Friday, August 3, 2018
30 Menit Ngobrolin FLP di Okezone
Selama 21 tahun terakhir, Forum Lingkar Pena (FLP) telah berkontribusi untuk dalam perkembangan literasi di Indonesia dan menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga pemerintah, NGO, kedutaan, serta civil society. Tertarik dengan hal itu, Okezone.com, sebuah media di bawah MNC Corporation, mengundang FLP untuk berbagai cerita dalam acara chatbox selama 30 menit, bertempat di Lantai 12 Gedung Inews TV, Jakarta (2/8/2018).
Dalam acara yang dipandu oleh host Dennis Dwi Nugraha tersebut, FLP diwakili oleh tiga aktivisnya, yaitu M. Irfan Hidayatullah (Ketua Dewan Pertimbangan), Yanuardi Syukur (Koordinator Divisi Litbang), dan Aprilina Prastari (PIC Manajemen Penulis).
Irfan Hidayatullah bercerita soal sejarah FLP yang didirikan oleh tiga perempuan, yaitu Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Maimon Herawati. "Saat itu mereka merasakan pentingnya membudayakan baca-tulis di masyarakat, sekaligus untuk mengumpulkan para penulis Indonesia menjelang berakhirnya Order Baru," kata Irfan yang juga kandidat doktor dari FIB UI.
Sementara itu, Yanuardi Syukur bercerita tentang bagaimana menemukan passion dalam menulis. "Awalnya saya tertarik menulis lewat buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang saya beli di Pasar Mayestik tahun 1997. Akan tetapi, setelah medengarkan suara hati, saya rupanya lebih condong untuk menulis buku nonfiksi, dan sampai saat ini saya lebih produktif dengan menulis nonfiksi," kata Yanuardi, yang sementara meneliti terkait gerakan Islam untuk program doktornya di FISIP UI.
Aprilina Prastari bercerita tentang berbagai program FLP yang sementara dijalankan, seperti kerjasama dengan Kemenkumham, UC News, Kaskus, serta inisiatif untuk membuat manajemen penulis yang dapat membantu menghubungkan antara penulis FLP dengan kebutuhan pasar dalam berbagai pelatihan kepenulisan. "Dalam kaderisasi, selain materi keislaman dan ke-FLP-an, kami juga memberikan tip tentang bagaimana menulis cerpen, puisi, novel dan lain sebagainya kepada para peserta," lanjut April yang juga lulusan Magister Komunikasi UI.
Diskusi selama setengah jam ini bisa disebut sebagai diskusi versi singkat dari "kontribusi FLP selama 21 tahun di Indonesia." Diskusi seperti ini sangat penting tidak hanya dalam konteks refleksi perjalanan lembaga literasi yang telah melahirkan sekian banyak penulis, buku, bahkan adaptasi buku dalam bentuk film layar lebar seperti karya-karya Habiburrahman El-Shirazy, Asma Nadia, dan Helvy Tiana Rosa, akan tetapi juga untuk menyebarkan inspirasi bahwa perjuangan literasi di Indonesia harus terus dikembangkan dengan berbagai program kreatif dan kolaboratif. *
Monday, July 30, 2018
Melihat Jakarta dari Pedalaman
![]() |
| Perjalanan ke Pedalaman |
Tidak semua punya kemewahan untuk menginjak ibukota Jakarta. Tak terkecuali orang SAD. Hidup mereka yang siklusnya tidak jauh-jauh dari hutan dan perkampungan telah jadi kebahagiaan tersendiri yang membuat mereka tidak menuntut untuk harus jadi orang kota. Hidup bagi mereka, adalah "bisa makan, bisa punya rumah, dan bisa membesarkan anak."
Bisa makan adalah hak asasi tiap orang, bahkan tiap makhluk. Problem makanan ini sebenarnya sudah klasik banget. Sejak dulu orang jadi berkonflik gara-gara makanan. Jika ditarik lebih luas, gara-gara sumber daya.
Ada sumber daya di suatu tempat. Maka berlari-larilah orang untuk mendapatkan itu. Tak peduli apakah merusak alam atau tidak, manusia berusaha untuk itu. Lihatlah bagaimana kerusakan hutan dan terjadinya perubahan ekosistem yang membuat alam kita jadi rusak. Itu tak lain dan tak bukan karena kerakusan untuk mendapatkan sumber-sumber alam. Selain buat perut, itu juga buat kekuasaan dalam arti seluas-luasnya.
Orang-orang Eropa yang dulu capek-capek berlayar ke timur juga mencarinya itu. Cari makanan juga. Makanan itu rupanya berdaya tawar tinggi di sana. Namanya rempah-rempah. "Itu makanan para dewa," katanya. Saking susahnya mendapatkan rempah-rempah, mitos "makanan para dewa" itu pun menjelma. Mancung-mancung hidung dari Portugis dan Spanyol pun buat kesepakatan mencari dunia timur yang kaya. Tersesat, karam, dan karam. Akhirnya, sampai jugalah mereka ke Malaka. Kemudian, dari situ mereka tembus satu tahun sesudahnya hingga ke Maluku.
Jauh-jauh mereka tiba di Malaka hingga Maluku tujuannya cuma satu: biar bisa makan. Ya, makanan yang enak salah satunya harus ada cengkehnya, atau pala-nya. Itu dua komoditas yang mahal banget di zaman old tersebut. Kalau di zaman sekarang, dua komoditas itu kelihatannya tidak begitu dicari-cari. Tapi, orang mencari-cari sumber daya lainnnya seperti minyak, gas, emas, tembaga---dan sejenisnya. Termasuk, mencari dan menguasai jalur-jalur tertentu agar bisa menguasai dunia.
