Monday, December 24, 2018

Tsunami Banten dan Kesadaran Kita

Tsunami Banten (pojoksatu.id)
Ketika  mendapatkan kabar bahwa tsunami melanda pesisir Banten dan Lampung, tiap kita pasti merasa sedih. Mungkin, ada juga yang bertanya, "kenapa bencana tak juga selesai di negeri ini?" Sebelumnya, ada tsunami di Palu, sebelumnya lagi gempa besar di Lombok.

Soal kenapa bencana itu hadir, memang tidak ada yang tahu. Akan tetapi kita diajarkan bahwa tak ada sesuatu yang sia-sia di muka bumi. Artinya, Allah menciptakan segala sesuatunya pasti dengan perhitungan dan hikmah-Nya. Maka, tak ada yang sia-sia dalam penciptaan dan kejadian yang terjadi di dalamnya.

Kita sebagai manusia biasa hanya bisa berusaha dan berdoa. Ya, berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi manusia yang baik. Kadang, kita lalai. Maka, kita pun diingatkan agar tidak lalai.

Marilah kita berusaha menjadi yang terbaik lewat berbagai peristiwa alam yang terjadi di negeri kita. Rabbana ma khalaqta hadza bathila, subhanaka faqina adzabannar.

Thursday, December 13, 2018

Berwisata ke Kota Tua

Duduk di atas udara
Salah satu destinasi penting di Jakarta adalah kota tua. Dari namanya saja kita bisa tahu bahwa kota tua adalah destinasi yang berkaitan dengan hal-hal yang tua.

Saya pernah beberapa kali jalan-jalan ke Kota Tua. Di sana saya melihat gedung-gedung tua ada gedung yang pernah dipakai untuk Pemerintah Belanda yang di lantai dasarnya itu memiliki penjara. Konon kabarnya, pahlawan dari Madura bernama Untung Suropati pernah mendekam beberapa waktu di penjara tersebut.

Selain itu, di kota tua juga kita dapat melihat kantor pos yang tua. Namanya juga Kota Tua pasti semua yang di situ tua-tua. Kantor Pos itu terlihat agak seram, cocok digunakan untuk syuting film horor.

Suatu ketika saya hendak menunaikan ibadah salat dan pergi ke mushalla. Mushalla-nya juga tua dan aroma-aroma yang ada di sana aroma-aroma tua. Semua serba tua pokoknya.

Di Kota tua juga saya melihat orang-orang naik sepeda. Sepedanya juga sepeda tua, bahkan beberapa topi yang dipakai oleh para pengunjung itu juga topi yang sudah tua. Banyak orang berfoto di sana menikmati senja bersama orang-orang tercinta.

Atau bahkan sekedar berfoto untuk mengabadikan momen-momen terindah dalam hidup mereka yang kemudian di posting di Instagram, di Facebook atau mungkin sekedar mengganti foto profil di Whatsapp.

Di Kota Tua juga kita bisa melihat salah satu hal yang unik, yaitu orang yang berdiri di atas udara. Kalau dipikir-pikir gimana ya caranya orang bisa berdiri di atas udara. Sekilas kita lihat tidak ada yang mengaitkan antara dirinya dengan tanah.

Ketika difoto maka orang itu terlihat berdiri di udara. Sepertinya orang tersebut punya ilmu tertentu. Saya pernah selidik punya selidik dan saya tanya "gimana caranya itu pak bisa sambil duduk di udara kayak melayang gitu?"

Dia mengatakan ada ilmunya. Konon kabarnya apa yang dipegang oleh laki-laki ber blangkon itu (kayu) yang sebenarnya tertancap di lantai.

Selain itu, orang yang berkunjung ke Kota Tua juga dapat berfoto bersama noni-noni muda Belanda. Kemudian mereka juga bisa menikmati kopi di Batavia Cafe atau kalau mereka yang mendapatkan makanan atau minuman mereka bisa datang juga ke toko atau swalayan terdekat.

Menikmati senja di Kota Tua merupakan salah satu destinasi penting bagi mereka yang di Jakarta atau yang sedang berkunjung ke Jakarta. Oke deh, selamat menikmati Kota Tua. Selamat bertemu dengan yang tua-tua, dan menikmati aroma harum tua di kota yang telah tua di Jakarta. *

Tulisan ini saya buat berdasarkan Google Speech. Jadi, saya bicara di depan Google Speech, trus tugas dia untuk mentranskrip ke tulisan. Yang dia nggak bisa lakukan adalah koma, titik, atau enter. Setelah bicara, saya edit lagi tulisan ini. Google Speech cukup bagus untuk mereka yang senang menulis tapi ingin bisa langsung ditranskripsi ke tulisan oleh Google Speech.

