Monday, November 2, 2015

Pengaruh ISIS di Indonesia



Diskusi Panel

Saya beruntung diundang sebagai salah satu pembicara dalam konferensi internasional terkait 60 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang digelar di Museum KAA Bandung, 29 Oktober 2015. Dalam konferensi itu, saya berbicara terkait penyebaran pengaruh ISIS di Indonesia dan menyiapkan makalah berjudul The Spread of ISIS Influences in Indonesia, bersama Professor Adams Bodomo (University of Vienna, Austria), Professor Jean-Jacques Ngor-Sene (Chatham University, Pittsburgh, USA), dan Professor Heidi K. Gloria (Ateneo de Davao University, Filipina), dengan moderator Dr. Abubakar Eby Hara, Dosen Hubungan Internasional Universitas Jember lulusan The Australian National University.

Dalam kesempatan kali ini, ada tiga hal yang menarik terkait dengan penyebaran ISIS di Indonesia. Pertama, mengutip informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme di Indonesia (BNPT) bahwa ada 34 orang (bahkan 200 hingga 500 orang) Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Irak dan Syria. Jumlah itu menunjukkan peningkatan trend signifikan pendukung ISIS yang bergabung dengan kafilah pejuang ISIS yang menurut sumber CIA, lebih dari 15.000 orang (termasuk 2000 orang Barat) menjadi pengikut Khalifah Abubakar Al Baghdadi.

Trend ini bisa dilihat dari banyak faktor. Emosi keagamaan sebagai seorang muslim yang ingin menegakkan Islam cukup berpengaruh sehingga ramai orang mendukung gerakan ini. Terlebih, ada hadis yang menjelaskan terkait pergantian kekuasaan di muka bumi yang pada akhirnya akan dimenangkan oleh kekuasaan/kekhalifahan Islam. Kemudian, faktor pemikiran bahwa dunia ini terbagi dua, ‘wilayah Islam’ dan ‘wilayah non-Islam’ cukup berpengaruh sehingga para pendukung ISIS (terutama orang Indonesia) menyerukan agar warga Indonesia bergabung dengan gerakan (atau negara baru tersebut).

Dalam konteks ini, Pancasila sebagai landasan asasi dalam bangsa Indonesia pastinya ditolak oleh pengikut ISIS karena dianggap tidak Islami, dan tidak mengaplikasikan hukum Islam. Salah seorang pendukung ISIS di Indonesia, dalam salah satu wawancara menyebut bahwa Indonesia perlu mendukung ISIS dengan menjadi negara bagian yang tunduk pada hukum Islam. Tentu saja ide ini jauh berbeda dengan pemikiran jumhur kita di Indonesia, akan tetapi patut untuk didengar dan dicermati apa tuntutan paling esensial dari himbauan tersebut.

Kedua, saya juga menjelaskan tentang bagaimana respon organisasi Islam di Indonesia terhadap fenomena ISIS. Indonesia, termasuk MUI, telah menolak ISIS. Dua perwakilan ormas Islam di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama juga mengambil sikap yang sama. Penolakan terhadap ISIS, oleh Muhammadiyah dilihat sebagai bagian dari sikap untuk menjaga ‘Islam yang berkemajuan’ karena sikap ISIS dianggap sebagai tidak berkemajuan, bahkan tidak sesuai dengan konsep Islam rahmatan lil’alamin.

Selama ini, paling tidak lewat media massa, kita bisa melihat bagaimana ISIS mengeksekusi bakar seorang pilot Yordania yang videonya dapat dilihat di berbagai laman internet. Hal ini tentu saja, jika dilihat dari sejarah perang dalam Islam, tidak dibenarkan untuk membakar orang yang telah menyerah. Nahdlatul Ulama melihat bahwa untuk memproteksi anggotanya (dan juga masyarakat Indonesia) dari pengaruh ISIS, diperlukan dukungan terhadap apa yang disebut sebagai deradikalisasi, yaitu sebuah proses untuk mengembalikan pikiran dan hati para teroris (termasuk juga secara umum warga yang ter-suspect ISIS) untuk kembali menerima Pancasila, dan UUD 1945 sebagai dasar negara dan menjadi warga Indonesia yang baik.