Lihatlah perseteruan di Laut Cina Selatan. Itu bukan hanya seteru soal potensi alamnya tapi juga potensi geografis yang strategis untuk kekuatan geopolitik. "Siapa yang menguasai jalur, dia bisa menguasai dunia," mungkin begitu. Maka, berlomba-lombalah tetangga kita untuk menguasai LCS itu. Soal jalur juga terlihat di berbagai tempat, misalnya di Timur Tengah. Jalur minyak tetap harus diamankan, karena itu berkaitan erat dengan resources masa depan bagi negara-negara besar.
Suatu ketika, saya ngobrol dengan seorang kawan sekaligus "murid alifbata" saya di Makassar yang berprofesi sebagai penerbang. Ia bercerita, bahwa sebenarnya Amerika Serikat juga punya potensi minyak yang besar, akan tetapi mereka hendak menguasai dulu potensi-potensi di luar negaranya. Ini semacam politik sumberdaya. Kuasai sumberdaya di luar kita, dan jika mereka sudah habis, kita masih punya. Sampai sekarang saya belum banyak pelajari soal itu, akan tetapi di beberapa sumber sederhana, kita bisa melihat bahwa negara besar sekelas Amerika juga sebenarnya potensi alamnya juga besar. Cuma mungkin eksplorasinya lebih fokus ke luar agar mendapatkan hasil yang lebih besar dari negara lain.
Di Jakarta juga begitu. Banyak orang yang punya sumberdaya. Sudah kaya, tapi masih mau tetap kaya. Akhirnya, jadi kaya raya. Memang sih, menjadi itu hak asasi, dan tidak dosa. Akan tetapi, menjadi kaya dan bisa membantu masyarakat sekitar itu yang kita butuhkan. Bukan menjadi kaya tapi memiskinkan orang lain. Jangan sampai kayak gitulah. Tidak Pancasilais-lah kalau kayak gitu.*
Harga Sawit (boleh) Jatuh, Harga Diri Jangan
![]() |
| Salah seorang warga Suku Anak Dalam, pekerja sawit |
Harga sawit belakangan ini sangat jelek. Lagi jatuh!
Suatu ketika, saya bertanya ke warga.
"Pak, berapa harga sawit sekarang?"
"Sekarang ini, per kilo cuma Rp600 rupiah," katanya.
Harga yang super murah itu pastinya berdampak buruk bagi kantong masyarakat, khususnya SAD. Mereka terlihat agak mengeluh atas kondisi seperti itu, tapi tidak begitu ditampakkan rasa keluhan itu. Sebaliknya, mereka tetap memanen sawit-sawitnya.
"Harga lagi jatuh begini, terus sawitnya diapain pak?" tanya saya.
"Kami tetap kerja." Maksudnya, tetap mereka petik sawit, dan panen. Kendati untungnya tidak seberapa.
Etos yang hendak ditampakkan dari sini adalah etos bertahan hidup ala orang SAD. Mereka sedang didera kesusahan, akan tetapi mereka tetap berjuang. Sekecil apapun potensi yang mereka punya, tetap mereka pakai untuk mencari hidup.
Jika mereka membiarkan sawitnya begitu saja, maka tak ada juga untung yang mereka dapat. Harga sudah jatuh, tapi mental kita jangan sampai jatuh.
Walau dapat untung cuma sedikit, tapi itu bisa menjadi pembuka rezeki lainnya.
Selain bersawit, mereka juga membuat arang. Biasanya di kebun-kebun mereka buat arang. Arang berguna buat bakar ikan, bakar sate, dan sebagainya. Bulan-bulan kayak sekarang ini, kata seorang informan saya, Ibu Butet, adalah bulan masyarakat membuat arang--karena jatuhnya harga sawit.
Hidup di pedalaman memang tidak menguntungkan--bagi orang kota. Ya, kayak gitu-gitu itu: kerja sawit tapi harganya jatuh. Tapi sebenarnya sama aja sih ya: hidup di kota juga ada masa-masa harga bagus dan ada masa-masa harga jatuh.
Artinya, soal fluktuasi harga itu sudah sunnatullah dalam ekonomi manusia. Gara-gara harga jatuh itu banyaklah orang diputus hubungan kerja--terutama di kota-kota. Mereka menganggur. Padahal mereka sarjana. Masa' sih sarjana harus menganggur? Harusnya nggak boleh. Malu sama orang SAD. Orang SAD yang nggak bisa baca-tulis aja tetap berusaha mencukupi hidupnya. Tidak menganggur.
Sawit jatuh, arang pun dilakoni.
Itu semacam siklus kerja. Maksudnya, dalam dunia pekerjaan kita tidak bisa mengandalkan satu jenis pekerjaan untuk menopang hidup. Praktik ini sesungguhnya dijalankan juga oleh para pengusaha Tionghoa.
Suatu ketika, setelah menghadiri undangan diskusi di Yayasan Nabil--yang didirikan oleh Eddie Lembong, seorang pengusaha kaya Tionghoa yang sangat merah-putih--saya bertanya kepada istrinya.
"Bu, bagaimana cara orang Tionghoa bekerja?"
"Orang Tionghoa itu bekerjanya tidak hanya satu macam. Mereka kerja bermacam-macam. Jika satu pekerjaan sedang tidak bagus, mereka akan bekerja pekerjaan lainnya. Dan, semua jenis pekerjaannya itu akhir menopang satu dan lainnya."
Saya lihat rata-rata orang kaya juga pada begitu. Mereka tidak hanya cukup satu jenis usaha. Bukannya mau maruk sih, tapi itu bagian dari mekanisme untuk bertahan hidup atas kemungkinan datangnya angin yang dapat menjatuhkan satu jenis usaha.
Persis seperti etos kerja orang SAD. Mereka tidak menggantungkan usaha pada sawit aja, atau pada arang saja. Atau, pada jualan hewan buruan.
