Thursday, April 28, 2016

Santri dan Alumni Darul Istiqamah Potensial Jadi Pemimpin Bangsa

H. Abdul Malik

Saat membawakan materi Workshop Pengelolaan Pesantren (23/04) di Meeting Room Badan Eksekutif Pesantren (BEP) yang bertempat di Lantai 1 Masjid Jami’ Darul Istiqamah, Praktisi dan Trainer Manajemen H. Abdul Malik, SE, MM mengatakan bahwa santri-santri dan alumni Pesantren Darul Istiqamah sangatlah potensial untuk menjadi pemimpin bangsa.

“Paling tidak, ada dua modal besar yang telah dimiliki oleh Darul Istiqamah. Pertama, sejarah, dan kedua, para penghafal Al Quran (huffazh),” kata Abdul Malik yang pernah menjadi utusan Pemuda Indonesia ke Jepang tahun 1996.

Sejak berdiri 1970, Pesantren Darul Istiqamah telah memiliki sejarah yang baik dalam penyebaran Islam yang tidak hanya di sekitar kawasan Maccopa, akan tetapi juga menyebar ke kota-kota lain di Sulsel, bahkan terus menyebarkan dakwah ke Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, bahkan Papua.

Menurut Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah Ust Muzayyin Arif, visi untuk menciptakan pemimpin muslim telah ada sejak lama di Darul Istiqamah. “Kepemimpinan Islam bukan hanya obsesi, tapi itu adalah kewajiban,” katanya, sambil melanjutkan bahwa, “Apa yang dianggap oleh orang lain sebagai kemajuan, sesungguhnya Islam lebih dari itu.”

Menurut Abdul Malik, modal para penghafal Al Quran (huffazh) juga sangat membantu untuk menyiapkan para pemimpin yang memiliki moralitas dan integritas yang bersumber dari Al Quran.

Suatu ketika, cerita Abdul Malik, ada seorang tokoh yang berkunjung ke Prof. Dr. Ing BJ. Habibie dan bertanya tentang cita-cita mantan Presiden RI tersebut. Kata Prof. Habibie, membuat pesawat terbang bagi saya sangatlah mudah, karena sejak SMA saya pernah membuatnya dalam bentuk yang sederhana. Akan tetapi, setelah saya menjalani kehidupan ini saya menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat penting dalam hidup, yaitu bagaimana kita dapat menafsirkan Al Quran.

Profesor kelahiran Pare-Pare (Sulsel) yang dikenal dengan integrasi antara imtak (iman dan takwa) dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) itu menjelaskan dengan sungguh-sungguh perihal pentingnya membaca, menghayati, bahkan menafsirkan makna-makna yang ada dalam Al Quran.

“Dengan modal hafalan Al Quran, para santri Darul Istiqamah sesungguhnya telah memiliki modal yang sangat besar, tinggal dilanjutkan dengan tiga syarat penting,” tutur Abdul Malik.

Ketiga syarat tersebut adalah komunikasi, bahasa, dan manajemen.

“Komunikasi sangatlah penting bagi seorang calon pemimpin. Bagaimana ia berdialog dengan orang lain, kapan harus berbicara, kapan harus diam, bagaimana menghadapi seseorang yang sangat berambisi untuk didengar (ego parents), dan seterusnya.”

Selanjutnya, kemampuan bahasa asing juga menentukan bagi seorang pemimpin. Di pesantren umumnya para santri telah terbiasa berbahasa Arab dan Inggris. Kemampuan berbahasa asing menurut Malik, sangat urgen bagi para generasi penerus bangsa karena kehidupan saat ini menuntut untuk itu.

Syarat ketiga, yaitu manajemen memiliki peran signifikan dalam menyiapkan seorang pemimpin. “Dengan manajemen hidup yang baik, cita-cita yang tinggi, dan ditopang oleh keimanan dan ketakwaan kepada Allah, seseorang dapat menggapai mimpi-mimpinya,” kata Malik lagi

Seorang muslim, menurut Malik, perlu menjadi pribadi yang mushlih (pembuat kebaikan dan perubahan), dan mufid (bermanfaat). Abdul Malik berharap akan lahir tokoh bangsa dari Pesantren Darul Istiqamah.

