Cara Membagi Waktu
 |
Ilustrasi ummi-online |
Saat
ini saya sedang menempuh pendidikan S3 di Dept Antropologi FISIP UI. Pekerjaan
sebagai mahasiswa S3 tidak mudah tentu saja akan tetapi bukan sesuatu yang
tidak bisa dijalani. Untuk itu diperlukan manajemen waktu antara pekerjaan
(kuliah dan aktivitas lainnya) dengan keluarga.
Di
pagi hari saya biasakan mengantar anak ke sekolah. Anak pertama dan kedua
sekolah di SD Muhammadiyah 2 Kukusan Depok, sedangkan anak ketiga masih TK di
Tadika Rafah Jakarta. Semua saya lakukan dengan jalan kaki. Perjalanan sekitar
15 menit atau lebih selain membuat badan dan pikiran lebih sehat, juga membuat
saya lebih dekat karena bisa bercerita dengan anak-anak di perjalanan.
Setelah
itu saya bersiap ke kampus. Kadang saya jalan ke pintu Kukusan Teknik UI, tapi
seringnya naik ojek online. Di kampus saya belajar dan selalu berusaha duduk di
paling depan karena selain lebih mudah menangkap penjelasan dosen juga untuk
membiasakan diri di depan. Dulunya saya selalu milih di belakang tapi saya
sadar, tiap orang beda-beda cara belajarnya. Saya lebih bisa menangkap materi
jika berada di depan.
Setelah
kuliah saya selalu tidak lepas dari tugas, baik itu tugas kuliah atau tugas
lainnya seperti menulis buku, mengedit buku, atau menghadiri berbagai undangan.
Jika ada acara yang tidak bertabrakan dengan kuliah, saya hadir seperti
undangan dari Kedubes Australia yang secara rutin saya terima—dan hadiri
juga—dan juga berbagai acara seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan lain
sebagainya. Saya berusaha setiap hari harus ada yang baru. Jangan sampai hari
ini sama dengan hari kemarin.
Tugas
kuliah juga banyak. Akan tetapi saya jalani saya dengan baik. Review buku
etnografi berbahasa Inggris misalnya, itu tidak mudah, akan tetapi jika
dijalani lama-lama bisa juga. Sebagai bukan penutur bahasa Inggris sebagai
bahasa pertama, kita butuh kamus. Dalam hal ini, google translate sangat
membantu untuk memahami bahan-bahan kuliah dari buku atau berbagai jurnal.
Setelah saya terjemahkan beberapa kata di tool tersebut, saya kemudian
memikirkan kembali apakah sudah cocok terjemahannya atau belum. Kemudian, saya
kaitkan dengan materi-materi lainnya agar bacaan yang ada terkoneksi dengan
bacaan lainnya.
Biasanya
saya pulang ke rumah sore, tapi kadang juga malam. Kalau pulang sore, saya
sama-sama anak-anak ke masjid dekat rumah. Kadang juga salat jamaah di rumah.
Setelah salat saya membiasakan memberikan wejangan kepada anak-anak baik dari
buku atau dari pengalaman pribadi. Saya membelikan anak-anak buku kisah para
nabi, dan tafsir Al-Qur’an yang untuk anak-anak. Jadi, berurutan saya jelaskan
dari surat An-Nas, Al-Falaq, dan seterusnya. Kadang sambil jelaskan materi,
saya juga beri contoh yang pernah saya alami, atau kita alami. Dengan begitu
mereka jadi merasa ringan untuk mengkaji dan mencintai Al-Qur’an. Sebelumnya,
anak-anak memang pernah menghafal Al-Qur’an waktu tinggal di Maros, Sulsel.
Kadang,
saya juga cerita pengalaman saya sendiri. Misalnya, waktu saya diundang jadi
pembicara di Paris, saya cerita ke anak-anak. Mereka juga berpesan agar
dibawakan oleh-oleh dari sana. Ketika waktunya saya ternyata tidak jadi
berangkat, saya cerita juga ke mereka bahwa saya sudah berusaha akan tetapi
memang tidak bisa. Jadi, anak-anak mengerti bahwa tidak semua yang kita
inginkan itu terjadi. Ini membuat mereka realistis dalam hidup, dan tidak
terlalu memaksakan keinginan. Ketika sudah berusaha, kita bertawakkal kepada
Allah.
Hikmah
tidak jadi ke Paris itu, saya diundang untuk jadi pembicara bedah buku karya
Nils Bubandt, Professor Antropologi asal Aarhus University Denmark yang digelar
di FISIP UI serta diundang sebagai pembicara di acara “Kita dan Rempah” di Kota
Tua, Jakarta. Jadi, selalu ada hikmah di balik sesuatu.
