indonesia juga ada yang kuliah 2.5 tahun dan doktor. Ada juga yang 3 tahun, 4 tahun, bahkan 7 tahun. Bahkan ada juga yang kuliah S3-nya itu 10 tahun karena harus berhenti kuliah kemudian test UI lagi sebagai mahasiswa baru.

Waktu ikut pelatihan singkat menulis statement of intent bagi yang berminat kuliah di Amerika di Kedubes Amerika yang diadakan oleh EducationUSA, saya teringat ucapan seseorang. Dia bilang begini, "Kuliah di Amerika itu lama, tapi worth it-lah hasilnya." Saya lihat, memang sih yang S3 di Amerika itu pada lama, tapi hasilnya luar biasa. Beberapa orang Indonesia memang ada yang tidak tamat S3 di sana, tapi itu kasuistik. Mereka yang tamat dari sana, memang bagus.

Tapi, saya lihat, S3 itu sebenarnya halte saja dari perjalanan karier intelektual kita. Kita bisa tamat dari mana saja, tapi yang penting dari itu adalah apa kontribusi yang bisa kita berikan untuk ilmu pengetahuan, dan masyarakat. Itu paling utama.

Foto bersama Prof Yunita, Dr Mia Siscawati, dan kawan-kawan Pascasarjana Antropologi UI. Setelah foto ini, saya konsultasi disertasi dengan Prof Yunita bersama Burhan Gala dan Nina

Sebagai antropolog, kita harus meneliti sesuai penelitian antropologi. Tidak mudah, dan butuh kecerdasan tertentu. Penelitian etnografi yang sangat khas dalam antropologi itu juga harus mendalam. Tidak bisa hanya mengandalkan riset pustaka. Harus ada immersion dengan subyek penelitian. Kita harus bisa menggali apa yang ada dari lapangan, kemudian mengaitkannya dalam perdebatan teoritis dalam bidang kita.

Selain itu, kesulitan lainnya bagi seorang mahasiswa S3--setidaknya mulai angkatan saya, 2016--adalah harus publikasi jurnal terindeks Scopus minimal Q3. Soal publikasi ini juga nggak gampang. Biasanya dari kita kirim (submitted) sampai terbit (published) itu minimal satu tahun yang diselingi dengan sekian banyak revisi.

Katanya, kewajiban publikasi Scopus itu tidak wajib published, tapi bisa juga berstatus diterima (accepted) untuk diterbitkan (published). Tapi, itu baru qola wa qila, "katanya." Terlepas dari itu semua, saya pribadi tetap berusaha untuk bisa tamat kuliah dengan baik dan sehat.

Kenapa harus baik? Karena saya dosen, saya harus bisa menghasilkan riset yang baik. Kenapa harus sehat? Karena buat apa saya tamat doktor tapi saya malah sakit-sakitan setelah itu? Dari salah satu sudut di Perpustakaan UI, saya berdoa semoga kawan-kawan yang sedang S3 dimana pun itu dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik, dan khususon buat saya dapat menuntaskan tugas ini dengan baik dan sehat. *

Wednesday, December 25, 2019

In Memoriam: Inayah, Ko Ipul, dan Pak Muhsin

Beberapa waktu ini saya mendengarkan info duka cita dari beberapa orang yang saya kenal. Inayah Mangkulla adalah yunior saya di FLP Sulsel. Waktu saya bentuk FLP Unhas, ia salah seorang yang bergiat di situ. Beberapa tulisannya telah terbit, terutama puisi dan cerpen.

Di Facebook saya menulis:

"Turut berduka atas wafatnya Inayah Mangkulla, salah seorang kawan saya di Makassar. Bisa disebut bahwa Inayah adalah salah seorang perempuan penulis dari kota Makassar. Ia menyenangi puisi dan juga cerpen. Dalam kegiatan FLP Sulsel, Inayah termasuk yg rajin jadi panitia. Waktu FLP Unhas terbentuk, Inayah termasuk yg mula-mula bergiat di situ. Saya berdoa semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah swt, diampuni segala dosa, dan keluarga diberi kesabaran."
Lukisan Harir untuk Inayah beberapa waktu lalu. Saya japri Harir di IG terkait hal itu
Salah satu buku antologi puisi yang ada puisi Inayah Mangkulla

Orang kedua adalah Saiful Syaman, anggota DPRD Halmahera Utara yang juga tetangga saya di Rawajaya, Tobelo.

