Thursday, May 5, 2016

Mengenal Lebih Dekat Fakhruddin Ahmad (Ketua FLP Sulsel 2016-2018)


Fakhruddin Ahmad
Fakhruddin Ahmad (38 tahun), terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Sulsel periode 2016-2018 dalam Musyawarah Wilayah yang digelar pada Ahad, 1 Mei 2016 di Wisma Bhayangkara, Bantimurung Maros, menggantikan Ketua sebelumnya, Dikpa Lathifah.

Fakhruddin yang biasa disapa Ustad Fahrul atau Daeng Silele menjadi ketua FLP Sulsel yang ke-8 meneruskan kepemimpinan ketua-ketua sebelumnya, yaitu Rahmawati Latief (2001-2004), Yanuardi Syukur (2004-2006), S. Gegge Mappangewa (2006-2008), Sultan Sulaiman (2008-2010), Fitrawan Umar (2010-2012), Supriadi Herman (2012-2014), dan Dikpa Lathifah (2014-2016).

Fakhruddin Ahmad lahir pada 6 Agustus 1978. Awalnya ia aktif di FLP Cabang Maros yang diketuai oleh Abdul Asis Aji, kemudian aktif menjadi pengurus FLP Sulsel sebagai Koordinator Kaderisasi. Setamat dari Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, ia menjadi guru dan staf khusus Pimpinan Pusat Pesantren Darul Istiqamah, Maccopa, Kabupaten Maros.

Bergabungnya Fakhruddin di FLP Sulsel menjadi kekuatan tersendiri bagi FLP. Paling tidak ia memberikan pendekatan yang berbeda dengan training-training kepenulisan yang pernah diadakan sebelumnya. Training kepenulisan FLP kemudian disusun tidak dengan berfokus pada materi dan latihan-latihan menulis, tapi juga diselingi dengan berbagai permainan (games) yang menarik dan inspiratif.

Fakhruddin juga hingga saat ini masih aktif sebagai anggota Divisi Rumah Cahaya Badan Pengurus Pusat (BPP) FLP periode 2013-2017 di bawah kepemimpinan Sinta Yudisia. Kecintaannya pada dunia baca-tulis membuatnya begitu aktif tidak hanya pernah menjadi pebisnis buku, tapi juga sebagai pelatih dan motivator kepenulisan.

Selain di FLP, Fakhruddin juga pernah aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Pramuka, Persatuan Aksi Mahasiswa Makassar Indonesia (PAMMI), dan Pemuda Muhammadiyah. Selain itu, ia juga mendirikan lembaga Smart Indonesia, sebuah lembaga training SDM. 

Pada 27 Maret 2006, Fakhruddin pernah menulis sebuah opini menarik berjudul “Membangun Peradaban Menulis” di harian Fajar (JPPN group). “Peradaban manusia banyak dipengaruhi oleh tulisan. Jutaan kitab, artikel, karya tulis, karya sastra, diktat, jurnal ilmu pengetahuan, silih berganti mengisi sejarah manusia, masa ke masa. Seyogiyanya, menulis pun menjadi budaya, gerakan massal, kebiasaan generasi kini dan esok, hobi para akademik, kesukaan berbagai lembaga profesi dan individu. Selaiknya, menulis menjadi peradaban,” demikian tulisnya.

Selanjutnya, masih dalam tulisan yang sama, ia menukik pada potret dunia kepenulisan di Sulsel yang masih jauh dari menggembirakan. Salah satu faktornya, katanya, “karena budaya menulis belum membumi di semua level pendidikan dan profesi.” Ia mencontohkan, bahwa guru bahasa Indonesia di kelas-kelas belum mampu menjadi motivator bagi siswamnya. Kalaupun ada, kata dia lagi, tugas menulis tersebut hanya berputar pada tugas-tugas dari buku pegangan atau text-book, lomba-lomba karya tulis ilmiah, atau penelitian yang berkaitan dengan kurikulum.

Selain pernah menulis di Fajar, Fakhruddin juga pernah mendirikan Buletin Platonik (FLP Maros), dan aktif sebagai Pemimpin Redaksi Suara Istiqamah, sebuah media Pesantren Darul Istiqamah yang didirikan pada masa kepemimpinan Ustad Mudzakkir Arif, MA. Ia juga pernah menerbitkan buku seperti Membaca Semesta (buku motivasi), Cinta Bahasa Jiwa (buku panduan), Cinta Platonik (antologi puisi), dan Gelas Retak (antologi cerpen).

Saat ini, amanah kepemimpinan FLP Sulsel berada di tangan Fakhruddin Ahmad. Bagaimana mengaktifkan berbagai cabang dan ranting FLP, menjaga kualitas karya tiap anggota, serta menghasilkan para penulis Sulsel berada di tangan Daeng Silele.