Hingga usia ke-46, Pesantren Darul Istiqamah tidak hanya mencetak para pendakwah (da’i dan muballigh), akan tetapi juga para aktivis, guru, dosen, pejabat, entrepreneur dan professional di berbagai bidang lainnya. Tiap tahun para tokoh bangsa bahkan berkunjung ke pesantren yang terletak di Maccopa Kabupaten Maros ini.

Beberapa tokoh yang pernah berkunjung dan bersilaturahmi di Pesantren Darul Istiqamah di antaranya Mantan Perdana Menteri Dr. Mohammad Natsir, Ketua MPR Dr. Hidayat Nur Wahid, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Jimly Asshiddiqie, para gubernur dan kepala daerah se-Sulsel. Selain itu, kunjungan para tokoh luar negeri juga rutin terjadi, tidak hanya yang berasal dari Timur Tengah, tapi juga dari Jepang, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya.

“Untuk memperluas wawasan dan kapasitas santri, kita bahkan mengadakan kunjungan para santri ke Jepang, dan juga Malaysia untuk mempelajari hal-hal terbaik dari negara tersebut,” tutur Ust Muthahhir Arif, Lc, Ketua Yayasan Pesantren Darul Istiqamah beberapa waktu yang lalu.

Hingga tahun 2016, telah ribuan alumni Darul Istiqamah tersebar di berbagai profesi dan instansi di Indonesia. Di antara mereka selain menamatkan pendidikan dari beberapa kampus se-Sulsel seperti Unhas, UNM, UIN Alauddin, UMI, STAI DDI Maros, UIM, Unismuh, AKBID Salewangang, dan kampus-kampus lain di tanah Jawa seperti LIPIA, UIN Jakarta, ITB, UGM, dan IPB, tapi juga menamatkan pendidikan pascasarjana (S2 dan S3) dari kampus-kampus bergengsi di luar negeri seperti di Jami’ah Imam di Riyadh, Universitas Islam Madinah, El Nilein University di Khartoum (Sudan), dan Tilburg University di Negeri Belanda. 

Pentingnya Menulis Jurnal

Jurnal Antropologi
Pada Sabtu, 12 Maret 2016, saya mengikuti Workshop Menulis Jurnal yang dibawakan oleh Dr. Ismail Suardi Wekke di Fakultas Teknik Industri UMI. Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Sinergi Kalam (MASIKA) ICMI Sulsel tersebut, Dr. Ismail menceritakan bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan bahan untuk jurnal, akan tetapi banyak hasil penelitian yang hanya tersimpan di rak perpustakaan dan tidak tersentuh untuk ditransformasikan menjadikan tulisan jurnal.
Mendengarkan paparan ini, saya jadi teringat sebuah sebuah pernyataan dari Professor Ismet Fanany dari Deakin University (Melbourne) dalam sebuah pertemuan di Jakarta yang mengatakan bahwa karya tulis dosen Indonesia sesungguhnya banyak yang menarik. Akan tetapi, kata Ismet lagi, tidak banyak dari dosen kita yang menjadikan hasil penelitiannya tersebut dalam jurnal. Kenapa tidak dijurnalkan? Bisa karena soal kemampuan bahasa Inggris—karena umumnya jurnal internasional berbahasa Inggris—atau karena belum membudayanya tulis-menulis dalam masyarakat kita, tidak terkecuali dalam iklim akademis, kecuali untuk tugas-tugas formal seperti penelitian atau tugas-tugas terkait.

‘Kewajiban’ Sarjana
Dalam beberapa tahun terakhir, menulis jurnal termasuk menunjukkan peningkatan. Para mahasiswa yang hendak sarjana sesungguhnya diwajibkan juga untuk menulis di jurnal, pun demikian dengan mereka yang pascasarjana. Paling tidak, jika tidak di jurnal nasional terakreditasi, ada banyak jurnal nasional yang tidak terakreditasi. Dengan tumbuhnya semangat menulis jurnal paling tidak akan merangsang para akademisi kita untuk berbagi hasil penelitian mereka dalam wadah ilmiah yang dapat dibaca, bahkan dikaji oleh kalangan yang lebih luas.
Bagi para akademisi, kewajiban menulis di jurnal juga sesungguhnya sangat penting bagi peningkatkan kapasitas. Para akademisi dituntut untuk mentransformasikan tulisan mereka dari bentuknya yang sangat panjang—misal dalam tesis, disertasi, atau hasil penelitian—ke dalam bentuk yang sederhana di jurnal nasional atau internasional.

