Monday, June 24, 2019

Berguru pada Professor Vedi Hadiz


Foto bersama Professor Vedi Hadiz, beberapa dosen FISIP UI, dan kolega peserta pelatihan di gedung MBRC FISIP UI

Diskusi terkait perkembangan ilmu sosial di Indonesia selalu tak melewatkan seorang Vedi Hadiz. Namanya berkibar di berbagai jurnal, buku, dan disitasi oleh sekian banyak orang. Kendati lulus PhD dari Murdock University, kampus urutan 591 dunia, beliau mampu menunjukkan bahwa yang namanya kualitas itu bisa lahir dari lulusan kampus yang rankingnya tidak di urutan atas. Kini, beliau mengajar di Melbourne University yang sebelumnya di Monash University, dua kampus yang sama-sama berada di kota sibuk Melbourne.

Seorang lulusan PhD ANU misalnya, yang masuk dalam 24 ranking dunia (2019), sejatinya adalah berada dalam iklim kampus terbaik yang idealnya adalah menjadi terbaik pula dalam bidang yang ia geluti. Akan tetapi, jika setamat PhD ia tidak produktif dalam riset dan publikasi, maka tetap akan tertinggal dengan lulusan kampus lainnya yang mungkin tidak begitu terkenal. Pun demikian dengan lulusan kampus terbaik di dunia, sebutlah dari Harvard, Oxford, Cambridge, dan lain sebagainya. Kesarjanaan seseorang, kira-kira konklusinya, sangat bergantung pada sejauh mana seseorang itu secara kontinyu melakukan berbagai riset dan temuan-temuan yang berguna perkembangan ilmu secara teoritis dan/atau perkembangan masyarakat dunia secara praktis.

Pada titik ini, alam seakan bercerita kepada kita bahwa takdir berada di kampus terbaik dunia itu satu hal, tapi menjadi pribadi yang produktif dengan karya-karya yang bagus itu hal lainnya. Jika di bawa ke ranah Indonesia, hal itu bisa diterjemahkan sebagai: orang bisa saja menjadi lulusan terbaik dari UI atau UGM, akan tetapi jika berhenti penelitian dan publikasi, maka dia akan tertinggal dengan lulusan lain dari kampus yang secara level kampus di bawah kampusnya.

Dalam proses belajar menulis jurnal, saya beruntung sekali dipilih oleh MBRC FISIP untuk menjadi peserta sebuah pelatihan menulis jurnal internasional bersama Professor Hadiz pada 23 April 2019. Menjadi 1 dari 10 peserta kloter pertama Writing Clinic adalah sebuah kemewahan. Bayangkan, dari sekian banyak mahasiswa doktor, kita yang dipilih. Besar kemungkinan karena sebelumnya, saya memang mengikuti pelatihan jurnal di MBRC sekaligus juga sebagai mahasiswa S3 yang mendapatkan hibah PITTA UI yang dibimbing oleh dosen kami, Professor Achmad Fedyani Saifuddin (alm). Salah satu tujuan dari hibah PITTA adalah agar mahasiswa dapat menulis dan menerbitkan artikelnya di jurnal internasional bereputasi dan terindeks scopus.

Banner selamat datang MBRC
Professor Vedi Hadiz membaca 9 draft artikel jurnal internasional, punya saya salah satunya.

Dr Ida Ruwaida mewakili Kepala MBRC memberikan souvenir kepada Professor Vedi Hadiz

Sebagai pemula jurnal saya mengikuti materi dengan serius; duduk di depan dan mencatat poin-poin penting
Add caption

Berfoto dengan Professor Vedi Hadiz, mengamalkan nasihat Imam Syafi'i, "wa shuhbatu ustadzin."

Dalam paparannya, Professor Vedi menjelaskan soal kenapa kita harus menulis jurnal, tips ringan, dan masukan kepada 10 paper yg pernah dipresentasikan di APRISH di Jakarta dan ICPSI di Bali. Paparannya ringan-ringan saja, akan tetapi dalam dan berat. Kita diminta berpikir, buat apa kita menulis jurnal. Kemudian, apa saja yang harus kita persiapkan dalam menulis dan menerbitkan jurnal tersebut.

Untuk bisa menulis jurnal yang baik, kita harus pelajari jurnal-jurnal yang telah terbit di jurnal yang hendak kita tuju. Pelajari apa saja tulisan yang pernah ada, dan sebaiknya juga kita mengutip hasil riset yang pernah diterbitkan oleh jurnal tersebut. Artinya, jika kita mengutip dari jurnal tersebut itu berarti bahwa kita mengikuti perkembangan pemikiran yang ada di jurnal itu, dan itu menjadi nilai tambah tulisan kita di mata editor dan juga mitra bestari (reviewer).

Professor Hadiz meminta kita agar menulis sesuatu yang unik yang tidak ada dalam tulisan lainnya. Apa yang disebut sebagai novelty atau kebaruan sangat penting di sini. Untuk mendapatkan kebaruan, kita perlu memiliki pengetahuan komparatif atau comparative knowledge yang semacam sintesis dari sekian banyak hasil riset dalam tema sejenis.

Misalnya, kita mau menulis soal aktivisme Islam. Maka kita harus pelajari semua jurnal yang pernah menulis soal aktivisme Islam baik itu tema yang mereka tulis, metodologi, temuan, dan yang cukup penting adalah apa gap yang ada dalam tulisan-tulisan tersebut. Maksudnya, carilah apa yang tidak mereka tulis dikaitkan dengan konteks hari ini. Untuk itu kita harus tahu dan berani mengeritik tulisan-tulisan yang ada sebelumnya. Kelebihan dan kekurangan mereka baik secara metodologis, temuan, dan apapun itu, harus kita temukan.