"Di sekitar sini juga ada warung yang memasak babi-hutan," kata seorang informan saya.
"Biasanya, babi-hutannya dijual dari orang SAD."
Jadi, semua jenis pekerjaan dilakukan. Semata-mata untuk mempertahankan hidup. Agar bisa makan. Agar bisa bikin rumah yang lebih layak. Dan, agar muka bisa tetap tegak. *
Tengah Juli di Pedalaman Jambi
![]() |
| Berfoto dengan warga belajar Suku Anak Dalam |
Entah kapan, rasanya saya pernah berkhayal: suatu saat saya akan bepergian ke Suku Anak Dalam. Ya, saya ingat! Kayaknya itu sepulang dari undangan menjadi pembicara di kampus STAI Al-Ma'arif di Kota Jambi.
"Dari Jambi ke Suku Anak Dalam, jauh tidak, Pak Sumarto?" tanya saya.
"Agak jauh, Pak Yan," jawab Dr. Sumarto. "Bisa 4 sampe 5 jam perjalanan."
Saat itu, memang tidak memungkinkan. Waktu saya di Jambi hanya sedikit.
Suatu ketika, saya dapat tugas dari kantor, Lantai Delapan Kemdikbud. Awalnya, rencana saya ditugaskan untuk pergi ke Suku Togutil alias Tobelo Dalam (O Hana Manyawa), akan tetapi tidak jadi--karena faktor anggaran yang terbatas. Akhirnya, saya diberi tugas ke Jambi, ke Suku Anak Dalam. Yes! Ini jadi doa, dari apa yang pernah saya imajinasikan--waktu itu.
PERJALANAN ke Jambi tidak sampai satu jam. Dari bandara, kami ke Muara Bulian sekitar empat jam. Setelah itu, lanjut ke Desa Bungku, Kabupaten Batanghari. Desa ini termasuk terpencil. Jauh dari kota. Sesiapa yang senang online rasanya tidak akan betah berlama-lama di sini. Signalnya macet-macet. Berat bagi orang kota, apalagi yang senang jawaban up to date.
Tapi, saya menikmati itu.
Di sana, saya bertemu dengan saudara-saudara kita dari SAD. Mereka ada yang sudah menamatkan pendidikan SMA, tapi banyak juga yang masih buta huruf latin. Kalau kita di kota sudah melek aksara, mereka belum. Abecede saja mereka baru mulai. Pun, satu tambah satu sama dengan dua. Itu juga mereka baru belajar. Menulis juga sama. Masih pelan-pelan mereka ikuti pelajaran yang tersedia.
Sekolah mereka masih sederhana sekali. Dinding sekolahnya beberapa sudah berpapan, tapi beberapa lainnya belum. Lantainya juga begitu: beberapa tidak ada semennya. Dari kejauhan, ini bukan sekolah. Tapi memang sih, ini sekolah nonformal. Jadi, beda banget dengan sekolah-sekolah formal.
Sekolah ini dibuat untuk saudara-saudara kita yang belum bersekolah, atau pernah putus sekolah dan ingin melanjutkan kembali. Pemerintah, lewat Kemdikbud, bersemangat untuk itu. Untuk mengentaskan buta aksara di masyarakat, terutama di pedalaman.
"Saya ingin senang sekali belajar, Pak. Saya ingin Pemerintah lebih peduli lagi kepada kita-kita di sini," kata salah seorang warga belajar.
Seorang lagi berkata, "Saya sekarang tidak ada kerja. Rumah juga tidak ada. Saya tinggal di rumah orang. Tapi saya mau belajar biar bisa pintar." Begitu kata seorang lainnya.
Seorang ibu--tepatnya sih nenek, dipanggil Nyai--juga bercerita soal semangatnya untuk belajar.
Saya tanya, "Nyai tidak merasa malu belajar dengan orang yang lebih muda?"
"Tidak!" Saya tidak merasa malu. Saya ingin bisa seperti orang lain.
Tampak semangat yang besar dari wajah-wajah warga belajar Suku Anak Dalam yang sempat kami temui siang menjelang sore itu.
Di lain waktu, saya dan tim juga bertemu dengan kepala desa setempat. Dia bercerita bahwa di sekitar di ini ada beberapa perusahaan besar, akan tetapi tidak memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.
"Jalanan yang berdebu itu adalah salah satu bukti bagaimana perhatian perusahaan kepada masyarakat," kata beliau.
Dengan penuh semangat, ia bercerita tentang gurita kapitalisme, pemodal, serta kolaborasi antara orang pintar dengan perusahaan yang merugikan masyarakat.
Beberapa tahun terakhir, konflik lahan antar masyarakat SAD dengan perusahaan memang sedemikian besarnya. Lahan-lahan itu merupakan sumber kehidupan bagi orang SAD--baik yang di hutan atau yang sudah bercampur di pemukiman warga.
Penggusuran lahan membuat masyarakat nyaris tidak mendapatkan apa-apa. Semangat pak kades untuk "melawan kapitalisme" itu bisa dilihat sebagai semangat untuk kembali ke desa, peduli ke desa.
Membangun dari desa cukup penting. Karena desa adalah tiang utama dari bangunan kebangsaan kita. Tak ada bangsa tanpa adanya desa. Tak ada pemerintah pusat tanpa adanya pemerintah desa. Dan, tak ada namanya elite politik, pejabat pemerintahan, tanpa adanya warga yang mau diatur. Tapi, hak-hak warga tentu saja harus diperhatikan.
Kehidupan mereka akan berbagai fasilitas dasar salah satunya pendidikan haruslah diperhatikan.
Bertemu dengan SAD merupakan salah satu berkah bagi saya. Karena, saya bisa belajar dari dekat bagaimana orang Indonesia di pedalaman berpikir. Berbeda sekali dengan orang kita yang penuh kompetisi, mereka di desa hidup dengan harmoni. Memang, mereka terlambat dibanding kita, akan tetapi mereka mempertahankan kebersamaan, dan boleh dikata: kebersahajaan.