Paling tidak, hingga tahun ke-16 ini FLP Sulsel memiliki berbagai sumber daya potensial seperti Rahmawati Latief yang seorang dosen Creative Writing pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin, S. Gegge Mappangewa yang juara 1 lomba novel Republika (penulis Lontara Rindu), Hamran Sunu (cerpenis, kritikus film/emerging Writer Makassar International Writers Festival 2011), Fitrawan Umar (penulis novel Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan) yang jebolan Ubud Writers and Readers Festival (2013), sang juara nasional guru berprestasi Baharuddin Iskandar (penulis Atonia Uteri) dan berbagai nama lainnya yang lebih muda seperti Muhammad Nursam, Aida Radar, Andi Batara Al Isra, Jumrang, Azure Azalea, Isma Ariyani Iskandar, Bulqiah Mas’ud, Muhammad Hidayat, Muhammad Asriady, dan seterusnya.

Di tahun ke-16 ini, FLP Sulsel sebagai lembaga kepenulisan termasuk aktif mencetak para penulis dengan berbagai karya, baik tulisan satu orang atau beberapa orang (antologi). Kemitraan yang terjalin juga tidak hanya satu-dua lembaga, tapi telah berjalan lebih luas dengan bekerjasama dengan kampus-kampus, korporat, dan media massa cetak maupun elektronik. Bahkan penulis nasional yang juga Direktur Sekolah Athirah Makassar Edi Sutarto turut aktif sebagai Pembina FLP Cabang Makassar. 

Kita berharap, FLP Sulsel di bawah kepemimpinan Fakhruddin Ahmad aka Daeng Silele bisa melejitkan lembaga ini, sekaligus melahirkan banyak penulis sekaligus karya bernas yang lahir dari tanah Sulawesi Selatan. * Yanuardi Syukur

              

Fitrawan Umar: Perencana Kota yang Mencoba Mengerti Perempuan

Fitrawan dan salah satu bukunya

“Perempuan sulit dimengerti?
Ah… nggak juga. Justru lelaki yang membingungkan.

“Yang sulit dimengerti adalah perempuan. Tapi yang susah ditebak maunya apa, adalah lelaki.