Menulis di Jurnal Internasional
Dalam menulis di jurnal internasional, kata Ismail Suardi, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, baik sekali untuk menulis jurnal dengan beberapa penulis lainnya baik yang berbeda kampus atau yang berbeda negara. Prinsipnya, semakin bervariasi para penulis, makin bagus. Selain itu, menulis kolaborasi juga salah satu pilihan menciptakan jejaring penelitian dengan mereka yang berasal dari kampus atau negara lain.
Selanjutnya, ketika tulisan selesai, kita diminta untuk lebih bersabar dalam merevisi. Revisi yang baik adalah yang teliti. Usahakan gunakan bahasa yang akademik (karena jurnal memang untuk kebutuhan akademik), dan juga fokus. Biasanya, ada saja penulis yang terlalu banyak dan bercabang pemikirannya. Ingin sekali membahas semua hal. Padahal, dalam jurnal, semakin spesifik itu semakin bagus.
Soal konsistensi atau ‘mengasah gergaji’, mengutip bahasa Stephen Covey, adalah penting juga. Seorang penulis jurnal haruslah konsisten dan punya nafas panjang. Mengasah gergaji bisa diibaratkan seperti seorang pemotong/penggergaji potong yang kalau ia letih memotong/menggergaji, maka ia berhenti pada waktu tertentu. Ia tidak berambisi ingin menuntaskan sesuatu dalam waktu misalnya 10 jam sekaligus. Lebih bagus ada istirahat. Istirahat-bekerja-istirahat-bekerja. Kurang lebih begitu.
Hal lain yang cukup penting juga adalah hindari plagiarisme. Sangat menarik membicarakan ini. Agar tidak terindikasi plagiat maka baik sekali agar tiap penulis membiasakan dirinya dengan paraphrase. Jika ia ingin kutip satu paragraph, tapi bukan kutipan langsung, maka ia harus membahasakan ulang dengan bahasanya sendiri. Untuk itu maka seorang penulis dituntut untuk memiliki kekayaan bahasa yang membuatnya lebih leluasa dalam membahasakan ulang sebuah kutipan. Intinya, jangan copas mentah-mentah.
Demikian beberapa inspirasi dari pelatihan menulis jurnal. Saya pribadi sebagai seorang pemula dalam menulis jurnal merasa sangat terbantu dengan pelatihan seperti ini. Memang, yang namanya belajar itu harus terus-menerus. Jangan pernah merasa bisa menulis jurnal kendati sudah banyak buku terbit, karena berbeda antara tulisan untuk naskah buku populer dengan jurnal. *

Berkarya dari Warkop

Salah satu cafe bersejarah dalam penulisan Harry Potter
Warkop The Clove di Kota Maros agak sepi ketika itu. Ismawan Amir tengah duduk sambil menikmati secangkir kopi hangat yang baru saja dipesannya. Beberapa grup Whatsapp ia baca-baca, sambil kemudian mengetik seperti sedang berkirim pesan kepada temannya. Tak berapa lama, ia berkata kepada kawannya di bangku sebelah, “beritanya sudah dimuat di media.”

“Dua orang penghafal Al Quran asal Sulsel akan menjadi imam masjid di Amerika,” begitu isi beritanya. Pada tahun 2016, Pesantren Darul Istiqamah yang berpusat di Maccopa Kabupaten Maros di bawah pimpinan Ustad Muzayyin Arif tengah menjalin kemitraan dengan Presiden Nusantara Foundation di New York Imam Dr. M. Shamsi Ali terkait pengiriman imam masjid selama bulan Ramadhan di Amerika.

Warung kopi saat ini menjadi trend tersendiri bagi banyak kalangan, tak terkecuali para praktisi media, politisi, dosen, aktivis mahasiswa, bahkan ustad dan penulis. Ismawan, sebagai contoh, adalah seorang jurnalis pesantren yang secara up to date mengirimkan berita-berita kepesantrenan ke berbagai media. Berbekal pengalamannya ketika aktif di Penerbitan Kampus Identitas Unhas, ia kemudian rutin mengirim tulisan ke media; tulisannya pun dimuat, di-share di fanspage, selanjutnya di-share oleh banyak akun Facebook dengan viewer yang terus meningkatkan per menitnya.