Lewat tulisan ini, saya ingin mengajak kepada teman-teman sekalian untuk mari kita lihat Indonesia ini tidak hanya dari kota. Akan tetapi dari desa-desa. Dari orang-orang pedalaman, dari orang-orang pinggiran, perbatasan, dan dari orang-orang marginal. Indonesia ini milik kita, kita semua. Maka, harus kita juga yang perjuangkan nasib warga masyarakat kita. Jangan tunggu orang lain. *
Monday, July 23, 2018
Tren Hijrah dan Halal Muslim Milenial
Tren Hijrah dan Halal Muslim Milenial
Oleh Yanuardi Syukur
Hijrah
dan halal adalah dua pembahasan yang lekat dalam keseharian Muslim Milenial
(1982-2004). Salah satu cara untuk menangkap fenomena ini adalah dengan
memperhatikan lalu-lalang percakapan, dialog, bahkan konflik yang ada di media
sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter.
Kata
“hijrah” secara umum dimaknai dalam beberapa hal, seperti: perubahan pemikiran,
perubahan penampilan, menjadi muallaf (yang sebelumnya non-muslim), mengagumi
ulama, menghadiri pengajian (online dan offline), mengikuti komunitas, hadir
dalam gathering, dan ikut dalam solidaritas keislaman. Berbeda dengan tren
hijrah generasi sebelumnya yang cenderung tertutup, generasi milenial
memperlihatkan keterbukaan ketika memilih berhijrah yang terlihat dari aktivis
media sosial mereka.
Tren Hijrah
Bagi
public figure, hijrah memiliki tiga kemungkinan. Pertama, mendapatkan
ketenangan spiritual dan semacam kepastian hidup; kedua, mendapatkan komunitas
baru, dan ketiga, membuka peluang kapitalisasi hijrah itu untuk kepentingan
finansial.
Pertama,
kehidupan masyarakat urban memang kurang sisi spiritual. Tak jarang orang kota
yang menjadi pecandu narkoba, pergaulan bebas, dan tidak bahagia. Salah satu
cara untuk bahagia adalah dengan mereguk air spiritualitas. Kedua, mendapatkan
komunitas baru adalah salah satu kebaikan bagi mereka yang berhijrah karena
dengan begitu mereka tidak merasa sendirian dalam kehidupannya. Dan ketiga, tak
jarang orang yang berhijrah kemudian menjadi fashion icon (atau jadi desainer),
tampil di fashion week, membuka
toko/resto/travel Islami, dan pada akhirnya mendapatkan uang.
Bagi
orang biasa (selain public figure, maksudnya), hijrah juga sama—mendapatkan
ketenangan dan kepastian hidup. Nyaris tidak ada sesuatu yang dapat membuat
orang jadi tenang, mantap, dan pasti selain agama. Karena, agama dapat
memberikan penjelasan yang meyakinkan terkait tiga pernyataan substansial
manusia: (1) darimana kita berasal? (2) dimana kita sekarang? dan (3) mau
kemana kita nanti?
Jadi,
urusan profan (dunia) dan sakral (spiritual) —mengutip Emile Durkheim, sudah
ada paket komplit dalam agama. Dalam penjelasan lain, kata Guru Besar
Antropologi Universitas Michigan C.P. Kottak, agama itu dapat menjelaskan soal
manusia sebagai makhluk spiritual (spiritual beings), kekuasaan dan kekuatan
(powers and forces), ritus-ritus peralihan (rites of passage), hingga
penjelasan soal ketidakpastian (uncertainty), kegelisahan (anxiety), dan
penghiburan (solace).
Tampak
di sini bahwa kesadaran spiritual generasi milenial semakin meningkat. Mereka
sharing video pengajian, membuat video, bahkan mereka membuat berbagai event
yang berkaitan dengan agama. Ada semacam kerinduan untuk menjadi religius di
masyarakat urban, terutama.
Niat dan Akhlak
Hijrah
tidak bisa dilepaskan dengan niat. Itulah kenapa dalam hadis populer disebutkan
bahwa “segala amal tergantung pada niat.” Selanjutnya, disebutkan bahwa “…siapa
yang berhijrah karena Allah dan Rasul-nya maka dia akan mendapatkan Allah dan
Rasulnya.” Pun demikian sebaliknya jika hijrahnya mengejar dunia, dia dapat
juga dunia itu.
Berarti,
niat sangat penting bagi mereka yang berhijrah. Setelah niat, mereka
melanjutkan dengan akhlak mulia. Maka, banyak anak-anak milenial yang mulai
membatasi komentarnya, memosting video pengajian, atau menggunakan kosakata
Islam (dan Arab) sebagai tanda identitas mereka.
Tentu
saja yang tak terlupakan adalah dalam pakaian. Akhlak mulia diperlihatkan dalam
pemilihan pakaian. Di antara yang pakai hijab kecil, senang, bahkan ada yang
pakai cadar. Kelompok yang bercadar bahwa membuat berbagai komunitas dan
gathering untuk saling menguatkan dalam berislam.
Jika
dulu orang bercadar agak malu menampakkan dirinya, kini sudah berubah.
Milienialis yang bercadar tidak ragu untuk berfoto, tampil modis, dan
menampakkan fotonya di media sosial. Tubuh bercadar bertransformasi dari
sesuatu yang ketat menuju “otonomi tubuh”, yaitu tubuh yang dapat ditampilkan
lewat media foto, video, dan lain sebagainya. Singkatnya, cadar bukan alasan
untuk tidak modis, bahkan kini tak jarang yang turun ke jalan dalam demonstrasi—sesuatu
yang dulu jarang sekali kita lihat (setidaknya bagi saya).