Tidak mudah memang, karena ini adalah pekerjaan scholar yang umumnya ya pekerjaannya anak-anak PhD. Frustasi bisa saja terjadi kepada mereka yang stress, karena tidak menemukan apa novelty dari risetnya. Tapi, dengan diskusi bersama berbagai kolega, lambat laun kita akan menemukan novelty yang merupakan perkembangan dari hasil kajian-kajian sebelumnya lewat state of the art atau "pernyataan tentang perkembangan terkini dalam kajian tersebut."

Tentu saja sebagai "alumni" pelatihan singkat ini saya tidak lantas mengklaim bahwa saya sudah menyerap semua ilmu dari beliau. Akan tetapi, saya menangkap semangat dari materi beliau, yaitu semangat agar kita serius menjadi scholar.

Pelatihan menulis jurnal seperti ini sangat penting bagi mereka yg bergelut di dunia akademik, tak terkecuali bagi mahasiswa pascasarjana, dan tak menutupkemungkinan mahasiswa sarjana. Salah satu poin penting yang disampaikan Professor Hadiz adalah, menulis jurnal internasional itu berarti kita menulis sesuatu yg unik, menarik, dan berguna bagi kolega akademik (bukan publik) dalam keilmuan yg sama di luar negeri.*
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kepala MBRC FISIP UI Dr Evi Fitriani, Dr Ida Ruwaida, dan Dr Suraya Afiff atas arahan-arahannya bagi kami dalam pembelajaran yang sangat baik ini. Juga, apresiasi full buat Mas Wahyudi Akmaliyah, seorang penulis dan peneliti produktif dari LIPI yang tak jemu-jemu sharing kepada saya soal penulisan jurnal. 

Perjuangan Menemukan Kebahagiaan

Ilustrasi kebahagiaan dan kebebasan. Source: timsr.ca

Sebelum menulis esai ini saya melihat sebuah artikel Foreign Affairs (6/5) berjudul "The Battle for India's Soul", perjuangan untuk jiwa India yang juga sedang bergejolak pasca sekularisme.
Saya agak ngantuk, sebenarnya. Untuk baca tulisan itu secara utuh, harus pula subscribe dengan bayar sekian dollar, sesuatu yang nggak biasa dilakukan bagi seorang yang tak punya kartu kredit.
Seperti juga tulisan lainnya dari Foreign Affairs, saya hanya baca judulnya, kecuali jika ada yang gratisan yang tulisannya agak full. Kadang saya baca detail demi detail untuk menangkap apa sih maunya si penulis.
Membaca Foreign Affairs, saya kadang teringat dengan salah seorang dosen saya--yang sudah almarhum--yang dulunya tinggal di Pasar Minggu. Lelaki lulusan PhD dari Inggris itu orangnya baik, bersemangat, dan senang sekali berbagi.
Dalam salah satu perkuliahan, beliau menganjurkan agar kita membaca majalah Foreign Affairs, berikut dengan the Economist yang waktu itu saya dapat gratisan di lantai 1 gedung Pascasarjana UI Salemba, serta harus baca buku "War Without End: The Rise of Islamist Terrorism and Global Response" (2002), sebuah buku bagus karya jurnalis asal India yang berusia 119 tahun, Dilip Hiro.
Barusan, saya lihat di Google, Dilip Hiro menulis banyak sekali buku, seperti soal perang dingin dalam dunia Islam, konflik militer Iran-Irak, kamus Timur Tengah, Dunia Apocaliptik jihadis di Asia Selatan, Darah Bumi, dan lain sebagainya. Secara umum, buku dia membahas soal yang panas-panas dalam relasi antar negara, komunitas, dan juga peradaban.
Pada esai ini saya sebenarnya tidak ingin membahas itu. Saya ingin menulis hal yang lain, yaitu soal menemukan kebahagiaan. Kalau dengar kata menemukan kebenaran biasanya kita tertuju pada "pursuit of happiness" yang menjadi salah satu landasan pemikiran orang Amerika, bahwa semua orang berhak untuk mengejar kebahagiaannya masing-masing.
Pada faktanya, memang benar sih; semua orang, bahkan semua komunitas atau negara sekalipun ingin mengejar bahagianya masing-masing. Lagu-lagu mellow misalnya, biasanya bercerita soal "aku hanya ingin bahagia", atau sebuah impian ingin hidup bahagia.
Lagunya Andmesh Kamaleng, seorang penyanyi 22 tahun asal Pulau Alor, NTT, yang berjudul "Cinta Luar Biasa" (2018) juga sebenarnya bercerita soal keinginan untuk bahagia. Lihatlah sedikit liriknya yang bilang begini:
"Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu."
Dalam skala besar, komunitas, negara, bahkan peradaban umat manusia, juga berpikir, bertindak, dan memproteksi sedemikian rupa warganya agar mereka bahagia, dan tercapai kepentingan nasionalnya.
Dalam upaya mencari bahagia itu, terkadang orang terjebak dalam keinginan mencari kebahagiaan tapi melupakaan kebahagiaan orang lain. Maksudnya begini: kadang kita berjuang habis-habisan agar bahagia tapi kita abai dengan hak orang lain untuk bahagia juga. Yang pengen bahagia sebenarnya bukan cuma satu orang, semua orang juga ingin bahagia.
Makanya, karena semua orang ingin bahagia, maka dibuatlah hukum yang membolehkan serta melarang, membatasi serta mempersilakan. Kita diberi rambu-rambu, "ini lho yang boleh, tapi yang sana itu nggak boleh." Jangan dekati yang ini, tapi yang sana itu boleh. Semata-mata hukum itu dibuat agar kita dapat bahagia, dan orang lain juga dapat bahagia.
Dalam konteks berbangsa juga begitu. Komunitas A ingin bahagia yang mereka perjuangkan kebahagiaan itu lewat berbagai ideologi, tapi kelompok B, C, dan D juga ingin bahagia lewat ideologi mereka masing-masing. Kalau masing-masing berkuat-kuatan harus memenangkan "kebahagiaan ideologis" mereka, maka yang terjadi bisa jadi konflik, baik itu terbuka atau tertutup.
Apa yang terjadi di bangsa kita belakangan ini kemungkinan tidak jauh dari konflik soal kebahagiaan ideologis itu. Ketika 32 tahun sebuah rezim berkuasa, bisa jadi yang bahagia cuma satu ideologi, tapi ideologi lainnya jadi sengsara. Setelah reformasi, semua ideologi pun memunculkan diri untuk memperjuangkan kebahagiaan mereka.
Sama-sama ingin bahagia sebenarnya, akan tetapi kebahagiaan itu tidak akan mewujud baik kalau tidak ada komunikasi yang baik serta sikap saling-percaya. Kita bisa diceritakan bahwa si politisi A sering ngopi dengan politisi B; mereka beda ideologi. Bahkan, mereka biasa pulang bareng naik motor setelah sebelumnya bersengit-sengit lidah di parlemen. Di dalam mereka bergelut tapi di luar mereka berkawan.
Sekarang, kenapa ya orang jadi sensitif banget dengan perbedaan? Padahal, yang namanya perbedaan itu sudah inheren, udah begitu dari sananya. Manusia dulunya dari umat yang satu, dulunya dari satu asal kemudian terpecah dalam berbagai keluarga, suku/kabilah-kabilah, hingga negara. Tujuannya apa? Agar saling-mengenal.
Kita tidak akan bisa saling-mengenal lebih dalam jika kita tidak ada komunikasi yang baik. Pun, kita tidak akan bekerjasama kalau tidak ada sikap saling-percaya. Dua hal itu perlu ada dulu dalam diri kita masing-masing. Termasuk, di media sosial kita juga perlu saling kenal siapa kawan kita, bagaimana karakternya, dan kecenderungannya. Ketika berbeda, tak perlu baper, tak perlu sakit hati, karena bisa jadi apa yang tertulis di medsos itu berbeda diametral dengan apa yang ada ketika bertemu langsung.
Balik lagi kita soal kebahagiaan. Semua kita pastinya ingin bahagia. Akan tetapi, kebahagiaan kita sebaiknya tidak melupakan kebahagiaan orang lain. Hukum juga telah dibuat, kita sepakati saja hukum itu yang bisa menjadi penengah dari berbagai konflik kebahagiaan ideologis, kebahagiaan elektoral, dan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya. *
Depok, 6 Mei 2019