Begitu dua komentar untuk buku Fitrawan Umar yang diposting di laman Kompasiana.
Minggu 13 Desember 2015 adalah salah satu hari yang bersejarah bagi FLP Sulsel. Salah seorang aktivisnya, Fitrawan Umar meluncurkan novelnya “Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan” (YSDAP), di Lantai Dasar Rektorat Universitas Hasanuddin, Makassar. Fahruddin Ahmad dan Azure Azalea menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut.
Sebelumnya, Fitrawan telah menerbitkan buku berjudul “Roman Semesta”, kumpulan syair yang telah dimusikalisasi oleh seorang penyanyi di Kota Pelajar Jogja, “Catatan Mahasiswa Biasa”, “Sepotong Cokelat dan Cerita-Cerita yang lain” (bersama Rasdianah nd dan Supriadi Herman), dan beberapa tulisan lainnya yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris.
Fitrawan adalah salah seorang penulis muda berbakat asal Pinrang. Selain pernah memimpin FLP Sulsel (2010-2012), ia juga aktif menulis di berbagai media massa cetak maupun elektronik, selain menulis buku. Ia juga menghidupkan Majalah Sastra Salo Saddang, yang diperuntukkan untuk pelajar dan generasi muda di Kabupaten Pinrang (Tribun-timur.com, 11/12/2015).
Pada tahun 2013, Fitrawan Umar terpilih sebagai penulis undangan di Festival Sastra Internasional Ubud Writers and Readers Festival (UWRF).
Fitrawan menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota pada Fakultas Teknik Unhas, kemudian menyelesaikan S2 Ilmu Lingkungan UGM.
Paling tidak, tulisan-tulisan Fitrawan Umar berkisar pada beberapa tema seperti: perencanaan kota, lingkungan hidup, literasi, mahasiswa, dan cinta. Dalam salah satu tulisannya berjudul “Surat Cinta untuk DIA”, Fitrawan memberikan kritikan sekaligus masukan kepada pasangan pemenang Pilkada Kota Makassar: Danny Pomanto-Syamsu Rizal (DIA).
Fitrawan Umar menulis:
“Pengkaji Urban Studies sudah sangat sering membincangkan soal hubungan “mesra” perencana dan politik. Penguasa kota membutuhkan peran perencana dalam merancang kota sebagaimana kapabilitas yang melekat padanya. Perencana (arsitek) kota telah melalui suatu kualifikasi ilmiah tertentu untuk mengetahui arah perkembangan dan pengembangan kota yang lebih baik di masa mendatang.
Sebaliknya, para perencana juga membutuhkan suatu kekuatan politik atau dukungan penguasa kota agar pikiran dan hasil-hasil kajiannya dapat bermanfaat dan dioperasionalkan dalam kebijakan-kebijakan pemerintah kota. Kajian riset para perencana yang tidak disokong oleh penentu kebijakan perkotaan hanya akan menjadi lembar-lembar dokumen yang dibiarkan menumpuk tidak berguna. 
Kemenangan Bapak di Pilwakot Makassar mempunyai arti bahwa Anda telah menempati posisi di mana perencana dan politik telah menyatu-padu.
Menjabat Walikota Makassar nanti, Bapak sudah harus meninggalkan pola pikir dan kerja arsitek bangunan. Tugas Bapak adalah arsitek peradaban!(Kompasiana.com, 24 Juni 2015)
Dalam sebuah sajaknya, Fitrawan Umar juga menulis tentang kesepian, atau mungkin kesedihan atas kehilangan. Dalam “Kenangan Pada Jendela” ia menulis sebagai berikut:
Banyak nama yang kita tulis
pada jendela usai hujan turun
titik-titik air yang terhapus
berganti nama-nama yang muncul dalam ingatan
yang terpendam dalam kenangan
Selepas itu, titik-titik air berpindah ke mata
(Kompasiana.com, 24 Juni 2015)
Fitrawan Umar adalah ketua panitia Festival Sastra Islam Nasional (FSIN) 2015 yang menghadirkan Sastrawan Taufiq Ismail, Novelis Helvy Tiana Rosa, Novelis Habiburrahman El Shirazy, Ustad yang juga penulis buku-buku keislaman Salim A. Fillah, Ketua FLP Pusat Sinta Yudisia, jurnalis Maimon Herawati, Ustad Ahmad Al-Habsy, penulis yang juga traveler Rahmadiyanti Rusdi, Kepala Sekolah Athirah Makassar Edi Sutarto dan Pemenang Lomba Novel Republika S. Gegge Mappangewa. Kegiatan berskala nasional diadakan di kampus Unhas, UNM, dan UIM.
Sebagai salah seorang penulis muda Sulsel, kita berharap Fitrawan Umar dapat terus menghasilkan karya-karya bernas berbahasa Indonesia, Inggris, bahkan dalam bahasa ibu, yaitu bahasa Bugis yang sangat berguna sebagai pewarisan peradaban luhur orang Bugis-Makassar.
Setelah mengikuti event kelas internasional Ubud Writers di Bali, Fitrawan tentu saja memiliki kesempatan yang lebih untuk mengikuti event-event kelas internasional lainnya seperti International Writing Program yang diadakan di University of Iowa, Amerika, setelah sebelumnya Asma Nadia dari FLP menjadi satu dari 35 penulis dari 31 negara yang diundang pada program tersebut. * Yanuardi Syukur 

Thursday, April 28, 2016

Workshop Pengelolaan Pesantren Darul Istiqamah

MENGUATKAN KAPASITAS, PESANTREN DARUL ISTIQAMAH ADAKAN WORKSHOP PENGELOLAAN DAN PERLUASAN JARINGAN

“Siapa idola Anda?”
“Dimanakah letak Masjid Al Aqsho?”
“Nabi Ibrahim as berlawanan dengan raja siapa?”

Demikian tiga dari lima belas pertanyaan tertulis dalam sesi tes kemampuan (ability test) yang disampaikan oleh H. Abdul Malik, SE, MM dalam Workshop Pengelolaan Pesantren dengan tema “Bangun Kapasitas, Perluas Jaringan” bertempat di Meeting Room Badan Eksekutif Pesantren Darul Istiqamah Pusat, Maccopa, Kab. Maros, Sabtu (23/04).

Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Pesantren Darul Istiqamah Pusat dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Pusat.

Dalam sambutannya, Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah Ust Muzayyin Arif mengatakan bahwa workshop ini sangatlah penting untuk membangun kapasitas para pelaksana amanah di lingkungan Darul Istiqamah.

“Ada amanat sejarah dari pendiri pesantren ini agar pesantren tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga pada pembentukan peradaban,” kata Ust Muzayyin Arif.

Pesantren Darul Istiqamah adalah pesantren yang didirikan oleh KH. Ahmad Marzuki Hasan pada tahun 1970, dan hingga usia ke-46 tahun terus berbenah dalam bidang pendidikan, pemukiman Islam, dan juga pembentukan peradaban Islam.