Ruang Interaksi dan Kerja 

Jika dulu warkop hanya berfungsi sebagai tempat menikmati kopi, makanan ringan, serta bercerita, kini fungsi warkop telah melampaui itu. Sebagai tempat bekerja. Seorang yang berdiam diri di sudut warkop jangan dikira ia sedang santai, bisa jadi ia tengah menulis sebuah berita atau artikel yang kelak akan memberikan pengaruh kepada banyak orang.

Warkop kini tidak lagi hanya berguna sebagai ruang interaksi satu-dua orang, tapi juga telah menjadi tempat kerja. Pada sebuah pagi saya sengaja datang lebih cepat di sebuah café di bilangan Matraman, Jakarta. Beberapa orang terlihat asyik membaca pesan di ponselnya, tapi beberapa lainnya sibuk dengan laptop untuk mengerjakan tugas kantor yang menurut saya yang tidak pandai statistik, bahan-bahan yang saya lihat ketika itu sangatlah berat untuk diselesaikan.  

Apa yang terasa berat dilakukan di kantor, atau mungkin rumah, kini mulai beralih ke warkop atau café dalam arti yang seluas-luasnya. Café-café kini menjadi salah satu tempat favorit untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor, proyek-proyek penting, bahkan untuk negosiasi hal-hal yang dianggap penting.

Sebagai ruang kerja, warkop atau café sesungguhnya bisa berfungsi maksimal jika memang ada tujuan yang jelas dari rumah. Artinya, jika seseorang hendak menyelesaikan pekerjaan di warkop atau café, ia haruslah menjadwalkan dulu apa saja hal-hal yang ingin ia tuntaskan seharian itu. Jika ia seorang penulis, mungkin ia bisa berpikir, hari ini tulisan apa yang hendak saya tuntaskan? Atau, jika ia tengah menulis buku, ia mengatur waktunya untuk melanjutkan buku tersebut atau mengedit naskah yang telah ada. Tanpa ada rencana sebelmnya, kegiatan kita di warkop akan terasa berjalan biasa-biasa, bahkan pada kadar tertentu bisa termasuk membuang-buang waktu.

Sekedar Pilihan

Mengerjakan tugas atau menulis di warkop pada dasarnya pilihan saja untuk lebih nyaman dalam mengerjakan tugas. Penulis novel Harry Potter, J.K. Rowling bahkan menulis sebagian besar bab dalam novelnya di café The Elephant House dan Nicholson’s Cafe.  Dia pernah berkata bahwa menulis dan café sudah mengakar kuat dalam otaknya. Ketika menulis Harry Potter, ia menyelesaikannya dengan tulisan tangan dan adanya café sangatlah membantu dia untuk menikmati kopi tanpa harus ke dapur.
Sebuah tulisan di Nicholson Cafe

Tentu saja tiap orang punya tempat favorit untuk menyelesaikan buku. Beberapa penulis yang punya jam terbang tinggi memanfaatkan ruang tunggu bandara untuk menulis, bahkan saat berada di dalam pesawat ia juga menuangkan ide-idenya baik di kertas maupun di laptop. Tulisan-tulisan Guru Besar Ilmu Manajemen UI Rhenald Kasali banyak yang diselesaikan di dalam perjalanan dari satu kota ke kota lainnya, bahkan dari satu negara ke negara lainnya. Penulis lain ada yang menggemari keramaian, tapi ada juga yang senang dan lebih terinspirasi menulis saat berada di tempat yang sepi seperti di kamar sendirian, di hotel, atau bahkan di pinggir pantai dan villa di pegunungan.

Masing-masing orang punya pilihan dimana tempat yang kondusif untuk menulis. Olehnya itu, tiap kita rasanya perlu sekali untuk mencari dan menentukan dimana tempat favorit kita untuk menulis. Tidak harus ikut-ikutan penulis terkenal. Selama kita merasa nyaman untuk menulis—apakah itu di kamar, ruang tamu, café, warkop, ruang tunggu bandara, pesawat, atau bahkan di masjid—itu sah-sah saja.

Jika hati terasa nyaman, tulisan lebih mudah mengalirnya, dan lebih cepat selesainya. *


Saturday, April 2, 2016

Silaturahmi dengan Kapolsek Turikale

Foto bersama BEP Darul Istiqamah dengan Kapolsek, Camat, dan Lurah
Di era yang sangat kompleks ini setiap orang butuh sinergi dengan orang lain. Tiap instansi juga perlu memiliki kemitraan yang terjaga dengan lembaga lain.

