Thursday, September 1, 2016

Lengkong

Pada tengah tahun 2002, dalam sebuah acara silaturahmi FLP di Jakarta, saya bertemu Naijan yang berasal dari Lengkong, sebuah kampung di selatan kota Tangerang. Ngobrol sejenak, saya kemudian menyimpan kartu namanya hingga sekarang.
Belakangan saya tahu. Naijan Lengkong berfokus pada penulisan skenario sinetron. Hingga sekarang, telah seribu episode sinetron yang dibuatnya.
Saya bertemu Naijan kembali dalam forum Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena), sebuah forum yang didirikan oleh para pemenang lomba menulis buku yang difasilitasi oleh Wakil Menteri Pendidikan Prof. Fasli Jalal yang beranggotakan para guru, dosen, dan tenaga kependidikan.
Walau banyak membuat skenario seperti 'Si Entong', 'Gerhana', dst, Naijan merasa kurang. Karena ia belum banyak melahirkan buku. Kini, Naijan sedang menyelesaikan disertasinya tentang PDRI Sumatera Barat di Kampus UNJ.
Dari sekian banyak pertemuan, saya banyak belajar dari Naijan tentang kesederhanaan, rendah hati, komitmen, dan cinta pada kebaikan. Semoga sukses menyelesaikan disertasinya, Pak Naijan! *

Susanto

Paling tidak, saya punya tiga kenalan sekaligus yang namanya pakai Susanto.
Pertama, Pak Susanto, seorang direktur di Jakarta yang pada 1997 memberikan kartu namanya ke saya setelah ngobrol-ngobrol waktu menjadi pengurus Bagian Penerimaan Tamu (Bapenta) OSDN. Di Darunnajah, kita memang dilatih bagaimana menjamu tamu sebaik-baiknya, dan itu kita coba praktikkan di Bapenta.
Kedua, Dodik Susanto. Kawanku yang alumni Gontor ini paling pintar bahasa Inggris dan Arab. Kendati ia angkatan 2000 di Unhas dan saya setahun lebih tua, tapi dalam banyak hal ia menjadi teladan yang luar biasa. Paling tidak, hal itu terlihat saat kita sama-sama satu rumah di BTN Wesabbe, Tamalanrea. Lulusan Hubungan Internasional Unhas ini termasuk kawan yang berhati lembut.
Ketiga, yang ada di foto ini: Hadi Susanto. Lelaki ini termasuk orang jenius di bidangnya. Dari Bandung, ia lanjut ke Enschede (Belanda) dan kini jadi Associate Professor di University of Essex, UK. Novel Kang Abik yang 'Ayat-Ayat Cinta' pertama diantar oleh Kata Pengantar dari Hadi Susanto.
Untuk Professor Hadi Susanto: semoga sukses di rantau! (Makasih jempolnya yang waktu itu, bro  ) *

Sunday, August 21, 2016

Tirai Kedermawanan


Dari sekian banyak syair yang dibuat oleh Imam Syafi'i, ada salah satu petikan yang sangat menarik terkait aib dan kedermawanan.
Beliau menulis sebagai berikut:
وإنْ كَثُرَتْ عُيُوْبُكَ فِيْ الْبَرَايَا ** وسَرّكَ أَنْ يَكُونَ لَها غِطَاءُ
“Betapapun aibmu bertebaran di mata makhluk ** dan engkau ingin ada tirai yang menutupinya.”
تَسَتَّرْ بِالسَّخَاء فَكُلُّ عَيْبٍ ** يُغَطِّيْهِ كَمَا قِيْلَ السَّخَاءُ
“Maka tutupilah dengan tirai kedermawanan, karena segenap aib ** akan tertutupi dengan apa yang disebut orang sebagai kedermawanan.”
Jika direnungkan, tiap orang pasti punya aib, kesalahan, dan apa yang disebut sebagai 'masa lalu'. Riwayat mengatakan "manusia tempat salah dan lupa" dan ungkapan populer berkata "tak ada manusia yang sempurna."
Lantas, bagaimana cara menutupi aib atau dosa?
Kata Imam Syafi'i, "...maka tutupilah dengan tirai kedermawanan" yang akan menutupi berbagai aib. Dalam praktiknya, memang begitu juga. Orang yang pernah bersalah tapi kemudian ia move on dan memperbanyak laku kederwananan maka orang akan lebih mengingat masa-masa dermawannya ketimbang yang lalu-lalu.
Bukankah buku sejarah juga sudah menulis bagaimana orang-orang yang dulunya jahat, berprilaku buruk yang kemudian mereka berubah dan sejarah menempatkan nama mereka pada level yang terbaik? Itu tentu saja karena kedermawanan.
Kita bisa berderma dengan apa saja: uang, waktu, tenaga, bahkan apresiasi. Sederhana itu untuk menutupi berbagai khilaf kita yang saban hari terus menumpuk. *