“Sebagai muslim kita harus meyakini bahwa kita adalah pembelajar seumur hidup, maka kita harus terus belajar meningkatkan kapasitas diri yang salah satunya lewat kegiatan ini,” kata A’mal Hasan, salah seorang peserta yang juga trainer di Google for Education.

Selanjutnya, menurut Panitia Workshop Ust Fahruddin Ahmad, kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari yaitu 23-24 April 2016.

“Selama dua hari ini, H. Abdul Malik akan membawakan materi terkait Interpersonal Relationship, Bagaimana Membangun Kepercayaan Diri, Smart Teaching, Motivasi Berprestasi, Menyusun Rencana Kerja, dan Membangun Jaringan Kerja,” kata Ust Fahrul di ruang kerjanya.

Dalam materinya, Abdul Malik menjelaskan bahwa untuk menciptakan kapasitas baik individu maupun lembaga, kita perlu memperhatikan empat hal penting, yaitu faktor manusia (man), benda (material), uang (money), dan metode (method).

“Keempat hal ini penting sekali diperhatikan ketika kita menciptakan perubahan,” tutur trainer dan konsultan manajemen tersebut.

Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari lembaga di internal Darul Istiqamah seperti Badan Eksekutif Pesantren (BEP), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Tahfizhul Quran, Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI), dan Istiqamah Boarding School (IBS).  

Abdul Malik lahir di Cirebon 22 Desember 1961, dan saat ini tengah menyelesaikan studi doktoralnya di Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Malik merupakan konsultan manajemen yang juga Direktur Utama PT. Mutiara Madani Indonesia, dan pernah menjadi konsultan Bank Indonesia di Semarang.

Pada tahun 2002, Abdul Malik melakukan studi komparatif terkait UMKM dan koperasi di Seoul, Korea Selatan. Pada tahun 1996 pernah ke Jepang (Tokyo, Kyoto, dan Hiroshima) dalam kapasitas sebagai utusan Pemuda Indonesia dalam rangka perdamaian dan persahabatan pemuda.


Abdul Malik juga pernah menjadi dosen tamu terkait Lembaga Keuangan Islam di Majelis Ulama Thailand, dan pernah studi komparatif di Istanbul (1990) dan Malaysia (1991). 

Santri dan Alumni Darul Istiqamah Potensial Jadi Pemimpin Bangsa

H. Abdul Malik

Saat membawakan materi Workshop Pengelolaan Pesantren (23/04) di Meeting Room Badan Eksekutif Pesantren (BEP) yang bertempat di Lantai 1 Masjid Jami’ Darul Istiqamah, Praktisi dan Trainer Manajemen H. Abdul Malik, SE, MM mengatakan bahwa santri-santri dan alumni Pesantren Darul Istiqamah sangatlah potensial untuk menjadi pemimpin bangsa.

“Paling tidak, ada dua modal besar yang telah dimiliki oleh Darul Istiqamah. Pertama, sejarah, dan kedua, para penghafal Al Quran (huffazh),” kata Abdul Malik yang pernah menjadi utusan Pemuda Indonesia ke Jepang tahun 1996.

Sejak berdiri 1970, Pesantren Darul Istiqamah telah memiliki sejarah yang baik dalam penyebaran Islam yang tidak hanya di sekitar kawasan Maccopa, akan tetapi juga menyebar ke kota-kota lain di Sulsel, bahkan terus menyebarkan dakwah ke Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, bahkan Papua.

Menurut Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah Ust Muzayyin Arif, visi untuk menciptakan pemimpin muslim telah ada sejak lama di Darul Istiqamah. “Kepemimpinan Islam bukan hanya obsesi, tapi itu adalah kewajiban,” katanya, sambil melanjutkan bahwa, “Apa yang dianggap oleh orang lain sebagai kemajuan, sesungguhnya Islam lebih dari itu.”

Menurut Abdul Malik, modal para penghafal Al Quran (huffazh) juga sangat membantu untuk menyiapkan para pemimpin yang memiliki moralitas dan integritas yang bersumber dari Al Quran.

Suatu ketika, cerita Abdul Malik, ada seorang tokoh yang berkunjung ke Prof. Dr. Ing BJ. Habibie dan bertanya tentang cita-cita mantan Presiden RI tersebut. Kata Prof. Habibie, membuat pesawat terbang bagi saya sangatlah mudah, karena sejak SMA saya pernah membuatnya dalam bentuk yang sederhana. Akan tetapi, setelah saya menjalani kehidupan ini saya menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat penting dalam hidup, yaitu bagaimana kita dapat menafsirkan Al Quran.