Menyadari hal itu, maka Polsek Turikale Maros yang telah lama ingin bersilaturahmi dengan Pesantren Darul Istiqamah, akhirnya bertemu di Warkop Clove di kota Maros, Jumat 1 April 2016.

Hadir dalam kesempatan ini, Polsek Turikale dan jajarannya, Camat Turikale, Lurah Taroada, dan staf Badan Eksekutif Pesantren Darul Istiqamah, dan Yayasan Darul Istiqamah Ust Muthahhir Arif. 

Beberapa hal yang dibicarakan pada kesempatan ini adalah sebagai berikut.

Pertama, tentang keamanan. Tugas polisi adalah memberikan rasa aman kepada masyarakat. Jika ada ada gangguan Kamtibmas, maka polisi memiliki posisi yang strategis untuk menyelesaikannya. Jika masalah tersebut berada dalam internal komunitas, maka tiap komunitas perlu menyelesaikannya secara internal. Namun jika ada gangguan yang Kamtibnas, maka polisi perlu mengambil peran. 

Kedua, tentang radikalisme. Beberapa waktu lalu ada isu yang beredar bahwa ada anggota Densus 88 yang menyisir Pesantren Darul Istiqamah. Isu ini sampai ke Polda Sulsel, kemudian Polda cek langsung ke Polsek. Ternyata, Polsek sendiri tidak mengetahui itu, dan pada faktanya tidak ada fakta tersebut. Ini berarti bahwa ada yang salah menyampaikan informasi kepada Polda. Kalaupun Densus 88 hendak menyisir ke suatu tempat, kata Pak Polsek, maka aturannya tetap perlu ada laporan kepada aparat setempat. 

Soal radikalisme ini memang lagi hangat, apalagi Sulsel berdekatan dengan Poso (Sulteng) dimana kelompok Santoso yang bernama Mujahidin Indonesia Timur (MIT) berada. Kabarnya, cerita Pak Kapolsek, Muh Idris, beberapa waktu lalu ada kelompok Santoso yang hendak mengurus tanahnya di Tanralili, Maros, kemudian hendak meminta perlindungan di pesantren. Informasi ini entah betul atau tidak, tapi sebagai warga Darul Istiqamah, tidak terdengar hal-hal seperti itu. 

Pada kesempatan kali ini, masing-masing yang hadir bersepakat bahwa stigma pesantren dekat dengan terorisme adalah tidak benar. Darul Istiqamah sebagai sebuah pesantren yang bervisi menciptakan Kota Ilmu dan Peradaban tentu saja tidak setuju dengan aksi-aksi teror yang dilakukan oleh beberapa kelompok umat Islam. Kata Ust Muzayyin Arif, pimpinan Darul Istiqamah, dakwah kita dakwah yang membangun, dan tidak bertentangan dengan hukum positif di negeri ini. 

Ketiga, isu narkoba. Saat ini narkoba bisa menyerang siapa saja, tidak terkecuali mereka yang di pesantren. Maka dari itu, Polsek menawarkan agar diadakan sosialisasi tentang narkoba, atau radikalisme kepada santri dan warga yang dengan demikian kita bisa memproteksi dini terhadap hal-hal yang destruktif tersebut.

Pertemuan kali ini berlangsung dengan sangat kekeluargaan, santai, dan baik. Setelah foto, Pimpinan Darul Istiqamah menyerahkan masing-masing yang hadir dari Polsek dan Camat sebuah Al Quran yang diberi nama Mushaf Istiqamah. Mushaf ini memiliki keunikan, salah satunya adanya ayat-ayat keyakinan yang dihafal dan diajarkan di pesantren yang berdiri sejak 1970 ini. *

Wednesday, March 30, 2016

Selamat Datang Esais KAMMI

Pemenang Lomba Esai KAMMI Makassar
Semingguan lalu saya dihubungi oleh salah seorang pengurus KAMMI Daerah Makassar untuk menjadi juri sebuah lomba esai yang diadakan dalam rangka Milad KAMMI ke-18. Tidak banyak tulisan yang masuk, akan tetapi dari beberapa itu saya menentukan seluruh tulisannya secara berurutan. Tiga di antara yang terbaik itu menjadi juara 1, 2, dan 3: Faizal, Viyani, dan Wisnu.