Bagian ketiga yang saya bahas dalam pertemuan kali ini adalah bagaimana solusi terbaik untuk menghadapi pengaruh ISIS. Di tingkat negara, seluruh negara (paling tidak ‘negara selatan-selatan’/Global South) dari Afrika, Asia, dan Amerika Latin (karena kegiatan ini tidak terlepas dari konsep tersebut pasca KAA 1955), menjalin interkoneksi global tidak hanya dalam wilayah sharing informasi intelijen, akan tetapi juga dalam hal pengajaran keagamaan yang moderat dan mengajarkan harmoni dengan berbagai perbedaan yang ada.

Pemikiran bahwa muslim yang tidak menjalankan syariah Islam (dalam hukum negara) adalah kafir tentu saja tidak dibenarkan, karena masing-masing orang punya kapasitas dan pertimbangan. Karena toh debat tentang apakah negara Islam itu perlu didirikan ataukah substansi nilai-nilai Islam saja yang harus diaplikasikan dalam masyarakat sampai sekarang belum usai—paling tidak dalam konteks Indonesia.

Selanjutnya, keluarga muslim, komunitas Islam, komunitas lokal, tetap perlu menjaga anggota-anggota dari kemungkinan pengaruh tersebut. Termasuk dalam hal ini adalah komunitas pemuda, remaja-remaja masjid untuk tidak mudah terpengaruh dengan ide-ide untuk menegakkan syariah Islam dengan cara keras, apalagi dengan mudah mengkafirkan satu sama lain.

Dalam konteks Indonesia, saat ini kita termasuk negara yang cukup aman dengan berbagai suku bangsa di dalamnya, dan konsep Bhinneka Tunggal Ika sudah mewakili bagaimana diversitas yang ada dihargai di mata hukum Indonesia. Pendataan sementara yang dilakukan oleh tim penulis revisi buku Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia (2014-2015) oleh 19 penulis, ditemukan sekitar 500 suku bangsa (tidak sampai seribu sebagaimana data dari BPS) dengan varian-varian budaya yang sangat majemuk. Dalam konteks Kepulauan Maluku saja (Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara), saya mencatat paling kurang ada 20 suku bangsa (sub-suku bangsa/penutur bahasa/kelompok sosial) di Maluku dan 27 di Maluku Utara yang telah hidup puluhan bahkan ratusan tahun di tanah Nusantara ini sebelum Indonesia ini ada. Dengan diversitas ini, tentu saja teramat rentan akan terjadinya konflik antara satu dan lainnya. Tidak bisa dibayangkan sekiranya 500 suku bangsa di negeri ini (yang punya latar berbeda-beda) saling mempertahankan pendapatnya (misal yang mendukung negara Islam dan ada yang tidak), kemudian disulut dengan sedikit saja masalah. Tentu teramat rentan sekali untuk terjadinya gesekan konflik horizontal yang merugikan banyak pihak. Maka, konsep ‘berbeda-beda tetapi satu’ hemat saya sudah cukup baik untuk mempertahankan keutuhan kita sebagai manusia yang hidup di kepulauan nusantara yang luas ini.

Setelah turun dari panggung, seorang peserta dari Perancis mendekati saya dan menceritakan bagaimana pemuda-pemuda Islam di Eropa juga berbondong ikut ISIS. Di antara mereka, adalah para keturunan dari imigran negara Timur Tengah yang terpengaruh dengan seruan negara Islam. Pertanyaan yang diajukan seorang kawan dari Perancis itu adalah, apa yang membedakan dukungan anak muda terhadap ISIS di negara minoritas Islam seperti di Eropa dengan negara mayoritas Islam seperti di Indonesia?