Profesor kelahiran Pare-Pare (Sulsel) yang dikenal dengan integrasi antara imtak (iman dan takwa) dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) itu menjelaskan dengan sungguh-sungguh perihal pentingnya membaca, menghayati, bahkan menafsirkan makna-makna yang ada dalam Al Quran.

“Dengan modal hafalan Al Quran, para santri Darul Istiqamah sesungguhnya telah memiliki modal yang sangat besar, tinggal dilanjutkan dengan tiga syarat penting,” tutur Abdul Malik.

Ketiga syarat tersebut adalah komunikasi, bahasa, dan manajemen.

“Komunikasi sangatlah penting bagi seorang calon pemimpin. Bagaimana ia berdialog dengan orang lain, kapan harus berbicara, kapan harus diam, bagaimana menghadapi seseorang yang sangat berambisi untuk didengar (ego parents), dan seterusnya.”

Selanjutnya, kemampuan bahasa asing juga menentukan bagi seorang pemimpin. Di pesantren umumnya para santri telah terbiasa berbahasa Arab dan Inggris. Kemampuan berbahasa asing menurut Malik, sangat urgen bagi para generasi penerus bangsa karena kehidupan saat ini menuntut untuk itu.

Syarat ketiga, yaitu manajemen memiliki peran signifikan dalam menyiapkan seorang pemimpin. “Dengan manajemen hidup yang baik, cita-cita yang tinggi, dan ditopang oleh keimanan dan ketakwaan kepada Allah, seseorang dapat menggapai mimpi-mimpinya,” kata Malik lagi

Seorang muslim, menurut Malik, perlu menjadi pribadi yang mushlih (pembuat kebaikan dan perubahan), dan mufid (bermanfaat). Abdul Malik berharap akan lahir tokoh bangsa dari Pesantren Darul Istiqamah.

Hingga usia ke-46, Pesantren Darul Istiqamah tidak hanya mencetak para pendakwah (da’i dan muballigh), akan tetapi juga para aktivis, guru, dosen, pejabat, entrepreneur dan professional di berbagai bidang lainnya. Tiap tahun para tokoh bangsa bahkan berkunjung ke pesantren yang terletak di Maccopa Kabupaten Maros ini.

Beberapa tokoh yang pernah berkunjung dan bersilaturahmi di Pesantren Darul Istiqamah di antaranya Mantan Perdana Menteri Dr. Mohammad Natsir, Ketua MPR Dr. Hidayat Nur Wahid, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Jimly Asshiddiqie, para gubernur dan kepala daerah se-Sulsel. Selain itu, kunjungan para tokoh luar negeri juga rutin terjadi, tidak hanya yang berasal dari Timur Tengah, tapi juga dari Jepang, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya.

“Untuk memperluas wawasan dan kapasitas santri, kita bahkan mengadakan kunjungan para santri ke Jepang, dan juga Malaysia untuk mempelajari hal-hal terbaik dari negara tersebut,” tutur Ust Muthahhir Arif, Lc, Ketua Yayasan Pesantren Darul Istiqamah beberapa waktu yang lalu.

Hingga tahun 2016, telah ribuan alumni Darul Istiqamah tersebar di berbagai profesi dan instansi di Indonesia. Di antara mereka selain menamatkan pendidikan dari beberapa kampus se-Sulsel seperti Unhas, UNM, UIN Alauddin, UMI, STAI DDI Maros, UIM, Unismuh, AKBID Salewangang, dan kampus-kampus lain di tanah Jawa seperti LIPIA, UIN Jakarta, ITB, UGM, dan IPB, tapi juga menamatkan pendidikan pascasarjana (S2 dan S3) dari kampus-kampus bergengsi di luar negeri seperti di Jami’ah Imam di Riyadh, Universitas Islam Madinah, El Nilein University di Khartoum (Sudan), dan Tilburg University di Negeri Belanda. 

Pentingnya Menulis Jurnal

Jurnal Antropologi
Pada Sabtu, 12 Maret 2016, saya mengikuti Workshop Menulis Jurnal yang dibawakan oleh Dr. Ismail Suardi Wekke di Fakultas Teknik Industri UMI. Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Sinergi Kalam (MASIKA) ICMI Sulsel tersebut, Dr. Ismail menceritakan bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan bahan untuk jurnal, akan tetapi banyak hasil penelitian yang hanya tersimpan di rak perpustakaan dan tidak tersentuh untuk ditransformasikan menjadikan tulisan jurnal.
Mendengarkan paparan ini, saya jadi teringat sebuah sebuah pernyataan dari Professor Ismet Fanany dari Deakin University (Melbourne) dalam sebuah pertemuan di Jakarta yang mengatakan bahwa karya tulis dosen Indonesia sesungguhnya banyak yang menarik. Akan tetapi, kata Ismet lagi, tidak banyak dari dosen kita yang menjadikan hasil penelitiannya tersebut dalam jurnal. Kenapa tidak dijurnalkan? Bisa karena soal kemampuan bahasa Inggris—karena umumnya jurnal internasional berbahasa Inggris—atau karena belum membudayanya tulis-menulis dalam masyarakat kita, tidak terkecuali dalam iklim akademis, kecuali untuk tugas-tugas formal seperti penelitian atau tugas-tugas terkait.