Tradisi menulis di kalangan aktivis KAMMI termasuk kurang, dan tidak berkembang. Sejak lama KAMMI dikenal sebagai aktivis pengajian dan aktivis jalanan yang suka demonstrasi. Sebagai anak pengajian, anak KAMMI memang sudah lahir dari rahim tersebut. Nyaris masih sulit dibedakan antara aktivis KAMMI dengan aktivis LDK. Tapi, karena pengajian adalah sesuatu inheren dalam dunia KAMMI, maka pengaruh sebagai anak pengajian tetaplah dominan dalam diri para aktivisnya. 

Untuk urusan demo, KAMMI memang sudah tidak diragukan. Nyaris dalam tiap momen penting negeri ini KAMMI tidak ketinggalan. Pada reformasi 1998, KAMMI merupakan salah satu elemen aktif yang menumbangkan rezim Orde Baru bersama tokoh reformasi M. Amien Rais. Beberapa aktivis KAMMI pun selanjutnya menunjukkan kiprahnya sebagai anggota legislatif seperti Fahri Hamzah, Andi Rahmat, atau Akbar Zulfakar. 

Namun, harus diakui bahwa tradisi menulis masih begitu lemah di KAMMI. Maka, apa yang dilakukan oleh aktivis KAMMI Makassar ini patut untuk diacungi jempol empat. Walau tidak hanya pengurus komisariat se-Makassar yang kirim tulisan, akan tetapi ini merupakan cikal-bakal yang sangat baik untuk menciptakan apa yang disebut oleh aktivis KAMMI sebagai Muslim Negarawan plus seorang penulis. 

Finally, saya ingin mengucapkan kepada tiga esais terbaik dari KAMMI Makassar. Tentu saja, ini langkah pertama untuk terus belajar dan meningkatkan diri.Jangan cepat puas. Perbanyak bacaan, perluas perspektif. Kelak jangan lupa untuk menuliskan ide-ide cerdasnya di buku yang akan sangat pasti sangat berguna untuk membangun tradisi ilmiah di negeri ini. Kepada yang belum jadi pemenang, jangan berhenti menulis. Sebaliknya, terus menulis, dan memberikan perspektif bagi bangsa ini. Indonesia butuh banyak penulis. *

Setahun Kinerja Pimpinan Darul Istiqamah

Saya dengan Ust Mubassyir
Pada Ahad 27 Maret 2016 saya menjadi pembaca acara bersama Ust Mubassyir di kegiatan Setahun Kinerja Badan Eksekutif Pesantren Darul Istiqamah. Ini kali kedua saya menjadi pembawa acara bersama beliau. Sebelumnya waktu Reuni Akbar Darul Istiqamah tahun 2007.

Sekedar informasi, satu tahun yang lalu kepemimpinan Pesantren Darul Istiqamah telah diamanatkan kepada Ust Muzayyin Arif dari Ust M Arif Marzuki. Dengan demikian, kepemimpinan Darul Istiqamah telah berpindah dari Ust Marzuki Hasan ke Ust M Arif Marzuki, kemudian ke Ust Mudzakkir Arif dan kembali lagi ke Ust M Arif Marzuki, dan saat ini di tangan Ust Muzayyin Arif.

Setelah menjadi pimpinan, Ust Muzayyin segera membuat berbagai terobosan untuk memajukan pesantren ini dengan berbagai cara. Sebelum menjadi pimpinan, kiprah Ust Muzayyin memang telah terlihat paling tidak dari pengelolaan manajemen baru Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) dengan kurikulum yang lebih up to date, penambahan fasilitas, dan manajemen yang lebih modern. 

Kemudian, di masa kepemimpinannya, visi untuk menciptakan kawasan Darul Istiqamah yang totalnya sekitar 60 hektare sebagai "Kota Ilmu dan Peradaban" benar-benar ingin diwujudkannya. Saat ini, pembangunan perumahan yang dikelola oleh Relife Greenville tengah berjalan. Perumahan ini dimaksudkan sebagai bagian dari modernisasi kawasan sekaligus untuk meningkatkan level hidup penghuni kawasan ke tingkat yang lebih baik. 

Dalam masterplan, Ust Muzayyin ingin menyediakan kawasan yang terpadu meliputi sekolah, pasar, perguruan tinggi, arena wisata, dan berbagai fasilitas sebagaimana sebuah kawasan modern. 

