Saturday, February 27, 2016

Titanic, Miskun, dan Bedah Buku

Di Panggung IBF Darunnajah
Pertemananku dengan salah satu kawanku yang baik, Dr. dr. Mohamad Iskandar paling tidak ada dalam tiga ranah menarik ini. 

Pertama, waktu sama-sama nonton film Titanic. Ada bioskop tak jauh dari jalan layang Kebayoran Lama (sekarang sudah tidak ada). Saking menariknya film yang dibintangi Leonardo Dicaprio itu sampai saya sempat menonton dua kali. Ini kali pertama saya ditraktir Iskandar.

Sebagai seorang 'sufi' (suka film), sejak lama saya memang suka menonton. Waktu kecil saya biasa minta dibangunkan oleh ayahku saat ada film bagus di TVRI. 

Kedua, warung Mas Miskun tak jauh dari UI Salemba adalah tempat makan yang enak. Saya suka masakannya. Ikan goreng ditambah dengan variasi sambel membuat rasanya kita mau makan terus. Di dinding-dindingnya menceritakan bahwa sudah banyak orang penting yang datang ke warung tersebut--mereka dari kalangan artis, dan publik figur lainnya. 

Kadang kalau lagi ke Jakarta, saya juga sempatkan makan di sini--bersama atau tidak bersama Iskandar. 

Ketiga, bedah buku. Pada tahun 2015 lalu saya diminta oleh panitia Islamic Book Fair Pesantren Darunnajah (Ust Agus Suhendi) untuk membedah buku saya. Pesertanya santri putra. Saya ajak Iskandar untuk itu membedah. Walhasil, buku Ternyata Sayap Lalat Mengandung Obat saya bahas beberapa bagian dan ditambahkan oleh Iskandar beberapa bagian lainnya. Di saat yang sama, untuk santriwati, materi dibawakan oleh novelis Ahmad Fuadi.

Sebagai kawan, saya berharap dan berdoa semoga kawanku dokter Iskandar mendapatkan kebaikan dalam hidupnya. Segera menemukan tambatan hatinya, dan mendapatkan berkah dan bahagia. *

Merawat Harta Karun Bangsa

Bawa materi bersama beberapa pakar di Makassar
Jika ditanya apa harta karun yang ada di bangsa ini, maka saya akan menjawab, "persatuan dan kesatuan." Ya, persatuan dan kesatuan adalah barang mahal yang dipertahankan sejak lama oleh para pendiri bangsa ini. 

Tentu saja dari dua ratusan juta rakyat Indonesia tidak semuanya satu pikiran. Tiap kita punya variasi-variasi pemikiran, afiliasi, dan cara pandang yang lokal spasial. Akan tetapi sebagai bangsa kita menyakui persatuan sebagai sesuatu yang lebih penting. 

Kenapa persatuan penting? Karena persatuan inilah yang menjadi ruh bagi kerjasama untuk mempertahankan bangsa yang majemuk ini. Tanpa bersatu, sulitlah bangsa ini bisa melaju sampai sekarang. Ya, tentu kita maklumi banyak sekali retak kiri-kanan yang ada di bahtera bangsa, akan tetapi itu bukanlah alasan untuk terus-terusan mengutuk rezim apalagi tanpa pemikiran yang lebih konstruktif. 

Ibaratnya seperti rumah tangga. Jika sepasang suami-istri bersepakat untuk bersatu, maka kebaikan pasti mereka raih. Ada kerjasama, ada saling pengertian, saling menghargai, dan juga cinta yang mengalir di bawah atap rumah mereka. Pun demikian dengan rumah bangsa ini. Jika kita menjaga sikap saling mengerti, saling menghargai, sekaligus saling cinta satu sama lain, maka tentu banyak kebaikan akan kita dapat, dan banyak kemajuan akan terlihat. *

Berbagi Lebih Berarti

Di antara berbagai hal baik yang saya sukai adalah berbagi. Sejak kecil saya diajarkan oleh ayahku untuk berbagi kepada mereka yang butuh, dan jangan berpikir untuk menerima imbalan dari sikap tersebut. Jika sudah rezeki, pasti tidak akan kemana-mana. 