Dalam konteks Eropa, menurut Akbar S. Ahmed, antropolog Pakistan yang juga pimpinan Ibnu Chaldun Chair of Islamic Studies di American University, kaum muda muslim yang bergabung dengan ISIS adalah berasal dari komunitas imigran Timur Tengah atau Asia Selatan generasi kedua atau ketiga yang kehilangan budaya asli dan di saat yang sama tidak mendapatkan penerimaan yang baik dari negara dimana mereka tinggal. “These generations can be vulnerable because they are at the point of losing the culture of their ancestors and yet are not fully absorbed or accepted in the country which they live, despite being citizens.” (Huffington Post, 18/11/2014)

Sementara itu, di Indonesia, dukungan terhadap ISIS tidaklah banyak seperti Eropa dimana tiap minggu ada sekitar 5 orang yang bergabung. Para pendukung ISIS paling tidak bisa dibagi dua bagian. Pertama, mereka yang mendukung dan berkeinginan untuk menjadi petarung (fighter) dan berangkat ke Irak dan Syiria, dan kedua mereka yang mendukung tapi tidak berangkat ke lokasi perang. Kelompok pertama ini, paling tidak ada 500 orang dari Indonesia yang ingin berhijrah ke negara Islam untuk mengikuti ajaran Islam yang mereka pahami. Untuk menjadi fighter, mereka tentu saja berkehendak untuk latihan perang, dan segala yang dibutuhkan untuk itu. Sedangkan, para pendukung yang tidak ke lokasi perang, mendukung gerakan tersebut dengan penyebaran informasi tidak hanya di dunia nyata, tapi juga yang trend di dunia maya lewat media-media sosial. Saat ini, penyebaran pengaruh ISIS paling kuat, paling tidak lewat media sosial.

Lantas, bagaimana sikap terbaik dalam melihat gerakan ISIS? Hemat saya, sebagai negara demokrasi, Indonesia tentu saja harus tetap memperhatikan aspirasi mereka. Apa yang hendak mereka tuntut, mereka perjuangkan, dan mereka inginkan. Selama aksinya damai—seperti aksi FAKSI di Bundaran Hotel Indonesia—beberapa bulan lalu yang berkampanye Imarah Islam/Khalifah, itu bisa dimaklumi. Akan tetapi, ketika aksi tersebut telah meresahkan masyarakat dengan mengajak perang tentara nasional Indonesia, dan ingin menghancurkan tatanan sosial yang telah terbangun dalam bingkai Pancasila, tentu ini sangat disayangkan, dan hukum--sebagai sesuatu pranata yang harus kita taat bersama sebagai warga bangsa--perlu ditegakkan.

Namun, satu yang harus dicatat adalah, penanganan dengan cara-cara keras kepada seorang pendukung gerakan radikal (apakah itu Al Qaeda, Mujahidin Indonesia Timur, atau ISIS), tidak begitu efektif untuk mencegah pengaruh gerakan tersebut. Hal yang patut terus ditingkatkan adalah pendekatan lunak dengan lebih banyak mengajak masyarakat untuk menjadi warga Indonesia yang baik, banyak berdialog, dan tidak mudah menyematkan predikat ‘terindikasi teroris’ atau ‘teroris’.

Kenapa kita harus saling menghargai dalam perbedaan, kenapa kita harus menghormati satu sama lain, itu penting untuk disebar ke masyarakat. Saat ini, pendekatan yang sedang digalakkan oleh BNPT dengan konsep deradikalisasi—walau konsep ini tentu saja harus dijabarkan lebih praktis lagi dengan tetap mendengarkan aspirasi umat—bisa menjadi solusi sementara untuk mencegah radikalisasi yang berpretensi mengacaukan tatanan sosial yang telah relatif baik terutama setelah ‘rusuh beruntun’ pasca jatuhnya rezim Orde Baru pada 1998. *

YANUARDI SYUKUR, Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun; Anggota The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES); Divisi Karya BPP Forum Lingkar Pena.   

Terimakasih kepada Professor Darwis Khudory (University of Le Havre, Perancis), dan Mr. Bilal Cleland (Mantan Sekretaris Australian Federation of Islamic Councils/AFIC) yang telah sharing beberapa data dan informasi.  

Sunday, October 25, 2015

Penyempurnaan Draft Ensiklopedia Suku Bangsa

Sambutan Ibu Triana Wulandari dari Kemdikbud
Pada Kamis, 15 Oktober 2015, saya diundang hadir dalam kapasitas sebagai penulis revisi buku Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia yang ditulis pertama kali oleh Professor MJ Melalatoa. Pertemuan diadakan di Wisma Makara UI, Depok. Hadir beberapa perwakilan penulis buku ini, yaitu Prof. Kumpyadi Widen, Dr. Tasrifin Tahara, Alex Ulaen, DEA, dan seorang lagi kolega kami dari IAIN Ar-Raniry Aceh. Untuk periode 2014 dan 2015, ada 19 penulis yang gabung dalam proyek ini. 