Tulisan ini pertama kali saya posting di wall Facebook Yanuardi Syukur dan di-republish di Facebook Forum Lingkar Pena Maluku.

Catatan Australia-Indonesia Interfaith Dialogue (2)

Moderator yang sangat menarik, ringan, dan lucu

Diskusi panel sesi kedua membahas tentang "Freedom of Expression: Spreading peaceful messages and combatting misuse of media" yang dipandu oleh Mr Dya Singh dengan pembicara Mrs Zulfiani Lubis (IDN Times) dan Mr Umesh Chandra.

Di Australia, kata Dya Singh, familiar sebuah lagu untuk toleransi, yaitu:


"We are one,
We are many,
I am, you are, one family."

(Kita satu,
Kita ramai, Kita saudara).

Dalam materinya, Zulfiani Lubis menceritakan bahwa terkait kartun Nabi Muhammad saw di Jyllands-Posten, Menlu Hassan Wirajuda telah menfasilitasi dialog media terkait hal tersebut. 
Australia juga telah mensponsori para jurnalis dalam membangun understanding antar kedua negara yang sangat penting. 

Media punya peran penting bagi kedua negara. Ada 3000 jurnalis di Indonesia yg butuh journalist training dan juga bagaimana membahas isu agama. Tantangannya: bagaima menyajikan berita tentang agama yang lebih baik dan tidak dangkal.

Selain itu, kaum milenial sangat signifikan bagi masa depan Indonesia. Milenial yg pro-khilafah tidak banyak yang tahu tentang persepsi soal negara khilafah. Beberapa 
persen Milenial juga menolak pemimpin non Muslim seperti dalam kasus penolakan terhadap Ahok.

Televisi dan media digital (internet, medsos) berpengaruh terhadap milenial. Maka, editorial media sangat penting dan berpengaruh bagi mereka. Mereka juga lebih percaya pada Whatsapp grup atau kadang disebut "grup sebelah." WA alumni berpengaruh bagi netizen dalam cara berpikir mereka yang akan disebarkan kepada orang terdekatnya. Maka, jika ada hoax yg masuk ke WA, itu sangat berbahaya.
Lagu pemersatu



Materi Zulfiani Lubis

Materi Umesh Chandra
Milenial juga ada yang cenderung jadi golput dalam pilpres karena mereka bosan dengan debat-debat politik, sementara yang mereka pikirkan adalah bagaimana dapat pekerjaan bagi hidup mereka. Saat ini banyak media online. Bagaimana cara menanganinya dengan interfaith dialogue agar media tidak menyebarkan hoax? Ada 800 media yg menyebarkan hoax di Indonesia.

Diskusi politik kita banyak terbawa pada diskusi agama. Para jurnalis jangan sampai menyebarkan miss information karena berpengaruh kepada publik. Media harus terbiasa dengan verifikasi agar tidak menyajikan informasi yang salah. Di Tenggulun, kampung dari Bali Bomber, dibuat yayasan perdamaian yang dibuat untuk menyebarkan semangat perdamaian, deradikalisasi, dan empowering ex combatant.