Tren Halal
Soal
halal juga menjadi perhatian generasi milenial. Secara umum, ini semacam kebutuhan
akan kepastian produk/komoditas atau aktivitas yang diridhai Allah. Mereka
ingin produk yang mereka konsumsi atau pergaulan yang mereka jalani berada
dalam ridha-Nya.
Tren
halal juga terlihat dari kalimat mereka “pengen dihalalin” yang bermakna untuk
punya hubungan dengan lawan jenis yang halal alias dalam ikatan pernikahan.
Kata “dihalalin” itu cukup tren di media sosial. “Baru semester 4, tapi rasanya
pengen dihalalin saja,” kata seorang muslimah milenial. Status ini semacam
“sinyal minta dihalalin” yang dapat memancing milenialis lawan jenis untuk
sekedar stalking, likes, retweet, love, atau langsung japri.
Berarti,
fenomena halal ini terkait dengan kepastian. Manusia butuh kepastian, pun
dengan generasi milenial. Kepastian hidup menjadi salah satu idaman bagi
mereka. Oppa-opa Korea yang ganteng-ganteng juga jadi imbas dari halal ini.
Para muslimah milenial—yang senang film Korea—juga punya imajinasi mendapatkan
pasangan hidup yang gantengnya kayak orang Korea. Judul salah satu media online
menulis begini: “Gantengnya 10 artis Korea pakai baju koko, bikin wanita ingin
dihalalin.”
Jadi,
ketika seseorang menggunakan atribut yang diasosiasikan sebagai “pakaian Islam”
seperti baju koko—kendati itu dari Cina sebenarnya—muslimah milenial pun ingin
mendapatkan laki-laki seperti itu, atau minimal orang Indonesia yang gantengnya
kayak gitu. Entah ungkapan “pengen dihalalin” itu serius atau tidak, tapi itu
semacam ekspresi keagamaan yang ditampakkan oleh generasi milenial.
Di
Twitter misalnya, ketika melihat lelaki ganteng, seorang muslimah—seakan
menjadi representasi teman-temannya—menulis begini,” Duh ya, ampun masnya tuh
ya…Lama-lama gue minta dihalalin juga nih..” Ada semacam kesan (atau terkesan)
dengan kesempurnaan fisik yang terlihat dari wajah para aktor—entah itu Korea
atau bukan. Mungkin ini semacam ketakjuban standar perempuan terhadap laki-laki
yang dianggap punya “unsur wow” dalam dirinya.
“Provokasi Ekspresif” Yang
Sudah Halal
Orang
yang sudah halal kadang berlebihan dalam berekspresi di media sosial. Misalnya,
sepasang suami-istri muda yang sedang jatuh-cinta menampakkan kemesraan yang ekspresif.
Mereka memosting foto dan tulisan yang—pada hal tertentu agak intim. Hal itu
punya dampak positif, yaitu kesan bahwa dia merupakan pasangan yang bahagia,
bahkan ideal. Akan tetapi, kesan lainnya adalah “provokasi ekspresif” bagi
mereka yang kebetulan masih single-merana.
Ekspresi
romantisme yang—dianggap berlebihan itu—dapat membuat milenialis lainnya ngebet
menikah. Tapi problemnya mereka belum punya ilmu yang memadai, bahkan belum
punya kematangan psikologi. Dalam beberapa kasus, ada pasangan muda yang
kenalan di media sosial, kemudian saling-suka, menikah, dan tidak lama kemudian
bubar.
Beberapa
orang yang tidak senang dengan “milenialis ekspresif” itu mengatakan bahwa
seharusnya di media sosial kita juga memiliki rasa malu. Tidak semua hal harus
dipublikasikan. Atau, tidak semua hal harus orang lain tahu. Mengutip hadis
Nabi, “Sesungguhnya sifat malu tidaklah mendatangkan apa-apa kecuali kebaikan.”
(HR. Bukhari).
Produksi Kesenangan
Apa
yang terlihat dari fenomena hijrah dan halal adalah satu hal: produksi
kesenangan. Orang yang berhijrah dan menampakkan hijrahnya di media sosial
sesungguhnya tengah memproduksi kesenangan baik kepada dirinya maupun orang
lain. Ada rasa senang ketika orang lain juga mendapatkan hidayah, turut
berhijrah, dan mengikuti yang halal-halal.
Produksi
kesenangan ini terkait sekali dengan kekuasaan (power). Mengutip filsuf kelahiran
Poitiers Perancis, Michel Foucault (1926-1984), “Kekuasaan dapat menjadi instrumen
untuk memproduksi kesenangan.” Di tangan kaum milenial, ponsel yang mereka
kuasai menjadi alat yang efektif untuk memproduksi kesenangan-kesenangan
personal dan komunal.
Saat
ini, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa umumnya milenialis memproduksi
kesenangan di akunnya masing-masing. Kesenangan itu bisa berbentuk senang
membaca tulisan orang, senang memproduksi konten (artikel, gambar, dan video),
dan juga kesenangan ketika dapat men-follow (atau di-follow) oleh orang
tertentu (bisa public figure, etc.) dan dapat berkontribusi dalam komentar di
akun-akun tokoh/organisasi yang mereka senangi.
Semua
itu mereka lakukan untuk mendapatkan kesenangan. *
Tobat Hoax di Bulan Suci
Tobat Hoax di Bulan Suci
Oleh
Yanuardi Syukur
Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate;
Alumni Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta
Secara
bahasa, hoax berarti “tipuan
lucu/tipuan jahat” (a humorous or
malicious deception). Cambridge Dictionary mengartikannya sebagai “rencana
untuk menipu seseorang” (a plan to
deceive someone), seperti memberi tahu polisi bahwa ada bom di suatu
tempat, padahal tidak ada.