Dalam pertemuan ini, peserta bersepakat bahwa untuk ensiklopedia bagusnya ada penelitian lapangan. Akan tetapi, untuk 500-an suku bangsa yang tersebar tidak merata--ada yang aksesnya susah--membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Maka dari itu, ada beberapa suku yang tidak bisa dijangkau dengan penelitian lapangan. Sumber-sumber dari buku dan internet pun dipakai. Karena ensiklopedia adalah 'pengantar', maka penjelasannya tentu tidak terlalu dalam sebagaimana buku-buku lainnya. Maka, 'kekurangan' tersebut pun bisa dimaklumi adanya. 

Para penanggap dalam diskusi ini adalah Prof. Zulkifli dari UIN Jakarta, lulusan Leiden dan ANU. Ia memberi komentar terkait dinamika administrasi yang pasti berubah, maka dibutuhkan perubahan dalam demografi. Kemudian, identitas suku tersebut juga harus diteliti apakah identitas mereka itu disepakati oleh mereka sendiri, ataukah oleh masyarakat, atau oleh sang penulis. Artinya, seorang penulis bisa saja memberikan label pada apa yang diteliti tentu dengan bukti yang masuk akal. Kemudian beliau juga membahas tentang perlu dihindarinya sumber-sumber internet yang masih diragukan otentisitasnya. 

Sementara itu, Abdul Rahman Patji dari LIPI, membahas beberapa kesalahan pengetikan dari draft yang ada. Untuk konten, ia juga memberikan koreksi terkait suku bangsa yang ada di Enrekang, Sulsel. Koreksian itu menjadi masukan yang sangat berharga bagi penyempurnaan draft tersebut. 

Paparan lebih jauh diwakili oleh Koordinator tim yang juga editor ensiklopedia ini, Dr. Semiarto Aji Purwanto. Mas Aji menjelaskan tentang definisi suku bangsa, sub-suku bangsa, penutur bahasa, dan kelompok sosial lainnya yang ini menjadi dasar dalam labelling suku bangsa tertentu.

Ensiklopedia ini nanti akan dicetak dalam dua buku dan ada versi pdf-nya agar dapat diakses oleh banyak orang. Soft-lauchingnya direncanakan oleh Mendikbud Anies Baswedan pada akhir Oktober atau di bulan November 2015. *

Merenungkan Kembali Tujuan Hidup

Beberapa tahun terakhir saya kadang merenung, apa sebenarnya tujuan hidupku. Jika pertanyaan ini muncul, saya selalu teringat suatu kondisi waktu kerusuhan terjadi di kampung halaman saya, dimana ketika itu saya, ayahku, dan beberapa orang lainnya sudah terjebak di depan sebuah lorong, sementara itu di belakang dan samping sekelompok orang akan menyerang kita. Saya diam sejenak, berdoa dalam-dalam, sambil bermunajat bahwa saya masih ingin hidup lebih lama lagi, karena ingin mendirikan pesantren, sebuah cita-cita lama sejak saya kecil. Kalau teringat kisah ini, saya kadang jadi sedih sendiri, bahkan terkadang air mata saya jatuh--sebuah kondisi yang tidak semua orang pernah melihatnya. 

Dalam periode satu tahun terakhir hidup saya banyak berfokus pada menggapai cita-cita dunia. Mungkin begitu bahasanya. Dari Ternate saya 'bela-belain' datang ke Kampung Inggris Pare, Kediri, untuk belajar satu bulan. Pakai duit sendiri lebih dari sepuluh juta--sebuah angka yang lumayan untuk dosen PNS yang belum lulus sertifikasi. Tapi, sepuluh juta itu tidak ada apa-apanya, karena saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Australia selama dua minggu yang jika dihitung-hitung biayanya di atas lima kali lipat. Saya juga, beruntung diterima sebagai penerima beasiswa LPDP, sebuah beasiswa bergengsi yang banyak orang berlomba-lomba mendapatkannya. Saya jadi awardee LPDP untuk studi PhD luar negeri. Waw! Luar negeri! Sesuatu yang saya sendiri tidak sempat terpikirkan. Walau sampai malam ini--ketika saya menulis esai ini--saya masih ikut pengayaan bahasa di Bandung (belum ke luar negeri pastinya), tapi saya merasakan banyak sekali keberkahan yang Allah berikan untuk saya. 