Termasuk yang saya sukai adalah berbagi pengalaman dan pengalaman (walau belum seberapa). Pengalaman menulis termasuk yang saya cintai karena berangkat dari tidak bisa menulis, akhirnya lama-lama tulisanku ada yang diterima di media, dan jadi buku (walau tentu saja, belum bagus-bagus amat). 

Ketika berbagi pengalaman, saya merasakan ada energi positif yang mengalir dalam diri. Saya merasa, itulah sesungguhnya diriku yang sebenarnya. Maka, jika dalam satu minggu saya tidak membawakan materi--apakah offline atau online--saya merasakan ada sesuatu yang hilang.

Sejauh ini materi yang paling sering saya bawakan adalah materi menulis, atau sedikit ceramah di beberapa tempat. Saya benar-benar merasa jiwaku kembali ketika sedang menyampaikan pokok-pokok pikiran kepada orang lain. Apalagi, jika orang lain juga mendapatkan kebaikan dari materi tersebut dengan mendapatkan semangat dan terus berproses jadi lebih baik. 

Berbagi membuat hidup lebih berarti. Ya, paling tidak untuk diriku, saya merasa lebih punya makna, punya tenaga, dan punya gairah hidup. *

Berlari ke Hutan Kata

Terkadang, saat sedang memikirkan sesuatu saya menulis. Dulu saya punya buku diary yang sering kujadikan 'papan' untuk menulis apa saja yang terlintas di hati. Tapi tidak 'apa saja' juga. Saya tetap memilih apa saja yang baik untuk ditulis, yang mungkin suatu saat akan dibaca orang lain. Seiring berjalannya waktu, saya tidak lagi intens di buku harian, akan tetapi merambah ke blog, website, koran, dan juga buku.

Lebih dari 15 tahun ini saya terbiasa menulis. Mencurahkan apa saja yang menurutku penting.

Kata orang, menulis bisa jadi terapi jiwa. Kupikir-pikir, ada betulnya juga. Kenapa? Karena saat menulis kita mencurahkan pikiran dan perasaan. Walau tidak sepenuhnya tertumpah, tapi proses menulis sesungguhnya merupakan proses relaksasi dengan melepaskan apa saja yang mengganjal di pikiran dan hati ke dalam sebuah tulisan.

Tiap kita mungkin punya cara yang berbeda dalam menyikapi hidup. Tapi berlari-lari di hutan kata-kata mungkin bisa jadi solusi bagi mereka yang ingin mencurahkan ide dan perasaannya sekaligus untuk melatih keterampilan otak, rasa, dan mengetik dalam suatu waktu. *

Tuesday, February 16, 2016

Mengejar Cita-Cita

Waktu kecil cita-cita sederhana, ingin menjadi guru mengaji. Tinggal di kompleks pelabuhan dimana warga setempat tidak begitu peduli dengan agama membuat saya tersentuh untuk menggapai cita-cita tersebut.

Orang tuaku yang bekerja sebagai pedagang--minyak tanah, dan sembako--memasukkanku ke sebuah tempat mengaji tak jauh dari rumah. Sebenarnya, walaupun masjid ada, dan tempat mengaji ada, warga sekitar tidak begitu aktif menjalankan agama secara baik. Di antara mereka banyak yang gemar minum minuman keras, tidak salat, dan seterusnya.

Ketika dewasa, saya melihat hal-hal berbeda dan peluang-peluang baru dalam hidup yang tidak saya lihat ketika masih di kampung. Ternyata, hidup ini lebih bervariasi. Pilihan karir dan cita-cita menjadi sangat kaya ketika beranjak dewasa muda.