Refleksi Tiga Tahun Bundaran Institute

Ada sebuah pesan dari Sultan Ternate Drs. H. Mudaffar Sjah, M.Si (alm) ketika menerima sebuah buku karangan Tim Bundaran Institute Ternate di panggung Legu Gam 2015 yang berkata bahwa banyak sekali yang harus ditulis dari Maluku Utara yang luas ini.
"Maluku Utara ini luar sekali, dan banyak sekali yang harus ditulis oleh para penulis muda," kurang lebih begitu ucapan beliau.
Kalimat tersebut menjadi salah satu inspirasi bagi Tim Bundaran Institute untuk melahirkan karya.
Tadi malam (18/08) di sebuah kafe di Jln. Mononutu berlangsung pertemuan Tim Bundaran Institute yang dihadiri oleh 6 orang, yaitu: Yanuardi Syukur, Maulana Ibrahim, Hasbullah, Syaiful Bahri, Darmawijaya, dan Direktur Bundaran Institute Sukarno M. Adam.
Bundaran Institute didirikan pada 22 Agustus 2013 lalu di Kafe Jarod, Ternate dengan Direktur Eksekutif pertama dijabat oleh Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun Yanuardi Syukur. Di masa Yanuardi, Bundaran Institute menerbitkan buku "Pasir, Batu, dan Etos Budaya: Catatan dari Maluku Utara" yang dibedah oleh Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim dan dihadiahkan kepada Sultan Ternate dan Prof. Nils Bubant, antropolog dari Aarhus University, Denmark.
Dalam diskusi ini dibahas beberapa isu seperti dunia kepenulisan di Ternate. Maulana Ibrahim, kandidat doktor dari Osaka University Jepang bercerita bahwa ketika menyusun bahan disertasinya ia mendapatkan banyak sekali sumber salah satunya dari Universiteit Leiden, Belanda.
"Di meja supervisor, ada sebuah meja panjang yang di situ tiap bab saya diminta letakkan seluruh referensi yang ada," kata Maulana yang juga aktif di Ternate Heritage Society.
Hasil penelusuran beliau tentang lanskap kota Ternate dari Soa-Sio hingga Falajawa juga mendapatkan skripsi yang pernah ditulis di UI tentang Sultan Hamzah. "Tidak banyak yang tahu tentang ini, padahal di UI sana ada yang pernah menulis tentang Sultan Hamzah," lanjut Maulana lagi.
Ia juga bercerita bahwa disertasi Fraassen tentang Ternate tebalnya hanya beberapa ratus, akan tetapi lampirannya yang lebih panjang dari isi disertasi.
Darmawijaya juga bercerita bahwa dalam waktu dekat bukunya tentang Sultan-Sultan Legendaris Maluku Utara akan terbit yang ditulisnya bersama rekannya di Prodi Ilmu Sejarah Unkhair, Jainul Yusup. Darma yang juga Lektor Kepala di Unkhair adalah salah seorang penulis produktif dari Unkhair terutama buku-buku sejarah. Salah satu bukunya tentang Kesultanan Islam di Indonesia diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar.
Syaiful Bahry yang kini menjabat Ketua salah satu Program Studi di UMMU bercerita pengalamannya ketika mengikuti program dosen magang di Kota Kembang Bandung. "Saya dapat banyak inspirasi ketika bertemu dengan rekan-rekan di Bandung, terutama dalam hal menulis tema-tema spesifik di Ternate," katanya.
Sedangkan Hasbullah yang juga salah satu Ketua Program Studi di Unkhair juga bercerita tentang aktivitasnya dalam menulis. Hasbullah aktif membentangkan paper-nya dalam international conference di dalam dan luar negeri.
Sedangkan Sukarno M. Adam sebagai Direktur Eksekutif Bundaran Institute bercerita bahwa tahun-tahun lalu ia aktif sekali menulis artikel di koran, bahkan pernah menerbitkan buku bareng koleganya di GP Ansor Maluku Utara. Dalam waktu dekat, kata Sukarno, ia akan mengurus legalisasi LSM Bundaran Institute agar lembaga ini dapat terus berkiprah dalam riset dan kajian terkait Indonesia khususnya Maluku Utara. Lulusan master dari Sosiologi UGM tersebut juga menambahkan bahwa Bundaran Institute akan membuat website agar ide-ide cerdas dari tanah Maluku Utara dapat terpublikasi secara luas. *