Di Facebook saya menulis dalam perjalanan Jakarta-Cirebon:

Turut berduka atas wafatnya tetangga kami di Desa Rawajaya, Tobelo, Bpk Syaiful Saman. Rumah keluarganya persis di samping tanah kami di Rawajaya. Waktu kecil hingga dewasa saya kenal pribadinya dari orang lain. Waktu saya nyantri di Darunnajah, ia masih aktif di Brimob Kelapa Dua. Orang Malut kadang datang ke rumah om saya, H. Yos Amini Kotto, di Srengseng Sawah, walau tidak semua saya kenal. Di tanah kami, samping rumah ayahnya Ko Ipul, saya dulu pernah pelihara ayam, ikut gali-gali tanah buat bikin empang (sayangnya ayam kami dimakan soa-soa--sejenis kadal dan ikannya juga nggak menghasilkan). Saya kadang duduk di atas pohon lihat ikan-ikan di bawah (skr agak susah manjat pohon). Saya juga tanam pohon alpukat di situ. Kayaknya udah ditebang. Tanah yg bersebelahan dg kali dan sekolahan tsb skr diteruskan ke adik saya yg baik. Atas nama keluargaku di Depok dan keluarga alm Rasyidin Syukur, kami turut berduka atas wafatnya Ko Ipul (kabarnya wafat di Jakarta saat Munas Hanura). Semoga alm mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah dan keluarga diberi kesabaran.

Syaiful Saman setelah pelantikan sebagai anggota dewan

Orang ketiga adalah Pak Muhsin, seorang tetangga saya di Pesantren Darul Istiqamah, Maros. Saya lihat beliau orang yang sabar, dan bijaksana. Bicaranya tidak kencang, santun. Saya sering bertemunya di masjid. Beberapa tahun terakhir, beliau memang dikabarkan sakit, agak kurusan.

Andi Muhsin Badiu dengan istri
Andi Muhsin Badiu bersama para pelaksana amanah Darul Istiqamah

Kepada tiga kenalan yang telah pergi duluan, saya berdoa semoga Allah swt mengampuni segala dosa, menempatkan di tempat terbaik, dan keluarga diberi kesabaran.

Jadi Pembicara Launching Buku Birokrat Menulis 3



Saya beruntung menjadi salah seorang pembicara dalam bedah buku karya Pak Adrinal Tanjung di Tangerang beberapa waktu yang lalu. Judulnya "Birokrat Menulis 3."

Saya salut dengan produktivitas beliau. Sibuk tapi bisa menulis. Ini sangat bagus untuk dicontoh.

Beliau bercerita bahwa di sela-sela waktunya ia sempatkan untuk menulis. Ketika menunggu pesawat, ia menulis.

Menulis jadi semacam kebutuhan hidupnya. Sekaligus jalan baginya untuk hidup sehat. Selamat buat Pak Adrinal. Ayo yang belum menulis buku, menyusul.

* Foto kolase dari FB Pak Adrinal.

Menghadiri Diskusi Jalur Rempah di Kantor Pusat PDIP

Menerima kenang-kenangan dari Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto

Sudah lama saya ingin berkunjung ke kantor DPP PDIP, tapi tak kunjung terlaksana. Sejak sekolah dulu, saya biasa lewatin kantor PDIP yang di Lenteng Agung. Saya pikir di situlah kantor pusatnya, tapi ternyata itu bukan kantor utama. Yang utamanya adalah di Jalan Diponegoro. Sejenak saya teringat kembali. "Oh ya, dulu kan peristiwa Kudatuli terjadi di Jalan Diponegoro, kantor PDI."

Kedatangan saya ke PDIP dalam rangka mewakili Yayasan Negeri Rempah yang diundang untuk diskusi terkait jalur rempah. Tempatnya di Lantai 5, Kantor DPP PDIP. Acaranya di Senin, 23 Desember 2019.

Secara umum, PDIP mengangkat jalur rempah sebagai salah satu bahasan dalam Mukernas nanti dlm konteks bgmn mewujudkan kejayaan kembali Indonesia lewat jalur rempah.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa ketika Bung Karno merumuskan Pancasila, itu juga berpijak pada hidup-mati sebuah bangsa, dari kebudayaan Indonesia yang tak terlepas dari rempah.

"Mengangkat jalur rempah adalah bagian dari politik gagasan untuk Indonesia sekaligus jalan kebudayaan," kata Hasto.

Di tengah OBOR Cina, Indonesia perlu mengangkat jalur rempah sebagai jalan kemakmuran, sebuah jalan peradaban yang bertumpu pada "apa yang kita punya". Sangat menarik kalimat "apa yang kita punya" itu. Ada semangat berdikari yang kuat bertenaga di situ.

Sela-sela makan siang, saya juga diskusi dengan Pak Djarot Saiful Hidayat yang mengatakan bahwa ia tertarik untuk membahas terkait jalur rempah dengan yayasan. Bahkan, jika ada ide atau konten dari yayasan, dapat didiskusikan, atau dicetak oleh PDIP yang nanti jadi panduan bagi seluruh petugas partai.

Sekjen PDIP juga ingin mendapatkan buku yang ditulis oleh yayasan kami. Dalam waktu dekat, kami akan bawakan 2 eksemplar sekaligus bertemu di kantor bersama beberapa kawan dari Yayasan Negeri Rempah.