Paling tidak saya mengenal dua dunia, yaitu dunia kepenulisan dan dua pengajaran di perguruan tinggi. Sebagai anak kampung, saya awalnya iri ketika melihat beberapa senior di Unhas rutin sekali menulis di PK Identitas. Lama-lama saya tertantang untuk menulis, dan akhirnya beberapa tulisanku dimuat di koran tersebut. Selanjutnya, animo saya untuk menulis makin berkembang dalam penulisan buku yang telah puluhan judul terbit.

Dalam pengajaran di kampus, saya mulai rasakan setelah tamat S2. Saya mengajar di Universitas Halmahera, kemudian Universitas Khairun. Waktu kecil tentu saja tidak ada bayangan tentang pekerjaan ini, tapi kemudian ketika besar saya mendapatkan sesuatu yang baru. Saya merasa enjoy di dunia ini, tapi memang saya merasa belum begitu maksimal karena beban mengajar yang sangat besar dan animo saya dalam antropologi yang masih dalam 'tahap pencarian'.

Terlepas dari itu semua, kini saya harus mengejar cita-cita untuk lanjut S3. Semoga saja usaha yang baik ini bermanfaat buat diriku, keluargaku, dan buat semua orang. *

Sunday, January 3, 2016

Saya Terlambat

Satu kalimat yg kerap menggoda manusia yg dapat membuat mereka optimis atau pesimis adalah, "Saya terlambat."

Mereka yg blm kaya, blm sarjana, blm menikah di umur tertentu, menikah tapi blm punya anak, mengatakan "saya terlambat." Mereka yang blm ke luar negeri, blm naik haji, blm jadi pejabat, blm jadi pembicara seminar, blm masuk tivi, disanjung-sanjung tapi terasa ada yg kosong dan memilih untuk mengggunakan zat-zat adiktif, berkata, "Rasanya saya sudah terlambat, tidak bisa berubah. Inilah saya apa adanya." Padahal, bumi masih berputar, nasib masih bisa berubah.

Mereka yang mati-matian bayar sana-sini untuk jadi jadi PNS tapi gagal maning-gagal maning mungkin berpikir, "Cuma ini jalan saya untuk bahagia, saya sudah telat di bidang lain." Mereka yg ingin sekali terkenal dan kaya lewat menulis buku tapi gak kunjung terbit-terbit atau juga mereka yang merasa ditipu oleh penerbit akan menyalahkan orang lain. Padahal, jika disadari, tabiat dunia ini memang seperti itu. Kita nggak akan pernah hidup dalam kondisi yg seratus persen adil. Selama setan masih hidup, kita tidak akan pernah bisa memastikan bahwa hidup kita akan bahagia seratus persen.

Mereka yg blm kaya, blm sarjana, blm menikah di umur tertentu, menikah tapi blm punya anak, mengatakan "saya terlambat." Mereka yang blm ke luar negeri, blm naik haji, blm jadi pejabat, blm jadi pembicara seminar, blm masuk tivi, disanjung-sanjung tapi terasa ada yg kosong dan memilih untuk mengggunakan zat-zat adiktif, berkata, "Rasanya saya sudah terlambat, tidak bisa berubah. Inilah saya apa adanya." Padahal, bumi masih berputar, nasib masih bisa berubah.

Mereka yang blm bisa-bisa bahasa asing, blm punya rumah, blm punya mobil, bilang hal yang sama. Pun mereka yang diam-diam ingin salat dhua tapi blm bisa-bisa salat dhuha, kuat fesbukan tapi blm bisa salat malam atau salat subuh di masjid, rajin berbagi maslahat di sosmed tapi pelit saat melihat tetangga berwajah murung karena belum makan karena sedih dan merasa tidak punya teman (padahal tetangga itu berteman dgn seorang motivator hebat), terkenal di berbagai tempat tapi blm dekat dgn anak-anak sendiri hingga tersadar ketika mereka telah besar dan mulai menemukan dunianya juga sesekali berkata, "inilah saya, saya terlambat di bidang itu tapi saya punya bidang yg berbeda." Dan 'belum-belum lainnya.'