Umesh Chandra dari Hindu Chaplain, University of Queensland menjelaskan bahwa dialog seperti ini sangat penting di zaman sekarang. 
Promosi social harmony and diversity sangat penting dalam interfaith community. Selama 16 tahun ia mendirikan organisasi People of Indian Origin sebagai promosi religious harmony lewat majalah, radio, dan televisi (Australian Indian Radio).

Dalam sesi pertanyaan tentang hoax dan media, Zulfiani menjelaskan bahwa seluruh konten harus diverifikasi agar tidak menyebarkan hoax yg bakal disebar oleh publik di medsos. 
"Lazy journalist" banyak yang tidak memikirkan efek dari konten yg mereka sebar. Ini jadi tantangan tersendiri.

Umesh menjawab, bahwa newspaper journalist punya deadline yang harus mereka tepati. Tapi mereka juga harus mempraktikkan checks and balances dalam kontennya. Jika ada berita yang salah, maka mereka kemudian publikasi info yg baru, baik dari media atau surat dari pembaca. Kutipan menarik dari moderator Sigh menutup sesi ini, "If you don't see god in all, you don't see god at all." *

Catatan Australia-Indonesia Interfaith Dialogue (1)

Suasana menjelang pembukaan acara Australia-Indonesia Interfaith Dialogue

Paris van Java, 13 Maret 2019. Saya beruntung untuk kesekian kalinya dapat kesempatan untuk hadir dalam berbagai forum bergengsi, salah satunya adalah terkait interfaith dialogue yang digelar oleh Kedubes Australia bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri RI.

Saya diundang oleh Kedubes Australia dengan posisi sebagai peninjau atau observer. Nama acaranya adalah "The First Indonesia-Australia Interfaith Dialogue". Lokasinya di De Paviljoen Hotel, Bandung. PIC kegiatan ini adalah salah seorang diplomat muda Australia, Mr. Boyd Whalan, yang telah saya kenal setahunan lalu dan bertemu dalam beberapa event Kedubes Australia.

Kegiatan ini bisa disebut sebagai bagian dari upaya untuk merawat harmoni dan kerjasama antara Indonesia dengan Australia.

Acara dibuka oleh perwakilan Indonesia, Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Cecep Herawan, dan perwakilan Australia, Dubes Australia H.E. Gary Francis Quinlan AO. Kemudian dilanjutkan dengan 3 diskusi panel (plenary session) dengan topik antara lain (1) democracy, religion, and pluralism, (2) freedom of expression: spreading peaceful messages and combating misuse of media, dan (3) adressing the problems: strengthening cooperation and advocating policy towards inclusive society.

Pada plenary session I "Democracy, Religion, and Pluralism" pembicaranya adalah Dr Pradana Boy, Dr Ahmad Munjid, dan Rev. Samuel Green. Pradana Boy memulai materinya dengan menjelaskan soal Islam Indonesia yang plural yang tidak semua orang luar (bisa luar Islam, atau luar negeri) memahaminya.

Diversitas Islam Indonesia terkait sekali dengan masyarakat Indonesia yang plural dengan berbagai afiliasi keagamaan. Saat ini Indonesia menjadi "demokrasi baru" atau a new democracy yang menunjukkan bahwa antara Islam dan demokrasi itu kompatibel alias tidak bertentangan.

Tapi, tren itu, kata Pradana, juga tidak bisa dilepaskan dari tumbuhnya populisme yang tidak demokratis, bahkan dapat berpotensi menjadi musuh demokrasi (enemy of democracy). Saat ini kita perlu me-maintain kehidupan beragama yang memiliki kecenderungan konservatif tersebut, lanjut beliau.
Panel sesi pertama
Di Muhammadiyah misalnya, contoh Pradana, terjadi tumbuhnya konservatisme versus modernisme. Kendati fakta konservatisme itu ada, tapi kata Pradana lagi, ini merupakan contoh dari diversitas Islam di Indonesia. Memang, suka atau tidak suka, begitulah perkembangan dinamika keislaman di Indonesia.

Menurut saya, konservatisme sesungguhnya bukanlah "kerikil dalam sepatu" demokrasi." Sebaliknya, konservatisme dapat menjadi pelengkap diversitas pemikiran dan afiliasi kehidupan berbangsa sekaligus untuk wadah koreksi bagi, sebutlah modernisme atau moderatisme--jika bisa kita buat oposisi biner seperti itu. Berasal dari bahasa latin conservare yang berarti "memelihara, menjaga, melestarikan", sesungguhnya kalangan konservatif hanya ingin memelihara nilai yang mereka anggap penting untuk tetap hadir dalam denyut nadi kehidupan bermasyarakat.

Materi Rev. Samuel Green

Materi sesi I 
Selanjutnya, materi dari Rev. Samuel Green membahas soal keberagamaan di Australia. "Konstitusi Australia mengakui Tuhan," kata beliau. Saat ini (setidaknya per Maret 2019) di Australia, ada sekitar 40 persen no religion alias tidak beragama (atheis) dan agama paling banyak urutannya adalah Katholik, Hindu, dan Islam.

Pluralisme di Australia memiliki isu yang paling penting, yaitu soal relasi antara no religion dengan religion; hubungan antara orang yang beragama dengan orang yang tidak beragama. Para imigran yang datang ke Australia telah membuat Australia menjadi multicultural country sekaligus pluralistic society.

Sedangkan peningkatan kalangan no religion (sekular/atheis) terkait dengan massive moral change atau perubahan moral secara massif dalam dunia Barat yang mulai menemukan new morality atau new secular morality atau sejenis "moralitas jenis baru" yang tidak berkaitan dengan agama. 