Dalam beberapa tahun terakhir juga saya berfokus menulis buku. Mati-matian saya belajar menulis buku dengan cepat. Walhasil, dengan laptop Toshiba sumbangan dari Pertamina untuk Unkhair--karena waktu itu saya diamanahi Sekretaris Rektor--saya banyak menulis buku dan terbit. Dari laptop ini, saya menulis lebih dari 20 naskah buku. Sebuah angka yang lumayan. Jika ditotal-total, hingga tahun 2015 ini, buku pribadi yang saya tulis lebih dari 30, belum lagi antologi yang ditulis bersama beberapa orang di Indonesia, serumpun Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, serta forthcoming book yang akan diterbitkan oleh University of Malaya, Kuala Lumpur. Saat menulis ini, jika sebuah makalah saya--yang akan dipresentasikan pada Kamis 29 Oktober nanti bersama professor dari Austria, Wina, dan Filipina--jadi diterbitkan, maka akan bertambah pula jumlah buku saya (untuk antologi). 

Lantas, apa makna itu semua? 

Saya kadang berpikir seperti itu. Apa yang barusan saya tulis di atas tentu saja bukanlah prestasi yang patut dibanggakan. Bahkan, orang lain banyak yang lebih hebat dari itu. Mereka lebih berpengaruh, bahkan mungkin terkenal, ketimbang saya yang saya pikir 'masih begini-begini saja'. Tapi, sebuah pertanyaan penting yang patut dipertanyakan adalah, apakah keterkenalan itu bagian dari bahagia atau kesuksesan? Masing-masing orang pasti beda-beda. Secara pribadi saya tidak ingin dikenal orang, karena saya merasa banyak sekali kekurangan saya. Tapi, sebagai penulis memang tidak bisa tidak kita akan dikenal juga, paling tidak di komunitas dimana kita berada. 

Seseorang pernah bilang ke saya begini, "Yan, kamu beruntung banget ya. Banyak sekali rezeki yang Allah berikan buat kamu." Membaca itu, saya berpikir, memang iya sih. Benar apa yang dikatakannya. Banyak sekali rezeki yang Allah berikan buat saya--pastinya bukan hanya buat saya tapi buat kita semua jika kita mau merenungkan lebih jauh. Saya berasal dari kampung, kemudian diberi kesempatan belajar, punya semangat menulis buku untuk berbagi kebaikan bagi sesama, dan saya juga PNS--sebuah pekerjaan yang bagi sebagian orang menggiurkan. 

Selanjutnya, jika kita sudah dapat apa-apa yang hendak kita raih, apakah kita bahagia? Tampaknya, bahagia memang tidak berbanding lurus dengan pendapatan. Katakanlah seseorang menjadi terkenal dengan bukunya, apakah itu buat dia bahagia? Belum tentu. Beberapa orang bilang, bahwa saya ini duitnya banyak. Karena bukunya sudah banyak terbit, tambah yang lain. Tapi kalau ditelisik lebih jauh, buku-buku saya rata-rata beli-putus. Jadi, kalau naskah sudah dibeli, kita dibayar sekian juta, setelah itu sudah. Buku saya yang royalty baru satu, diterbitkan oleh imprint Gramedia yang waktu urus royalty-nya saya harus datang ke Gramedia untuk menanyakannya langsung biar lebih enak. Apakah saya kaya? Ada yang bilang, wah abang ini pasti punya rumah punya mobil. Saya senyum saja. Jangankan rumah dan mobil, motor saja saya nggak punya. Saya biasa pulang dari Rektorat malam jam 8 atau 9 itu jalan kaki, turun sampai di bawah, kemudian cari ojek. Itu saya lakoni sekitar tiga tahun. Tidak kaya, tapi juga tidak miskin-miskin amat. Saya hanya berdoa, semoga apa yang saya inginkan (untuk kebaikan) dikabulkan oleh Allah, dan dicukupi. Ya, dicukupi itu lebih penting daripada minta kaya. 