Ngopi dulu saat acara baru dimulai

Foto bersama Pak Djarot Saiful Hidayat, Mas Fadly Rahman dari Unpad, dan Mas Cahyadi setelah diskusi

Isu jalur rempah menurut saya cukup bagus untuk diangkat dalam konteks upaya untuk memajukan Indonesia dari jalur kebudayaan.

Oya, setelah acara berakhir, saya juga menerima kenang-kenangan buku dari Sekjen Hasto tentang Ibu Mega dan PDIP. Sebelumnya, saya juga aktif memberikan masukan kepada beliau dan forum. Setelah diskusi, saya juga diwawancarai oleh wartawan Tribun, tanggapan terhadap ide yang diangkat oleh PDIP.

Di forum, sebagai penanggap pertama, saya beri masukan terkait pentingnya jalur rempah diangkat dlm RPJMN, dukungan terhadap usulan jalur rempah kepada UNESCO sebagai world heritage, pentingnya mengangkat komoditas rempah sekaligus kebudayaan manusia Indonesia, inspirasi kepada rumah ibadah agar membuat tanaman obat keluarga atau tanaman yang disebutkan dalam kitab suci (inspirasinya waktu saya berkunjung salah satu rumah ibadah di Pittsburgh), dan pentingnya membuat pusat-pusat kajian rempah selain Sriwijaya Center yang cukup penting sebagai salah satu basis dari kejayaan masa lalu Indonesia.

*Terima kasih kepada PDIP yang telah mengundang Yayasan Negeri Rempah, dan terima kasih kepada Mas Bram dan Mbak Ratih yang telah mengirimkan saya dan Pinpin Cahyadi sebagai peserta mewakili yayasan.

Sunday, December 15, 2019

Yang Mulus dan Bikin Kangen dari Saumlaki


Laut Pulau Matakus, sekitar 1 jam dari kota Saumlaki

Saumlaki adalah sebuah pulau yang jauh. Ya, begitulah bayangan saya. Walaupun saya juga berasal dari negeri yang jauh, di utara Pulau Halmahera, tapi saya merasa Saumlaki ini lebih jauh. Bukan apa-apa, lokasinya itu kayak terpencil dari Indonesia.

Tapi, saya beruntung bisa datang ke Saumlaki, sebuah negeri yang awalnya jauh tapi setelah didatangi rupanya dekat-dekat saja. Di kota itu saya menghabiskan waktu sekitar 4 hari untuk sebuah tugas kantor. Menginap di sebuah hotel di atas laut, mengingatkan saya akan kampung halaman.

Rumah saya, di tahun 1980-an itu berada di atas laut. Seiring dengan "pendaratan" (maksudnya, penimbunan laut jadi daratan), rumah saya jadi sebagian saya yang di laut. Kini, bahkan sudah darat semua karena sudah tertimbun menjadi darat. Mereka yang mau ke Pulau Morotai lewat speed boat, pasti lewatin rumah saya. Ada Guest House juga, lho!

Perjalanan 

Dari Jakarta perjalanan kita tempuh ke Ambon. Tiba pagi. Tidak langsung ke Saumlaki, tapi harus transit dulu sekitar 7 jam. Saya manfaatkan untuk bertemu beberapa kawan. Ya, apalagi kalau bukan sharing dan diskusi. Saya memang senang dua hal itu, sambil foto-foto di tempat yang indah-indah atau bersejarah.

Di sana, saya berbagi tentang menulis. Itu materi paling klasik dan kontinyu dalam karier saya selama 20 tahun terakhir. Saya senang sekali jika bisa berbagi ide kepada teman-teman dalam menulis. Kenapa menulis? Karena dengan menulis mereka akan bisa mendapatkan banyak hal.

Sebagai contoh saya sendiri. Saya bisa dapat program ke Australia itu salah satunya dari menulis. Aplikasi saya penuh dengan karya tulis, walaupun tidak semua di koran atau media terkenal. Banyak tulisan saya yang dimuat di Radar Halmahera, media yang tidak dibaca orang Jakarta. Tapi, saya konsisten menulis di situ untuk pembaca di kampung saya.

Jadi, bagi yang mau menulis sebaiknya jangan mikir ribet harus di media terkenal. Tulis di media apa saja yang mau muat. Tidak dapat honor tidak apa. Jadikan itu sebagai stepping stone alias batu loncatan untuk melangkah ke depan. Nah saya sendiri banyak dapat hikmah dari situ. Setidaknya ketika saya bisa ke Australia dan Amerika, itu tidak lepas dari menulis.