Terus, untuk me-maintain pluralisme, bagaimana caranya? Kata beliau, kita perlu kosa kata baru, yaitu worldview. Pandangan dunia. Maksudnya, pandangan dunia yang dapat dipakai oleh semua orang dari semua jenis pemikiran, keagamaan, dan afiliasi organisasi. Kalau di Indonesia, kira-kira seperti Pancasila yang jadi common platform buat semua warga. 

Dalam sesi ini dibuka tanya-jawab. Ahmad Munjid ketika ditanya soal dukungan anak muda terhadap demokrasi, ia menjawab bahwa anak muda perlu mendukung demokrasi. Kata Munjid, saat ini kita di era "too much information" alias banjir informasi yang membuat manusia dijejali banyak info di berbagai media berkirim pesan seperti Whatsapp, atau media sosial. Selain itu, kata suami dari aktivis interfaith dialogue, Wiwin Rohmawati, "toleransi harus menjadi bagian penting bagi masyarakat kita." Kata toleransi paling sering disalahpahami.

Soal Munas NU yang menyerukan penggantian kata "kafir" menjadi "non muslim", kata Munjid yang lulusan PhD dari Temple University tersebut, adalah bagian dari toleransi berbangsa, bukan dalam konteks keagamaan. Di sini, NU fokus pada kehidupan toleransi beragama (muamalah) sebagai sesama warga bangsa, tidak terkait dengan teologi.*

Sunday, June 23, 2019

Pengalaman Bertemu Duta Besar


Diundang makan malam (dinner) oleh Wakil Dubes Australia bersama diplomat dan beberapa tokoh (2019). Dari Indonesia saya dan seorang kawan (perempuan) yang pernah kerja di bank Australia. Walau bahasa Inggris saya masih pas-pasan saya terus berusaha untuk mengerti.

Nama saya di meja makan waktu diundang Wakil Dubes Australia (2019)

Saya merasa beruntung karena dapat banyak kesempatan bertemu dengan banyak orang, salah satunya dengan para duta besar. Hingga tahun 2019 ini setidaknya saya pernah bertemu dengan duta besar Australia, Amerika Serikat, Myanmar, dan beberapa lainnya dubes Indonesia untuk luar negeri.

Ketika bertemu para duta besar kita mempelajari bagaimana mereka berpikir, berbicara, bersikap, dan secara umum bagaimana mereka menyikapi sesuatu. Sebenarnya sih, kalau bertemu siapapun itu cobalah kita pelajari "apa yang dapat saya ambil dari sosok tersebut." Ambil hal-hal terbaik dari para dubes.


Bersama Dubes Australia: H.E. Greg Moriarty di Ternate (2013) dan H.E. Paul Grigson di Jakarta (2015). Pertemuan dengan Dubes Moriarty waktu saya sebagai Sekretaris Rektor yang diminta untuk membantu memanage kedatangan dubes dan rombongan di Ternate, sedangkan foto dngan Dubes Grigson saat saya diundang pada salah satu acara di rumah dinas Dubes Australia di Menteng, Jakarta.
Sebagai anak muda kita ngga boleh merasa puas dengan apa yang ada. Kita perlu perluas wawasan, dan juga perluas perkawanan. Jangan merasa puas hanya punya beberapa kawan "orang penting". Sebaliknya, perbanyak kawan. Perkenalan itu usahakan ada manfaatnya dalam hal sharing, dan yang penting adalah sinergi. Apa yang dapat disinergikan antara kita dengan mereka?

Ada banyak hal yang dapat kita sinergiskan misalnya dalam ilmu pengetahuan. Ilmu ini kan berkembang terus ya, bahkan cepat banget. Apa yang orang Amerika punya dalam hal tertentu bisa jadi kurang di hal lainnya. Pun demikian sebaliknya. Itulah kenapa program pertukaran sampai sekarang masih diadakan.

Menghadiri undangan Dubes Australia H.E. Gary Quilan di Jakarta. Saya bawakan juga buku yang ditulis oleh Alumni MEP dan diterbitkan Penerbit Mizan (2017)

Jika bertemu dubes, usahakan berdiskusi topik yang sama-sama kita senangi. Tak terkecuali topik tentang negara mereka. Sekarang kan ada google. Kita bisa pelajari negara lain. Pelajari dengan cepat. Jadilah pembelajar cepat. Pelajari dan catat apa saja hal yang kira-kira kita tidak mengerti, atau kita punya masukan bagi negara mereka. Usahakan juga jangan hanya "yes sir, yes sir." Itu kurang bermartabak, eh bermartabat maksudnya. :)

Menghadiri undangan Dubes Amerika Serikat H.E. Joseph R. Donovan Jr dalam acara 70 tahun hubungan Indonesia-Amerika di Jakarta (2019)

Bersama Ambassador Sonny Bowoleksono yang pernah 5 tahun sebagai Dubes Indonesia untuk Amerika Serikat. Saya sharing dengan beliau terkait pentingnya peran tokoh muslim Indonesia untuk menjalin kemitraan dengan tokoh di negara lainnya, termasuk antara Indonesia-Amerika. Beliau bahkan biasa mengajak para diplomat Amerika untuk berkunjung ke pesantren untuk mengenal lebih dekat wajah Islam Indonesia.


Bersama Prof Salim Said yang pernah menjadi dubes Indonesia untuk Republik Ceko. Foto ini diambil saat saya masih sebagai "anak buah" (beliau bilangnya, lebih tepatnya: kolega) di Institut Peradaban. Ceritanya waktu itu saya diajak Ust Muzayyin Arif untuk membantu Prof Jimly dan Prof Salim Said yang akan membentuk Jimly School of Law and Government (JSLG) dan Institut Peradaban. Secara formal, saya ketika itu (2011) sebagai Sekretaris Eksekutif JSLG dan sebagai staf membantu IP di masa-masa awal bersama Prof Salim. Banyak hal yang saya pelajari dari beliau, salah satunya soal semangat beliau dalam berbagi ilmu kepada orang lain.