Ide ini ia sebut dengan nama Transformasi Pesantren Darul Istiqamah. Jika dulu di gerbang pesantren ada nama Pesantren, ini telah ditransformasi dengan nama yang lebih luas yaitu City of Darul Istiqamah dengan harapan bahwa dalam kawasan City ini tergabung di dalamnya pesantren, pasar, dan berbagai fasilitas modern tapi tetap Islami. 
Foto bersama Ust M Arif Marzuki, Ust Muzayyin Arif, beberapa staf BEP, dan beberapa pejabat di Maros dan Sulsel

Momen refleksi 1 tahun ini merupakan tradisi baru yang menarik. Salah satu yang tengah berjalan saat ini adalah, Darul Istiqamah akan mengirim dua orang kadernya yang hafizh 30 juz untuk menjadi imam dan berdakwah di Amerika Serikat bekerjasama dengan Ust Shamsi Ali di New York. Ust Baharuddin (pembina Tahfizh) dan Azizul Hakim Mansyur (Chechnya, anak alm Dr. Mansyur Semma) yang mendapatkan kesempatan untuk ke Amerika tahun 2016 ini. 

Diharapkan pengiriman dai ke Amerika merupakan salah satu upaya untuk menyebarkan Islam ke tingkat yang tidak hanya lokal Sulsel dan Indonesia, tapi juga di luar negeri. Karena, sejatinya Islam adalah ajaran yang dapat menjadi rahmat bagi alam semesta. *

Tautan Makassar-Australia di Wisma Kalla

Selamat atas Peresmian Konjen Australia (foto: Arif Supam Wijaya)
Pada Selasa 22 Maret, Konsulat Jenderal Australia di Makassar diresmikan oleh Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop. Bertempat di Wisma Kalla, Konjen ini akan menjadi salah satu misi diplomatik Australia di Makassar sebagai pintu gerbang masuk ke kawasan Indonesia Timur. 

Sebelum masuknya imigran asal Eropa dan Timur Tengah, orang Makassar sesungguhnya telah menjalin kontak dengan suku Asli Australia, yaitu Aborigin. Ketika itu, pelaut-pelaut Makassar ke sana dalam misi perdagangan mencari teripang. Dalam interaksi itu, terjadi berbagai pertukaran barang, dan juga terjadi pertukaran keyakinan dengan masuknya orang Aborigin menjadi muslim. 

Setelah itu, masuk imigran dari Eropa dan Timur Tengah. Corak Islam yang ada di Australia pun belakangan banyak terwarnai dengan pengaruh Turki, dan Lebanon. Di beberapa kota, masjid-masjid yang didirikan juga tidak lepas dari pengaruh daerah asal mereka. 

Dengan dibukanya Konjen di Makassar, paling tidak menjadi kebaikan dari beberapa sisi. 

Pertama, terjalinnya kembali interaksi antara orang Makassar dengan Australia. Jika dulu interaksinya lewat perdagangan teripang, kini dalam bentuk yang lebih luas. Kesempatan ini tentu saja dapat dimanfaatkan oleh para pedagang Indonesia untuk mengekspor produk atau jasa ke Australia. 

Kedua, peresmian Konjen ini dapat dimanfaatkan oleh para pelajar asal Makassar atau Indonesia Timur secara umum untuk belajar dari Australia. Tidak dimungkiri bahwa banyak kelebihan pendidikan Australia yang dapat dimanfaatkan oleh pelajar kita untuk selanjutnya ketika balik ke kampung halaman, mereka bangun daerahnya masing-masing. 

Beberapa ucapan selamat untuk Konjen Australia (foto: Muhammad Yunus)
Ketiga, tindak lanjut dari kuliah umum Menlu Julie Bishop di Rektorat Unhas pada sore hari itu juga adalah perlu segera dilanjutkan dengan kemitraan antara kampus-kampus di Makassar atau Indonesia Timur dengan kampus-kampus Australia. Adapun kemitraan yang telah ada dapat terus ditingkatkan pada tingkatan yang lebih bermakna.

Atas nama pribadi, saya mengucapkan selamat atas peresmian Konjen Australia di Makassar. Semoga kemitraan antara Indonesia-Australia dapat terus terjaga, dan meningkat demi kebaikan dua negara. *

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...