‘Kewajiban’ Sarjana
Dalam beberapa tahun terakhir, menulis jurnal termasuk menunjukkan peningkatan. Para mahasiswa yang hendak sarjana sesungguhnya diwajibkan juga untuk menulis di jurnal, pun demikian dengan mereka yang pascasarjana. Paling tidak, jika tidak di jurnal nasional terakreditasi, ada banyak jurnal nasional yang tidak terakreditasi. Dengan tumbuhnya semangat menulis jurnal paling tidak akan merangsang para akademisi kita untuk berbagi hasil penelitian mereka dalam wadah ilmiah yang dapat dibaca, bahkan dikaji oleh kalangan yang lebih luas.
Bagi para akademisi, kewajiban menulis di jurnal juga sesungguhnya sangat penting bagi peningkatkan kapasitas. Para akademisi dituntut untuk mentransformasikan tulisan mereka dari bentuknya yang sangat panjang—misal dalam tesis, disertasi, atau hasil penelitian—ke dalam bentuk yang sederhana di jurnal nasional atau internasional.

Menulis di Jurnal Internasional
Dalam menulis di jurnal internasional, kata Ismail Suardi, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, baik sekali untuk menulis jurnal dengan beberapa penulis lainnya baik yang berbeda kampus atau yang berbeda negara. Prinsipnya, semakin bervariasi para penulis, makin bagus. Selain itu, menulis kolaborasi juga salah satu pilihan menciptakan jejaring penelitian dengan mereka yang berasal dari kampus atau negara lain.
Selanjutnya, ketika tulisan selesai, kita diminta untuk lebih bersabar dalam merevisi. Revisi yang baik adalah yang teliti. Usahakan gunakan bahasa yang akademik (karena jurnal memang untuk kebutuhan akademik), dan juga fokus. Biasanya, ada saja penulis yang terlalu banyak dan bercabang pemikirannya. Ingin sekali membahas semua hal. Padahal, dalam jurnal, semakin spesifik itu semakin bagus.
Soal konsistensi atau ‘mengasah gergaji’, mengutip bahasa Stephen Covey, adalah penting juga. Seorang penulis jurnal haruslah konsisten dan punya nafas panjang. Mengasah gergaji bisa diibaratkan seperti seorang pemotong/penggergaji potong yang kalau ia letih memotong/menggergaji, maka ia berhenti pada waktu tertentu. Ia tidak berambisi ingin menuntaskan sesuatu dalam waktu misalnya 10 jam sekaligus. Lebih bagus ada istirahat. Istirahat-bekerja-istirahat-bekerja. Kurang lebih begitu.
Hal lain yang cukup penting juga adalah hindari plagiarisme. Sangat menarik membicarakan ini. Agar tidak terindikasi plagiat maka baik sekali agar tiap penulis membiasakan dirinya dengan paraphrase. Jika ia ingin kutip satu paragraph, tapi bukan kutipan langsung, maka ia harus membahasakan ulang dengan bahasanya sendiri. Untuk itu maka seorang penulis dituntut untuk memiliki kekayaan bahasa yang membuatnya lebih leluasa dalam membahasakan ulang sebuah kutipan. Intinya, jangan copas mentah-mentah.
Demikian beberapa inspirasi dari pelatihan menulis jurnal. Saya pribadi sebagai seorang pemula dalam menulis jurnal merasa sangat terbantu dengan pelatihan seperti ini. Memang, yang namanya belajar itu harus terus-menerus. Jangan pernah merasa bisa menulis jurnal kendati sudah banyak buku terbit, karena berbeda antara tulisan untuk naskah buku populer dengan jurnal. *

Berkarya dari Warkop

Salah satu cafe bersejarah dalam penulisan Harry Potter
Warkop The Clove di Kota Maros agak sepi ketika itu. Ismawan Amir tengah duduk sambil menikmati secangkir kopi hangat yang baru saja dipesannya. Beberapa grup Whatsapp ia baca-baca, sambil kemudian mengetik seperti sedang berkirim pesan kepada temannya. Tak berapa lama, ia berkata kepada kawannya di bangku sebelah, “beritanya sudah dimuat di media.”