Curtis
D. MacDougall (1958) dalam bukunya Hoaxes,
menjelaskan bahwa hoax adalah
“kepalsuan yang sengaja dibuat untuk menyamar sebagai kebenaran.” Kepalsuan itu
berbeda sekali dengan kesalahan observasi, penilaian, rumor, atau legenda.
Singkatnya, hoax adalah sebuah
kepalsuan yang disengaja.
Perubahan dan Kompleksitas
Terjadinya
hoax berkaitan erat dengan masalah
perubahan dan kompleksitas. Seiring dengan adanya media sosial hoax menjadi sesuatu yang mudah sekali
dibuat lewat berbagai aplikasi gratis dan diviralkan dengan cepat lewat
berbagai media. Hoax atau berita bohong belakangan ini menjadi “limbah media
sosial” yang mengganggu jalannya interaksi sosial kita yang harmonis
antarsesama.
Kemudahan
itu menjadi hoax mudah untuk diproduksi. Produksi hoax sesungguhnya berjalan
seiring-sejalan dengan dinamika yang berkembang dalam tataran sosial dan
politik. Saking beruntunnya produksi hoax kita jadi sulit membedakan mana fakta
dan mana opini, mana kebenaran dan mana kepalsuan. Benar dan palsu seolah-olah
menjadi menu yang harus kita telan sehari-hari.
Menurut
saya, setidaknya hoax diproduksi karena dua faktor. Pertama, bentuk resistensi kepada lawan. Hoax tidak hanya dilakukan
oleh satu orang kepada orang lainnya, akan tetapi juga dilakukan secara massif
oleh kekuatan terstruktur. Biasanya, hoax
itu hadir karena semangat perlawanan kepada kekuatan lain yang dianggap musuh.
Ada anggapan bahwa “dalam perang, semua hal menjadi boleh, dan hoax adalah
bagian dari perang itu sendiri yang dibolehkan.”
Kedua,
minimnya kesadaran literasi yang positif. Masyarakat kita tidak melewati budaya
membaca secara serius. Langsung loncat kepada budaya internet. Minimnya budaya
membaca membuat pembuat hoax melakukan apa saja yang menurutnya baik. Tidak
dipikirkannya apa plus dan minus dari aktivitas tersebut. Asal hoax
tersebar—dan berpengaruh, dipercaya orang—itu sudah bagian dari kesenangan
mereka.
“Manusia Piltdown”
Kasus
“manusia Piltdown” (Eoanthropus Dawsoni)
misalnya, adalah kasus hoax akademik
yang sempat dipercaya orang—bahwa ada jenis manusia itu—selama 40 tahun (1913
sampai 1953). Padahal, itu hanya hoax. Hoax akademik. Pelakunya adalah Charles
Dawson yang mengklaim bahwa dia telah menemukan sebuah tengkorak hominid di
daerah Piltdown, dekat Uchfield, Sussex, Inggris.
Menurut
Dawson, “manusia Piltdown” adalah kunci hubungan antara kera dan manusia,
karena katanya ada cranium (bagian tulang belakang yang membungkus otak) yang
rada mirip dengan manusia, serta adanya rahang yang berbentuk seperti rahang
kera.
Empat
tahun setelah itu, tepatnya 21 November 1953, ternyata ditemukan bahwa “manusia
setengah kera dan setengah manusia” itu adalah sebuah penipuan karena pretensi
dari Dawson ketika itu adalah untuk memuaskan keinginan orang-orang Eropa bahwa
manusia yang awal-awal itu berasal dari Eropa. Semacam kesadaran Eurosentris,
bahwa sentral dari semuanya adalah di Eropa.
Rupanya,
skandal “kepalsuan yang disengaja” itu tidak terlepas dari persaingan antar
bangsa yang ingin menjadi lebih superior dibanding bangsa lainnya. Maka, ada
betulnya juga jika ada disebut bahwa hoax
itu dibuat oleh orang/kelompok yang punya kekuatan, kekuasaan atau power. Karena, mereka yang punya
kekuatan bisa melakukan berbagai keculasan-keculasan—dalam berbagai
tingkatannya—untuk mengelabui orang lain, seperti kasus Dawson dalam konteks
“kekuasaan akademik.”
Hoax terhadap Aisyah
Istri
Nabi Muhammad saw, Aisyah, juga pernah dijadikan bahan hoax. Aisyah misalnya
pernah diisukan berselingkuh dengan Shafwan bin Muaththal. Produsen hoax-nya
adalah lelaki bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Padahal, faktanya tidak
demikian.
Al-Qur’an
menjelaskan bahwa perilaku orang yang melakukan hoax itu dalam surat An-Nur
ayat 11 bahwa berita bohong (ifki/hoax)
adalah keburukan. Dan, siapa yang ambil bagian dalam penyiaran berita bohong
itu, “maka baginya adzab yang besar.” Artinya, kalau ada berita hoax, segeralah
dibuang, dan jangan disebar-sebarkan.
Kasus
itu menjadi tanda bahwa orang yang memproduksi hoax itu ada di tiap zaman, mulai
dari zaman Nabi Muhammad saw sampai di zaman now ini. Mungkin diperlukan sekali
semacam kesadaran keilahian bahwa hoax itu sebuah keculasan yang besar, tidak
manusia, dan tidak beradab. Selain dianggap dosa, hoax juga dapat dianggap
sebagai rendahnya moralitas manusia.
Sebagai
orang beragama, ada baiknya para pembuat hoax itu merenungkan esensi dari
keberagamannya. Jangan sampai karena kebencian yang begitu besar kepada orang
membuat orang lalai, dan menganggap produksi berita bohong adalah sesuatu yang biasa.
Tobat dari Hoax
Bulan
Ramadan adalah bulan perubahan. Bagi mereka yang pernah melakukan hoax—baik
produksi maupun menyebarkannya—ada baiknya untuk bertobat dari aktivitas itu.