Tiga Lelaki dari Bibinoi

Bandara Sultan Babullah. Saat sedang duduk menunggu istriku yang lagi ngobrol dengan dua ummahat teman liqo'-nya. Seseorang mendekati saya dan berkata, "Pak, saya titip teman-teman yang mau ke Jakarta." Lelaki yang baru saya kenal itu kemudian berkata kepada ketiga lelaki yang lebih muda, "Nanti ikut sama bapak ini walaupun cuma sampai di Makassar."
Saya kemudian bercerita dengan tiga teman baru tersebut. Mereka berasal dari Bibinoi, sebuah daerah di Kabupaten Halmahera Selatan yang berencana melanjutkan pendidikan tinggi di salah satu kampus di Jakarta Timur.
Ini adalah kali pertama mereka menginjak kota Ternate, dan pertama kali juga naik pesawat dan menginjak ibukota negara.
Sebagai lelaki yang pernah berada pada posisi yang sama, saya merasakan betul bagaimana status sebagai orang yang pertama kali ke kota Ternate, dan naik pesawat. Kadang, kita merasa kayak betul-betul orang kampung ketika melihat orang-orang di kota begitu cerdas, lincah, dan wah. Sementara, kita kadang membandingkan dengan diri sendiri yang: hanya orang kampung, pengetahuan tak banyak, teman juga terbatas, dan tidak bisa berbicara narasi-narasi besar.
Pada tahun 1993, setelah tamat SD saya pernah merasakan itu: naik kapal dari Pelabuhan Tobelo ke Daruba Morotai; muntah-muntah di kapal Ternate Star, kemudian dari Daruba ke Ternate dan menunggu semingguan datangnya Kapal Umsini yang akan mengantar kita sekitar 5 atau 6 hari hingga tiba di Tanjung Priok.
Ketika tiba di Jakarta, kita melihat orang-orang begitu hebat, wah, dan berbicara tentang modernitas dan narasi besar. Sedangkan saya tidak bisa. Tapi setelah melewati itu saya pun mengerti bahwa semua orang pada dasarnya sama: ada sisi kuat ada sisi lemah, ada sisi PD ada sisi tidak PD. Ya, semua orang merasakan itu, hatta mereka yang saat ini berada pada level tertinggi dalam kacamata awam kita.
Sebagai orang kampung kadang kita merasakan perasaan-perasaan rendah. Konon, sikap rendah diri ini juga sesungguhnya di-create oleh penjajah dalam bahasa kita seperti kata 'saya' yang berarti 'sahaya' sehingga ketika kita mengatakan saya sesungguhnya itu merujuk pada status kita yang hanya hamba sahaya di hadapan majikan yang kaya.
"Jangan pulang sebelum sarjana!" pesan saya kepada mereka. Ketika kita sudah tiba di ibukota, kita harus serap banyak hal dari orang-orang di sana. Jangan malas, dan jangan gengsi. Jangan ragu untuk bertanya kalau memang tidak tahu. Berusahalah dan jaga hubungan baik dengan sesama. Pesan-pesan ini walaupun disampaikan kepada teman-teman baruku tapi sesungguhnya itu untukku. *