Soal
membagi waktu ini memang saya kadang tidak konsisten, akan tetapi saya berusaha
untuk menyeimbangkan kuliah dengan urusan keluarga.
Cara Berkomunikasi
dengan Anak
Sejak
kecil saya dengan istri membiasakan berkata yang baik kepada anak-anak. Saya
tidak pernah mengatakan kata-kata kasar seperti bodoh, bego, tolol, dan
seterusnya yang kira-kira dapat menjatuhkan mentalnya. Makanya, mereka terlihat
percaya diri saja misalnya saat di kelas atau di luar kelas. Anisah misalnya,
di kelas pernah jadi juara 1 dan 2 di sekolah yang berpindah-pindah dari
Tobelo, Ternate, Maros, dan Depok.
Afifah
juga begitu, ia bahkan dipercaya sebagai ketua kelas dan selalu pagi-pagi
datang ke sekolah. Afifah pernah memimpin sebuah hafalan Al-Qur’an untuk
anak-anak di depan para orang tua. Sedangkan Fikri, ia juga terlihat rasa
percaya dirinya saat di kelas, bahkan sering ia menyapu kelasnya tanpa disuruh
oleh ibu gurunya. Fikri waktu berumur sekitar 3 tahun pernah digendong oleh Mas
Anies Baswedan di Ternate saat saya memberikan sebuah kaver buku “Anies Baswedan
Mendidik Indonesia” kepada Mas Anies di sela-sela acara HMI Ternate.
Saat
itu, Mas Anies langsung reflex menggendong Fikri karena waktu itu saya bawa
Fikri ke depan. Fikri juga saya bawa dalam berbagai acara, termasuk waktu
ketemu Habiburrahman El Shirazy, kawan saya di FLP. Saya kenalkan Fikri kepada
Kang Abik dan beliau mendoakan semoga Fikri menjadi anak yang saleh dan jadi
penulis.
Jadi,
berkata yang baik kepada anak-anak itu penting. Namun harus dimulai dari
komunikasi orangtua. Orangtua harus saling berkomunikasi yang baik. Jangan ada
kata-kata kasar dan sebagainya. Ketika anak-anak gagal sesuatu, saya
menyampaikan agar mereka sabar. Jadi, prinsipnya berusaha sebaik-baiknya dan
tawakkal.
Arti Keluarga
Pada
tahun 2015 saya mendapatkan beasiswa PhD dari LPDP untuk skema luar negeri.
Rencana saya melanjutkan ke PhD The Australian National University (ANU)
Canberra, akan tetapi tidak jadi. Saya juga menjalin kontak dengan berbagai
kampus (institusi, personal) seperti di Amerika (Boston University), Eropa
(Leiden University, Radboud Nijmegen University, Vrije University, Edinburgh
University), Australia (Deakin University), Malaysia (Universiti Malaya,
Universiti Kebangsaan Malaysia), Korea, Thailand, dan beberapa lainnya.
Saya
sudah dapat professor di Deakin University, Australia, bahkan telah berkunjung
ke sana di sela-sela program MEP 2015, akan tetapi tidak jadi. Faktor bahasa
Inggris memang perlu pendalaman yang lebih. Mereka minta IELTS 7, sedangkan
saya baru sampai 5.5 dan belum pernah berlatih lagi. Saya juga sudah kontak ke
Radboud University Belanda. Professornya bersedia menerima dengan IELTS 6, akan
tetapi tidak jadi. Ke Malaysia juga sudah, tapi tidak jadi.
Saya berpikir, apakah jika saya di luar negeri, anak-anak saya bisa sekolah
mengingat LPDP hanya memberikan tunjangan 2 orang (istri satu dan anak satu)?
Sementara anak saya ada 3. Berarti 2 anak saya tidak ada tunjangannya. Sebagai
PhD student pasti agak susah dengan kondisi itu. Maka saya memutuskan untuk tidak
melanjutkan proses ke luar negeri. Saya pilih UI. Tes UI saya gagal, dan baru
lulus pada tes kedua. Akhirnya saya membawa anak-anak ke Depok untuk sekolah.
Kata
lagu, “harta yang paling berharga adalah keluarga” saya setuju. Saya teringat
pendiri Apple Steve Jobs pernah ingin
anaknya kuliah dekat Jobs akan tetapi anaknya tidak mau. Ia jadi sedih. Saya
tidak mau jika saya sukses banget tapi anak-anak saya jauh dari saya. Padahal,
kedekatan dengan anak adalah rezeki besar bagi kita.