Kembali ke tujuan hidup. Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Sampai di bagian ini saya juga masih merenung. Tapi sebagai muslim saya punya pedoman bahwa tujuan hidup kita adalah beribadah dalam arti seluas-luasnya. Beribadah dalam bentuk salat, puasa, zakat, haji, atau dalam bentuk yang lebih luas seperti bersedekah, bantu orang yang membutuhkan, menulis buku, dan seterusnya. Waktu saya menulis buku atau juga tulisan biasa, saya selalu meniatkan kebaikan. Ketika menulis status di Facebook, saya meniatkan agar semoga ada kebaikan dari status ini, karena sungguh teramat sia-sia jika sebuah status tidak punya nilai kebaikan di dalamnya.

Intinya, apapun yang hendak kita capai, semua harus kita niatkan untuk ibadah--dalam arti yang seluas-luasnya. Jika niat kita ibadah, maka kita akan bersungguh-sungguh untuk menggapainya. Dan, jika dalam perjalanan itu kita salah langkah, kita akan jadi teringat bahwa tujuan kita yang mulia menuntut cara-cara yang mulia pula. Maka kembali lagi kita tersadar, tersadar, dan seterusnya semoga terus sadar untuk menjadi pribadi mulia...*

Gambar dari mutiarapublic.com

Cerita tentang Opini


 
Tulisan opini adalah tulisan yang berisi pendapat. Semakin baik lagi jika pendapat itu didukung oleh berbagai contoh, fakta, atau data yang memadai yang semakin memperkuat ide tersebut.

Ketika melihat asap melanda beberapa daerah di Indonesia, tiap kita pasti ada opini yang terbangun. Paling tidak, asap itu terjadi karena dua hal. Pertama, karena kebakaran (atau pembakaran) hutan yang dilakukan oleh oknum tertentu yang ingin mendapatkan keuntungan dari hutan tersebut, atau kedua, terjadi karena proses alamiah seperti hujan tidak turun-turun dan terjadi panas yang memunculkan titik api. Dua hal ini bisa jadi ide utama, kemudian kita tambah dengan referensi, baik itu dari buku teks, jurnal, atau majalah.

Pada bulan Maret yang lalu, di Melbourne, beberapa toilet saya lihat sangatlah bersih. Fakta itu kemudian membentuk opini saya bahwa semakin modern masyarakat semakin cinta mereka dengan kebersihan. Beberapa bulan kemudian, di SalmanTV, saya membawakan materi ringan—berdasarkan opini yang terbangun di benak saya—tentang relasi antara toilet bersih dengan masa depan.

Walaupun sebenarnya, beberapa hari kemudian, pada pukul 01.30 pagi di sebuah restoran saya lihat ada toilet yang kotor sekali di Sydney, opini yang terbangun kemudian di saya adalah: ternyata walaupun suatu komunitas cinta toilet bersih tapi di tempat lain belum tentu cinta hal yang sama.

Jadi, opini itu tentang pendapat. Sebuah opini akan jadi tulisan, kalau ditulis. Jadilah ia tulisan opini. Jika opini itu hanya berada di kepala, maka ia masih bisa disebut ‘latent’ (di bawah tanah/di dasar otak), belum ‘manifest’ (mewujud dalam kenyataan).

Waktu beberapa orang membajak pesawat kemudian menabrakkannya ke menara kembar WTC, orang-orang belum ada opini tentang itu. Nah, pas di media disiarkan bahwa pembajaknya adalah orang Arab, disusul dengan penyataan bahwa Al Qaeda bertanggungjawab pada aksi tersebut, maka publik (terutama di Barat) kemudian menyematkan opini, bahwa: Arab (atau juga Islam) adalah teroris. Opini ini bukan hanya di kepala, tapi juga di tulisan-tulisan.