Setelah sharing, saya berangkat ke Saumlaki siangnya. Perjalanan sekitar 1.5jam. Tiba di sana, dijemput oleh Pak Pius, seorang kawan baik yang mengelola pembelajaran untuk komunitas adat. Selama beberapa hari itu, saya mendapatkan banyak informasi tentang perkembangan pendidikan di sana. Juga, budaya Tanimbar.
Teripang yang sedang dijemur untuk dikirim ke Surabaya dan luar negeri. Sekilo harganya bisa 2.5juta, bahkan lebih. Di luar negeri (kayak Taiwan, Korea, dll) teripang itu makanan khas yang bikin sehat

Kota Pantai Saumlaki dari kamar hotel yang saya tempati


Penjual ikan di Pantai Saumlaki, dekat Pelabuhan Saumlaki

Matakus


Dari Saumlaki saya ke Pulau Matakus, naik perahu tanpa semang-semang (tidak ada kiri dan kanannya). Satu tim kita ke sana. Di sana, kami diterima secara adat. Senang bisa diterima di sana. Di sana kami pun beri sambutan dan wawancara dengan beberapa tutor dan siswa. Intinya soal pendidikan keaksaraan di kawasan tersebut.

Desa Matakus terletak di Pulau Matakus. Pantainya indah. Pasirnya itu lembut. Selain Kuta Bali, saya kira Pantai Matakuslah yang terbaik pantainya. Enak buat duduk-duduk. Jika bisa dikelola, pantai ini bisa jadi terkenal banget.
Bersama seorang anak di Pantai Desa Matakus

Plang Desa Matakus


Saya juga menikmati makan kepala ikan segar. Ini paling saya suka. Maklum, saya orang lain dan senang dengan yang laut-laut. Beberapa kepala saya makan, sungguh lezat. Karena cintanya saya pada kepala ikan sampai semalam menjelang balik ke Jakarta, Pak Pius menghidangkan saya kepala ikan yang lebih besar. Luar biasa. Terima kasih Pak Pius.

Di Saumlaki saya dan Intan, wartawan muda, hadir dalam kegiatan keaksaraan. Tulisan Intan nantinya akan dipublikasi di medianya, juga akan dimuat dalam buku yang akan diterbitkan. Buku itu nanti akan saya edit juga sebelum cetaknya, agar sinkron dengan tulisan-tulisan lainnya.

Menanti tenggelamnya matahari yang indah di Saumlaki
Kadang, di Depok ini saya jadi teringat dengan Saumlaki. Saat sore menjelang, saya duduk di luar kamar hotel sambil memandang ke laut. Matahari sudah mau turun, tapi saya masih duduk dan sedikit merenung. Mulai dari disertasiku yang belum kelar, hingga berbagai capaian hidup yang belum juga terlihat.

Tapi, sore di pantai Saumlaki mengajarkan saya untuk bersabar. Ya, bersabar seperti bersabarnya matahari yang harus turun di ufuk barat agar di malam nanti terlihatlah bulan. Bersabar adalah kunci, itu yang saya dapat sore itu. Tanpa kesabaran, semua akan sia-sia. Sehebat-hebatnya manusia jika sabar dia tak punya, dia akan jadi sembrono, dan kelak akan menyesal.

Mungkin, kesabaran seperti matahari ini perlu ada dalam tiap kita. Betapa dalam hari-hari yang kita jalani, kita sering diperhadapkan pada kecepatan. Cepat, cepat, dan cepat. Kita pun jadi kayak robot. Padahal, apa susahnya sih sedikit lebih santai, dan menikmati proses hidup ini? Bukankah cepat atau lambat juga sore akan tetap berakhir, malam akan tiba, dan pagi akan menjelang? Semua sudah begitu hukum alamnya.

Namun yang pasti, kesabaran haruslah menjadi perisai diri kita masing-masing. Siapa yang ingin dirinya kuat dan tahan lama--dalam semua geliat kehidupan--maka dia harus mampu bersabar, walaupun kadang ketergesaan sering menggoda dia untuk menjadi pilihannya dalam menjalani hidup. Bersabarlah, kawan. Yakinlah bahwa matahari akan tenggelam juga di sore hari, malam akan tiba, dan pagi akan datang.

Penumpang kapal di malam hari. Nggak keliatan, tapi ada kan ya?

Malam-malam Menerjang Laut


Setelah program kelar di Matakus, kami balik ke Saumlaki. Hari sudah magrib. Satu jam di laut yang gelap. Seorang nahkoda bercerita dengan seorang kawan kami. Dia bilang bahwa dia sebagai nahkoda perahu itu sudah biasa di laut tapi kalau ada penumpang yang takut-takut apalagi teriak-teriak kalau di laut, dia mau tak mau juga terpengaruh.

Oh, berarti seorang nahkoda itu terpengaruh juga oleh kondisi penumpangnya. Jika dibawa ke kehidupan nyata, itu berarti bahwa seorang pemimpin--seberani apapun dia--tetapi dia juga manusia biasa yang sedikit banyak akan terpengaruh dari anak buahnya. Jika anak buahnya pemberani, dia akan makin berani, tapi sebaliknya jika anak buahnya penakut, dia juga bisa-bisa jadi penakut.