Bersama Dubes Sri Lanka untuk Indonesia dan ASEAN H.E. Dharsana M. Perera saat menghadiri undangan dari Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban di Jakarta (2019)
Untuk kalangan muda, mari terus tingkatkan semangat belajar. Jangan cepet puas. Masih muda kalau cepet puas lama-lama akan merasa tinggi hati, sombong, takabbur. Itu ngga baik. Itu dibenci Tuhan. Jadilah pribadi yang harus untuk belajar dan senang akan memberi.

Apa yang tidak ada di negeri ini kita coba ambil dan pelajari dari negeri orang. Nanti setelah kita dapat sesuatu dari negeri orang, usahakanlah kita berbuat untuk negeri kita. Ilmu yang ada jangan disimpen-simpen. Jangan pelit berbagi ilmu. Sharing saja di medsos, di website, atau di buku jika mau lebih serius. Jadi, orientasikanlah apa yang kita dapat dari para dubes atau diplomat secara umum, untuk kemajuan bangsa kita sendiri dan kemajuan umat manusia secara umum. Agar berat tapi harus diusahakan. *

Depok, 23 Juni 2019


Orang Kampung Jadi Narasumber Televisi


Narasumber soal terorisme di CNN TV (2019)
Waktu kecil, saya ngga pernah terlintas masuk tivi. Maksudnya, jadi narasumber di televisi. Waktu itu, kehidupan kami seperti anak-anak pelabuhan lainnya; pergi ke sekolah setelah minum teh manis dan sebuah kue apang, belajar, main bola, dan pulang. Pulang ke rumah, ganti baju, turun ke laut bawa jubi-jubi buat tangkap ikan atau kepiting. Siang sampai sore di laut itu menyenangkan buat saya.

Ketika hijah ke Jakarta, saya juga belum pernah berpikir suatu saat akan masuk tivi. Saya menjalani hidup sebagai santri dengan apa adanya, tapi tetap semangat belajar saya cukup baik. Gimana ngga baik, saya sudah jauh-jauh dari kampung, berhari-hari di lautan, muntah-muntah lagi. Kalau ngga berhasil, apa ngga rugi?

Ketika saya kuliah di Makassar, saya juga ngga pernah terbayang masuk tivi. Waktu itu kita hanya nonton berita. Biasanya sih kita nonton liputan6 yang saat itu lagi keren-kerennya. Saat ini sudah banyak kanal berita lainnya, bahkan yang online-online juga tak kalah bagusnya.
Narasumber TV One bersama Juru Bicara Kepala BIN, Wawan Purwanto (2019) 
Jadi narasumber di CelebesTV tentang tawuran mahasiswa di Makassar (2011)
Narasumber soal terorisme terkait dengan debat pilpres soal pertahanan keamanan, di INews, Jakarta (2019)

Bersama Pak Ansyad Mbai dan Reinhard Sirait di CNN TV (2019)


Nah, saat jadi dosen itulah mula pertama saya jadi narasumber tivi. Awalnya saya jadi narasumber untuk acara di GamalamaTV. Saya ceramah beberapa menit, setelah itu ada tanya-jawab dengan audiens ibu-ibu. Ya, kayak di tivi nasional, akan tetapi ini skala daerah. Waktu itu lokasinya di Hotel Bela International yang sekarang sudah berganti nama. Selain itu, saya juga memberikan ceramah sendirian untuk beberapa episode itu.

Bersama Pak Ansyad Mbai dan Mas Sheito CNN TV (2019)
Kadang, menjelang sore saya lihat video itu di tivi kosan saya. Malu juga sih ngeliatin diri sendiri. Sampai sekarang saya tuh sering merasa malu kalau melihat rekaman yang ada saya. Nah, video yang di GamalamaTV itu sempat diputar beberapa kali, sampai ada beberapa kawan yang bilang, "paak saya sering lihat bapak di tivi tuh." Saya hanya jawab, "ah, masa sih?"
Narasumber "Keteguhan Tauhid Istri Fir'aun" di GamalamaTV (2013). Ini judul dari salah satu buku saya yang juga jadi bahan skripsi salah seorang mahasiswa di Jawa Timur

Narasumber buat pengajian ibu-ibu di GamalamaTV, Ternate (2013)
Itu di Ternate. Waktu di Makassar juga pernah beberapa kali saya rekaman ceramah. Lokasinya di pinggir danau Unhas. Pernah dalam beberapa jam langsung rekaman 3 ceramah. Dari rumah saya sudah bawa 3 baju untuk itu. Saya selalu berusaha kalaupun rekamannya diulang, maka ngga lebih dari 2 kali. Dan, itu saya jaga sampai sekarang. Maksudnya, kalau saya direkam selalu saya usahakan satu kali rekaman langsung oke, atau setidaknya 2 kali.

Di Makassar itu selain rekaman video ceramah juga pernah jadi narasumber bersama salah seorang professor Unhas terkait anak buah kapal Indonesia yang ditawan oleh kelompok Abu Sayyaf Filipina. Sebagai lulusan cumlaude--hehe, senang juga kita dapat cumlaude walaupun hanya di transkrip, ngga maju saat wisuda; itu sudah cukup senang--saya merasa harus mengembangkan tesis saya dalam kajian-kajian serius selanjutnya. Sejak itu sebenarnya label "pengamat terorisme" sudah ada bagi diri saya, tapi memang tidak familiar gitu (sampai sekarang juga belum familiar sih). Selain itu, saya juga pernah jadi narasumber terkait tawuran mahasiswa Makassar bersama Pak Alwy Rachman di CelebesTV.