Saturday, December 8, 2018

Beberapa Waktu Bersama Mas Adjat

Bersama Mas Adjat
Tanpa disangka, tadi siang saya bertemu seorang kawan lama di Coffee Toffee Margonda, Depok. Kurniadi Sudrajat namanya. Biasa dipanggil Adjat. Panjangnya: Adjat Al-Ghafiqi.

Saya mengenal Adjat dalam kajian yang diadakan oleh AMMA-KAZI, yaitu gabungan dua organisasi kajian di Pasar Minggu. Waktu itu, tiap bulan diadakan diskusi sekaligus kajian tentang Islam kontemporer bertempat di salah satu masjid tak seberapa jauh dari Jalan Raya Pasar Minggu.

Adjat senang hadir dalam kajian-kajian tersebut. Saking senangnya akan kajian, dia juga aktif mengembangkan apa yang disebut sebagai dakwah sekolah. Berbagai kegiatan keislaman ia buat dengan tujuan agar siswa memiliki pemahaman Islam yang lebih baik serta menjalankan Islam dalam berbagai kehidupan mereka.

Suatu ketika saya pernah diundang oleh Mas Adjat ke sekolah binaannya. Waktu itu, bertemu juga saya dengan beberapa siswa. Ada yang kembar. Adjat dekat dengan mereka. Tidak berapa lama kemudian saya mendapat kabar, katanya Adjat akan menikah dengan salah seorang di antara dua kembar tersebut.

Bisa jadi, apa yang disebut sebagai "cinta tumbuh karena frekuensi pertemuan" ada benarnya. Aktivitas Mas Adjat di sekolah tersebut bisa jadi seperti magnet yang makin hari makin kuat. Maka, pernikahan pun menjadi satu jalan untuk menghalalkan relasi tersebut.

Itu bisa menjadi tanda bahwa, mereka yang telah lama mengenal dan ada rasa untuk berlanjut ke jenjang yang serius, bagus sekali untuk menyelesaikan niat itu dalam mahligai pernikahan.

Bagi aktivis dakwah sekolah (atau kampus), bisa jadi punya rasa senang kepada kawan seperjuangannya. Mereka kemudian dihinggapi rasa suka yang mungkin sulit untuk diungkapkan. Jika tak ada keberanian di antara mereka untuk memulai mengutarakan niatnya--misalnya untuk sampai pada jenjang yang serius--maka bisa jadi hanya kenangan yang bisa mereka simpan, yaitu kenangan akan keinginan yang tertunda. Atau, bahkan batal sama sekali.

Pertemuan dengan Mas Adjat tadi juga membicarakan soal organisasi yang kita sama-sama aktif di dalamnya, bernama Center for Islamic and Global Studies. Dulu, CIGS ini bernama Kajian Zionisme Internasional (KaZI), tapi kemudian beberapa tahun lalu kita ubah menjadi CIGS agar lebih akademik dan tidak terkesan berbicara atau menulis soal konspirasi terus.

Selama ini, mereka yang mengkaji zionisme kerap dianggap menulis soal konspirasi. Memang, ada saja sisi konspiratif yang ditulis akan tetapi tidak semua. Fakta-fakta sebenarnya dari apa yang terjadi terkait politik dunia memang begitu nyatanya. Kadang, orang tertentu memang senang dengan yang masuk akal, dan melupakan yang menurut mereka tidak masuk akal. Padahal, baik yang masuk akal atau tidak, itu sama-sama dapat menjadi data untuk dianalisis.

Saya juga tadi cerita soal adanya "mata Dajjal" dalam film terbaru yang sedang diputar di bioskop. Dalam kajian tentang akhir zaman, topik terkait Dajjal--dengan segala variannya--banyak sekali dibahas. Konsep Dajjal pun menjadi sangat luas, tidak hanya terkait satu orang yang bermata satu dan memiliki berbagai kekuatan untuk memalingkan orang beriman (yang imannya lemah), akan tetapi juga berkaitan dengan berbagai sisi kehidupan seperti arsitektur, bisnis, bahkan pusat-pusat kekuasaan. Kajian tentang ini--kendati ada nuansa konspiratifnya--tetap menarik untuk dibahas karena hadis tentang akhir zaman tidak pernah lepas dari pembahasan soal datangnya Dajjal.

Apakah Dajjal itu datangnya dari Segitiga Bermuda? Belum tahu juga. Kata Muhammad Isa Dawud, demikian. Akan tetapi, darimana dia datang tidak ada yang tahu persis. Namun, tanda-tanda terkait datangnya Dajjal--dalam perspektif muslim--memang sudah ada. Maka, agar kajian ini tidak sekedar mengawang-awang, dibutuhkan tulisan yang lebih komprehensif tentang itu yang menggabungkan kajian tentang akhir zaman dikaitkan dengan fenomena dunia kontemporer.