Pada bagian ini, opini ternyata dibentuk oleh media massa, diterima oleh publik, yang kemudian menimbulkan semacam pandangan baru tentang terorisme bahwa terorisme itu lekat pada Islam. Belakangan, ketika buku anti-tesis pandangan arus-utama—yang menyematkan terorisme pada Islam—itu terbit, publik pun sebagian tersadar bahwa soal utama aksi itu bukanlah karena agama seutuhnya (karena faktanya banyak tokoh Islam yang menentang aksi tersebut), tapi juga soal tuntutan keadilan terhadap masyarakat muslim di Timur Tengah.

Opini adalah soal transformasi ide dan pengaruh. Jika kita punya ide, segeralah kita menulis dengan tambahan data-data penunjang. Tapi, satu yang harus kita ingat juga adalah, jangan berdiri pada sandaran yang rapuh. Mengambil tulisan di blog-blog pribadi sesungguhnya agak rapuh untuk tulisan opini. Kecuali, blog tersebut dikelola atau ditulis oleh penulis yang benar-benar ekspert di bidangnya. Yang paling bagusnya adalah gunakan referensi buku atau jurnal untuk menulis opini. Kalau tak ada versi cetaknya, kita bisa cari buku atau jurnal di google.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam menulis ini adalah hindari sesuatu yang kontra-produktif. Beberapa penulis hobi dengan gaya koboi, tembak kiri tembak kanan. Semua orang diserang. Salahkah? Tentu tidak. Tapi, yang perlu kita ingat adalah, kita hidup di masyarakat yang masih terikat dengan sopan-santun.

Dengan dalih kebebasan terkadang seorang penulis opini—termasuk juga ‘penulis status facebook dan cuitan di twitter’—menyerang kelompok satu dan lainnya. Seakan-akan, dialah yang paling tahu, kritis, dan cerdas. Tapi memang ada tipe orang yang hobinya begitu. Untuk tipe tersebut, tentu saja mereka harus benar-benar memilih kata-katanya dengan baik, tidak mudah sumpah-serapah dan asal kritik.

Menjadi penulis opini—seperti juga penulis genre lainnya—tidak ada yang langsung jadi. Semua butuh proses. Cara paling ampuh untuk itu adalah dengan memperbanyak membaca. Baca berbagai referensi yang ada. Kemudian, biasakan diskusi agar tulisan pikiran kita terbiasa mendapatkan umpan-balik dari orang lain.

Belajar dari penulis yang duluan mahir juga baik. Pelajari tulisan mereka, tapi jangan ikuti mereka seratus persen. Sebaliknya, sambil jalan temukan model tulisan yang cocok dengan diri kita sendiri. [Yanuardi Syukur]

Tulisan dibuat sebagai materi 'Sabtu Berguru' di grup Facebook Wisma Indah Forum Lingkar Pena, Sabtu, 24 Oktober 2015.  

Gambar dari laman draytontribune.com

 

Monday, October 12, 2015

Kuliah Umum Dunia Maluku oleh Professor Leonard Andaya

Barbara Andaya, Leonard Andaya, Yanuardi Syukur, dan Peter Carey
Pada Sabtu, 10 Oktober 2015, saya menghadiri Kuliah Umum Professor Leonard Y. Andaya terkait "Dunia Maluku" di UI Depok. Dalam kesempatan ini, saya sempat bertanya terkait kenapa dari kerajaan lain di Indonesia lahir banyak ulama dan penulis seperti Hamzah Fansuri, Al Falimbangi, sebagai contoh, sementara dari Ternate sampai sekarang nyaris tidak dikenal.

Jawab Andaya, itu karena Maluku saat itu adalah kawasan dari dunia barat yang berupaya untuk menjadikan wilayah tersebut jadi barat. Sementara itu, kata Barbara Andaya, itu disebabkan karena tidak semua dari para tokoh dan ulama setempat menulis, akhirnya sejarawan tidak menulis dalam buku-buku mereka. Profesor Peter Carey menambahkan, kata dia, tidak semua tokoh dan ulama itu menulis. Yang menulis selanjutnya adalah orang-orang terdekatnya, atau murid-muridnya.

Kuliah umum ini diikuti oleh sekitar 100 orang di UI. Sangat menarik untuk dilanjutkan dalam diskusi yang panjang. Maluku dulunya adalah sebuah pusat, akan tetapi sekarang menjadi pinggiran.