Ceramah "Hakikat Hidup Manusia" di CakrawalaTV, Makassar (2015)

Narasumber tentang Islam di CakrawalaTV (sekarang: Net.TV Makassar) tahun 2015
Ceramah "Menjadi Muslim Produktif" di CakrawalaTV (2015)

Ketika saya kursus bahasa di ITB, saya juga sempat ada satu rekaman video yang sampai sekarang masih ada di Youtube. Waktu itu, saya hanya sekali ambil gambar terus selesai. Manajemen SalmanTV yang bagus cukup membantu untuk itu. Saya cerita soal pentingnya menciptakan toilet bersih karena toilet bersih itu berkaitan erat dengan masa depan. Saya teringat itu kalimat dari salah seorang mantan menteri yang menurut saya, itu betul.


Acara Kultube SalmanTV Masjid Salman ITB (2015)
Ketika di Jakarta, tepatnya saat S3, saya pernah diwawancari untuk salah satu stasiun televisi Korea Selatan. Mereka mau buat semacam video dokumenter tentang Kepulauan Rempah-rempah. Setelah dapet nama saya waktu saya bawa materi di Kota Tua, mereka kontak saya, dan kita syuting gitu di UI. Saya menjelaskan tentang penjelajahan samudera oleh Portugis dan Spanyol yang ujungnya itu mencari Maluku. Waktu bawa materi di Museum Gajah, saya juga sempat cerita tentang itu panjang lebar yang dikaitkan dengan perkembangan di dunia Islam dan global.

Rekaman untuk salah satu film dokumenter tivi Korea Selatan (2017)


Sebagai Analis terorisme di TVOne (2019)

Bersama Dr Hidayat Nurwahid di TVOne (2019)

Sebagai Analis Terorisme di TV One (2019)
Nah, tahun ini merupakan tahun ketika saya mulai masuk tivi nasional sebagai pengamat/analis terorisme. Setidaknya, saya pernah jadi narasumber di INews TV, CNN, TVOne, dan Trans7. Di beberapa televisi itu saya pernah dipanel dengan Dave Laksono (Komisi I DPR), Ansyad Mbai (Mantan Ketua BNPT RI), M. Hidayat Nurwahid (Komisi I DPR), dan Wawan Purwanto (Jubir Ketua BIN). Menjadi narasumber di tivi itu memang beda sama di tempat lain karena kita harus straight to the point dan harus bisa mengaitkan berbagai peristiwa yang kita amati.

Dalam kajian terorisme, saya beruntung kenal dengan Al Chaidar. Beliau tidak hanya kawan seangkatan saya di S3 UI, tapi juga sama-sama murid dari almarhum Prof Achmad Fedyani Saifuddin. Bahkan, saat Prof Afid wafat, saya segera dari Kukusan naik grab motor ke rumah sakit, dan saya kontak Al Chaidar serta Adri Febrianto--dua kawan sesama S3--untuk bareng-bareng kita jemput jenazah Prof Afid--guru kita bersama--untuk membantu keluarganya di RS dan menemani kebutuhan selama di rumah. Di rumah almarhum, kami juga menyiapkan beberapa kebutuhan terkait seperti bunga (kita beli dini hari di Jakarta Timur), dan lainnya.

Al Chaidar adalah pribadi yang punya solidaritas sangat baik kepada kawan. Saya sangat berutang budi kepadanya, termasuk rekomendasinya untuk saya jadi narasumber di televisi. Oya, selain itu saya juga pernah jadi narasumber di Kementerian Pertahanan, itu juga rekomendasi dari beliau. Saya berdoa semoga Bang Al Chaidar senantiasa sehat, dan dapat terus memberikan perspektifnya kepada bangsa kita khususon dalam masalah terorisme.

Sejak masuk di tivi nasional beberapa kawan menganggap saya sudah jadi tokoh nasional yang jadwalnya pasti super sibuk. Padahal, faktanya sih sama saja; ngga sibuk, dan tetap masih rajin komen-komen di medsos. Nyaris tidak ada yang berubah, atau berbeda sebelum dan sesudah masuk tivi. Tivi adalah salah satu media saja tempat kita bisa menyuarakan ide. Dalam hal pergaulan tetap sama sih. Saya banyak belajar dari Al Chaidar soal ini.

Kayaknya cukup dulu untuk soal masuk tivi. *

Depok, 23 Juni 2019  

Brothers, Mahasiswa "Proletar", dan Aktivis Kampus

Nasyid Brothers
Menulis soal nasyid, jenis "lagu islami"--sebutlah seperti itu-saat ini tidak menarik (kira-kira seperti itu) karena beberapa faktor. Pertama, orang sudah mulai meninggalkan nasyid dan efeknya kemudian adalah hadirnya "kegamangan" dalam mencari jenis musik yang islami. Kedua, tidak adanya terobosan dari para munsyid untuk menghadirkan konten-konten kreatif yang dapat adaptif dengan perkembangan zaman.

Memang, di beberapa daerah masih ada nasyid disenandungkan, akan tetapi sudah tidak familiar. Dulu di berbagai kegiatan Islam nasyid selalu diputar, tapi kita sudah tidak ada, at least sudah jarang, kecuali untuk acara-acara seperti pengumpulan dana umat dan sejenisnya. Kawan-kawan saya yang dulunya munsyid juga saat ini sudah tidak kedengaran lagi; ada yang jadi politisi, ada yang konsen ngumpulin dollar lewat berbagai digital marketing, ada yang jadi desainer, dan ada juga yang memilih karier di perbankan.

Sebagai orang yang dipengaruhi oleh nasyid, saya melihat bahwa nasyid ini bagus sekali peranannya. Bagusnya adalah, syair-syairnya itu dalam, menyentuh kalbu, dan bisa menggerakkan orang. Malam ini misalnya, saya mendengarkan nasyid lama yang dulu biasa saya dengar saat masih rada "proletar" (walaupun sekarang belum [dan tidak berpretensi akan] "borjuis").