Pertemuan tadi tidak banyak yang kita bicarakan. Akan tetapi, kami berencana untuk aktifkan lagi CIGS lewat penerbitan buku. Sudah lama kita tidak terbitkan buku bersama-sama. Buku adalah salah satu sarana untuk menyebarkan ide kepada masyarakat yang masih efektif sampai sekarang. *

Friday, December 7, 2018

Undangan Menulis untuk Buku KH. M. Arif Marzuki

KH. M. Arif Marzuki
Assalamu 'Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KH. M. Arif Marzuki adalah seorang Ulama Pejuang yang memimpin Pesantren Darul Istiqamah hingga saat ini. Ulama kharismatik Sulawesi Selatan yang seorang penghafal Al Quran, pendidik dan tak henti menebarkan dakwah lewat wadah Pesantren Darul Istiqamah.

Keteladanan beliau dalam menyampaikan risalah dakwah merupakan sesuatu yang luar biasa. Sebagai generasi muda, kita wajib mengambil keteladanan dari berbagai hikmah dan pengalaman beliau baik selama berdakwah maupun dalam menjalani kehidupan dalam bingkai ajaran Islam.

Dalam upaya untuk mendokumentasikan pemikiran, nasihat, ajaran, dan keteladanan beliau, maka kami berinisiatif untuk mengundang rekan-rekan sekalian untuk menulis testimoni tentang KH. M Arif Marzuki baik dalam kapasitas sebagai sahabat, murid, simpatisan, atau peserta pengajian di Pesantren Darul Istiqamah.

Syarat tulisan minimal 2 halaman dengan melampirkan biodata singkat.

Deadline tulisan adalah 12 Desember 2018.

Tulisan dikirim ke email: yanuardisyukur@gmail.com dan ismawan@darulistiqamah.org

Atas perhatian bapak/ibu/rekan-rekan sekalian atas inisiatif ini, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu 'Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jakarta, Desember 2018

Kurator,

Yanuardi Syukur
Ismawan Amir

* Bagi yang berminat untuk menulis dapat juga menkonfirmasi ke WA 081355028300 (Ismawan Amir)

Undangan Menulis Antologi Tribute to Prof Achmad Fedyani Saifuddin

Prof Achmad Fedyani Saifuddin
Undangan Menulis Antologi Tribute to Prof Achmad Fedyani Saifuddin

Yth. Bapak/Ibu dan rekan-rekan sekalian

Salam,

Pada Kamis 25 Oktober 2018 pukul 21.05 WIB, telah berpulang ke rahmatullah Guru Besar Antropologi FISIP UI Prof Achmad Fedyani Saifuddin di RS. Puri Cinere, Jakarta, dan dikebumikan di Sawangan, Depok.

Kepergian beliau menyisakan banyak kenangan dan juga legasi yang tersebar di antara keluarga, sahabat, kolega, mahasiswa, dan masyarakat terkhusus peminat antropologi yang pernah membaca tulisan-tulisan beliau yang dimuat di berbagai media seperti Jurnal Antropologi Indonesia, Kompas, dan lain sebagainya.

Sepanjang hidupnya, Prof Achmad Fedyani Saifuddin (1952-2018) telah menulis banyak buku, di antaranya: Konflik dan Integrasi: Perbedaan Faham dalam Agama Islam (1986), Seksualitas Remaja (bersama Irwan M. Hidayana, 1999), Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma (2006), Catatan Reflektif Antropologi Sosialbudaya (2011), Dimensi Sosialbudaya Pertahanan : Setahun Weekly Sociocultural Insights (2011), Logika Antropologi: Suatu Percakapan (imajiner) Mengenai Dasar Paradigma (2015), Epidemiologi & Antropologi: Suatu Pendekatan Integratif Mengenai Kesehatan (bersama Buchari Lapau, 2017), dan Environasionalisme: Suatu Wujud Pendidikan Konstruktivisme (bersama Ridwan Bachtra, 2017).

Selain itu, Prof Afid--begitu biasa disapa--juga secara produktif menerjemahkan buku, antara lain: Agama: Dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis (1988) karya Roland Robertson, Di Bawah Bayang-bayang Ratu Intan: Proses Marjinalisasi pada Masyarakat Terasing (1998) karya Anna L. Tsing, dan Demokrasi, Korupsi, dan Makhluk Halus dalam Politik Indonesia Kontemporer (2016) karya Nils Bubandt.