Untuk
mengimbangi tidak jadi ke luar negeri, saya menjalin hubungan baik dengan
berbagai kolega dan membiasakan bahasa Inggris. Saya mengedit buku yang ditulis
peserta MEP Indonesia dan Australia dari 2002 sampai 2017. Saya belajar dari
teman-teman Australia bagaimana mereka menulis, juga dari teman-teman
Indonesia. Ada banyak orang hebat dalam program MEP ini. Minimal lewat baca
pengalaman mereka saya dapat hikmah buat diri saya.
Pola Pendidikan
Anak
Sebagai
muslim saya belajar dari nasihat Lukmanul Hakim kepada anak-anaknya agar tidak
berlaku syirik kepada Allah. Saya selalu ingin memastikan bahwa anak-anak saya
memiliki tauhid yang benar. Ini dasar utama yang sangat penting.
Saat
cerita setelah magrib, saya selalu ingin pastikan itu. Kadang saya bertanya ke
anak-anak tentang Allah, ayat-ayat, dan berbagai cerita dalam Islam yang mereka
dapatkan dari sekolah. Mereka bersemangat karena diapresiasi.
Saya
juga rajin mendokumentasikan foto-foto mereka agar jadi inspirasi dan pengingat
di masa depan. Foto memang penting sekali untuk merawat kenangan.
Selain
itu, anak-anak juga saya biasakan untuk menulis. Di antara mereka ada yang
sudah mulai menulis di laptop dan bukunya.
Soal
internet, saya juga mengajarkan mereka mencari data di google, akan tetapi saya sering ingatkan bahwa ada saja hal-hal tidak baik yang mereka harus hindari.
Peranan Istri
Pendidikan
anak adalah tugas ayah dan ibu. Maka kedua orangtua harus bisa membagi waktunya
untuk mendidik anak-anak mereka. Selama ini ada anggapan bahwa urusan rumah
tangga itu urusan istri sedangkan ayah mencari nafkah. Awalnya saya berpikir
begitu, tapi setelah mengikuti berbagai acara parenting dan melihat beberapa
kisah orang saya jadi meyakini bahwa ternyata pendidikan anak itu tugas berdua,
bukan hanya istri.
Kata
orang, kalau kita ingin mencetak anak-anak yang baik maka kita harus memulai
dari mencari calon ibunya, dan untuk mencari calon ibu kita harus memulai dari
diri kita sendiri. Artinya, pilihan tiap orang sangat bergantung pada bagaimana
orientasi hidup dan bagaimana cara dia memandang kehidupan ini.
Maka,
buat mereka yang saat ini masih sendiri ada baiknya untuk senantiasa
memperbaiki diri terus-menerus. Jangan pernah bosan perbaikan diri, refleksi,
dan muhasabah terhadap diri sendiri. Kemudian, jika sudah ada niat untuk
menikah maka mulailah dengan berdoa kepada Allah swt agar diberikan pasangan
yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat. Semakin serius kita berdoa dan
berusaha, akan semakin maksimal hasil akan kita dapatkan.
Inspirasi Ramadhan
Ramadhan
adalah bulan mulia. Banyak sekali keutamaan di dalamnya, seperti bulan
pemaafan, bulan rahmah, bulan turunnya Al-Qur’an, bulan lailatul qadar (yang lebih baik dari seribu bulan), dan lain
sebagainya.
Pada
bulan Ramadhan saya dan istri juga terbiasa mengajak anak-anak untuk berpuasa.
Biasanya kalau usianya masih di bawah 5 tahun anak-anak saya latih untuk
berpuasa sampai zuhur dan setelah buka puasa di zuhur melanjutkan kembali
puasanya sampai sore. Terkadang mereka kuat tapi sering juga tidak kuat, tapi
sebagai pelatihan untuk berpuasa itu cukup baik.
Pada
Ramadhan tahun 2017 ini saya melatih anak-anak untuk menulis beberapa ide
penting dari kultum yang mereka hadiri di masjid. Jika tidak banyak yang dapat
ditulis, maka saya meminta mereka untuk menulis cerita berbasis dari pengalaman
sehari-hari mereka seperti waktu ikut saya ke Masjid Ukhuwah Islamiyah UI dan
lain sebagainya.
Selain
itu, anak-anak juga dilatih untuk mengaji setiap hari. Walau kadang mereka
malas-malasan, akan tetapi dorongan agar mereka terus mengaji, belajar,
menulis, dan yang cukup penting juga adalah bersedekah secara rutin cukup baik
untuk melatih mental mereka. *