Dalam kesempatan ini saya semapt berfoto bersama 3 professor tersebut: Prof Barbara Watson Andaya, Prof Leonard Y. Andaya, dan Prof Peter Carey di UI Depok, 10 Oktober 2015. *

Menghadiri Presentasi Kuliah di Amerika dengan Beasiswa LPDP

Sambutan Dubes AS Robert Blake
Saya merasa beruntung dapat mengikuti kegiatan presentasi "Study in the US with LPDP", Rabu 7 Oktober 2015 di @america, Pasific Place Mall, Jakarta dengan pembicara Dubes AS Robert Blake, Direktur LPDP Eko Prasetyo, Julie Sinclair dari Michigan State University, Deborah dan Muhammad Iqbal dari EducationUSA, dan dua Awardee LPDP alumni AS. Awardee LPDP diberikan voucher untuk mengikuti test GRE gratis dan konsultasi terkait studi di US.

Selain menambah informasi terkait belajar di US, saya juga mendapatkan teman baru. Saat ini tidak bisa dimungkiri bahwa US merupakan negara yang menjadi tempat belajar banyak pelajar internasional. Kita berharap mereka yang telah berkuliah di US dapat mengamalkan ilmunya di tanah air untuk kepentingan bangsa dan kemanusiaan.

Untuk saya, sementara alhamdulillah telah mendapatkan beasiswa PhD dari LPDP untuk luar negeri. Tapi saya masih 'membuka hati' pada kemungkinan-kemungkinan tempat dimana saya bisa belajar kelak, dan tentu saja kampus yang bisa menerima saya. Kupikir, dimanapun saya belajar, saya akan berusaha menjadi yang terbaik. Semoga Allah swt menunjukkanku tempat terbaik untuk belajar, dan kelak dapat bermanfaat buat bangsa ini. *

Sunday, September 27, 2015

Man Jadda Wajada!

Bagi yang pernah belajar di pesantren, pasti langsung teringat ini kata. Siapa yang bersungguh-sungguh, kira-kira begitu terjemahnya, "maka dia berhasil!"

Kata "mukjizat" ini ternyata telah banyak memberi arti. Salah satunya ada pada A. Fuadi, seorang alumni Pondok Modern Gontor yang menulis buku "Negeri Lima Menara". Buku ini, menurut Fuadi, terinspirasi sekali dari kalimat itu. Akhirnya, setamatnya dari pondok di Ponorogo itu, Fuadi pun melanjutkan pendidikannya hingga ke Amerika.

Siapa sungguh-sungguh, dia berhasil! Betul sekali bukan?

Kalau ada yang rajin sekali belajar. Pastinya, ia akan berhasil. Tapi, kebalikannya, mereka yang malas, pasti akan merugi, seperti yang diajarkan juga di kalangan santri Gontor (dan pesantren alumninya), bahwa, "...penyesalan adalah akibat dari bermalas-malasan"

Dalam sejarah umat manusia juga telah memperlihatkan kepada kita. Alexander The Great berhasil memasuki dunia Timur, itu karena ia tidak malas. Sun Tzu berhasil menuliskan pengalaman-pengalaman perangnya dalam bukunya "The Art of War", itu berkat ia berhasil menempatkan kemalasannya di bawah sisi sungguh-sungguhnya. Ekspedisi Alex the Great, juga Sun Tzu--sebagai contoh dari banyaknya orang besar--telah menjadi inspirasi besar, bahwa "Man Jadda, maka Wajada!" Bahkan, kedua tokoh ini termasuk juga dalam 100 tokoh besar dunia yang berpengaruh ala Michael Hart.

Yup, siapa sungguh-sungguh, dia dapat. Dalam ranah apapun aktivitas kita, bersungguh-sungguhnyalah, agar keberhasilan itu segera menjelma! Selamat menjadi petarung yang berhasil! [Yanuardi Syukur, tulisan pernah dimuat di www.edumotivasi.blogspot.com, 3 Oktober 2010]

Kazakhstan from the Eyes of Indonesia: Understanding and Enhancing Long-Term Partnerships

Kazakhstan is known as the ‘Heart of Asia’. A country that is locked by the largest land in the world located in Central Asia. Kazakhstan is...