“Dua orang penghafal Al Quran asal Sulsel akan menjadi imam masjid di Amerika,” begitu isi beritanya. Pada tahun 2016, Pesantren Darul Istiqamah yang berpusat di Maccopa Kabupaten Maros di bawah pimpinan Ustad Muzayyin Arif tengah menjalin kemitraan dengan Presiden Nusantara Foundation di New York Imam Dr. M. Shamsi Ali terkait pengiriman imam masjid selama bulan Ramadhan di Amerika.

Warung kopi saat ini menjadi trend tersendiri bagi banyak kalangan, tak terkecuali para praktisi media, politisi, dosen, aktivis mahasiswa, bahkan ustad dan penulis. Ismawan, sebagai contoh, adalah seorang jurnalis pesantren yang secara up to date mengirimkan berita-berita kepesantrenan ke berbagai media. Berbekal pengalamannya ketika aktif di Penerbitan Kampus Identitas Unhas, ia kemudian rutin mengirim tulisan ke media; tulisannya pun dimuat, di-share di fanspage, selanjutnya di-share oleh banyak akun Facebook dengan viewer yang terus meningkatkan per menitnya.

Ruang Interaksi dan Kerja 

Jika dulu warkop hanya berfungsi sebagai tempat menikmati kopi, makanan ringan, serta bercerita, kini fungsi warkop telah melampaui itu. Sebagai tempat bekerja. Seorang yang berdiam diri di sudut warkop jangan dikira ia sedang santai, bisa jadi ia tengah menulis sebuah berita atau artikel yang kelak akan memberikan pengaruh kepada banyak orang.

Warkop kini tidak lagi hanya berguna sebagai ruang interaksi satu-dua orang, tapi juga telah menjadi tempat kerja. Pada sebuah pagi saya sengaja datang lebih cepat di sebuah café di bilangan Matraman, Jakarta. Beberapa orang terlihat asyik membaca pesan di ponselnya, tapi beberapa lainnya sibuk dengan laptop untuk mengerjakan tugas kantor yang menurut saya yang tidak pandai statistik, bahan-bahan yang saya lihat ketika itu sangatlah berat untuk diselesaikan.  

Apa yang terasa berat dilakukan di kantor, atau mungkin rumah, kini mulai beralih ke warkop atau café dalam arti yang seluas-luasnya. Café-café kini menjadi salah satu tempat favorit untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor, proyek-proyek penting, bahkan untuk negosiasi hal-hal yang dianggap penting.

Sebagai ruang kerja, warkop atau café sesungguhnya bisa berfungsi maksimal jika memang ada tujuan yang jelas dari rumah. Artinya, jika seseorang hendak menyelesaikan pekerjaan di warkop atau café, ia haruslah menjadwalkan dulu apa saja hal-hal yang ingin ia tuntaskan seharian itu. Jika ia seorang penulis, mungkin ia bisa berpikir, hari ini tulisan apa yang hendak saya tuntaskan? Atau, jika ia tengah menulis buku, ia mengatur waktunya untuk melanjutkan buku tersebut atau mengedit naskah yang telah ada. Tanpa ada rencana sebelmnya, kegiatan kita di warkop akan terasa berjalan biasa-biasa, bahkan pada kadar tertentu bisa termasuk membuang-buang waktu.

Sekedar Pilihan

Mengerjakan tugas atau menulis di warkop pada dasarnya pilihan saja untuk lebih nyaman dalam mengerjakan tugas. Penulis novel Harry Potter, J.K. Rowling bahkan menulis sebagian besar bab dalam novelnya di café The Elephant House dan Nicholson’s Cafe.  Dia pernah berkata bahwa menulis dan café sudah mengakar kuat dalam otaknya. Ketika menulis Harry Potter, ia menyelesaikannya dengan tulisan tangan dan adanya café sangatlah membantu dia untuk menikmati kopi tanpa harus ke dapur.
Sebuah tulisan di Nicholson Cafe

Tentu saja tiap orang punya tempat favorit untuk menyelesaikan buku. Beberapa penulis yang punya jam terbang tinggi memanfaatkan ruang tunggu bandara untuk menulis, bahkan saat berada di dalam pesawat ia juga menuangkan ide-idenya baik di kertas maupun di laptop. Tulisan-tulisan Guru Besar Ilmu Manajemen UI Rhenald Kasali banyak yang diselesaikan di dalam perjalanan dari satu kota ke kota lainnya, bahkan dari satu negara ke negara lainnya. Penulis lain ada yang menggemari keramaian, tapi ada juga yang senang dan lebih terinspirasi menulis saat berada di tempat yang sepi seperti di kamar sendirian, di hotel, atau bahkan di pinggir pantai dan villa di pegunungan.