Sebagai penumpang, kita percaya dengan nahkoda kapal. Pelampung tidak ada. Tapi, harapan dan kepercayaan kami ada. Memang berat di laut yang jauh dari ibukota. Apa-apa yang ideal kadang tidak ada di sini. Kehidupan di pulau yang jauh dari ibukota ini lebih berdasar pada intuisi. Jika nahkoda perahu--enaknya sih nyebutnya nahkoda kapal ya--yakin bahwa laut tidak ada masalah, dia akan jalan. Jika feeling dia kurang sedap, maka dia akan urung.

Dalam hidup juga begitu. Kita semua adalah nahkoda bagi "kapal" diri kita masing-masing. Maka, janganlah menakut-nakuti diri dengan hal-hal yang sepele. Sebaliknya kuat-kuatkanlah diri menghadapi berbagai tantangan hidup. Semakin yakin, semakin kuatlah kita. Begitu kira-kira, pesan yang bisa kita ambil dari laut Saumlaki. *

Toleransi dan Koeksistensi di Dunia Digital: Catatan Super Ringan dari Bangkok

Salah satu sesi yang dibawakan utusan Indonesia, Desi Hanara

Sejak kecil nama "Bangkok" hanya saya kenal lewat ayam peliharaan saya. Ayam itu sangat pintar, kadang dia bangunkan saya di waktu subuh dengan mendekat ke pintu rumah. Ayamnya juga kuat. Cuma sayangnya dia dicuri orang setelah saya pindah ke Jakarta melanjutkan sekolah menengah pertama.

Perjalanan ke Bangkok kali ini merupakan yang kedua. Pertama kalinya dua tahun lalu. Sama-sama diundang oleh World Learning, sebuah lembaga berbasis di Washington, D.C. yang mengelola program dari U.S. Department of State alias Kementerian Luar Negeri.

Jika tahun 2017 saya hadir dalam kegiatan "Asia Pacific Think Tank Forum", kali ini di 2019 saya hadir dalam kegiatan "Tolerance & Coexistence 2.0". Kegiatannya hampir sama dengan dua tahun lalu; ada seminar besar, kemudian seminar kecil alias workshop, dan penutupannya di atas kapal yang menyusuri sungai Cao Praya selama sekitar dua jam.

Utusan Indonesia

Dalam catatan saya, orang Indonesia yang hadir dalam kegiatan ini ada 12 orang, yaitu: Yanuardi Syukur, Amal Hasan, Wiwin Siti Aminah, Nur Kafid, Fransiska Widyawati, Anita Wahid, Zainal Anwar, Desi Hanara, Ikfina Maufuriyah, Dicky Sofjan, Anna Christi Suwandi, dan Atina Rosydiana. Secara umum, pesertanya dari tiga kalangan, yaitu alumni Professional Fellows on Demand, pembicara seminar, dan peserta. Yang menjadi pembicara dari Indonesia adalah Desi Hanara dan Anita Wahid.

Bertemu sesama Indonesia di negeri orang memang sesuatu. Kita bisa bercerita tentang banyak hal, mulai dari tema acara ini, kesan tentang negara tersebut, hingga berbagai hal terkait Indonesia. Dalam beberapa kesempatan, saya banyak bercerita dengan Dicky Sofjan, seorang associate professor di UGM. Misalnya, dalam perjalanan--yang macet itu--dari hotel ke sungai Cao Praya, kami bercerita tentang dunia akademik Indonesia, problem kalangan intelektual publik yang kesulitan beradaptasi dengan dunia akademik, serta berbagai topik keislaman dan keindonesiaan.

Salah satu masalah intelektual publik di dunia akademik adalah dalam menulis paper akademik. Mereka yang sudah dikenal sebagai "tokoh publik", adakalanya menulis begitu saja, mengalir, dan tidak begitu ketat dalam urusan referensi. Problemnya datang ketika mereka melanjutkan pendidikan tinggi, dan kebiasaan menulis populer itu terbawa-bawa. Akhirnya, hasil tulisannya pun ditemukan plagiarisme yang di atas batas kompromi. Mungkin tidak plagiat secara langsung, akan tetapi jika tidak ditulis referensi dari bacaan yang ada, bisa jadi akan terkena delik sebagai plagiat.

Itu hanya satu bagian dari obrolan saya dengan beliau. Kami juga bercerita tentang kampus Islam Internasional yang sementara dibangun. Belum banyak orang yang mau pindah ke situ karena belum jelasnya statusnya. Para dosen yang diajak ke situ masih berpikir, apakah kampus tersebut akan berlanjut terus--misalnya jika mereka harus melepas kampus namanya--ataukah tidak. Ketidakpastian itu membuat beberapa dosen yang diajak menjadi dosen tetap di kampus internasional tersebut masih maju mundur. Tapi prinsipnya kita setuju dengan adanya kampus tersebut.