Waktu itu saya masih mahasiswa di Unhas. Saya tinggal pindah beberapa kos. Salah satu tempat yang saya sempat singgahi adalah Masjid Salman Al-Farisi yang terletak di pintu dua kampus Unhas. Waktu itu saya tinggal bareng Mas Johan Wakhyudin, seorang kawan sesama aktivis Forum Kajian Insani. Johan adalah ketua FKI sebelum saya.

Ketika tinggal di masjid itu, tepatnya sih saya numpang di atas, karena Johan yang punya "otoritas" tinggal, saya biasa mendengarkan nasyid Brothers. Ada banyak syair Brothers yang enak-enak, seperti soal menikah. Waktu itu memang lagi rame di kampus, terutama di kalangan aktivis mushalla/masjid, untuk menikah muda. Kawan saya, satu tingkat di atas saya, M. Nurhidayat Kaban, bahkan menikah duluan dengan kawan seangkatan saya, Maryam Nurfatkhanni, yang satu angkatan dengan kawanku yang baik Achmad Abdi Amsir.

Hari-hari mendengarkan nasyid Brothers itu adalah hari-hari perjuangan betul dalam hidup saya. Kadang saya nggak ada uang tapi harus ke kampus. Bingung juga. Beasiswa kadang sudah habis. Atas kebaikan hati Johan, saya sering dapat makanan gratis di "Warung Sabili" yang ia dirikan di samping kios Keadilan milik Ustad Umar Qosim.

Kadang, kalau lagi ngga ada uang, saya juga minta ke Mas Johan. Baik betul kawanku yang itu. Ia satu tingkat di atas saya, tapi ia sangat baik. Ketika ke Makassar kadang saya ingin bertemu Johan, tapi kadang juga ngga sempat. Waktu itu, ia telah pindah kios di depan kampus UIM Makassar. Saya sempat bertemu. Dari Depok saya berdoa semoga kawanku Mas Johan dan keluarganya mendapatkan rezeki yang terbaik dari Allah swt atas kebaikannya yang begitu tak terlupakan oleh saya.

Saya ingat, waktu itu Johan bercerita bahwa ia menjual sawah di Jawa untuk usaha rumah makan tersebut. Luar biasa. Saya waktu itu hanya bisa aktif sebagai fungsionaris organisasi tanpa mendatangkan uang. Ya, kalaupun ada kadang uangnya lebih banyak dari proposal yang ditujukan untuk kegiatan organisasi. Tapi, itu juga berkesan banget. Saya kadang ingat masa-masa ketika rapat di Mushalla Khairunnisa, Mushalla Ibnu Khaldun, Masjid Kampus, dan di berbagai tempat lainnya. Berkesan juga ya masa-masa hidup di kampus ketika perut kita masih rada langsing dikit :)

Lagu-lagu Brothers itu menemani saya. Saya ingat salah satu lagunya berjudul "Teman Sejati." Teman sejati itu menceritakan kayak harapan para lelaki muslim untuk mendapatkan pasangan hidup yang saleh. Mahasiswa yang jadi aktivis dakwah kampus itu sebenarnya ngga soleh-soleh amat, tapi mereka itu punya semangat untuk menjadi soleh. Itu aja sih. Memang, mereka kadang agak membatasi pergaulan tapi itu bagian dari cara mereka untuk hidup yang islami.

Yang mereka idamkan adalah dapet akhwat yang dapat menemani mereka dalam berjuang:

Selama ini kumencari-cari
teman yang sejati
buat menemani perjuangan suci

Bersyukur kini

pada-Mu ilahi
teman yang dicari 

selama ini
telah kutemui


Sebagai orang yang pernah aktif di dunia tersebut, saya memahami betul bagaimana perjuangan mahasiswa aktivis tersebut untuk menjadi muslim di tengah berbagai gejolak hidup. Mereka ingin betul jadi orang saleh. Tentu saja ya tidak sepenuhnya tepat karena mereka juga dianggap tertutup. Tapi, saya kira itu soal perspektif saja. Mereka orang-orang yang baik, ingin terus berbuat baik, dan butuh untuk diajak oleh siapa saja dalam berbagai amal-amal positif. Seperti juga para aktivis nasionalis lainnya yang juga punya kelebihan dan kekurangan. Masing-masing ada plus minusnya, yang paling penting adalah sama-sama bertujuan untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik dan tanpa kekerasan.

Kembali lagi nasyid. Saya tuh kadang teringat aja dengan nasyid. Walaupun nggak bisa menyanyikan nasyid itu dengan baik, tapi saya menyenanginya. Kadang, kalau lagi sendiri saya mendengarkan nasyid, ganti-gantian dengan mendengarkan lagu-lagu dari Slank, Dewa 19, hingga Guns n Roses. Kombinasi yang cukup aneh; peminat nasyid Brothers sekaligus GnR. Gimana tuh ya? :) Saya juga bingung.

Rupanya nasyid itu hanya bagian kecil dari jenis seni yang ada dalam dunia ini. Banyak betul jenis seni yang telah dihasilkan manusia sepanjang peradaban. Kita tinggal memilih mana yang berguna buat kita; dalam artian dapat membangunkan kita saat tertidur atau dapat membangkitkan saat kita sedang lemah. Gunanya seni kira-kira sih seperti itu, dalam pandangan saya yang awam ini. Oya, bagi teman-teman yang senang nasyid, selamat menikmati (kembali) nasyid yang dulu pernah dinikmati, bahkan memberikan pengaruh dalam hidupnya masing-masing. *

Depok, 23 Juni 2019

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...