Masing-masing orang punya pilihan dimana tempat yang kondusif untuk menulis. Olehnya itu, tiap kita rasanya perlu sekali untuk mencari dan menentukan dimana tempat favorit kita untuk menulis. Tidak harus ikut-ikutan penulis terkenal. Selama kita merasa nyaman untuk menulis—apakah itu di kamar, ruang tamu, café, warkop, ruang tunggu bandara, pesawat, atau bahkan di masjid—itu sah-sah saja.

Jika hati terasa nyaman, tulisan lebih mudah mengalirnya, dan lebih cepat selesainya. *


Saturday, April 2, 2016

Silaturahmi dengan Kapolsek Turikale

Foto bersama BEP Darul Istiqamah dengan Kapolsek, Camat, dan Lurah
Di era yang sangat kompleks ini setiap orang butuh sinergi dengan orang lain. Tiap instansi juga perlu memiliki kemitraan yang terjaga dengan lembaga lain.

Menyadari hal itu, maka Polsek Turikale Maros yang telah lama ingin bersilaturahmi dengan Pesantren Darul Istiqamah, akhirnya bertemu di Warkop Clove di kota Maros, Jumat 1 April 2016.

Hadir dalam kesempatan ini, Polsek Turikale dan jajarannya, Camat Turikale, Lurah Taroada, dan staf Badan Eksekutif Pesantren Darul Istiqamah, dan Yayasan Darul Istiqamah Ust Muthahhir Arif. 

Beberapa hal yang dibicarakan pada kesempatan ini adalah sebagai berikut.

Pertama, tentang keamanan. Tugas polisi adalah memberikan rasa aman kepada masyarakat. Jika ada ada gangguan Kamtibmas, maka polisi memiliki posisi yang strategis untuk menyelesaikannya. Jika masalah tersebut berada dalam internal komunitas, maka tiap komunitas perlu menyelesaikannya secara internal. Namun jika ada gangguan yang Kamtibnas, maka polisi perlu mengambil peran. 

Kedua, tentang radikalisme. Beberapa waktu lalu ada isu yang beredar bahwa ada anggota Densus 88 yang menyisir Pesantren Darul Istiqamah. Isu ini sampai ke Polda Sulsel, kemudian Polda cek langsung ke Polsek. Ternyata, Polsek sendiri tidak mengetahui itu, dan pada faktanya tidak ada fakta tersebut. Ini berarti bahwa ada yang salah menyampaikan informasi kepada Polda. Kalaupun Densus 88 hendak menyisir ke suatu tempat, kata Pak Polsek, maka aturannya tetap perlu ada laporan kepada aparat setempat. 

Soal radikalisme ini memang lagi hangat, apalagi Sulsel berdekatan dengan Poso (Sulteng) dimana kelompok Santoso yang bernama Mujahidin Indonesia Timur (MIT) berada. Kabarnya, cerita Pak Kapolsek, Muh Idris, beberapa waktu lalu ada kelompok Santoso yang hendak mengurus tanahnya di Tanralili, Maros, kemudian hendak meminta perlindungan di pesantren. Informasi ini entah betul atau tidak, tapi sebagai warga Darul Istiqamah, tidak terdengar hal-hal seperti itu. 

Pada kesempatan kali ini, masing-masing yang hadir bersepakat bahwa stigma pesantren dekat dengan terorisme adalah tidak benar. Darul Istiqamah sebagai sebuah pesantren yang bervisi menciptakan Kota Ilmu dan Peradaban tentu saja tidak setuju dengan aksi-aksi teror yang dilakukan oleh beberapa kelompok umat Islam. Kata Ust Muzayyin Arif, pimpinan Darul Istiqamah, dakwah kita dakwah yang membangun, dan tidak bertentangan dengan hukum positif di negeri ini. 

Ketiga, isu narkoba. Saat ini narkoba bisa menyerang siapa saja, tidak terkecuali mereka yang di pesantren. Maka dari itu, Polsek menawarkan agar diadakan sosialisasi tentang narkoba, atau radikalisme kepada santri dan warga yang dengan demikian kita bisa memproteksi dini terhadap hal-hal yang destruktif tersebut.

Pertemuan kali ini berlangsung dengan sangat kekeluargaan, santai, dan baik. Setelah foto, Pimpinan Darul Istiqamah menyerahkan masing-masing yang hadir dari Polsek dan Camat sebuah Al Quran yang diberi nama Mushaf Istiqamah. Mushaf ini memiliki keunikan, salah satunya adanya ayat-ayat keyakinan yang dihafal dan diajarkan di pesantren yang berdiri sejak 1970 ini. *

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...