"Core of the Core"


Bagi kita yang hidup dunia akademik, seminar sudah biasa. Tapi kadang saking sudah biasanya banyak yang tidak mencatat poin penting dari seminar tersebut dengan alasan mungkin karena sudah tahu, sudah paham, atau memang lagi malas aja mencatat. Karena toh bisa direkam juga. Karena toh bisa dilihat juga jika ada yang live. Tapi kegiatan kemarin tidak live, maka tidak banyak yang dapat dirujuk di media sosial, misalnya.

Saya pribadi membiasakan diri untuk mencatat, karena saya sadar ingatan saya tidak begitu kuat. Saya sering lupa nama orang, bahkan kadang juga lupa wajah orang. Parah banget. Pernah saya ketemu seorang keluarga besar saya, dan saya lupa apakah beliau yang saya maksud atau bukan. Ternyata, beliau masih ingat saya. Padahal usianya sudah 70-an.

Jadi, berkaca pada hal itu, maka saya mencatat. Ada banyak yang saya catat, tapi tidak semuanya bisa saya catat. Saya mencatat beberapa poin penting dari Robert Post, Pornpen (kawan saya sesama alumni U.S.), Mohamed Elsanousi, Michael Bak, Jonah Blank, dan sebagainya. Poin dari Post misalnya membahas tentang pentingnya "embracing diversity" sebagai sarat penting dalam kehidupan koeksistensi di media internet--dan dunia nyata juga sih. Juga, "mutual understanding" sangat penting, karena kalau tidak ada saling paham maka yang ada adalah saling tidak paham. 

Dari kawan saya, Pornpen, saya ingat dia bahas tentang "limitation of freedom" atau pembatasan kebebasan di beberapa negara. Tidak semua negara bisa bebas-bebas orang bicara, apalagi dalam isu religious freedom. Ada yang harus sembunyi-sembunyi karena sensitif. Dia juga membahas tentang "opennes in education system in Southeast Asia", yaitu pentingnya keterbukaan dalam sistem pendidikan di Asia Tenggara. Nah, ini juga tidak semuanya sama karena masing-masing negara punya hal-hal yang terbuka dan hal-hal yang tertutup. Tapi, dalam hal toleransi, pendidikan haruslah menanamkan toleransi sejak dini.

Salah satu materi dari kawan saya, Napan tentang pentingnya lovespeech ketimbang hatespeech

Materi lainnya dibawakan oleh Mohamed Elsanousi dari Amerika. Sambil dengarkan materinya, saya japrian dengan Imam Shamsi Ali. Ternyata, Elsanousi adalah adik kelas Imam Shamsi di Pakistan yang kini aktif dalam berbagai acara interfaith di Amerika. Elsanousi berbicara tentang anti-semitisme yang meningkat di beberapa negara (saya sempat hadir dalam panel tentang ini di U.S. Department of State), penyerangan terhadap Islam dan Kristen yang juga menimpa beberapa negara. Singkatnya, penyerangan kepada umat beragama itu terjadi di mana-mana, tak pilih-pilih agama. 

Elsanousi kemudian memberi solusi pentingnya respek kepada sesama dan promosi pluralisme, membangun kurikulum yang mengampresiasi pluralisme, membuat space dimana manusia dapat saling berinteraksi, melakukan dialog antarkeyakinan, menciptakan kultur perdamaian dan dialog, dan pentingnya deklarasi antar tokoh agama untuk perdamaian.

Pemateri lainnya, Jonah Blank dari RAND, termasuk yang saya sukai. Paparannya menarik minat saya. Blank bercerita tentang white supremacy di berbagai negara seperti di Amerika dan New Zealand, dan peran jurnalis yang sangat penting dalam menciptakan berita. Jika jurnalis salah buat berita, cepat sekali pengaruh buruk melanda netizen. Itulah kenapa kata dia, penting bagi jurnalis untuk menampilkan good news ketimbang bad news. 

Saat ini problemnya banyak orang menjadi media sosial sebagai referensi. Padahal, kata dia, medsos itu bukanlah referensi, bahkan bukan sumber berita. Sumber berita harusnya dari orangnya langsung. Banyak sekali berita yang simpang siur dari media sosial yang kemudian menjadi bahan berita. Akhirnya kita disuguhi hal-hal yang tidak pasti, bahkan banyak berita bohong yang tersebar bersumber dari medsos. Untuk itu, maka jurnalis harus betul-betul verifikasi sumbernya agar tidak menyebarkan berita yang negatif. 

Desi Hanara dari Indonesia bercerita soal peran parlemen dalam isu freedom of religion or belief. Ia banyak cerita bagaimana parlemen ASEAN yang sangat aktif untuk itu. Bahkan, pihaknya juga menyediakan beberapa bahan yang diperlukan oleh anggota dewan dalam isu terkait. Dalam isu ini, Desi sudah sangat berpengalaman terbang dan berbicara kemana-mana. 