Kesadaran keilahian pada bulan ini seharusnya meningkatkan kesadaran pula pada
tindakan yang berhati-hati ketika memproduksi sebuah konten.
Tobat
dari hoax penting sekali dilakukan di bulan ini. Mereka yang pernah
melakukannya ada baiknya menghadirkan kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan
adalah dosa, yang menimbulkan murka dari Tuhan. Tuhan menciptakan manusia
tidaklah untuk buat kerusakan, akan tetapi untuk menciptakan perdamaian. Hoax
adalah sebentuk kerusakan (mafsadah)
yang berbahaya bagi interaksi sosial.
Sudah
banyak orang yang interaksinya putus gara-gara hoax. Banyak yang berperang
gara-gara hoax. Dan, banyak pula yang harus mendekam di jeruji besi gara-gara
hoax. Nyaris tidak manfaat sedikit pun kecuali kerusakan. Dalam ranah apapun—politik,
ekonomi, agama, dan akademik—hoax itu merusak.
Bagi
mereka yang beragama, baik sekali memanfaatkan bulan mulia ini sebagai momentum
untuk berbenah diri dari produksi hoax. Sudah saatnya berubah. Berhijrah dari hoax menuju konten-konten yang lebih
positif.
Perbedaan
orientasi atau pilihan politik sebaiknya tidak membuat orang menghalal segala
cara untuk itu. Resistensi terhadap kelompok lain itu lumrah dalam politik,
akan tetapi melakukan keculasan, kecurangan, dan penipuan adalah hal yang tidak
manusiawi dan merusak tatanan sosial dan harmoni yang seharusnya dijaga dalam
masyarakat. *
Tuesday, April 10, 2018
Ma'rifat Danarto
Pada sebuah sore, Selasa (10/4/2018) tersebar berita bahwa sastrawan Danarto (77 tahun) ditrabrak motor di dekat kampus UIN Ciputat. Tubuhnya kemudian dibawa ke RS Fatmawati. Kritis. Tak lama kemudian ia pergi untuk selamanya.
Menurut berita, istri Danarto sudah tiada. Dia juga tidak punya anak. Keluarganya yang di Jakarta juga tidak diketahui. Orang-orang hanya tahu, Danarto lahir di Sragen Jawa Tengah.
Sebagai penulis, saya sering mendengar nama Danarto. Kendati saya tidak bisa menulis fiksi, tapi karya fiksinya membuat saya tertarik untuk beli.
Di sebuah siang di Masjid UI Depok, saya lihat buku merah judulnya "Ikan-Ikan dari Laut Merah." Saya tidak bisa fiksi, tapi saya penasaran isi buku itu.
Dalam cerpen tersebut, Danarto membahas tentang tawakkal dan keberkahan. Siapa yang ingin mendapatkan keberkahan, maka dia harus mendekat kepada Rasul. Harus ikut apa kata Rasul sepenuhnya.
Ini semacam ketaatan yang maksimal, paripurna kepada Rasul. Kumpulan cerpen dalam buku merah itu bagus-bagus. Walau saya tidak begitu ahli dalam fiksi, tapi saya senang "memungut" diksi dan quote dari cerpen-cerpern tersebut.
Dalam cerpen "jantung hati", Danarto menulis begini, "Jika politik tidak stabil, ekonomi pasti goyah." Seperti pengamat politik memang. Akan tetapi, tampaknya itu semacam analisis dia terhadap konteks yang terjadi di negeri ini.
Dalam "Nistagmus", Danarto menulis, "Saya tidak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan." Ini semacam kritikan kepada mereka yang senang mengutip orang-orang pintar.
Danarto juga senang mengenang orang lewat obituari. "..mengenang lewat obituari menjadi semacam panggilan." Dari situ, dia hendak berkata bahwa belajar dari kisah orang lain itu cukup penting untuk memberikan perspektif buat diri kita sendiri.
Beberapa kutipan di atas itu diambil secara bebas, bahkan acak. Sebagai seorang yang sekali-kali membaca karya fiksi, saya berusaha banget untuk mengerti apa yang ada di balik tulisan orang. Memang, tidak selalu berhasil, akan tetapi usaha untuk menangkap "makna tersembunyi" menjadi semakin menarik jika dilihat dari teks yang ia hasilkan serta perjalanan hidupnya.
Danarto kini telah pergi. Buku dia menjadi karya yang tak putus dikaji orang, paling tidak namanya diabadikan dalam diskusi-diskusi soal sastra, bahkan khususnya lagi soal "sastra Islam" (atau katakanlah sastra yang bernafaskan Islam).
Lewat tulisan ini saya hendak mengucapkan belasungkawa atas wafatnya sastrawan Danarto. Kita tidak saling-kenal secara langsung, akan tetapi nama buku Danarto telah ada di rumah saya. Walau belum bisa sepenuhnya paham makna dari karya fiksi, akan tetapi belajar dari diksi dan quote-quote pilihan dapat membantu kita dapat mengambil yang terbaik dari karya beliau.
Dalam buku merah terbitan Diva Press (Desember 2016) tersebut, pada bagian "tentang penulis" ada sebuah narasi yang menarik seperti ini, "Saat ini ia memohon Allah azza wajalla berkenan menambahi umurnya sekitar sepuluh tahun lagi, kalau mungkin agak lebih, guna menikmati pemandangan indah di seluruh dunia yang belum sempat ia nikmati. Semoga Tuhan mengabulkan permohonannya itu."