Beliau juga menjadi editor beberapa buku lainnya--baik sendiri maupun bersama kolega--seperti: Agama dan Politik Keseragaman: Suatu Refleksi Kebijakan Keagamaan Orde Baru (2000), _Multicultural Education in Indonesia and Southeast Asia: Stepping into the unfamiliar (2003), Refleksi Karakter Bangsa (2008), Minahasa Wonderland: Negeri Mempersona di Bibir Pasifik (2014), dan Papua Barat: Memasuki Dekade Kedua Pembangunan (2015).

Secara umum, Prof Afid menulis berbagai topik, mulai dari paradigma antropologi, kebudayaan, kekuasaan, agama, organisasi sosial, kesehatan, kemiskinan, identitas, karakter bangsa, nasionalisme, dan negara-bangsa.

Untuk mengenang legasi pemikiran, inspirasi, dan jejak dari beliau, maka kami berinisiatif untuk mengundang para kolega, kerabat, mahasiswa, dan siapa saja yang pernah mengenal beliau--baik secara pemikiran maupun personal--untuk turut menyumbang artikel ringan dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Artikel berisi kenangan/apresiasi terhadap Prof Afid dalam pemikiran, inspirasi, dan jejak keteladanan sepanjang minimal 1000 karakter, Times New Roman, spasi 1.5.
2. Artikel dapat pula disertai dengan gambar (beserta caption-nya) dan referensi (jika ada).
3. Artikel dikirim ke email: yanuardisyukur@gmail.com dengan deadline: 16 Desember 2018
4. Tulisan disertai dengan biodata penulis sepanjang 2 paragraf dan foto.

Terkait dengan penerbitan (dan rencana peluncuran buku) akan didiskusikan selanjutnya di FISIP UI, Depok.

Atas perhatian bapak/ibu, rekan-rekan, kolega, dan para kontributor sekalian, kami ucapkan terima kasih.

Depok, 16 November 2018

Salam,

Yanuardi Syukur

FGD Survey Minat Baca Masyarakat Kota Depok

Suasana FGD
Budaya membaca merupakan budaya penting yang menopang kemajuan suatu bangsa. Dalam berbagai survei, katanya minat membaca masyarakat kita masih rendah. Memang, tidak bisa dimungkiri itu ada, akan tetapi fakta menunjukkan bahwa semakin hari tingkat minat membaca kita semakin naik.

Hai ini saya mengikuti FGD Survey Minat Baca Masyarakat Kota Depok 2018 yang diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Depok bertempat di Fave Hotel, Depok.

Beberapa hasil penelitian kuantitatif ini adalah sebagai berikut:

Frekuensi membaca per minggu: 4 sampai 5 kali per minggu.

Durasi membaca per hari: rata-rata 1-2 jam per hari.

Jumlah buku yang dibaca per tahun: rata-rata 5-9 buku per tahun.

Tingkat kegemaran membaca: sedang.

"Tingkat kegemaran membaca di Depok jauh lebih baik daripada survey tingkat nasional," kata Ir. M. Amin, salah seorang peneliti survei tersebut. Bisa jadi, itu karena Depok merupakan penyangga ibukota sekaligus dikelilingi oleh berbagai kampus seperti UI dan lain sebagainya. *

Reuni 612 Alumni Pertukaran Tokoh Muda Muslim Australia-Indonesia


Foto barengSetelah seleksi MEP, biasanya diadakan reuni (silaturahmi) alumni. Seperti juga tahun lalu, reuni tahun ini dihadiri oleh Prof Greg Fealy, Prof Virginia Hooker, Rowan Gould, para staf Kedubes Australia, serta para alumni MEP yang berada di Jakarta dan sekitarnya.

Sambutan sebagai ketua alumni
Sambutan
Beberapa Alumni

Beberapa alumni MEP

Program MEP mulai berjalan sejak 2002 dan kini telah menunjukkan berbagai inisiatif positif dan jejaring di Indonesia dan Australia. Kunjungan selama 2 minggu tsb membuka banyak cerita dan kedekatan antarmasyarakat di kedua negara.

Di internal Forum Alumni MEP, saat ini terus melakukan berbagai kolaborasi, seperti ngopi bareng yg telah diadakan di kantor Komisi Perlindungan Anak dan Perempuan (KPAI) dan Kantor Staf Presiden (KSP). Secara berjalan, ngopi bareng ini juga akan diadakan di DPR/MPR dan berbagai instansi dimana para alumni beraktivitas di dalamnya.

Saat makan siang
Ke depannya, Australia juga berencana membuka program MEP untuk ASEAN, yg akan dimulai dgn Thailand dan Filipina (Malaysia telah berjalan). Sekitar 6 orang akan dikirim dari ketiga negara tsb untuk berkunjung dan menjalin kontak dgn berbagai kolega di Australia selama 11 hari (berbeda dgn Indonesia yg 14 hari). *

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...