Anita Wahid, salah seorang putri Gusdur, juga bercerita tentang perkembangan politik Indonesia khususnya pasca kasus Al-Maidah 51 yang diucapkan Ahok. Kata Anita, imbas dari kejadian tersebut adalah terbelahnya masyarakat pada "us" versus "them", kita versus mereka, atau yang kadang disebut sebagai "pro government" versus "pro opposition." Solusi untuk itu, salah satunya kata Anita dengan membuat pendidikan publik lewat berbagai cara seperti yang telah ia lakukan di beberapa tempat di Indonesia. 

Selain itu, ada banyak lagi peserta lain yang berbicara yang masih luput untuk dicatat. Tapi, semua pembicara umumnya bersepakat bahwa isu toleransi dan koeksistensi atau hidup bersama itu sangatlah penting saat ini di media sosial. Medsos kita banyak yang gaduh karena berbeda ini dan itu, padahal jika kita lebih tenang, banyak hal dapat terselesaikan agar keakraban sebagai warga negara dapat hadir di semua sisi.

Saya di depan Dosa King

"Dosa King"

Salah satu yang menarik selama di Bangkok adalah saya dan kolega saya dari Maros, Amal Hasan, mencari makan di hari pertama. Kami jalan kaki dan cari-cari tempat makan yang halal. Bukan apa-apa, kami ingin dapat kepastian saja soal makanan, karena biar gimana pun, yang namanya makanan halal itu akan berpengaruh pada diri kita juga.

Kami pun dapat makanan halal itu. Setidaknya ada tulisan HALAL berbahasa Arab di situ. Kami makan nasi basmati dengan ayam. Rasanya enak. Di depannya itu ada restoran "Dosa King" yang kalau diterjemahkan itu artinya raja dosa. Saya sempat berfoto di situ. Belum sempat masuk. Mungkin suatu saat bisa mampir juga menikmati makanan Punjab versi vegetarian tersebut.

Satu lagi yang mungkin orang akan bertanya terkait Bangkok adalah soal lady boy atau "laki-laki cantik." Tahun 2017 saya sempat berfoto dengan lady boy itu saat mereka selesai tampil di atas kapal, tapi kemarin tidak ada saya lihat. Ada sih yang tampil tapi saya kurang tahu apakah mereka betul-betul perempuan atau laki-laki. Karena sudah kemaleman juga, dan sudah kali kedua naik di kapal itu, saya jadi rasa biasa saja.

Tapi di malam itu, perjalanan ke restoran itu saya lihat banyak orang cantik di pinggir jalan. Mungkin sedang menunggu temannya untuk menikmati malam, atau bisa jadi sedang melepas lelah dengan berdiri di depan hotel. Tak jauh dari keramaian itu ada beberapa penjual obat kuat merek Levitra, Sidegra, Viagra, Cialis, dan Vimax. Entah ada korelasi antara fenomena itu atau tidak, saya kurang tahu juga. Yang jelas, Bangkok termasuk kota yang bercahaya, dan banyak jadi destinasi para pelancong.

Oya, waktu di Ternate, saya pernah ketemu seorang lelaki di mal. Ia bercerita, katanya ia sedang menabung sampai 300 juta agar bisa pergi ke Bangkok. "Buat apa emang?" tanya saya. "Gini, saya itu ingin operasi," jawab dia sambil menunjukkan bagian tubuh yang ingin dia permak abis. Saya hanya bisa merenung kenapa laki-laki itu bisa berpikir ingin mengubah dirinya menjadi wanita. Bisa jadi, karena sebuah alasan yang pernah saya dengar beberapa tahun lalu, "...saya itu sebenarnya perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki." *

PS. Terima kasih full buat World Learning team di Washington, D.C. yang luar biasa, para staf Kedubes Amerika Serikat di Jakarta, teman-teman alumni Professional Fellows dan alumni Bangkok 2019.

Tuesday, August 13, 2019

The Lessons from Domestic Terrorism in El Paso


The horrific shooting at the Walmart store in the city of El Paso, Texas, on Saturday 3 August 2019, at around 10:00 am local time, killed 22 people and at least 26 injured. The shooting was referred to as "the deadliest mass shooting in the United States during 2019" which was carried out about 13 hours before another mass shooting in Dayton, Ohio, which killed 10 people and injured 19 people.

Local authorities mention that the shooting in El Paso by Patrick Crusius (21 years old) as a crime of hatred and local (domestic) terrorism, while the shooting committed by Connor Betts (24 years old) is referred to as a shooting committed by someone with an extreme political outlook and have psychiatric problems.

There is no place for hatred

The two men, generally referred to by President Trump as mentally ill and inspired by hatred which according to Trump, "hatred has no place in this country." This is a very strong criticism that the fight against hate speech must be an important concern including in cyberspace, a place where hate speech thrives and can have an impact on one's psychology for behaving badly towards others.