Jika dihitung dari tahun terbit buku "Ikan-Ikan Dari Laut Merah" (2016), maka Allah memberikan waktu 2 tahun untuknya dari 10 yang ia inginkan sejak buku tersebut terbit. Tapi, kalau dihitung dari cerpen paling tua dalam buku tersebut (tahun 2000), maka sesungguhnya "doa ditambah umur 10 tahun tersebut", sesungguhnya telah telah "bonus" 18 tahun. Atau, jika dilihat dari usia Nabi Muhammad yang wafat di usia 63 tahun, maka Danarto sebagai umat Nabi Muhammad telah mendapatkan bonus usia 14 tahun.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda, "Ketika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkata: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan (kedua orang tuanya." Karya-karya Danarto semoga menjadi "ilmu yang bermanfaat" buat kita yang ditinggalkan. Kita berharap setidaknya, dari karya-karyanya kita bisa ambil inspirasi--sesedikit apapun itu--untuk memperkaya jiwa kita dan mendekatkan kita kepada Tuhan yang maha segala.
Selamat jalan Sastrawan Danarto. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Robbighfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu...*
Menurut berita, istri Danarto sudah tiada. Dia juga tidak punya anak. Keluarganya yang di Jakarta juga tidak diketahui. Orang-orang hanya tahu, Danarto lahir di Sragen Jawa Tengah.
Sebagai penulis, saya sering mendengar nama Danarto. Kendati saya tidak bisa menulis fiksi, tapi karya fiksinya membuat saya tertarik untuk beli.
Di sebuah siang di Masjid UI Depok, saya lihat buku merah judulnya "Ikan-Ikan dari Laut Merah." Saya tidak bisa fiksi, tapi saya penasaran isi buku itu.
Dalam cerpen tersebut, Danarto membahas tentang tawakkal dan keberkahan. Siapa yang ingin mendapatkan keberkahan, maka dia harus mendekat kepada Rasul. Harus ikut apa kata Rasul sepenuhnya.
Ini semacam ketaatan yang maksimal, paripurna kepada Rasul. Kumpulan cerpen dalam buku merah itu bagus-bagus. Walau saya tidak begitu ahli dalam fiksi, tapi saya senang "memungut" diksi dan quote dari cerpen-cerpern tersebut.
Dalam cerpen "jantung hati", Danarto menulis begini, "Jika politik tidak stabil, ekonomi pasti goyah." Seperti pengamat politik memang. Akan tetapi, tampaknya itu semacam analisis dia terhadap konteks yang terjadi di negeri ini.
Dalam "Nistagmus", Danarto menulis, "Saya tidak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan." Ini semacam kritikan kepada mereka yang senang mengutip orang-orang pintar.
Danarto juga senang mengenang orang lewat obituari. "..mengenang lewat obituari menjadi semacam panggilan." Dari situ, dia hendak berkata bahwa belajar dari kisah orang lain itu cukup penting untuk memberikan perspektif buat diri kita sendiri.
Beberapa kutipan di atas itu diambil secara bebas, bahkan acak. Sebagai seorang yang sekali-kali membaca karya fiksi, saya berusaha banget untuk mengerti apa yang ada di balik tulisan orang. Memang, tidak selalu berhasil, akan tetapi usaha untuk menangkap "makna tersembunyi" menjadi semakin menarik jika dilihat dari teks yang ia hasilkan serta perjalanan hidupnya.
Danarto kini telah pergi. Buku dia menjadi karya yang tak putus dikaji orang, paling tidak namanya diabadikan dalam diskusi-diskusi soal sastra, bahkan khususnya lagi soal "sastra Islam" (atau katakanlah sastra yang bernafaskan Islam).
Lewat tulisan ini saya hendak mengucapkan belasungkawa atas wafatnya sastrawan Danarto. Kita tidak saling-kenal secara langsung, akan tetapi nama buku Danarto telah ada di rumah saya. Walau belum bisa sepenuhnya paham makna dari karya fiksi, akan tetapi belajar dari diksi dan quote-quote pilihan dapat membantu kita dapat mengambil yang terbaik dari karya beliau.
Dalam buku merah terbitan Diva Press (Desember 2016) tersebut, pada bagian "tentang penulis" ada sebuah narasi yang menarik seperti ini, "Saat ini ia memohon Allah azza wajalla berkenan menambahi umurnya sekitar sepuluh tahun lagi, kalau mungkin agak lebih, guna menikmati pemandangan indah di seluruh dunia yang belum sempat ia nikmati. Semoga Tuhan mengabulkan permohonannya itu."
Jika dihitung dari tahun terbit buku "Ikan-Ikan Dari Laut Merah" (2016), maka Allah memberikan waktu 2 tahun untuknya dari 10 yang ia inginkan sejak buku tersebut terbit. Tapi, kalau dihitung dari cerpen paling tua dalam buku tersebut (tahun 2000), maka sesungguhnya "doa ditambah umur 10 tahun tersebut", sesungguhnya telah telah "bonus" 18 tahun. Atau, jika dilihat dari usia Nabi Muhammad yang wafat di usia 63 tahun, maka Danarto sebagai umat Nabi Muhammad telah mendapatkan bonus usia 14 tahun.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda, "Ketika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkata: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan (kedua orang tuanya." Karya-karya Danarto semoga menjadi "ilmu yang bermanfaat" buat kita yang ditinggalkan. Kita berharap setidaknya, dari karya-karyanya kita bisa ambil inspirasi--sesedikit apapun itu--untuk memperkaya jiwa kita dan mendekatkan kita kepada Tuhan yang maha segala.
Selamat jalan Sastrawan Danarto. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Robbighfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu...*
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships
Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...
-
At the afternoon, my conversation with friends about Morocco and Indonesia came to the figure of Ibn Battutah (24 February 1304 – 1368/1369)...
-
“Uzbekistan is the heart of the silk road. For thousands of years, this Central Asian country has been a gathering place for people, product...
-
It is said that the best time to reflect is at night. The most universal sign of night is darkness. This means that when it is dark is the b...