Tirai Kedermawanan


Dari sekian banyak syair yang dibuat oleh Imam Syafi'i, ada salah satu petikan yang sangat menarik terkait aib dan kedermawanan.
Beliau menulis sebagai berikut:
وإنْ كَثُرَتْ عُيُوْبُكَ فِيْ الْبَرَايَا ** وسَرّكَ أَنْ يَكُونَ لَها غِطَاءُ
“Betapapun aibmu bertebaran di mata makhluk ** dan engkau ingin ada tirai yang menutupinya.”
تَسَتَّرْ بِالسَّخَاء فَكُلُّ عَيْبٍ ** يُغَطِّيْهِ كَمَا قِيْلَ السَّخَاءُ
“Maka tutupilah dengan tirai kedermawanan, karena segenap aib ** akan tertutupi dengan apa yang disebut orang sebagai kedermawanan.”
Jika direnungkan, tiap orang pasti punya aib, kesalahan, dan apa yang disebut sebagai 'masa lalu'. Riwayat mengatakan "manusia tempat salah dan lupa" dan ungkapan populer berkata "tak ada manusia yang sempurna."
Lantas, bagaimana cara menutupi aib atau dosa?
Kata Imam Syafi'i, "...maka tutupilah dengan tirai kedermawanan" yang akan menutupi berbagai aib. Dalam praktiknya, memang begitu juga. Orang yang pernah bersalah tapi kemudian ia move on dan memperbanyak laku kederwananan maka orang akan lebih mengingat masa-masa dermawannya ketimbang yang lalu-lalu.
Bukankah buku sejarah juga sudah menulis bagaimana orang-orang yang dulunya jahat, berprilaku buruk yang kemudian mereka berubah dan sejarah menempatkan nama mereka pada level yang terbaik? Itu tentu saja karena kedermawanan.
Kita bisa berderma dengan apa saja: uang, waktu, tenaga, bahkan apresiasi. Sederhana itu untuk menutupi berbagai khilaf kita yang saban hari terus menumpuk. *

YANG BAIK: NUN URNOTO

Tadi malam saya menerima kiriman novel karangan temanku yang baik, Nun Urnoto El-Banbary. Novelis muda asal Pulau Giliraja, Sumenep Madura tersebut beberapa waktu yang lalu menerbitkan bukunya berjudul "Anak-anak Pangaro" yang diterbitkan oleh Metamind, sebuah creative imprint dari Penerbit Tiga Serangkai, Solo.
Seawam daya tangkap saya terhadap tulisan fiksi, novel ini bercerita tentang anak-anak muda yang berjuang memperbaiki lingkungannya dengan semangat keberislaman.
Pada kaver depan, Arafat Nur, novelis muda asal Aceh yang menulis novel "Lampuki", memberikan endorsement-nya sebagai berikut, "Novel inspiratif yang sarat kandungan pesan moral dan nasihat bijak. Perjuangan sekelompok anak sekolah yang berupaya melakukan perubahan, didukung oleh guru-guru mereka yang senantiasa memberikan dorongan semangat."
Sementara di kaver belakang, saya diberikan kesempatan baik untuk turut membaca buku ini dan memberikan endorsement sebagai berikut, "Islam yang diterapkan dengan baik oleh anak-anak muda dengan daya juang tinggi memperbaiki lingkungan sekitar seperti halnya dalam novel ini penting bagi tumbuh kembang semangat keberislaman, pengingat, sekaligus inspirasi perbaikan bagi lingkungan sekitar."
Terbitnya buku ini membuktikan bahwa orang-orang dari pulau--dimanapun pulau itu--sesungguhnya memiliki kesempatan yang sama untuk menorehkan karyanya dalam bentuk tulisan. Jika tak bisa fiksi, mereka bisa memilih non-fiksi. Jika tak bisa menulis mereka bisa memilih melukis. Atau, jika tak hobi melukis, mereka bisa mengembangkan berbagai kecakapan hidup yang telah dianugerahkan Tuhan pada diri tiap orang.
Selamat untuk Mas Nun Urnoto!

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...