Mereka yg sesekali hatinya tersentuh dan membenarkan bahwa menghafal Al Quran (selanjutnya mengamalkan) itu manfaatnya banyak sekali tidak hanya buat mereka sendiri, tapi juga buat anak-anak mereka, dan nasib mereka kelak ketika telah tiada tapi berkata bahwa "Saya sudah terlalu sibuk, banyak sekali agenda" dan memilih untuk menyerah karena terlambat, juga terindikasi terkena penyakit pesimis. Padahal, 24 jam waktu yg ada masih tersisa untuk menghafal Al Quran, ketimbang berlama-lama online di warung-warung kopi agar terlihat lebih gaul, lebih up to date, dan kekinian.

 Semua alasan "saya terlambat" itu punya potensi untuk jadi pesimis dan berhenti melangkah. Apalagi, jika ditambah dgn membandingkan dirinya dgn orang lain, "dia terlihat lebih bahagia, lebih sukses, lebih senang bisa kemana-mana, dst" yg terkadang membuatnya semakin jatuh, dan terjatuh.
Ini bisa terjadi pada siapa saja. Pada mereka yg tidak tamat SD, atau mereka yg sudah doktor atau bergelar professor. Mereka yg pengangguran sampai mereka yg bergelimang harta-benda. Dan, bisa terjadi pada kita semua.

Sesekali saya lihat, kebahagiaan atau kesuksesan yg ditampilkan seseorang hanyalah sebentuk sugesti untuk menutupi kekurangan diri sekaligus menguatkan diri agar tetap eksis dan mengudara di dunia yg tidak begitu nyata. Terkadang juga, ketika seseorang mendapatkan sesuatu ia kerap merasakan kehilangan sesuatu yg lain. Dan, itu membuatnya sedih, dan di titik tertentu menjadikannya tak terkontrol untuk melakukan apa yg menurut rasio-nya baik.

 Akan tetapi, di ruang terdalam tiap orang yg terlihat sukses dan bahagia, mereka merindukan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana seperti disapa, atau didengarkan. Bagi mereka--mungkin juga saya--yg terkadang tergoda dgn kata 'saya terlambat', ada baiknya untuk tetap menjaga semangat, teruslah berusaha, tidak membandingkan diri sendiri dgn orang lain (tiap orang punya kebahagiaannya masing-masing), dan berfokus pada hal-hal dimana ia bisa memberikan kontribusi positif bagi kehidupan amat sementara ini. *

Thursday, December 24, 2015

Menemani Kang Abik di Peluncuran AAC 2

Pada sebuah siang, Rabu, 16 Desember 2015, saya menjadi moderator launching buku Ayat-Ayat Cinta 2 bersama Habiburrahman El Shirazy atau yang biasa disapa Kang Abik.

Kegiatan bertempat di Aula Universitas Islam Makassar. 

Kang Abik bercerita bahwa "dalam sastra ada sihirnya." Artinya bahwa penulis yg baik benar-benar memperhatikan kalimatnya agar memberi pengaruh bagi pembaca. 
Diskusi ini menarik karena Kang Abik juga memaparkan pengalamannya. Ia memulai karyanya dengan riset sedalam-dalamnya. Waktu menulis Bumi Cinta, ia bertemu dengan orang yang pernah tinggal di Moskow, dan mendengarkan langsung bagaimana suasana di sana. 

Selain itu, ia juga mengkaji lebih dulu agar datanya lebih lengkap. Ketika menulis AAC 1 terlihat Kang Abik lebih leluasa menjelaskan setting kota Mesir, akan tetapi ketika menulis tentang Ediburgh memang agak beda dengan narasi tentang Mesir. Kang Abik sendiri pernah menginap di Ediburgh hanya untuk mendapatkan pengalaman yang akan dimasukkan dalam AAC 2. 
Buku AAC 2 ini ditulis selama 1 thn, berbeda dgn AAC 1 yg hanya 1 bulan. Untuk buku ini, Kang Abik juga berkunjung ke Edinburgh ditemani Mas Ganjar Widhiyoga saat diundang oleh KIBAR di Inggris Raya. Selamat buat Kang Abik! *

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...