One thing that has become a trend, especially among extreme nationalists, is to make a manifesto, a written document that contains the views, logic, beliefs, and why the perpetrators of terror act. At least, in the past decade, there have been several manifestos released by terrorists before they act, namely, manifestos written by Patrick Crusius (El Paso shooting, Texas, 2019; 4 pages), Brenton Tarrant (Christchurch shooting, New Zealand, 2019 ; 74 pages), and Anders Behring Breivik (Utoya Island shooting, Norway, 2011; 1518 pages).

The three perpetrators of hate speech and terrorism are related to one another, inspiring one another, even though they don't know each other. Crusius, for example, acknowledged that he supported the shooting in New Zealand, in the opening sentence of the manifesto, The Inconvenient Truth: "In general, I support the Christchurch shooter and his manifesto." Even so with Tarrant who was inspired by Breivik, and Breivik was influenced by erroneous views, one of which is the spread of Islam which he called "Islamic colonization" and "Islamization of Western Europe."

These three manifestos, if read carefully, actually stem from fears of others, in this case immigrants (migrants) who can replace the presence of local residents, namely white citizens. The concern was then fueled by various facts of crime against white people (as written by Brenton Tarrant), or the possibility of migrants to invade and replace culture, at least making local residents unemployed (as Crusius wrote in his manifesto).

Hatred of foreigners or xenophobia does not seem to be underestimated. Moreover, coupled with the ease of getting assault rifles that can kill so many people in a fast time. They, the white supremacists who commit terror seem to tend to make actions in places that look safe like New Zealand, the world's second safest country after Iceland, and even so with El Paso, which rarely heard any meaningful terror. El Paso's election by the perpetrators was more because there the majority of its citizens were migrants from Mexico, while the New Zealand election was because there were many Muslim migrants and what he did on Friday would have a broad impact.

Mental Illness Calling Each Other

From this we can also learn that the utterance of hatred, however small, is dangerous. People who are mentally ill will "call each other" to do the same. Problem mental illness, we learn more from the perpetrators of the shooting in Dayton, Ohio. The 24-year-old man has shown psychiatric problems in various posts on the internet, including a description of him on his Twitter account @iamthespookster: "I'm going to hell and I'm not coming back."

In addition, Connor Betts also shows as someone who is amazed at tragedy, tends to violence and thoughts of suicide (he has put a gun in his mouth twice), which can generally be called a "troubled young man obsessed with dark thoughts. " Indeed, he was not (or has not been) indicated as a perpetrator of racial violence (like Crusius), but he did so due to psychiatric problems.

Betts' former girlfriend, Adelia Johnson, in a 7-page statement about his relationship with the man, who was sent to the Dayton Daily News, said that they met for the first time in January 2019 when they were both taking Social Psychology courses at Sinclair College. They both know that they have psychiatric problems.

Once, Betts showed a video of the shooting of the Tree of Life congregation in the Pittsburgh Synagogue that left 11 people dead and 6 injured. When showing the video in March 2019, Betts explained it in detail, play-by-play. Johnson felt strange about the incident. However, he thought positively that as fellow students taking Social Psychology courses, they were used to talking about serial killings. Here, it is seen that Johnson - although he also has psychiatric problems - seeks to understand the man he likes.

An important question may be asked: Will a person who has a mental illness look for a close friend of his, who also has a psychiatric problem? When referring to the relationship between Betts and Johnson, it means that mentally ill people will look for friends who are mentally ill too. In the case of Brenton Tarrant, we haven't seen that he has a close friend who is mentally ill, but the bright fact is that he is so comfortable playing online games that are violent. Maybe, online friends that's what makes him comfortable to do what he thinks is right.

The Need for Online Consciousness

There is a tendency for people to see that problems in cyberspace are merely in cyberspace, and there is no correlation with the real world. In the early days we were close to the internet, that was true. But lately it is very difficult for us to separate between online and offline. So, if we have a friend who is indicated to be mentally ill who leads to the possibility of acts of violence, it is better to be reported to the authorities, to his family, or to those closest to him.

Online awareness really needs to be viral so that together we care about the safety and comfort of our lives in cyberspace. Mutual care means that we take care of each other's social life in cyberspace so that undesirable things don't happen. For terrorists based on anti-immigrants, xenophobia, or who are afraid of conspiracy theories that white people will continue to be eroded, they generally play on websites that provide image boards that may be mutually unknown to each other.

To sum up, if there are our friends on social media who tend to hate speech, or tend to intend to commit acts of violence, it's good we are both approached so as not to do that. Or, at least ask his close friends, or family (if anyone is known) to pay more attention to him with the aim of anticipating the possibility of the transfer of hate speech and the intentions of violence from cyberspace to the real world. *

YANUARDI SYUKUR, Assistant Professor at Department of Anthropology, Universitas Khairun, Ternate; 2019 United States of America Professional Fellows Alumni, and also Indonesian expert on terrorism in several media such as TVOne, CNN, Trans7, and I-News.

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...